Love Kills

Love Kills
Bab 15



“Chara? Apa kau sudah tahu tempat pertemuannya?” Kata Stella sambil berusaha jalan santai di sebelah Chara yang juga berusaha memelankan langkahnya. Tapi Cerella tiba-tiba menghilang, dan waktu sudah hampir jam enam.


“Sudah. Lavender, sederhana saja.” Chara menunjuk ke arah ruang Dandelion yang mereka lewati, lalu di sebelahnya, ruang berplakat Sakura.


“Ruangan Meeting hotel ini di namakan oleh nama-nama bunga. Aku sudah bertanya ke resepsionis, ruang Lavender ada di lantai empat.”


Chara menoleh ke arah setiap lift yang ada di semua lantai yang ia lewati, tapi semuanya penuh dengan wartawan dan kru konser Cerella, kalau mereka tidak mau terlambat, mereka harus naik tangga. Jam tangannya menunjukkan waktu pukul 5.47. Tiga belas menit lagi, Chara pikir, itu waktu yang cukup. Mereka sudah sampai di lantai tiga.


Tepat pukul enam kurang sepuluh mereka sampai di ruang Lavender, dan Chara berdiri di sampingnya, merapatkan diri ke tembok dan mengeluarkan Beretta putihnya, dan sisi lain pintu ada Stella yang merapatkan diri ke tembok juga. Jemarinya menggenggam beberapa bola-bola yang bisa ia lemparkan untuk membuat asap dengan efek yang berbeda-beda, tapi ia tahu, ia tidak akan bisa melemparkannya tanpa komando dari Chara.


Mereka melihat ke sekeliling. Suasana lantai empat sangat sepi, lift pun kosong dan tidak ada orang yang menunggu di depannya. Setelah yakin tidak ada yang memperhatikan mereka, Chara mengangguk pada Stella yang memutar knop pintu. Dengan cepat Chara mendorong pintu itu terbuka dan menodongkan pistolnya.


“Polisi!”


Teriaknya. Tapi ruangan itu kosong. Chara masih mengangkat pistolnya dan berjalan ke sekeliling ruangan besar itu, yang muat untuk kira-kira tiga puluh sampai empat puluh orang dengan satu panggung kecil. Tapi tidak ada tempat untuk sembunyi di sana. Ruangan itu benar-benar kosong.


“Ha?!” Chara menurunkan pistolnya.


“Chara? Kukira kau yakin soal tempatnya.” Stella masih berdiri di ambang pintu, menoleh sesekali ke arah Chara sambil memperhatikan situasi di luar. Chara menggelengkan kepalanya.


“Ada kemungkinan apa lagi? Ini ruang Lavender!” Chara berbalik dan berjalan melewati Stella untuk melihat plakat di depan pintu, dan memang plakat itu bertuliskan Lavender. Chara kembali memeriksa pinggiran jendela dimana ia memasang kamera kecil untuk mengintai pembicaraan yang akan terjadi di ruangan itu tapi kamera itu sudah hilang tak berbekas.


“Sial, cepat keluar dari sini dan cari ke ruangan lain. Mereka tidak mungkin terlalu jauh.” Chara berjalan ke arah lift,


yang datang dengan cepat kali ini. Tapi sebelum ia sempat masuk ke dalam, sepatunya menginjak sesuatu yang mengilat. Chara berjongkok dan mengangkat batu kecil itu.


“Permata…” kata Chara pelan.


Sontak mereka kembali sigap dan menempelkan punggung mereka ke satu sama lain, menatap ke seluruh area, tapi lantai empat kecil, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.


“Buka semuanya.” Chara memerintahkan dan Stella mengangguk, berlari ke arah ruangan Lily di sebelah Lavender dan membukanya, begitupula Chara kepada empat ruangan meeting lain yang ada di sana. Tapi semuanya kosong.


“Sial! Ayo cepat kita turun!” Mereka masuk ke lift dan turun di lantai tiga.


Tiba-tiba terdengar jeritan keras seorang wanita. Chara langsung berlari ke arah suara begitu pintu lift terbuka. Dan di depan sebuah ruangan lain berplakat “Mawar”, terlihat kerubungan orang ramai.


“Minggir! Aku dari kepolisian!” Chara berteriak sambil menerobos masuk.


Di dalam ruangan tergolek mayat Cerella, yang sudah menutup mata dengan kepala berlubang.


Chara menerobos masuk, dan memakai sarung tangan karetnya. Ia memeriksa ruangan. Di tembok, yang sudah merah dengan cipratan darah Cerella, juga tangan artis itu yang memegang pistol. Chara memeriksa luka gadis itu, ada bekas tusukan kecil di perutnya yang mencurigakan, juga sesuatu yang terlihat seperti pesan kematian yang ditulis dengan darah di tembok yang ditutupi punggung mayat.


