Love Kills

Love Kills
Bab 19



Chara terbangun di sebuah ruangan yang lumayan familiar untuknya. Ruangan yang penuh warna metal, berbau tajam dan dingin. Badannya terduduk di sebuah kursi sofa dengan selimut di pangkuannya.


Chara dapat melihat tangan seseorang mendekat ke arah lukanya, dan lalu lukanya terasa pedas. Chara mendesis, menahan dirinya untuk tetap diam di tempat.


“Sorry…” Bisik seorang gadis mungil berambut coklat kemerahan bergelombang. Wajahnya identik dengan Stellaria, tapi gadis ini lebih pendek dan mungil, rambutnya persis, dan matanya hitam, beda dengan mata Stellaria yang coklat.


“Santai saja.” Chara berbisik, menahan perih dari lukanya yang diberi alcohol oleh Stellmaria.


“Aku akan menempelkan perban yang baru. Tapi yang ini sudah kuolesi antivus jadi rasanya akan agak menyengat. Tapi lukamu akan sembuh dengan cepat. Kurang dari satu bulan.” Kata Stellmaria.


“Apa itu antivus?” Chara bertanya saat Stellmaria mengoleskan si cairan


bening ke perbannya. Ia berdeham sedikit, merasakan kering tenggorokannya.


“Oh, obat baru buatan Mama. Ia mencoba kombinasi herbal baru dan ternyata lebih ampuh untuk menutup luka luar, dengan sangat sangat cepat.” Stellmaria membalutkan perban ke luka-luka Chara. Chara mendesis lagi. Stellmaria tertawa kecil.


“Maaf. Pasti akan sakit sepanjang waktu.” Kata Stellmaria. Chara membalasnya dengan tawa kecil juga.


“Nah, selesai.” Stellmaria berbalik dan membereskan peralatannya. Chara memakai bajunya kembali pelan-pelan. Seluruh pergerakannya membuatnya merasa kesakitan.


“Terimakasih Stellmaria.” Chara menegakkan posturnya yang bersandar pada kursi itu dan melihat Stellmaria tersenyum.


“Sama-sama, Chara.” Stellmaria berjalan pergi untuk memasukkan peralatannya ke lemari.


“Adikmu hebat ya.” Chara menengok pada Stella yang baru saja masuk ke klinik.


“Ya… memang.” Stella menghela napasnya dan duduk di sofa seberang Chara.


“Aku ingin jadi seperti dia. Tapi memang hal-hal yang bisa kulakukan beda dengannya.” Kata Stella sambil mengangkat bahu. Chara tertawa.


“Syukurilah. Kau jadi si ‘wanita asap’ juga sudah hebat kok.” Kata Chara sambil tertawa.


“Heh. Enak saja, aku bukan tukang akupuntur seperti kamu.” Stella mendorong pundak Chara main-main. Gadis yang didorong itu berteriak kecil.


“Aduh, kau gila ya! Aku pasien di sini.” Kata Chara mengusap-usap pundaknya yang semakin sakit terdorong Stella.


“He. Maaf deh.” Kata Stella sambil duduk di sebelah temannya itu.


“Sebenarnya kau sedang apa sih di atap malam itu?” Stella bersandar pada kursinya.


“Kau tahu lah kita sempat janjian untuk ketemu berdua saja setelah urusan Cerella selesai, dan lalu ya begitu saja, dia main tembak-tembakkan, aku main pedang-pedangan, dan kita berakhir di posisi yang sekali nafas saja kami berdua bisa mati bersamaan. Jadi kita memutuskan untuk genjatan senjata, dia menarik pistolnya menjauh dari aku, dan aku menarik katanaku menjauh darinya, tapi lalu dia menembakku setelah aku menjauhkan katanaku.” Chara mendecakkan lidahnya. “Harusnya kukunci saja Berettanya saat itu. Aku terlalu percaya padanya.”


“Tapi maksudku sedikit banyak tujuan mereka adalah untuk membunuhmu kan? Dengan jarak sedekat itu kurasa dia punya banyak kesempatan untuk menembak kepalamu.” Stella bertanya lagi, menopang dagunya sambil mencondongkan badan ke depan.


