
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 16:09 sore. Erlan, Adel, dan Caitlin baru pulang dari perjalanan mereka yang begitu panjang dan menyenangkan.
"Ahhh...tadi itu sangat menyenangkan..." Seru Adel seraya terduduk lelah di sofa.
"Ya...benar-benar sangat menyenangkan!" Sambung Caitlin.
Erlan menatap pacar nya yang begitu gembira dengan senyuman kecil, ia berharap kegembiraan seperti itu akan terus ada menghiasi wajah wanita nya yang cantik.
"Apakah kamu benar-benar menikmati nya?" Tanya Erlan seraya memegang pundak Adel.
"Ya, aku sangat menikmati nya..." Sahut Adel dengan tersenyum lebar.
"Syukurlah---".
Tiba-tiba terdengar suara telepon berdering yang mengganggu suasana, karena kesal, Erlan langsung mengambil handphone dari saku celana nya dan tertera lah nama "Rangga" di atas layar.
"Hah!, dia baru menelepon sekarang?" Batin Erlan seraya tersenyum tipis.
"Siapa yang menelepon?".
"Hmm, bawahan aku. Sebentar ya, aku mau ke ruang kerja dulu" Ucap Erlan seraya mengecup kening Adel lalu ia langsung beranjak pergi menuju anak tangga.
"Sedari tadi bawahan nya selalu menelepon, ada apa ya?..." Batin Adel dengan khawatir seraya menatap kepergian Erlan hingga menghilang dari pandangan nya.
Setelah Erlan sudah berjalan begitu jauh, Caitlin memanfaatkan kesempatan ini untuk menghasut Adel.
"Kak Cia...".
"Ada apa?".
"Kak Cia menolong Eliana karena Eliana tidak bersalah bukan?..."
"Ya...memang nya ada apa?".
"Apakah Kak Cia tidak merasa kasihan pada Kak Erlan?...".
"Sedari tadi saat perjalanan, aku sengaja menyuruh bawahan ku menelepon Erlan secara berkali-kali dan berpura-pura menyampaikan keadaan Eliana, seharus nya itu sudah membuat Kak Cia merasa terganggu dan curiga".
"Apa maksud kamu?..." Tanya Adel tidak mengerti seraya mengerutkan kedua alis nya.
"Kak Erlan adalah pacar Kak Cia, lebih tepat nya adalah calon tunangan Kakak. Dua bulan lagi kalian akan bertunangan, dan---".
"Bicara lah langsung pada inti nya" Ucap Adel langsung memotong pembicaraan Caitlin.
"Hhmm...Jadi maksud ku adalah, Kak Cia sebagai pacar dari Kak Erlan harus membantu dan menghargai apa yang ingin Kak Erlan lakukan. Apakah Kak Cia tidak sedih melihat Kak Erlan kehilangan sosok ayah dan adik yang sangat di cintai nya?...bukan hanya Kak Erlan, tetapi aku, tante Adaline, paman, nenek, dan seluruh anggota keluarga Stewart lain nya. Jadi, tolong...bantulah Kak Erlan untuk memusnahkan seluruh anggota keluarga Andara, termasuk Eliana...a-apakah...Kak Cia...tidak mengerti perasaan Kak Erlan?..." Jelas Caitlin panjang lebar dan air mata mulai jatuh membasahi pipi nya.
"Aku harus berpura-pura menangis, untung nya aku adalah seorang aktris..." Batin Caitlin seraya tersenyum tipis.
Adel merasa terkejut dengan pernyataan Caitlin, ia tidak menyangka akan se jahat itu pada Erlan dan tidak memedulikan rasa yang pacar nya itu rasakan.
Adel menatap gadis yang sedang menangis itu dengan dalam-dalam, ia mulai ter hasut dan terjatuh ke dalam rencana jahat nya.
"Benar juga...aku terlalu fokus pada keselamatan Eliana hingga aku lupa pada perasaan sedih yang di rasakan oleh Kak Erlan. Bagaimana ini?...apakah aku harus melupakan Eliana dan membiarkan Kak Erlan membunuh nya?" Batin Adel.
Saat ini Adel benar-benar di landas kebingungan, ia tidak tahu harus melakukan apa. Menyelamatkan Eliana yang memang tidak bersalah sama sekali atau memilih keinginan Erlan untuk membunuh Eliana?...Adel tidak tahu, ia tidak tahu sama sekali harus memilih antara Eliana atau Erlan calon tunangan nya sendiri.
"Kak Cia...apakah Kak Cia cinta dan sayang pada Kak Erlan?, jika begitu maka...terimalah keputusan apapun yang akan Kak Erlan lakukan..." Ujar Caitlin dengan menangis tersedu-sedu.
