
Pada keesokan hari nya di pagi hari, Eliana ter sadar dari pingsan nya.
Saat terbangun, ia sudah berada di sebuah kamar kecil yang entah milik siapa.
"D-dimana ini?…" Gumam Eliana sambil melihat sekeliling nya.
"Awck!". Saat terbangun, Eliana merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuh nya, dan semua luka sudah di obati serta di perbani entah oleh siapa.
"Siapa yang mengobati luka ku?…".
"Apa sekarang sudah pagi lagi?. Haaa…seperti nya aku pingsan, kemarin itu sangat menyakitkan, aku benar-benar tidak bisa menahan rasa sakit nya. Saat itu…tuan sangat lah marah, seperti nya dia sangat membenci ku, sebenar nya kenapa?…".
Eliana menatap luka-luka nya dengan sedih, ia tidak tahu apa yang membuat Erlan membenci diri nya.
Ia tidak tahu apakah diri nya bisa bertahan untuk ke depan nya, di waktu yang sama, tiba-tiba ada seseorang yang datang memasuki kamar seraya memegang nampan yang berisikan sebuah makanan.
"Siapa…dia?" Batin Eliana sambil menatap orang itu.
"Hai…kamu Eliana kan?" Tanya orang itu dengan tersenyum ramah.
"Y-ya…" Jawab Eliana dengan terbata.
"O-oh…kenapa kamu bangkit?, seluruh tubuhmu kan masih terasa sakit…" Ucap orang itu dengan lembut dan rasa kekhawatiran sangat terukir jelas di wajah nya.
"Sebenar nya siapa dia?…" Batin Eliana bertanya-tanya.
"Ah…tubuh ku memang masih terasa sangat sakit…".
"Jika begitu, maka berbaring lah lagi!, kamu tidak boleh bangkit dari tempat tidur…" Suruh orang itu sambil menidurkan badan Eliana.
"Hmm…maaf, tapi…tuan siapa?" Tanya Eliana.
"A-aku…aku adalah salah satu pekerja di rumah ini…" Jawab orang tersebut dengan terbata.
"Lebih baik aku berbohong saja".
"Pekerja?…" Batin Eliana.
"Apakah tuan yang membawa saya kesini?".
"Iya. Kemarin sore aku menemukan kamu pingsan di dalam gudang".
"Jadi dia yang telah menyelamatkan ku…".
"Terimakasih ya, tapi, apakah tuan tahu soal ini?" Ucap Eliana dengan khawatir.
"Dia terlihat sangat khawatir…seperti nya dia sangat takut pada Erlan. Erlan benar-benar keterlaluan!" .
"Kamu tenang saja, karena tuan Erlan sedang tidak ada di rumah ini".
"Oh, begitu ya…".
"Tidak ada?, dia pergi kemana?, tapi…syukurlah. Selama dia pergi aku bisa beristirahat dan menyembuhkan luka ku…" Batin Eliana merasa lega.
"Sekali lagi, saya berterimakasih tuan…" Ucap Eliana dengan tersenyum ramah.
"Ya…ini…aku bawakan sup untukmu, jika kamu sudah bisa bangkit, makanlah sup ini…" Ucap orang itu dengan tersenyum lalu ia meletakkan nampan di meja dekat tempat Eliana beristirahat.
"Ah…aku belum pernah di perlakukan orang seperti ini…seperti nya dia adalah orang yang baik. Aku bisa merasakan nya, perbedaan saat ini dengan perlakuan sepuluh tahun yang lalu" Batin Eliana merasa senang dan air mata mulai muncul di pelupuk mata nya.
"Dia terlihat senang dan ingin menangis…lihat, matamu sudah bengkak seperti ini, tolong…jangan menangislah lagi, maafkan aku yang belum bisa membantu kamu saat ini, Eliana…" Batin orang tersebut sambil menatap Eliana dengan tatapan penuh penyesalan.
"Terimakasih…maaf sudah merepotkan tuan…" Ucap Eliana seraya mengusap mata nya agar air mata tidak lolos jatuh membasahi.
"Ya, tidak masalah. Jika begitu, aku keluar ya, jika kamu membutuhkan sesuatu, panggil lah aku…" Ucap orang itu, lalu ia berjalan keluar dari kamar.
