
Keluarga Durant dan Stewart sudah sampai di rumah sakit. Mereka datang terlambat karena jalan yang begitu ramai dan macet.
Ketika sudah sampai, mereka semua melihat Adel di bawa ke ruang ICU. Seketika mereka membulatkan kedua bola mata dan terdiam seribu bahasa.
"A-apa yang telah terjadi pada Cia?!" Tanya Amel dengan nada tinggi.
"Kak Cia mengalami koma karena cedera kepala berat yang dapat menyebabkan perdarahan otak dan kerusakan jaringan otak" Jawab Caitlin dengan tangisan palsu.
Mendengar kabar Adel koma, membuat semua nya merasa sangat terkejut dan terdiam seribu bahasa, lagi-lagi mereka membulatkan kedua bola mata mereka.
"T-tidak mungkin...". Amel terduduk lemas di bangku, ia menangis dengan tersedu-sedu dan seketika merasa tidak berdaya saat mendengar putri tercinta nya mengalami koma.
"Mah...". David ikut duduk di samping Amel, ia memeluk Amel dengan erat seraya mengusap puncak rambut nya.
"Sebenar nya apa yang telah terjadi?" Batin Airell dengan perasaan yang sangat gelisah.
"Ceritakan lah semua nya" Pinta Brian dengan tatapan dingin pada Caitlin.
"E-eliana mendorong Kak Cia karena takut diri nya di laporkan pada kak Erlan mengenai perilaku nya yang buruk" Jelas Caitlin dengan tidak berdaya.
"Eliana?...ternyata dia belum mati?" Ucap Airell dengan sangat terkejut.
"Andai saja Cia tidak menghalangi Erlan untuk membunuh Gadis itu!. Cia terlalu baik, ia telah di manfaatkan oleh Eliana!" Ucap Amel dengan kesal dan terus menangis.
"Sh-sh-sh...sudahlah mah...".
"Papa tidak mengerti!. papa selalu mendukung Cia untuk membantu Eliana, dan akhir nya malah terjadi hal seperti ini!..." Bentak Amel dengan penuh emosi.
"Aku yakin gadis itu tidak mendorong Cia. Yaa...sebenar nya aku tidak peduli juga sih" Batin Adaline dengan senyuman tipis.
"Iya mah..papa salah..."
"Lalu sekarang di mana Erlan?!, kenapa dia tidak ada di sini?" Tanya Airell seraya melihat sekeliling nya.
"Seperti nya Kak Erlan ingin menghukum Eliana" Jawab Caitlin.
"Apa?!, apakah gadis itu lebih penting?. Seharus nya Erlan tetap berada di sini dan menemani Cia karena dia adalah calon tunangan nya!" Ketus Amel.
"Biarkanlah dia bermain-main" Ucap Adaline dengan dingin.
"Apa maksud nona?, seharus nya Erlan tetap berada di sini dan menemani Cia..." Ucap Amel tidak terima.
"Sudah ku bilang. Biarkanlah anak kecil ku bermain-main sebentar, apakah kau tidak mengerti?" Ucap Adaline dengan nada dingin dan tatapan mata yang sangat tajam.
Amel yang melihat tatapan Adaline terdiam seketika, ia langsung mengalihkan pandangan nya dan tidak berani untuk membuka mulut kembali.
"Meskipun keluarga kita sudah dekat dari lama dan saling mengenal, tetapi tetap saja aku tidak bisa terbiasa dengan tatapan nya!" Batin Amel.
"Apa yang di katakan oleh nona Adaline benar, lebih baik Erlan menghukum gadis itu terlebih dahulu" Lirih Airell.
"Kenapa kepala kau berdarah?" Tanya Adaline pada Caitlin dengan dingin.
"Aku telah di dorong oleh Eliana" Jawab Caitlin tetap menangis meskipun merasa sangat takut saat sedang menjawab pertanyaan Adaline.
"Seperti nya aku tahu apa yang telah terjadi" Batin Brian seraya menatap Caitlin dengan dalam.
"Pergilah, kau merusak pemandangan" Titah Adaline.
"B-baik...". Caitlin langsung pergi dari kerumunan, ia merasa sangat takut saat ada Adaline. Seketika tubuh nya bergetar di buat nya dan sulit untuk menelan saliva nya.
...***...
"TUAN KEJAM!!!. KENAPA ANDA MEMBUNUH IBU?...KENAPA?". Eliana berteriak dan menangis tidak berdaya, ia memegang baju Erlan dengan erat dan meremas nya.
"Menyingkir lah". Erlan menepis lengan Eliana hingga Eliana terjatuh, ia menatap Eliana dengan penuh emosi dan amarah yang tidak terkendali.
"Seharusnya aku membunuh kau dari dulu" Ucap Erlan dengan nada yang terdengar begitu sedih.
