Love Is Blocked By Revenge

Love Is Blocked By Revenge
kebencian.



Setelah menempuh waktu selama beberapa jam, Erlan, Eliana, dan kelvin sampai di kediaman.


Rumah itu terlihat sangat besar, luas, suasana hening dan mengerikan seperti tidak ada tanda kehidupan di dalamnya.


Eliana yang melihat rumah itu, merasa sangat ketakutan dan khawatir akan diri nya yang mendapatkan siksaan lebih sakit.


Selama dalam perjalanan, Eliana terus menangis tiada henti…tangisan nya sangatlah pelan dan kecil namun masih bisa terlihat oleh Erlan dan Kelvin.


"Paman dan bibi menjual ku, sekarang…apakah aku akan di siksa juga sama hal nya seperti yang di lakukan oleh paman dan bibi?".


Eliana benar-benar tidak tahu harus seperti apa kedepan nya, ia merasa pasrah dan tidak bisa berpikir lagi.


Eliana segera berhenti menangis dan mengelap pipi nya yang sudah sangat basah karena tangisan yang begitu deras.


Ia berpikir untuk menerima kenyataan di depan dan sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi " Seperti nya ini memang lah takdir ku" Gumam Eliana dan gumaman tersebut terdengar oleh Erlan


"Ya, ini memanglah takdir kau…kau harus menerima nya" Batin Erlan seraya menatap Eliana dengan tatapan tajam penuh kebencian.


"Urus lah dia" Ucap Erlan dengan singkat lalu ia keluar dari mobil dan pergi meninggalkan Eliana serta kelvin yang masih berada di dalam mobil.


"Urus lah?…dia ingin melakukan apa?" Batin Eliana seraya menatap Erlan yang sudah berjalan begitu jauh.


"Ikut aku" Ucap Kelvin lalu ia turun dari mobil.


"B-baik". Eliana hanya bisa mengangguk dan menuruti perintah Kelvin, ia langsung keluar dari mobil dan berdiri di samping Kelvin seraya menundukkan pandangan nya.


Eliana tidak berani melihat wajah Kelvin. Sejak saat bertemu di rumah, Kelvin selalu menatap Eliana dengan tatapan tajam dan penuh kebencian "T-tolong…jangan terus menatap ku…".


Tanpa pikir panjang, Kelvin langsung berjalan dan Eliana mengikuti nya dari belakang. Meskipun sudah tidak bertatap muka lagi, Eliana masih tidak berani mendongakkan kepala nya.


Ia terus menundukkan kepala, meskipun sudah terasa pegal, Eliana tetap terus menunduk hingga mereka sampai di sebuah tempat.


Sekarang Eliana dan kelvin sudah sampai di belakang kediaman. Tempat itu terlihat menyeramkan dan seperti ada tercium aroma busuk yang tidak enak serta tidak nyaman sekali di hidung.


Eliana yang melihat suasana tersebut di buat merinding seketika, ia merasa sangat takut dan tubuh nya mulai bergetar dengan hebat.


"T-tempat ini…menyeramkan sekali dan tercium aroma yang sangat tidak enak, sebenar nya…ada apa dengan tempat ini?" Batin Eliana dengan terkejut dan terdiam seribu kata.


Di tempat itu seperti terlihat tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali dan terdapat gudang kecil yang sudah ternodai dengan darah membekas.


Tempat itu terlihat seperti tempat bekas pembunuhan orang…


"A-aku ingin bertanya pada nya…tapi…". Eliana merasa tidak punya cukup keberanian untuk bertanya, ia merasa diri nya sangat lah lemah.


"Ayo lah!…mau sampai kapan dirimu seperti ini terus?…". Eliana berusaha untuk memberanikan diri nya, ia menghela napas nya secara perlahan untuk menenangkan diri agar tidak merasa takut.


"Baiklah…".


"M-maaf…saya ingin bertanya, ini tempat apa?" Tanya Eliana yang mulai memberanikan diri nya.


"Hah?!, Ternyata cukup berani juga kau bertanya!" Ucap Kelvin sambil tersenyum sinis dengan tatapan yang masih sama seperti tadi.


"M-maaf?…".


"Aku malas menjelaskan nya padamu" Ucap Kelvin sambil menodongkan sebuah pistol yang ia ambil dari saku celana nya.


Di todongkan sebuah senjata berbahaya dengan tiba-tiba membuat Eliana sangat terkejut dan terdiam tidak bergerak seperti patung.


Keberanian yang ia kumpulkan hancur seketika, Eliana berpikir ia akan mati. Eliana merasa hidup nya tidak pernah merasakan kebahagiaan sama sekali, meskipun saat kecil pernah dengan kasih sayang yang di berikan oleh Andi dan Sinta, tetapi itu hanyalah kebahagiaan palsu.


