
“Kamu sakit Char?” Tanya Nyra dengan wajah cemas memandang Chara yang hanya menatap makan siangnya dengan kening yang berkeringat. Jari telunjuk dan ibu jarinya ia usapkan di keningnya, memijatnya untuk menghilangkan rasa sakit yang menyiksanya.
“Nggak kok.” Jawab Chara setengah berbisik.
“Oh ya? Tapi kamu pucat banget.” Nyra terus memperhatikan sahabatnya itu. Chara tersenyum tipis meyakinkan
sahabatnya.
“Aku cuma agak pusing. Percayalah, aku baik-baik saja.” Jawab Chara walaupun dadanya sesak setengah mati.
Ini hari ketiga setelah peluru bermasalah itu menembus pundak Chara. Dan lukanya belum membaik. Mungkin antivus yang disebut-sebut Stellmaria itu memang manjur. Tapi semanjur-manjurnya obat ajaib, tidak mungkin bisa
menutup luka sedalam 1 cm itu dalam kurun waktu hanya seminggu.
Rasa pusing itu masih tetap menyerangnya. Mual dan sakit kepala pun masih ada. Stellmaria menyarankan untuk diam dirumah selama beberapa hari. Tapi apa alasan yang akan ia berikan pada ibunya?
Chara menghembuskan napas keras. Mungkin lebih baik ia biarkan ibunya tahu. Atau lebih baik mengundurkan diri dari WPA? Chara menggeleng keras-keras, membuang pikiran itu dari kepalanya. Ia telah bersumpah untuk mengabdikan seluruh hidupnya pada WPA.
“Aku… mau istirahat di UKS saja. Bisa tolong mintakan izin ke Bu. Sherlin?” Kata Chara, masih menunduk menatap makan siangnya yang terbengkalai. Nyra mengangguk.
“Ya. Biar nanti aku yang izinkan. Kamu pucat sekali. Ayo ke UKS sekarang.” Kata Nyra sambil berjalan menghampiri Chara. Chara berjalan dengan tangan kanannya memegang erat lengan Nyra. Semua yang ia lihat seolah-olah berbayang. Chara mendecakkan lidahnya.
Nyra membantu Chara berbaring di tempat tidur ruang UKS.
“Kau mau kupesankan teh hangat?” Kata Nyra sebelum melangkah keluar dari UKS. Chara tersenyum dan menggeleng.
“Tidak usah. Kau balik saja ke kelas, nanti terlambat.” Kata Chara. Nyra tersenyum, lalu berjalan keluar.
Chara menghembuskan napasnya keras-keras. Ia bertugas sebagai agen WPA, dan sudah menjadi keharusan untuknya tetap melaksanakan misi-misi yang ditugaskan padanya dalam keadaan apapun, walaupun atasannya tetap melakukan yang terbaik untuk mengurangi tugasnya dan kelihatannya berhasil, melihat dari tidak adanya panggilan yang masuk dari WPA untuk Chara sudah 2 minggu ini.
Iseng, Chara mengeluarkan Smartphone nya, lalu membuka email WPAnya. Ada 3 email baru yang belum dibuka disana. Satu dari Mr. West yang menanyakan keadaannya. Chara membukanya dan membalasnya dengan “Ya, aku tidak apa-apa. Walaupun masih pucat, pusing, mual dan sedikit sempoyongan.” Lalu ia menambahkan gambar smiley dengan dua jari terangkat di belakangnya, lalu menekan tombol send. Jari Chara bergerak cepat membuka email kedua, ternyata hanya email berisi ucapan terimakasih dari kepolisian atas pemecahan kasus terakhir. Chara mendengus membaca email itu. Ia tidak berhasil, sangat tidak berhasil saat itu. Apakah membiarkan target mati itu masih dianggap berhasil walaupun menemukan pelakunya?
Email terakhir yang belum dibuka adalah email tugas dari WPA. Chara menarik napas panjang. Semoga tugasnya masih bisa ia jalankan dengan kondisinya yang seperti ini.
Chara mengklik email itu untuk membacanya.
Email ditujukan bagi Serenity Charlexa Saito.