“Hei, siapa kau anak kecil?” Suara keras seseorang menyeruak masuk dari belakang Chara Chara berbalik badan. Di sana berdiri dua orang polisi.


“Aku anak buah Inspektur Borris.” Kata Chara sambil menyalin pesan terakhir mayat ke catatannya, juga semua detail kematian.


“Jangan sembarangan sentuh mayat! Mana buktinya kalau…”


Chara membuka tanda pengenalnya. Polisi itu terbelelak dan dengan cepat membungkuk kecil


“Maaf, Miss Solara.”


“Solara? Siapa lagi itu?” Stella berbisik di telinga rekannya.


“Serenity Solara nama yang didaftarkan Papa pada kepolisian, kalau-kalau terjadi hal seperti ini. Inspektur Borris


juga setuju soal itu, karena aku masih kelihatan seperti anak kecil.” Chara menghela napas.


“Kau dapat sesuatu?” Tanya Stella. Chara menggelengkan kepalanya.


“Belum. Banyak hal yang perlu kita pikirkan sekali lagi, dan lagi-lagi aku terlambat.” Chara menutup catatannya.


“Solara?” Suara seorang wanita lagi-lagi datang dari belakangnya dan Chara berbalik. Sontak senyumnya mengembang saat melihat wajah yang familiar di saat-saat seperti itu.


“Beth.” Panggil Chara lembut sambil mendekati wanita itu. “Kau tugas?”


Polisi itu memeluk Chara dan gadis itu membalasnya.


“Ya, sebenarnya sedang patroli, tapi kudengar ada kasus bunuh diri, jadi aku mampir.” Chara mendengus dan melepaskan pelukannya.


“Tidak… ini bukan bunuh diri. Ini kasus pembunuhan yang dibuat seolah ia bunuh diri. Klasik dan menggelikan.” Kata Chara sambil memandang mayat.


“Tapi, Ms. Solara, pintunya terkunci, dan pintu ini, hanya bisa dikunci dan dibuka dari dalam.” Jelas seorang polisi.


pintu akan terkunci, seperti slot. Bedanya, untuk mendorong segel, digunakan knop kecil berbentuk bulat.


“Ya… kunci ini harusnya hanya bisa dibuka dan dikunci dari dalam.” Kata Chara. Tapi tangannya yang memegang bandul kunci, menyangkal kata-katanya sendiri. Ada permukaan yang terasa kasar di bagian bawahnya. Seperti tergores sesuatu yang tajam… Apa itu?


“H-Hey, Miss, kau tidak diperbolehkan masuk sini.” Kata Beth yang memergoki seorang gadis, berambut merah terang bergelombang, masuk ke ruangan itu. Si gadis menatap Beth.


“Oh… Miss Sherry, silakan masuk.” Kata Beth. Chara menarik lengan temannya itu.


“Siapa itu?” Kata Chara.


“Oh, kalian belum kenal? Dia salah satu anak murid Oscar Xavier. Dia pernah memecahkan kasus hilangnya kalung yang harganya lebih dari satu milyar, setelah itu dia jadi cukup populer dan jasanya banyak diminta orang-orang kaya.” Jelas Beth.


“Hm, tadi kau bilang siapa namanya?” Chara mencondongkan telinganya lebih dekat pada Beth.


“Sherry. Sherry Coulton” Chara memandang dengan dahi mengerenyit pada temannya itu.


“Sherry?” Beth mengangguk.


Chara mengangguk-angguk sambil tertawa kecil, dan lalu kembali melihat memonya.


“Kau sudah dapat apa Char?” Kata Stella.


“Entahlah.” Chara menghela napas. “Yang jelas, perbuatan pertama pelaku adalah luka di perut ini. Setelah Cerella jatuh terduduk dan bersandar pada tembok, dengan setengah sadar ia lalu menulis pesan, lalu ditembak di pelipis kanan sampai peluru menembus, sedangkan saat itu posisi badannya sedang menoleh ke arah kiri untuk menulis pesan ini, dan dari situlah jejak darah ini ada.” Chara menunjuk tembok.


“Tapi kan…” Stella berlutut disamping mayat. “Bukannya ganjil? Kalau mayat bunuh diri dengan menembak pelipis kanan, tapi posisi badannya se wajar ini?” Chara mengangguk-angguk, dan lalu memeriksa bekas darah di tembok, dan menemukan peluru yang tertanam di tembok itu.


