
Pada keesokan hari nya waktu sudah menunjukkan pukul o7:05 pagi dan Eliana serta Gita sudah menyiapkan sarapan untuk Erlan.
''Seharus nya tuan Erlan sarapan bersama dengan tuan rangga, tetapi seperti nya mereka tidak begitu akur'' Batin Gita seraya melihat Erlan sarapan seorang diri dari kejauhan.
''Bibi'' Panggil Eliana seraya menepuk pundak Gita dengan pelan.
''Eh!, Eliana'' Ucap GIta tampak terkejut.
''Kenapa Bibi tampak terkejut?, apakah Bibi melamun?'' Tanya Eliana sambil menatap wajah Gita dengan dalam.
''Ah...tidak, Bibi tidak melamun, Bibi hanya sedang memikirkan sesuatu saja'' Jawab Gita seraya memegang ke dua pundak Eliana.
''Oh begitu ya''.
''Ya sudah, ayo sekarang kita bersihkan pekerjaan rumah lain nya'' Ucap Gita dengan bersemangat.
''Baik Bi''. Eliana dan Gita segera berjalan menuju ruang tamu, tetapi tiba-tiba langkah mereka di henti kan oleh Erlan.
''Tunggu!'' Panggil Erlan dari kejauhan.
Erlan segera bangkit dari duduk nya lalu ia langsung berjalan dengan cepat menghampiri Eliana dan Gita.
''Ya tuan''. Eliana dan Gita langsung menundukkan kepala mereka dengan sopan dan tidak berani melihat wajah Erlan sedikit pun.
''Eliana, ikut lah dengan ku'' Titah Erlan lalu ia berjalan pergi.
Mendengar perintah dari Erlan, Eliana tidak menjawab apapun dan hanya mengangguk, ia langsung berjalan mengikuti Erlan dari belakang dan memberi bisikan pada Gita ''Aku akan segera kembali".
''Baiklah, cepatlah kembali'' Ucap Gita seraya mengangguk kan kepala nya.
"Ya tuhan, semoga tidak terjadi apa-apa pada Eliana...'' Batin Gita dengan khawatir seraya menatap kepergian Eliana dengan tatapan penuh rasa ketakutan.
Eliana berjalan dengan pelan mengikuti Erlan dari belakang hingga sampai lah mereka berdua di ruang kerja Erlan.
''Ada satu hal yang perlu kau ingat'' Ucap Erlan seraya duduk di kursi kerja nya sedangkan Eliana hanya bisa berdiri dan masih menundukkan pandangan nya.
''Y-ya tuan?...''.
''Aku melepaskan kau hanya karena Adel dan bukan berarti jika aku melepaskan kau maka hidup kau akan tenang-tenang saja'' Jelas Erlan sambil menatap Eliana dengan tatapan tajam.
''J-jadi seperti itu ya...'' Batin Eliana.
Kali ini Eliana berjuang untuk diri nya agar tidak merasa ketakutan lagi saat sedang berhadapan dengan Erlan, Ia berpikir harus berani dalam diam dan tetap tenang.
''Baik lah tuan''.
''Bagus jika kau mengerti. keluar lah''. Eliana berjalan keluar dengan cepat dari ruangan kerja Erlan dan di waktu yang sama, ia bertemu dengan Adel yang sedang berjalan menuju ruangan kerja.
''Eliana...''. Adel merasa terkejut saat melihat Eliana keluar dari ruang kerja ERlan, ia penasaran dengan apa yang telah terjadi pada Eliana dan Erlan.
''N-nona...''.
''Hmm, apa Kak Erlan ada di dalam?'' Tanya Adel dan Eliana mengangguk dengan sopan sebagai jawaban lalu ia berjalan turun pada anak tangga.
''Apa yang telah terjadi?...'' Batin Adel lalu ia langsung memasuki ruang kerja Erlan.
''Cia...''. Erlan merasa sedikit terkejut saat melihat Adel yang tiba-tiba memasuki ruangan nya, ia berharap Adel tidak berpapasan dengan Eliana saat di luar dan tidak menanyakan nya.
''Hai sayang...''.
''Kamu datang ke sini?, kenapa kamu tidak menghubungi ku dulu?'' Tanya Erlan lalu ia langsung berjalan menghampiri Adel dan memeluk nya.
''Maaf, Aku hanya ingin mengejutkan Kak Erlan saja'' Jawab Adel seraya membalas pelukan Erlan.
''Hahaha...aku benar-benar merasa terkejut'' Ucap Erlan dengan tertawa kecil seraya melepaskan pelukan nya.
''Benarkah?...'' Tanya Adel sambil menatap wajah Erlan.
'' Ya sayang. Oh iya, ada apa kamu datang ke sini?''.
''Aku ingin ikut Kak Erlan ke kantor'' Ujar Adel dengan manja seraya memeluk Erlan kembali dengan erat.
