Love Is Blocked By Revenge

Love Is Blocked By Revenge
Masa yang tidak pernah bisa di lupakan 2.



Erlan dan Adel segera turun dari mobil lalu mereka berdua langsung berjalan menghampiri air mancur.


"Waahh…rasa nya sejuk sekali ya sayang…" Seru Adel sambil duduk di bangku panjang.


"Iya sayang…" Ucap Erlan lalu ia duduk di samping Adel.


"Oh iya Kak Erlan…apakah tidak apa-apa meninggalkan kesibukan kakak?…" Tanya Adel dengan khawatir karena takut mengganggu waktu Erlan.


"Tidak apa-apa sayang…kamu tidak perlu khawatir…" Jawab Erlan seraya memegang pipi Adel dengan lembut.


"Benarkah?…".


"Benar sayang…jangan khawatir. Dari pada kamu mengkhawatirkan ku, lebih baik sekarang kita habiskan waktu bersama…" Ajak Erlan.


"Baiklah…".


"Ok!. Jika begitu…maukah kamu pergi membeli Es krim?" Tanya Erlan sambil bangkit dari duduk nya.


"Mau!" Jawab Adel dengan senang lalu ia juga langsung bangkit dari duduk nya.


"Sekalian bertemu dengan Bi Dina dan Vina!…" Lanjut nya.


"Ok!…".


Erlan merangkul lengan Adel, lalu mereka berdua pun berjalan menuju toko Es krim langganan.


Setelah beberapa menit berjalan, Erlan dan Adel sampai di toko Es krim tersebut. Sesampai nya di sana, mereka langsung memesan empat Es krim sekalian untuk Bi Dina dan Vina.


Setelah Erlan dan Adel memesan Es krim, mereka langsung mendatangi toko bunga Bi Dina, tetapi yang mereka lihat bukanlah Bi Dina yang biasa menyiram bunga, melainkan seorang gadis cantik.


"Ah?…maaf, anda siapa?…" Tanya Adel merasa sedikit terkejut ketika melihat gadis tersebut.


"Ah!…halo…" Sapa gadis itu dengan sopan.


"Ah!, h-halo…" Jawab Adel merasa malu karena tidak menyapa terlebih dahulu.


Adel menatap wajah gadis tersebut, ia merasa kagum pada kecantikan yang di miliki nya "Cantik sekali…dia seperti bukan warga negara ini…kecantikan nya seperti warga negara B…".


"Perkenalkan, nama saya adalah Azalea, kalian bisa memanggil saya Lea…" Ucap Lea dengan tersenyum manis dan senyuman nya itu membuat Adel semakin ter kagum.


Tidak lama dari Lea memperkenalkan diri, tiba-tiba Erlan menjatuhkan semua Es krim nya, entah mengapa bisa ia menjatuhkan nya.


Melihat Es krim nya terjatuh, Adel langsung melihat ke arah Erlan. Terlihat Erlan menatap Lea dengan tatapan aneh tanpa berkedip sedikit pun dan itu membuat Adel berpikir yang tidak-tidak.


"Kenapa Kak Erlan menatap nya seperti itu?…ya, aku akui, aku juga merasa kagum pada kecantikan yang di miliki oleh gadis itu, tetapi tidak sampai menatap nya seperti itu…" Batin Adel merasa khawatir pada tatapan Erlan.


Karena Erlan tiada henti menatap Lea, Adel langsung menepuk punggung Erlan dengan keras.


"Sayang!…" Panggil Adel dengan nada tinggi.


"E-eh?!. Iya, ada apa sayang?…".


"Kak Erlan menjatuhkan Es krim nya…" Ucap Adel sambil menunjuk ke arah Es krim tersebut.


"Ah!, iya…maafkan aku ya sayang, aku telah ceroboh…".


"Ya sudah tidak apa-apa, lain kali berhati-hatilah…" Ucap Adel dengan senyuman kecil.


"Waahh…kalian adalah pasangan yang sangat serasi ya…" Puji Lea.


"Benarkah?…terimakasih---". Belum sempat Adel berbicara, Erlan langsung memotong pembicaraan nya.


"Benarkah?…padahal kami baru saja berpacaran…".