“Ya… benar. Kalau memang ia menembak dirinya sendiri, harusnya posisi badannya akan sedikit berputar ke arah kiri, menghadap pesan, tapi posisi badannya duduk tegap bersandar.” Chara lalu kembali memperhatikan mayat.


Chara berjongkok, memperhatikan pesan yang digambar oleh darah itu, dan dahinya mengernyit.


0-0 dan tanda tambah yang dilingkari?


“Kode yang bagus kan?” Sebuah suara yang sedikit familiar di telinga Chara berdeham di belakangnya, dan Chara berdiri untuk melihat ke sumber suara.


“Hai. Aku Sherry.” Kata Sherry, menyodorkan tangannya. Chara menyeringai kecil.


“Charlexa. Nama yang… unik.” Kata Chara. Sherry tersenyum.


“Ibuku penggila mistery, juga penggila minuman keras. Kau tahu kan? Komik detektif yang memiliki tokoh bernama


Sherry?” ia tertawa kecil lalu gadis itu berjongkok di sebelah Chara dan meneliti mayat. Chara memperhatikan sosok gadis itu dari belakang. Tubuh jangkung, dengan rambut yang coklat kemerahan, keriting dan pendek di atas bahu. Dari mana Chara pernah mendengar suara gadis ini?


“Oh... ya. Nama yang bagus.” Balas Chara canggung. Gadis itu hanya tertawa kecil, sambil berjongkok mendekat ke arah mayat untuk memeriksanya.


Mata Chara kembali memandang Cerella dengan tatapan kosong. Lalu ia mengangkat memonya, dan membaca ulang kalimat terakhir mayat didalam hatinya.


Chara menggigit ujung kuku ibu jarinya. Ia merasa pesan itu tidak masuk akal. Dua angka nol? Apa pembunuhnya penggemar olahraga dan permainan terakhirnya menghasilkan angka nol? Chara menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin, agak aneh untuk hal itu.


“Sudah dapat sesuatu Solara?” Beth menepuk punggungnya.


“Aku perlu bicara dengan semua orang yang berada di dekat Cerella hari ini. Orang-orang yang mengikutnya selama sehari penuh, dan beberapa orang dari resepsionis yang melayani pemesanan ruang Lavender dan ruang ini.”


“Ruang Lavender?” Tanya Beth. Chara mengangguk.


“Tolong?” Chara tersenyum, dan Beth—yang adalah polisi—mengerti bahwa bukan waktu dan haknya untuk dapat penjelasan saat ini. Ia hanya mengangguk dan berjalan pergi lalu memberikan perintah kepada semua orang.


“Sherry.” Panggil Chara. Gadis itu mengangkat wajahnya dari catatan yang sedang ia buat, dan berjalan ke arah Chara.


“Bantu aku untuk menginterogasi?” Bisik Chara. Gadis itu mengangguk-angguk dan mengikuti Chara berjalan keluar untuk masuk ke ruangan meeting di sebelahnya.


“Stella, beritahu mereka untuk menyuruh orang-orang yang di bawa Beth untuk masuk ke ruangan sebelah. Kau tolong bantu aku jaga TKP, catat semua orang yang diperbolehkan masuk, tapi jangan biarkan TKP disentuh-sentuh siapapun. Oh dan seperti biasa, kau… lakukan itu.” Chara menepuk bahu Stella dan memberinya kode yang ia tahu Stella mengerti artinya. Stella mengangguk mantap. Ia tahu kemampuannya bertarung ada di atas Chara, tapi soal hal-hal seperti ini, Stella memberikan semua respeknya untuk Chara.


“Solara, apa kau sudah memastikan luka bakar pada mayat?” Kata Sherry sambil menarik bangku di ruang meeting di sebelah TKP dan duduk. Chara duduk di sebelahnya.


“Belum terlalu teliti, kenapa?”


“Tidak ada luka bakar dari moncongnya. Aku tahu kalau kalau kau juga tahu ini sudah pasti bukan bunuh diri, tapi kurasa hal itu sesuatu yang perlu kau tahu. Karena…” Sherry menghela napas. “Mungkin ini hanya aku yang terlalu banyak berpikir kejauhan, tapi menilai dari seberapa dangkalnya peluru menancap ke tembok, jarak penembak pasti sangat jauh, memperhitungkan lebar ruangan yang lumayan kecil. Setidaknya penembak ada di luar ruangan.” Sherry memaparkan teorinya panjang lebar.


Chara menahan diri untuk tidak terbelalak dan berteriak, ‘Sniper!’, tapi momen itu diselamatkan oleh Beth yang membuka pintu.


“Permisi, saya sudah mencari semuanya dan mereka bersedia di interogasi. Kami bisa masuk sekarang?”