Adel hanya bisa terdiam mendengar ucapan Caitlin, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa dan harus bagaimana. Akankah Adel lebih memilih keinginan Erlan untuk membunuh Eliana?...
***
Di ruang kerja, Erlan berdebat hebat dengan Rangga, ia merasa kesal dan tidak terima dengan apa yang Rangga ucapkan.
"Apakah kau ingin mati?" Tanya Erlan dengan dingin.
"Mati!?...apakah kau ingin membunuh ku?!, hah!, aku tidak takut sama sekali!".
"Ternyata kau benar-benar ingin mati ya. Baiklah, tetapi sebelum itu, gadis yang sangat kau cintai akan mati terlebih dahulu..." Ancam Erlan.
"Apakah sekarang kau hobi mengancam?...hah!, jangan buat aku tertawa!".
"Aku serius".
"Hah!. Jika kau menyentuh sedikit helai rambut nya, maka aku akan membantai seluruh anggota keluarga Stewart!!".
"Sekarang kau sudah berani ya!?. Demi gadis itu kau rela membunuh anggota keluarga kau sendiri".
"Aku tidak peduli" Ucap Rangga dengan dingin.
"Hah!, kau ini benar-benar...". Erlan mengusap rambut nya dengan kasar, se jujur nya ia merasa sedikit kecewa dengan apa yang di ucapkan oleh adik satu-satu nya itu.
***
Sudah pingsan begitu lama, akhir nya Eliana terbangun. Ia membuka mata nya dengan perlahan dan berusaha melihat keadaan.
"D-dimana ini?..." Gumam Eliana seraya berusaha untuk bangkit dari baring nya.
Saat terbangun, Eliana merasakan sedikit sakit di punggung dan leher nya, ia berpikir untuk berhati-hati agar luka nya tidak parah.
"Luka ku...sudah di obati?. Siapa yang mengobati nya?, dan...di mana ini?...". Eliana benar-benar tidak tahu di mana diri nya sekarang, seingat nya, ia terjatuh pingsan dan...
"T-tuan Brian?...". Mengingat berada di pelukan Brian membuat hati Eliana degup dengan kencang, ia merasa malu, tetapi juga merasa senang.
"Apakah tuan Brian yang sudah menyelamatkan ku?, aku harus memastikan nya". Eliana berjalan menuju pintu keluar saat membuka nya, pintu tersebut tidak terkunci.
Eliana langsung berjalan keluar dari ruangan, ia berusaha mencari jalan berikut nya untuk ke luar, tetapi, yang ia temukan adalah sebuah jalan buntu dan tidak terdapat jalan lagi.
"T-tidak ada jalan?...sebenar nya di mana ini?, apakah tuan Brian mengurung ku?" Gumam Eliana dengan sangat terkejut.
Ia benar-benar tidak tahu harus keluar melewati jalan mana, saat ini diri nya benar-benar di landas kebingungan.
"Jika tidak ada jalan, maka lewat manakah tuan Brian memasukkan ku ke dalam sini?" Batin Eliana bertanya-tanya seraya memegang dinding jalan buntu tersebut.
Eliana berpikir dengan serius seraya meraba-raba permukaan dinding tersebut dan setelah meraba-raba nya, Eliana merasakan ada sesuatu yang aneh.
"Tunggu!...apakah ini...". Eliana mengetuk-getuk dinding jalan buntu tersebut dan setelah itu terdengarlah suara ketukan yang begitu ringan.
"Apakah ini mungkin---". Eliana berusaha mendorong dinding tersebut dan setelah dinding tersebut terdorong, sesuatu hal yang sudah terjadi benar-benar membuat Eliana sangat terkejut.
"I-ini kan...gudang halaman!". Seketika Eliana membulatkan ke dua bola mata nya, ia benar-benar sangat terkejut dan tidak pernah menyangka akan ada sebuah ruangan tersembunyi di balik gudang.
"Apakah tadi malam tuan Erlan datang menyelamatkan ku?" Gumam Eliana lalu ia langsung berlari ke luar dari gudang.
Eliana berlari dengan cepat, meskipun tubuh nya masih terasa sedikit sakit, ia tidak peduli dan terus berlari.
Eliana sampai di depan pintu, tanpa berpikir panjang, ia langsung masuk ke dalam dengan nafas yang tersengal-sengal.
Saat sudah berada di ruangan utama, Eliana melihat Adel dan Caitlin begitu pun dengan mereka yang terkejut melihat kedatangan Eliana secara tiba-tiba.
"N-nona...".
"Eliana?. Kamu sudah sadar?..." Tanya Adel seraya bangkit dari duduk nya.