Mendengar Erlan berbicara seperti itu membuat Adel terkejut dan terdiam.


Adel tidak mengerti mengapa Erlan berbicara seperti itu, padahal mereka berdua sudah menjalin hubungan selama lima tahun lebih.


"Oh!, lihatlah tangan anda…berlumuran Es krim. Mari, biar saya bersihkan…" Ucap Lea lalu ia hendak meraih tangan Erlan, tetapi langsung di cegah oleh Adel dengan cepat.


"Maaf, tapi…apakah anda melihat Bi Dina?…".


"Ah! benar, apakah anda melihat Bi Dina?…" Sambung Erlan dengan pertanyaan yang sama sambil tersenyum ramah pada Lea.


"Tidak biasa nya dia tersenyum ramah seperti itu pada orang…" Batin Adel sambil menatap Erlan.


"Bi Dina?…".


"Iya".


"Apakah Bi Dina adalah nama dari pemilik toko ini?. Jika tidak salah, tadi dia pergi lalu menyuruh saya untuk menyiram bunga dan menjaga toko nya sebentar" Jelas Lea.


"Benarkah?…kemana dia pergi?…" Tanya Adel.


"Entahlah. Saat dia pergi, dia terlihat sangat buru-buru…".


"Lalu bagaimana bisa anda di suruh untuk menjaga toko?…" Tanya Erlan.


"Awal nya saya hanyalah seorang pelanggan…" Jawab Lea dengan tersenyum kecil.


"Anda datang membeli bunga untuk siapa?" Tanya Erlan kembali dengan senyuman lebar menghiasi wajah nya.


"Kenapa Kak Erlan tersenyum seperti itu?. Benar-benar aneh, saat bertemu dengan Lea, aku merasa Kak Erlan seperti orang lain. Tidak biasa nya dia tersenyum seperti itu pada orang lain karena sifat nya yang dingin…apa benar Kak Erlan…tidak-tidak-tidak!, tidak mungkin kan?…".


Adel merasa benar-benar sangat khawatir dan tidak tenang. Melihat Erlan tersenyum dan ramah pada orang lain, apalagi terhadap Lea yang seorang gadis cantik membuat Adel merasa sangat cemburu, tetapi ia juga berusaha untuk berpikir positif.


"Saya membeli bunga untuk diri saya sendiri…" Jawab Lea dengan tersenyum manis.


"B-benarkah?…apakah anda tidak mempunyai pacar?…".


Mendengar Erlan bertanya seperti itu membuat Adel tidak bisa berpikir positif lagi, sekarang pikiran nya kacau dan tidak bisa berpikir dengan benar.


Adel menatap Erlan dengan tatapan penuh rasa bertanya-tanya "Apakah sebenar nya Kak Erlan seperti ini?…".


"Saya tidak mempunyai pacar…" Jawab Lea dengan ter sipu malu.


"Begitu ya…sayang sekali, padahal anda ini sangatlah cantik…" Puji Erlan.


Mendengar Erlan memuji wanita lain, benar-benar membuat Adel merasa kecewa dan berpikir bahwa seperti inilah sifat asli Erlan.


Adel menatap Erlan dengan tatapan sedih, ia tidak bisa berkata apa-apa dan air mata mulai muncul di pelupuk mata nya.


"Sayang…". Erlan memanggil Adel, dan dengan langsung Adel mengusap mata nya berharap Erlan menyadari bahwa diri nya ingin menangis.


"Apa sayang?…".


"Kita pulang ke rumah ya…seperti nya aku harus melanjutkan kesibukan ku…" Ucap Erlan dengan nada lembut tetapi tatapan mata nya terlihat berbeda.


"Apakah Kak Erlan tidak menyadari nya?, biasa nya jika aku ingin menangis, Kak Erlan akan langsung menyadari nya, tetapi…kenapa sekarang tidak?…"


"Baiklah jika begitu…" Ucap Adel dengan senyuman paksa.


"Terimakasih sayang…".


"Oh iya Lea!…kita mau pulang ke rumah, jika ada Bi Dina, tolong sampaikan salam pada nya dari saya…" Ucap Erlan dengan ramah.


"Ya, akan saya sampaikan…".


"Baiklah, terimakasih…".


Bersambung…"