"Kenapa?...kenapa tuan Erlan ingin sekali membunuh ku?. Kenapa tatapan dan nada bicara nya terlihat sedih?..." Batin Eliana dengan tidak mengerti sama sekali, saat ini ia benar-benar di landas kebingungan. Eliana penasaran apakah Erlan memiliki masa lalu yang kelam dan sedih?.
"Sebelum ku bunuh, kau harus merasakan penderitaan terlebih dahulu. PENDERITAAN YANG TIDAK AKAN PERNAH KAU LUPAKAN!!!" Ucap Erlan dengan nada tinggi seraya menarik rambut Eliana dengan kencang.
"A-akh!...".
"KAU HARUS LEBIH MENDERITA DARI MEREKA BERDUA!!!".
Dengan tiada henti Eliana menangis, ia benar-benar tidak tahu apa yang Erlan katakan selama ini. Masa?, penderitaan?...padahal Eliana tidak bersalah, tetapi kenapa ia juga harus mendapatkan penderitaan seperti ini?.
"Kau harus menderita". Tatapan Erlan terlihat sangat kosong, mata nya pucat, penampilan nya begitu acak-acak, dan terlihat sangat sepi.
"T-tuan...tidak...". Eliana berusaha melepaskan rambut nya dari genggaman Erlan, tetapi ia tidak bisa melakukan nya karena tenaga Erlan yang begitu kuat.
"Aku harus membuat kau menderita" Ucap Erlan mengulangi kata-kata yang sama seraya memotong rambut Eliana dengan pecahan kaca yang habis di gunakan untuk menusuk Gita.
"Sebenar nya apa yang telah terjadi?...mengapa tuan Erlan begitu terlihat sedih?...".
"Cepatlah berdiri!" Bentak Erlan seraya menarik lengan Eliana dengan erat.
"Akh!...tuan tolong lepaskan tangan saya...". Eliana berusaha memberontak, ia ingin kabur dari Erlan, tetapi Erlan terlalu erat menggenggam lengan nya.
"CEPAT!" Bentak Erlan kembali, Erlan semakin emosi dan mengeluarkan amarah nya...dengan paksa ia menyeret Eliana hingga lantai tiga.
"T-tuan!...saya mohon...tolong lepaskan tangan saya..." Teriak Eliana tidak berdaya tetapi Erlan menghiraukan nya hingga mereka sampai di sebuah kamar kosong yang jarak nya bersebelahan dengan kamar Erlan.
Erlan mendobrak pintu kamar tersebut lalu ia langsung melempar Eliana ke dalam nya.
"Akh!...". Eliana terlempar hingga membentur dinding, seketika kepala dan seluruh tubuh nya terasa sangat sakit.
"T-tuan...kenapa anda melakukan hal seperti ini kepada saya?...kenapa anda begitu ingin menyiksa dan membunuh saya? Tanya Eliana dengan menangis tiada henti.
"Aku akan menjelaskan nya pada hari terakhir kau hidup" Jawab Erlan dengan tatapan yang begitu tajam dan senyuman kecil menghiasi wajah nya.
"Saya tidak mengerti...kenapa anda tidak menjelaskan nya sekarang juga?" Teriak Eliana tetapi Erlan menghiraukan nya.
Erlan berjalan menuju lemari kayu yang terlihat sudah usang di pojok ruangan kamar, ia membuka lemari tersebut dan terlihat sedang mencari sesuatu.
"Apakah ini kesempatan ku untuk kabur?" Batin Eliana seraya melihat pintu kamar terbuka dengan begitu lebar.
Eliana berusaha bangkit lalu ia berjalan dengan perlahan menuju pintu, selangkah demi selangkah, sedikit lagi Eliana akan sampai menggapai pintu, tetapi di saat yang sama...
"AKH!!!". Erlan tahu Eliana akan diam-diam berjalan menuju pintu, ia sengaja menunggu Eliana berjalan hingga hanya selangkah lagi menggapai pintu dan di waktu yang sama, Erlan langsung melemparkan sebuah pisau tepat mengenai sebelah kaki Eliana.
Cairan darah segar mulai keluar dan mengalir di kaki Eliana, ia merasa sangat terkejut dan membulatkan kedua bola mata nya seketika.
"A-akh!!...kaki ku!" Jerit Eliana kesakitan, ia menjatuhkan tubuh nya dengan tidak berdaya dan langsung menarik tancap pisau tersebut dari kaki nya.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan alur otak nya!..." Batin Eliana seraya menatap darah yang begitu lancar dan keluar banyak dari kaki nya. Hati Eliana benar-benar hancur, ia sedih akan kehidupan nya yang begitu kacau.