Melihat orang itu keluar dari kamar membuat Eliana merasa panik karena belum menanyakan nama dan mengucapkan rasa terimakasih sebanyak-banyak nya.
"Terimakasih banyak…jika aku sudah sembuh, aku berjanji akan datang padamu untuk membalas kebaikanmu…" Batin Eliana dengan tersenyum.
"Aku tidak pernah menyangka akan mendapatkan sup seperti ini…kehangatan orang itu membuat ku nyaman".
Eliana berusaha meraih gelas yang berisikan air putih, dan di waktu yang sama tiba-tiba Kelvin masuk ke dalam kamar sambil mendobrak pintu dengan sangat keras.
"D-dia?…". Eliana sangat terkejut melihat kedatangan Kelvin, seketika tubuh nya bergetar dan rasa takut mulai mengiri nya.
"Ikutlah dengan ku!" Ucap Kelvin seraya menarik lengan Eliana secara paksa.
"Akh!, sakit…" Batin Eliana meringis kesakitan.
Saat ini seluruh tubuh Eliana masih membutuhkan beberapa waktu untuk sembuh dan sekarang ia harus berjalan mengkuti Kelvin dengan cepat.
"Mau pergi kemana?…" Batin Eliana bertanya-tanya.
Eliana benar-benar tidak sanggup untuk berjalan, tetapi Kelvin membentak Eliana untuk cepat dan sekarang Eliana hanya bisa menahan rasa sakit itu.
Hingga tibalah mereka di lantai satu.
"Aku sudah membawa nya" Ucap Kelvin pada Erlan yang sedari tadi sudah menunggu.
"Bagus".
"Jika tidak salah nama nya Erlan bukan?…apakah tuan Erlan menyadari aku tidak ada di gudang dan sekarang ia ingin menghukum ku?" Batin Eliana sambil menundukkan pandangan nya dan tidak berani menoleh sedikit pun.
"Bawa kemari" Perintah Erlan pada kedua bawahan nya dan di bawalah sesuatu oleh mereka dengan cepat.
"Hei!, angkatlah kepala kau dan lihat!" Suruh Erlan pada Eliana.
"L-lihat?…tetapi kan…" Batin Eliana merasa ragu-ragu karena ia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.
"Lihatlah!" Bentak Erlan.
"T-tapi tuan…".
"Tuan Erlan menyuruh kau untuk melihat kedepan!!" Ucap Kelvin dengan nada tinggi.
"B-baik…". Rasa ketakutan masih mengiringi di tubuh Eliana, ia merasa sangat takut untuk mengangkat kepala nya, tetapi Erlan dan Kelvin membentak nya, dan Eliana pun hanya bisa diam lalu mengangkat kepala nya secara perlahan.
"Sebenar nya apa yang---". Eliana melihat kearah depan\, seketika mata nya membulat dan tubuh nya terdiam tidak bergerak.
Ia tidak pernah menyangka akan melihat suasana yang akan menjadi mimpi buruk nya.
Seketika Eliana menjatuhkan tubuh nya, ia langsung menutup mulut nya rapat-rapat dan tidak bisa berkata apapun.
Pemandangan di depan nya benar-benar membuat diri nya sedih dan air mata pun lolos membasahi pipi nya.
"Paman…bibi…b-bagaimana bisa?…".
"Kelvin, jelaskan" Suruh Erlan.
"Baik tuan".
"Saya akan menjelaskan langsung pada inti nya. Andi dan Sinta adalah orang yang menculik kau, mereka telah menyiksa kau sebelum tuan Erlan'' Jelas Kelvin dengan dingin dan tatapan kosong.
"T-tidak mungkin…jika pun begitu, kenapa mereka harus di bunuh, benar-benar kejam!…".
Dari awal Erlan sudah tahu bahwa Andi dan Sinta bukan lah paman dan bibi Eliana, karena selama ini ia telah mengikuti Eliana dari di mana hari Eliana di culik.
Meskipun saat itu Erlan masih berusia dua belas tahun, ia memiliki pikiran untuk membunuh Eliana yang masih bayi.
Erlan memiliki masa lalu yang begitu suram, di mana saat kejadian itu, ia tidak bisa memaafkan keluarga Eliana sama sekali.
Bersambung…