"E-eliana?...". Caitlin terdiam melihat Eliana, ia merasa sangat senang dengan kedatangan Eliana dan langsung berlari memeluk nya.
"Bagus sekali!!, Eliana datang sendiri pada ku. Aku memang lah sangat beruntung!!" Batin Caitlin dengan tersenyum kecil.
Di peluk dengan tiba-tiba oleh orang yang hampir ingin membunuh nya membuat Eliana sangat terkejut, ia mulai merasa takut kembali dan berusaha menjauhkan Caitlin dari tubuh nya.
"M-maaf".
"AKH!!!...". Caitlin terjatuh dengan sangat keras hingga kepala nya terbentur pada keramik lantai keluarlah darah yang menetes-menetes jatuh ke lantai.
"A-apa yang...terjadi?". Eliana merasa sangat terkejut dan terdiam seketika saat melihat Caitlin terjatuh, ia benar-benar tidak melakukan apa-apa. Awal nya Eliana hanya merasa takut saja pada Caitlin, tetapi ia tidak mendorong Caitlin hingga terbentur keras pada keramik lantai.
"A-akkhh!...sakit nya!...tidak apa-apa, yang penting rencana ku bisa berjalan dengan lancar. Jika tidak berjalan dengan lancar, aku akan langsung membunuh Eliana tanpa se pengetahuan semua orang" Batin Caitlin seraya meringis kesakitan.
"N-nona...". Eliana terduduk lemas, ia mengulurkan tangan nya dan berusaha menyentuh Caitlin, tetapi tiba-tiba langsung di tepis oleh Adel dengan keras.
"Jangan sentuh Caitlin!!" Ucap Adel dengan tatapan dingin.
"N-nona?...". Eliana memegang tangan nya yang di tepis, ia langsung menundukkan pandangan nya dan tidak berani mengangkat sedikit pun.
"E-ekspresi nona Adel...aku tidak pernah melihat ekspresi nya yang seperti itu..." Batin Eliana.
"Kenapa kau mendorong Caitlin?".
"S-saya...". Eliana terdiam, ia bingung harus menjelaskan apa pada Adel. Jika Eliana menjelaskan yang sebenar nya, Adel pasti tidak akan percaya pada nya karena tidak mungkin Caitlin melukai diri nya sendiri hingga terluka mengeluarkan darah.
"Kenapa kau diam?, aku tanya, kenapa kau mendorong Caitlin seperti ini!?" Tanya Adel dengan nada tinggi.
"Bagus!!, seperti nya rencana ku berjalan dengan lancar!!" Batin Caitlin dengan senang seraya mengamati keadaan dengan dalam.
"S-saya...s-saya mendorong nya karena...k-karena saya takut..." Jelas Eliana dengan ter bata-bata dan tubuh nya mulai bergetaran.
"Karena takut?, kau bilang karena takut!?. Jika kau ketakutan, kau tidak perlu mendorong Caitlin hingga terluka!" Bentak Adel.
"M-maafkan saya...saya salah...maaf..." Ucap Eliana yang masih menundukkan pandangan nya.
"Apakah kau jatuh cinta pada Kak Erlan?" Tanya Adel langsung mengganti topik pembicaraan.
"Y-ya nona?". Eliana tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh Adel. Jatuh cinta pada Erlan?, tidak mungkin. Eliana berpikir mengapa Adel menanyakan hal seperti itu pada diri nya, dengan berani, Eliana menatap wajah Adel.
"A-apa maksud nona?".
"Apakah kau jatuh cinta pada Kak Erlan?" Tanya Adel kembali dengan ekspresi wajah yang begitu serius.
"S-saya benar-benar tidak mengerti mengapa nona menanyakan hal ini. Jatuh cinta pada tuan Erlan?, tidak mungkin!, saya hanyalah sebuah mainan..." Jelas Eliana dan air mata mulai muncul di pelupuk mata nya.
"Kau berbohong bukan?!" Tanya Adel tidak percaya.
"B-berbohong?...s-saya mengatakan yang sejujur nya. S-saya tidak berani berbohong...".
"Tidak sia-sia aku melukai diri ku sendiri. Hahaha!!!, lihatlah!, Eliana tampak sedang menahan air mata, bagus-bagus!!...aku sangat menikmati tontonan ini!" Batin Caitlin seraya menahan tawa dengan sekuat mungkin.
"Sudahlah!, tidak perlu berpura-pura tidak tahu!!" Bentak Adel dengan kasar.
"S-sebenar nya kenapa ini?...kenapa nona Adel bertanya seperti itu dan tidak percaya ke pada ku?. S-senyuman yang menghiasi wajah nya, senyuman yang ia berikan pada ku, sebuah kebaikan yang begitu membela ku...semua nya...s-semua nya hilang..."