Di jual oleh paman bibi tiri nya, kehilangan sosok ibu baru, dan sekarang...apa lagi yang akan terjadi sekarang?.
"Kau tidak akan pernah bisa kabur!" Ucap Erlan dengan sinis seraya berjalan menghampiri Eliana. Erlan langsung menutup pintu lalu ia menyeret Eliana dengan paksa ke dinding pojok.
Di sepanjang lantai yang di lewati, terdapat lumuran darah yang terus mengalir dari kaki Eliana. Eliana berusaha melepaskan diri nya sekuat mungkin dan menahan rasa sakit pada kaki nya, tetapi Erlan menampar pipi nya dengan keras dan menyuruh Eliana untuk diam.
"LEPASKAN SAYA!!!, CEPAT LEPASKAN SAYA---".
"Prakkk!!!".
"SUDAH KU BILANG DIAM!!!" Teriak Erlan dengan sangat emosi.
"Tidak...kenapa hidup ku seperti ini?...ya tuhan...sampai kapan aku harus menderita seperti ini?" Batin Eliana tidak berdaya.
Erlan rantai kan Leher, tangan, dan kaki Eliana dengan rantai panjang yang sudah tersedia di dinding, Eliana yang melihat tindakan Erlan sangat membuat diri nya terkejut dan semakin memberontak untuk melepaskan diri.
"tidak!!!, lepaskan saya, saya mohon lepaskan saya!!!" Teriak Eliana seraya berusaha melepaskan rantai nya, tetapi tidak bisa, karena rantai tersebut telah di kunci oleh Erlan.
"Berisik!!!" Bentak Erlan lalu ia menampar Eliana. Entah sudah ke berapa kali nya Erlan menampar Eliana dengan sangat keras dan hal itu membuat pipi Eliana sekarang terlihat bengkak.
"Diamlah, kau membuat telinga ku sakit!!" Bentak Erlan kembali seraya berjalan mengambil pisau yang tadi Eliana lepaskan dari kaki nya.
"A-apa yang akan tuan lakukan?" Tanya Eliana dengan sangat panik dan ketakutan.
"Entahlah, apakah aku harus memotong bibir kau agar kau tidak bisa berteriak lagi?" Ucap Erlan seraya tersenyum miring, namun tatapan mata nya masih tetap terlihat begitu kosong.
Erlan berjalan menghampiri Eliana, ia duduk di hadapan Eliana dan terus menatap nya "Mungkin aku harus memulai nya dari sini" Ucap Erlan seraya mengiris pipi Eliana dengan tipis hingga mengeluarkan darah.
"T-tidak!...tuan Erlan...saya mohon lepaskan saya..." Ucap Eliana memohon dengan kesakitan di tambah luka kaki nya yang belum di tutup.
"Saya butuh penjelasan dari tuan...kenapa...kenapa tuan ingin sekali membunuh saya?..." Tanya Eliana. Saat ini wajah nya terlihat sangat pucat, mata nya sebab dan merah akibat terlalu lama menangis dan tubuh nya yang terlihat tidak berdaya sama sekali.
"Aku tidak suka kau bertanya seperti itu!!!, setiap kau menanyakan nya, hal itu akan selalu membuat ku ingat pada mereka!!!" Teriak Erlan dan air mata pun lolos membasahi pipi nya.
"Tidak...aku butuh penjelasan nya. Aku butuh alasan tuan Erlan ingin membunuh ku, maka dengan begitu aku tidak perlu membenci tuan..." Batin Eliana seraya menatap Erlan dengan tatapan sedih, Eliana ingin sekali mengusap air mata yang terus mengalir pada wajah Erlan, tetapi ia merasa tidak berani untuk menyentuh sedikit pun wajah Erlan.
"Karena Cia sudah membenci kau, maka aku bisa leluasa untuk menyiksa kau!!!" Teriak Erlan lalu ia langsung bangkit dari duduk nya kemudian membenturkan kepala Eliana pada dinding.
"Akh!, tuan...tolong lepaskan saya...s-sakit". sekeras apapun Eliana berteriak, Erlan tidak peduli dan terus membenturkan kepala Eliana pada dinding hingga mengeluarkan darah.
"Aku rasa cukup sampai sini. Itulah akibat nya karena kau telah mencelakai Cia" Ucap Erlan lalu ia berlalu pergi keluar dari kamar meninggalkan Eliana seorang diri dalam gelap.
Luka Eliana belum di obati, terdapat tetesan darah di mana-mana dan terus keluar dengan tiada henti "Ya tuhan...sakit sekali...ini terasa s-sangat sakit..." Batin Eliana dengan lemas.
Perlahan kesadaran Eliana mulai kabur dan buram, tidak lama kemudian ia pun pingsan dengan luka yang masih terbuka dan mengeluarkan banyak darah.
Bersambung...