Melihat sikap Adel yang begitu manja dan ekspresi wajah nya yang datar membuat Erlan yakin bahwa Adel telah berpapasan dengan Eliana di luar.
Agar Adel tidak salah paham berlanjut, Erlan berusaha untuk menyenangkan Adel dan mengangguk atas permintaan nya.
''Dengan kamu tidak meminta pun kamu boleh ikut dengan ku ke kantor kapan saja, atau pun langsung datang ke kantor menemui ku...'' Jelas Erlan dengan lembut seraya mengusap puncak rambut Adel.
''Terima kasih ya sayang...'' Ucap Adel seraya melepaskan pelukan nya.
''Ya sayang...''
''Ya sudah jika begitu, ayo kita berangkat...'' Ajak Adel seraya merangkul tangan Erlan dengan erat.
''Ya...''. Erlan dan Adel berjalan keluar dari ruang kerja dan segera menuruni anak tangga, saat mereka berdua sudah sampai di lantai satu, mereka berdua melihat Eliana dan Gita sedang berdiri menunggu mereka.
''Berhati-hati lah di jalan tuan'' Ucap Gita.
''Ya''.
''Kami berangkat dulu'' Ujar Adel seraya tersenyum pada Gita dan Eliana.
''Ya nona, selamat jalan'' Ucap Gita dengan tersenyum begitu pun dengan Eliana yang masih malu-malu.
Erlan dan Adel berjalan keluar lalu mereka berdua langsung memasuki mobil, setelah semua nya sudah siap, mereka berdua memulai perjalanan.
''Bi Gita...''.
''Ya Eliana?''.
''Apakah Bibi tahu kapan tuan Erlan dan nona Adel bertunangan?...'' Tanya Eliana dengan penasaran.
''Hmm, Bibi pernah mendengar, seperti nya antara dua atau tiga bulan lagi...memang nya kenapa?''.
''Tidak apa-apa, aku hanya merasa mereka berdua adalah pasangan yang sangat serasi...'' Jawab Eliana seraya tersenyum.
''Benarkah?...Bibi juga merasakan hal seperti itu...''.
''Apakah saat tuan Erlan dan nona Adel bertunangan, kita di undang ?''.
''Hmm...seperti nya kita di undang, tetapi kita akan sibuk di belakang altar dan hanya melihat mereka berdua dari kejauhan...'' Jelas Gita.
''Tidak apa-apa, yang penting aku bisa merasakan suasana meriah dan banyak nya tamu yang berdatangan...'' Batin Eliana.
Sedari kecil, Eliana tidak pernah merasakan suasana sebuah pesta, jadi dia merasa ingin sekali datang ke acara pertunangan Erlan dan Adel meski harus merasakan nya dari kejauhan, hal itu sudah cukup untuk membalas rasa penasaran Eliana.
''Oh ya, nak...kamu bisa bantu Bibi tidak?...''.
''Bantu apa Bi?...''.
''Tolong belikan beberapa bumbu, kemarin saat ke pasar, Bibi lupa membeli nya...'' Jelas GIta.
''Baiklah Bi...''.
''Ini uang dan catatan bumbu yang harus di beli...'' Ucap Gita seraya menyerahkan nya pada Eliana.
''Apa uang nya tidak lebih?...'' Tanya Eliana dengan khawatir karena ia takut membawa uang berlebih dan menghilang kan nya.
''Uang nya pas, kamu tenang saja. Tolong ya Eliana, karena Bibi harus membersihkan seluruh toilet terlebih dahulu...'' Ucap GIta merasa telah merepotkan Eliana.
''Ya Bi, tenang saja...serahkan semua nya pada Eliana'' Seru Eliana dengan bersemangat.
''Terimakasih. Oh ya, kamu akan di antarkan oleh bawahan nya nona Adel yang bernama Edric'' Ucap Gita lalu ia memanggil Edric yang sedang berada di halaman depan.
''Ya Bi...''. Edric berjalan masuk dari luar, ia segera menghampiri Eliana dan Gita.
''Tolong antarkan Eliana ke pasar ya...''.
''Ahh...baik Bi''.
''T-tidak apa-apa Bi...Eliana bisa pergi sendiri ke pasar menaiki taksi...'' Ujar Eliana merasa tidak nyaman dan tidak ingin merepotkan Edric.
''Tidak bisa Eliana...kamu baru pertama kali pergi ke pasar dan Bibi tidak ingin terjadi apa-apa padamu'' Tegas Gita dengan khawatir.
''Tetapi Bi, Eliana sudah tahu kok mengenai jalan nya...''.
''Bibi tidak percaya, pokok nya Bibi ingin kamu di antarkan dan di temani oleh Edric...'' Tegas Gita dengan keras kepala.