...
"Saat Eliana sedang berada dalam pelukan Kak Brian, ia terus menyebut nama Kak Erlan dengan tiada henti, aku curiga, Eliana telah jatuh cinta pada Kak Erlan. Seharus nya dari awal Kak Cia mengizinkan Kak Erlan untuk langsung membunuh nya bukan malah membela nya..." Jelas Caitlin seraya menangis dengan tiada henti.
"Benarkah itu?..." Tanya Adel tidak percaya.
"B-benar...aku...aku tidak berbohong..." Ucap Caitlin dan semakin memperkencang tangisan nya.
...
"Caitlin menangis dengan kencang!, dia memberitahu semua nya pada ku!. Apakah kau pikir ia berbohong!?".
"T-tapi nona...".
"Aku kecewa pada kau Eliana!. Bagaimana bisa kau melakukan hal ini?..." Ucap Adel.
"Degh!". Ketika mendengar ucapan Adel yang begitu kecewa pada Eliana, hal itu membuat Eliana langsung terdiam dan merasa sangat bersalah.
"Aku...aku harus menemui Kak Erlan" Ucap Adel lalu ia langsung meletakkan Caitlin dengan perlahan.
"Caitlin...tunggu lah di sini...".
"T-tapi Kak...".
"Aku harus akting dengan lebih meyakinkan, sebenar nya sangat bagus jika Kak Cia memberitahu hal ini pada Kak Erlan" Batin Caitlin dengan senang.
"Sudah...tunggu lah di sini..." Adel segera bangkit lalu ia langsung berjalan menuju anak tangga.
"N-nona Adel...tunggu...". Eliana langsung bangkit dari diam nya, ia berlari dengan kencang untuk menyusul Adel dan saat sudah berada di anak tangga ke-13, Eliana berhasil menghalangi jalan Adel.
"Sial!!, kenapa gadis itu menghalangi langkah Kak Cia!?" Batin Caitlin seraya mengintip sedikit.
"Awas!".
"T-tidak!..." Ucap Eliana seraya menundukkan kepala nya.
"Aku bilang awas!, jangan menghalangi langkah ku!" Bentak Adel dengan kesal.
"S-saya tidak akan membiarkan nona pergi sebelum nona mendengar kan penjelasan saya...".
"Penjelasan?, aku tidak butuh penjelasan dari kau!. Hah!...apakah kau takut?" Tanya Adel dengan tersenyum miring.
"Y-ya?...".
"Kau takut aku menceritakan semua nya pada kak Erlan bukan?!".
"S-saya tidak takut. Saya mohon nona jangan salah mengerti..." Ucap Eliana seraya menatap Adel.
"Gawat!, jangan sampai rencana ku tidak berjalan dengan lancar!!" Batin Caitlin dengan emosi lalu ia berusaha bangkit dan langsung berlari menghampiri Adel.
"Salah mengerti?, apa kau pikir aku ini bodoh?!".
"S-saya tidak bermaksud seperti itu...".
"Lalu apa?!. Aku ini sudah di buat kecewa oleh kau dan---".
"AKHH!!!, NONA ADEL!!!". Adel di tarik dari belakang oleh Caitlin di saat Eliana ingin memegang lengan Adel.
Hal ini bisa membuat orang mengira bahwa Eliana lah yang mendorong Adel. Adel terjatuh berguling hingga lantai dasar, di saat ia tahu diri nya terjatuh, ia berusaha untuk menahan, tetapi tidak bisa.
"Kak Cia!!!" Teriak Caitlin dengan berpura-pura seraya berjalan tidak berdaya menghampiri Adel yang tergeletak tidak sadarkan diri.
"N-nona Adel...". Eliana merasa sangat terkejut dan terdiam seketika, ia tidak tahu mengapa Adel bisa terjatuh.
"K-kenapa...kenapa bisa terjadi hal seperti ini?...".
"C-cia...". Suara yang begitu berat terdengar di telinga Eliana, Eliana langsung menoleh ke arah suara itu berasal dan ia terkejut melihat Erlan yang berdiri bagaikan patung di anak tangga yang jarak nya tidak jauh dari Eliana.
"C-cia...". Erlan langsung menuruni anak tangga dengan cepat, ia segera menggapai Adel dan langsung menaruh nya ke dalam pangkuan.
"C-cia...Cia sadarlah...aku mohon...bukalah matamu..." Ucap Erlan seraya menepuk pipi Adel dengan pelan.
Tanpa di sadari, lengan Erlan terdapat darah dan darah itu terus menetes dari kepala Adel.
Bersambung...