Anda ditugaskan untuk menjalankan tugas ini
bersama dengan Ms. Stellaria Jones sebagai asisten. Mohon konfirmasi secepat
mungkin setelah email ini di buka.
Blogger Peramal Masa Depan
Tolong buka 2 situs ini.
Itulah yang tertulis didalam email. Chara mengklik situs yang tertera disitu, lalu terbukalah sebuah kolom berita.
Blogger ini cenayang?
Seorang blogger dengan nama yang disamarkan sebagai Aphrodite,
menuliskan dalam situsnya yang akhir-akhir ini menjadi viral, sebuah artikel
yang terdengar seperti laporan berita yang berisi: ‘Satu pencuri yang sama
berhasil membobol 11 rumah bersebelahan. Perampokan terjadi di daerah X blok N
sekitar dua minggu yang lalu. Rumah yang dirampok dimulai dari nomor 05, 03,
dan N5. Yang berarti terjadi perampokan pada setiap rumah setiap harinya. Harap
waspada! Pencuri ini menuju ke blok S.’
Setelah dipastikan kebenarannya ternyata kabar ini hanyalah kabar burung. Perkomplekan di daerah X blok N tidak pernah mengalami pembobolan rumah secara beruntun seperti apa yang dikatakan Aphrodite.
Namun pada tanggal 15 April, yaitu tepat 1 bulan
setelah kabar angin itu diposting, perampokan di daerah X blok N terjadi,
persis seperti apa yang dikabarkan oleh sang blogger.
Chara mengerutkan dahinya. Kasus macam apa ini? Ramalan criminal? Chara hampir tertawa sendiri mendengar pikirannya.
Chara membuka situs selanjutnya.
Lagi-lagi, seorang blogger meramalkan kejahatan
GunLovers menuliskan di blognya: ‘Kebakaran pada apartemen besar di daerah Z.
Disebabkan oleh adanya tembakan meleset yang diduga dikeluarkan dari sebuah
senapan Remmington yang mengenai
persedian mesiu yang disimpan oleh seorang anggota tentara yang menyewa
apartemen disana. Ledakan besar tidak terhindari. 14 orang luka-luka, 15 orang
tidak sadarkan diri, 3 orang tewas, 5 orang luka parah, dan 14 anggota
penyelamat yang dikirim kedalam dinyatakan hilang dan diduga terkubur tertimpa
potongan bangunan.’
Sama seperti blog yang ditulis Aphrodite, tim
kepolisian mengecek kebenaran berita tersebut dan ternyata hasilnya nihil.
Namun, pada tanggal 15 Juli, yaitu 1 bulan kemudian, terjadi kebakaran besar
pada apartemen yang dimaksud.
Chara semakin tidak mengerti. Apa yang diinginkan si pelaku? Apakah orang yang ingin si pelaku bunuh ada di sana? Tapi kalaupun begitu, menuliskan hal-hal seperti ini sama saja dengan membuat orang mengetahui rencana mereka kan? Lewat dua tulisan ini saja kalau ada tulisan lain berarti semua orang akan bersiap-siap untuk menanggulangi apapun yang akan terjadi dalam satu bulan setelahnya.
Handphone Chara berkedip, dan Chara membukanya. Sebuah pesan baru masuk, balasan dari Mr. West soal keadaannya.
“Kau tidak perlu berpura-pura, Stellmaria sudah cerita semuanya padaku. Aku sudah kirim orang ke sekolahmu, kau akan masuk ke rumah sakit milik WPA untuk sementara. Aku tidak memberikan pilihan untuk menolak padamu. Lebih baik cepat bereskan barang-barangmu sekarang juga. Jemputan akan segera datang.” Chara membuang napasnya pelan.
Chara mengantongi handphonenya, dan duduk. Beberapa menit kemudian guru Bahasa inggrisnya mengintip ke dalam ruang UKS.
“Charlexa? Tantemu datang untuk menjemput. Tasmu sudah dibawakan temanmu ke depan UKS. Istirahat yang benar ya, Get well soon.” Gurunya tersenyum. Chara berjalan ke arahnya, dan tersenyum balik.