''Eliana hanya tidak---''. Belum sempat Eliana melanjut kan bicara nya, Edric langsung memotong pembicaraan nya.
''Apa yang di katakan oleh Bi Gita benar, lebih baik aku mengantar dan menemani kau''.
''T-tapi tuan...''.
''Tidak apa-apa...''.
''Jika bukan karena perintah nona Cia, aku malas mengawasi dan menjaga kau...'' Batin Edric seraya menatap dingin pada Eliana.
''Ya Eliana, tenang saja...'' Sambung Gita.
''J-jika begitu, tolong ya...maaf telah merepotkan tuan'' Ucap Eliana dengan sopan.
''Ya'' Jawab Edric dengan singkat dan senyuman paksa.
''Edric, tolong jaga Eliana dengan benar...''.
''Terimakasih banyak. Bi...Eliana berangkat dulu ya...'' Sapa Eliana seraya mencium tangan Gita dengan sopan.
''Ya Eliana, berhati-hatilah...''.
Eliana dan Edric segera berjalan ke luar dari rumah dan langsung masuk ke dalam mobil, setelah semua nya sudah siap, mereka berdua memulai perjalanan mereka.
Setelah sekitar 1 jam kemudian, lama nya perjalanan yang mereka tempuh, akhir nya sampai juga di pasar.
''T-tuan...tolong tunggu sebentar saja di sini, biar saya yang keluar mencari bahan-bahan nya...'' Ujar Eliana.
''Apa kau yakin?'' Tanya Edric dengan nada malas.
''Ya, saya yakin...''.
''Jangan membuat diri ku repot, jika kau tersesat, aku akan tetap menunggu hingga kamu kembali''.
''Baiklah'' Jawab Edric singkat seraya mengalihkan pandangan dari Eliana.
Eliana membuka pintu mobil lalu ia segera turun dari mobil dan berjalan dengan cepat masuk ke dalam pasar.
Pagi ini pasar sangat lah ramai, banyak orang berdempetan untuk berbelanja dan hal itu membuat Eliana kelelahan untuk mencari Bumbu yang sudah tertulis di kertas.
''Di mana ya...'' Gumam Eliana seraya melihat pedagang di sekeliling nya dan secara tidak sadar, terdapat pedagang di hadapan Eliana dengan menjual Bumbu yang Eliana inginkan.
Eliana segera berjalan menghampiri pedagang tersebut lalu ia memesan bumbu yang sudah tercatat di kertas.
''Silahkan Bumbu nya...'' Ucap pedagang tersebut seraya menyerahkan Bumbu tersebut.
''Terimakasih ya pak...ini uang nya''. Eliana menyerahkan selembar kertas uang pada pedagang tersebut lalu mengambil Bumbu yang di beli nya.
''Iya nak, sama-sama...''. Setelah selesai membeli Bumbu, Eliana memutuskan untuk segera keluar dari pasar dan tidak ingin membuat Edric menunggu lebih lama di dalam mobil.
Tetapi, ketika ia ingin berjalan, banyak sekali kerumunan orang di depan dan hal itu membuat Eliana susah untuk menerobos serta bingung harus jalan melewati mana.
''Bagaimana ini?...'' Gumam Eliana bingung seraya melihat sekeliling nya untuk mencari jalan yang sepi dan hanya terdapat sedikit kerumunan orang.
Setelah beberapa menit kemudian akhir nya Eliana menemukan jalan yang sepi, jalan itu terlihat seperti gang dan sempit serta tidak ada siapapun di gang tersebut.
Eliana segera berjalan masuk ke gang tersebut, meskipun rasa ragu telah muncul di dalam hati nya, Eliana tetap berjalan masuk ke dalam gang dan tidak ingin membuat Edric menunggu lama.
''Gang ini pasti menuju samping pasar, jadi aku bisa berjalan dengan cepat menuju depan parkiran...'' Ucap Eliana dengan yakin.
Eliana terus berjalan lurus dan belok dengan tiada henti, ia bingung dan asal pilih jalan. Eliana pikir jika sudah keluar dari gang, ia akan berada di samping pasar, ternyata dugaan nya salah.
Setelah beberapa menit berjalan, akhir nya Eliana tersesat dan bingung jalan kembali yang telah ia tempuh.
''Bagaimana ini?...jika aku tidak kembali dengan cepat, tuan Edric akan menunggu lama di dalam mobil...'' Ucap Eliana dengan khawatir.
Ketika Eliana sedang bingung mencari jalan kembali, tiba-tiba ada seseorang yang langsung menutup wajah Eliana dengan karung dari belakang.
''Ah!...s-siapa?...lepaskan!...'' Teriak Eliana dengan terkejut. Eliana berusaha minta tolong dan melepaskan diri nya dari orang tersebut, tetapi ia malah di pukul dengan keras hingga pada akhir nya, Eliana pun pingsan.
Bersambung...