“Itu dia masalahnya.” Char menghela napa, lalu ia mengalihkan pandangannya ke lantai putih di ruang kesehatan itu.


“Dia bilang ThunderBird-lah alasannya. ThunderBird tidak mau aku dibunuh.” Gumam Chara pelan yang lalu dijawab oleh erangan mengejek dari mulut Stella.


“Kenapa ia tidak mau kau dibunuh? Bukankah lebih baik untuk dia dan tempat kerjanya itu?” Stella mendengus kesal.


“Entahlah.” Chara bergumam lagi. Sejenak ruangan putih berbau kimia itu diliputi keheningan.


“Tebakanku? Thunderbird ingin aku mati di tangannya, dan bukan orang lain.” Chara tertawa kecil. “Entah kenapa ada sesuatu soal dia yang membuatku penasaran.” Chara menyunggingkan senyum tipis pada Stella yang memandangnya dengan dahi berkerut dan wajah penuh cemas.


“Dia—“


“Apa? Lelaki tipemu?” Potong Stella sambil tertawa.


“Hei!” Chara ikut tertawa.


“Kalau kau bilang dia tipemu… Mungkin dia adalah tipe cowok modus yang topik-topik pembicaraannya dalam dan sok manis. Tidak terlalu ganteng tapi punya pesonanya sendiri.” Stella memaparkan dengan raut yang mengejek. Karena buat Stella mungkin cowok seperti itu adalah cowok kuno.


“Yeah. Dia memang agak sok manis dan sok bijak. Tapi soal ganteng aku gak tahu. Wajahnya kan tertutup topeng.” Chara berdiri dari sofa kulit yang menelan tubuhnya itu. Spontan tangan Stella membantunya berdiri.


“Jangan sampai kau jatuh cinta padanya, Char. Alasannya kurasa aku tidak perlu jelaskan.” Stella berbisik. Chara memandang kosong ke lantai.


“Ya. Tentu saja.”


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------


‘Kenapa aku memutuskan untuk ikut dengan Mr. West saat itu? Kenapa aku yang masih sangat-sangat kecil berakting seperti aku pahlawan super yang punya kekuatan untuk menyelamatkan dunia?’


Chara memandang ke luar jendela kelasnya.  Matanya mengikuti rerumputan di taman sekolah yang bergoyang pelan tertiup angin.


‘Coba lihat rumput itu, derajat hidupku kan sudah pasti ada di atas rumput, tapi rumput itu kelihatan luar biasa tenang di bandingkan dengan hidupku sendiri. Sedangkan aku malah menderita karena dendam orang-orang di tengah-tengah tumpukan mayat.’


Chara menghela napasnya. Suara Mrs. Sarah yang menjelaskan terdengar sayup-sayup masuk dan keluar dari telinganya. Sesekali suara bisikan anak-anak ikut terdengar, menyakan jawaban kesana kemari, dan bunyi oret-oretan pensil di atas kertas.


“Tu bisa kerjakan nomor 4? Je disuruh mengisi di depan nih.” Bisik Max yang menatap nervous ke catatannya. Chara tersenyum tipis, lalu melihat nomor 4 yang ditanyakan teman barunya itu. Ia mulai menulis, mencoba untuk memecahkannya.


“Tu lagi ada masalah ya? Kenapa?” Tanya Max, masih berbisik. Chara mendengus kecil.


“Nggak kok. Aku cuma agak lelah Max.” Jawab Chara setengah berbisik juga.


“Kalau tu ada masalah, boleh kok cerita sama je..” Bisik Max. Chara spontan memiringkan kepalanya dan memandang sahabat barunya.


“Really?” Chara berpikir, kepolosan anak ini mungkin akan membuat ceritanya masuk akal dan ia tidak akan curiga dengan curhatan-curhatan Chara. Ditambah dengan  Max menangguk sambil tersenyum. Chara tergoda untuk cerita, tapi tentu saja itu bukan pilihan.


“Terimakasih banyak Max. Tapi masalah ini terlalu rumit buat dijelaskan.” Chara berbisik sambil kembali menatap bukunya.


‘44cos 315 + 22tan 560.’ Pikir Chara saat menulis ulang soalnya sebelum lalu mendorong pelan catatannya pada teman sebelahnya.