“Thanks a lot Ma’am Karen.” Chara lalu berjalan keluar, mengambil tasnya yang tergeletak di pintu UKS. Seorang wanita menyapanya.
“Jane?” Panggil Chara pada si wanita yang tepatnya adalah wanita yang biasanya merampungkan dokumen dari Mr. West untuk Chara, terkenal juga sebagai adik dari Mr. West.
“Oh.. maksudku… Tante.” Kata Chara sambil melirik ke Miss Karen yang masih berdiri di dekatnya. Jane tersenyum.
“Ayo pulang. Ibumu sangat mencemaskanmu.” Kata Ms. West sambil menggandeng lengan Chara.
Saat melangkah keluar, sebuah sedan putih menyapanya, Chara mengangkat alisnya.
“Apakah harus bawa Benz hanya untuk menjemputku yang sedang sakit ini dari sekolah?” Tanya Chara pada Jane. Jane tertawa dan menurunkan kacamata hitamnya.
“Kau kan tahu sendiri kalau Andrew agak gila, tapi ini satu-satunya mobil yang paling sederhana yang ia punya.” Jane tertawa lagi. “Dasar Kakak orang kaya.” Kata Jane sambil berjalan masuk ke mobil, Chara mengikutinya dan masuk ke mobil. Ia tertidur di perjalanan sampai ke West Hospital, dan ketika ia membuka matanya, ia sudah sampai di luar sebuah bangunan putih besar yang tampak familiar baginya.
Seorang perawat pria membantunya keluar dari mobil.
“Di ruang H-8 ya.. Sir.” Kata Jane sambil tersenyum manis pada Chara. Si pria mengangguk, dan membimbing Chara ke arah yang dimaksud.
Sampailah Chara di sebuah kamar. Tampaknya umum saja seperti rumah sakit kebanyakan, tapi West hospital terkenal lumayan mewah. Ruangan VIPnya lumayan mahal tapi kelas 2 dan 3 nya murah dengan kualitas di atas rumah sakit lain. Si perawat membantu Chara naik ke tempat tidurnya, mengangguk pada Jane dan lalu meninggalkan ruangan. Chara menghela napasnya. Blok H adalah kamar-kamar VIP yang diperuntukkan keluarga dan agen-agen didikkan Mr. West, dan Chara sendirian di ruangan itu.
“Dokter akan datang ke sini nanti malam. Kau tunggulah ya? Aku harus kembali ke WPA untuk sementara. Mungkin nanti aku akan kesini lagi.” Jane tersenyum lagi, sambil mengusap pelan kepala Chara. Chara membalas senyumnya.
“Tidak perlu repot-repot. Aku yakin kau cukup sibuk, tidak perlu repot-repot kembali lagi kesini. Kau juga perlu istirahat.” Jawab Chara. Jane tertawa kecil.
“Baiklah, kau nurut saja pada dokter ya, jadilah anak baik. Aku akan menghubungimu kalau-kalau aku akan kemari atau ada kabar baru tentang Nocens.” Jane bangkit berdiri, dan menyandangkan tasnya di bahu kanan.
“Ya. Hati-hati Ms. West.” Chara tersenyum dan melambai pelan. Jane mengangguk dan berjalan keluar.
Chara menghembuskan napas keras, dan senyumnya perlahan menghilang, bersamaan dengan pintu yang ditutup.
Mata Chara perlahan menutup. Kali ini dia sendirian. Benar-benar sendirian. Tanpa Stella, tanpa ibunya, tanpa Mr.West.
Tanpa Max.
Mata Chara terbelalak membuka. Max? Kenapa nama itu bisa keluar dibenaknya?
Chara mendengus. Ia terlalu banyak berpikir.
Chara yang mulai bosan melirik kanan dan kiri, mencari hiburan. Dan ia menemukan TV yang cukup besar dan menarik di depannya, dan sekarang yang ia cari adalah sebuah remote. Benda hitam itu rupanya ada di laci meja sebelah kasur. Chara tersenyum tipis dan menyalakan TV.
Ia membiarkan TV menyala dengan Cartoon Network berlangsung di layarnya. Dan tanpa sadar, matanya mulai menutup lagi.