“Hm… Char? Itu soalnya 4cos + 2tan. Bukan 44 dan 22.” Kata Max sambil mendorong kembali bukunya ke jangkauan penglihatan Chara. Chara melihat kembali bukunya. Semuanya berbayang. ‘4? Kenapa terlihat seperti 44?’


Chara memegangi kepalanya. Semua terasa berputar dan kepalanya terasa ringan. Chara tiba-tiba ingin muntah rasanya. Ia menelan gumpalan yang terasa menghalangi napasnya, lalu berjalan ke arah sang guru dan meminta izin untuk ke ruang kesehatan.


Sebelum Mrs. Sarah sempat menjawab dengan kalimat lengkap, Chara berjalan duluan keluar dari ruangan.


‘Kenapa rasanya kakiku tidak menempel ke tanah? Kenapa semuanya terasa ada dua? Kenapa aku ingin muntah?’ Chara perlahan berjalan sempoyongan keluar dari kelasnya.


“Tapi sekarang aku percaya kalau malaikat itu benar-benar ada.”


Chara mendongak.


“Siapa itu?” Ia bergumam, mencari sumber suara yang didengarnya.


“Ah!” Chara menekan telapak tangannya ke keningnya. Kenapa kepalanya terasa begitu sakit? Kenapa dunia terlihat berputar makin lama makin cepat? Kenapa tiba-tiba ada sesuatu yang dingin menghantam kepala dan punggungnya?


“Chara!”


‘Siapa?’


“Chara!!” Bayangan seseorang terlihat buram dibalik kelopak matanya yang hampir tertutup.


‘ThunderBird?’


“Chara sadarlah!” Bayangan itu semakin lama semakin jelas.


‘Apa yang kau lakukan disini?’


“Chara?”


Chara mengerang, memaksakan kedua matanya terbuka dan semburan cahaya terang yang secara bersamaan memaksa untuk masuk ke dalam bola matanya.


“Kau sudah sadar?”


Chara mengedipkan matanya beberapa kali.


“Stella?” Ia memanggil nama sosok yang tampak di sampingnya. Chara merasa suaranya tidak terdengar seperti miliknya dan ia berdeham beberapa kali.


“Kau tidak apa-apa?” Kata Stella sambil membantu temannya untuk duduk. Chara mendesis dan memegangi keningnya.


“Apa yang terjadi?” Tanya Chara susah payah. Entah mengapa tenggorokannya terasa sangat kering dan membuatnya sulit untuk bicara.


“Kau pingsan di dekat ruang guru. Untung ada yang membopongmu sampai UKS, lalu salah satu staff sekolah menelepon Mr. West yang terdaftar sebagai walimu, dan ia mengirim Stellmaria kesini.” Jawab Stella.


“Aku ini sakit atau kenapa?” Chara mengusap keningnya yang terasa sakit.


“Well, menurut diagnosa Stellmaria ini terjadi karena tembakkan Ruby kemarin malam. Di dalam peluru itu terdapat sesuatu yang dapat mengganggu equilibrium dan menyebabkan gejala seperti yang kau alami. Seperti penyakit vertigo.” Jawab Stella. Chara mengerutkan dahinya.


“Di dalam pelurunya?” Stella mengangguk. Dasar cewek licik.” Kata Chara sambil kembali bersandar ke tembok.


“Tapi efek ini tidak tahan lama kan?” Chara memandang khawatir pada kawannya.


“Kata Stellmaria efek itu akan hilang bersamaan dengan lukamu yang menutup.” Chara mengumpat pelan.


“Apa yang harus kulakukan kalau aku bertemu dengan ThunderBird dalam keadaan seperti ini? Bisa-bisa aku benar-benar mati kali ini.” Chara mencengkram selimut yang ada di sampingnya dengan kesal.


“Tenanglah. Untuk sementara waktu aku sedang senggang. Jangan kau berani-berani keluar tanpa aku.” Kata Stella sambil tersenyum berusaha menenangkan Chara. Chara memandang cemas kawannya itu. Dialah yang diincar oleh Nocens. Chara paling benci harus menyeret-nyeret orang lain ke dalam situasi seperti ini.


Terutama teman-temannya sendiri.