Air mata lolos seketika membasahi pipi nya lagi, jika di pikirkan kembali, Eliana merasa sangat bersyukur karena telah hidup hingga saat ini, meskipun di dalam kehidupan nya hanyalah terdapat kebahagiaan palsu, penderitaan, penyiksaan, di jual dan tidak terdapat kenang-kenangan sama sekali.


"Apakah dia ingin membunuh ku?…" Batin Eliana dengan tubuh bergetar.


"Masuklah" Suruh Kelvin seraya memasukkan pistol nya kembali.


"Apa?…".


"Dia tidak membunuh ku?…syukurlah" Batin Eliana dengan menghela napas lega, ia merasa terkejut karena Kelvin tidak jadi membunuh nya.


"Cepatlah!!" Suruh Kelvin dengan pelan namun penuh dengan nada penekanan.


"B-baik". Eliana langsung menghapus tangis nya, ia langsung berjalan masuk ke dalam gudang dengan tubuh bergetaran dan rasa takut masih menyelimuti nya.


"Ternyata tidak di kunci" Batin Eliana.


Saat masuk, Eliana tidak mencium aroma busuk sama sekali, ia merasa aneh tapi ia juga berpikir mungkin tempat ini selalu di bersihkan.


Eliana masuk ke gudang lebih dalam lagi dengan Kelvin yang mengikuti nya dari belakang, dan…


"Akh!".


Tiba-tiba Kelvin memukul Eliana dari belakang dengan keras.


"S-sakit sekali…aku merasa…penglihatan ku… kabur…".


Pukulan yang sangat keras, membuat Eliana terjatuh pingsan dan hal itu membuat Kelvin menjadi sangat marah.


"Tidak cukup jika hanya begini. Kenapa…kenapa tuan Erlan tidak mengizinkan aku membunuh nya, dia hanya memeting kan diri sendiri, padahal aku juga ingin menjadikan gadis ini sebagai mainan ku karena…karena…karena dia telah menghancurkan hal penting yang sangat kita sayangi!!!. Seharus nya langsung di bunuh saja dan tidak perlu menahan diri!!!. Kenapa harus seperti ini?!, aku benar-benar tidak terima…tidak!!!" Teriak Kelvin sambil duduk tidak berdaya daya dengan emosi yang meluap-luap.


...***...


Beberapa jam kemudian, waktu yang cukup begitu lama, akhir nya Eliana ter sadar dari pingsan.


Saat ia membuka mata, ia mendapati keadaan nya sedang terduduk di sebuah kursi kayu dengan tangan yang terikat ke belakang dan kaki nya pun ikut terikat.


"K-kenapa ini?…tangan dan kaki ku di ikat…" Batin Eliana dengan terkejut, ia bingung kenapa diri nya tiba-tiba seperti ini.


Eliana mencoba berpikir kembali dari saat ia memasuki gudang "Jika tidak salah, aku masuk ke dalam bersama dengan pria itu, mungkinkah…".


Eliana sadar dan mengingat nya kembali, ia merasa yakin Kelvin yang telah membuat nya pingsan "Tentu saja…aku di beli untuk di siksa, dan dari awal dua pria itu terlihat sangat membenci ku…kenapa ya…".


Eliana terdiam, ia teringat akan siksaan yang ia dapat dari Andi dan Sinta, ia juga berpikir apakah diri nya akan mendapatkan siksaan lebih menyakitkan dari apa yang pernah dialami nya.


Di dalam gudang yang terasa begitu dingin, gelap, dan sunyi, Eliana tidak bisa berpikir panjang lagi, ia merenungkan diri nya.


"Tidak apa…" Batin Eliana dengan penuh kesabaran dan di saat yang sama, ada seseorang datang.


Di dalam gudang yang begitu gelap, Eliana melihat ada sedikit cahaya luar dari arah pintu.


"Siapa?" Batin Eliana sambil melihat ke arah orang yang yang membuka pintu.


Pintu gudang terbuka dengan perlahan dan pria itu pun masuk, ia menutup pintu gudang kembali lalu berjalan mendekati Eliana seraya membawa rotan dan sepotong roti yang terlihat sudah berjamur.


"D-dia…". Eliana merasa sedikit terkejut dengan muncul nya orang tersebut dan ternyata pria yang datang itu adalah Erlan.


"Dia membawa rotan…apakah dia ingin mencambuk ku ku?. Jika memang…aku harus menahan rasa sakit nya seperti biasa…" Batin Eliana yang sudah menduga diri nya akan di siksa. Setelah melihat kedatangan Erlan dan barang yang di bawa nya, Eliana langsung menundukkan kepala nya.


Se jujur nya ia sudah terbiasa dengan siksaan, tetapi ketakutan masih menyelimuti diri nya. Eliana berpikir diri nya harus tidak merasa takut lagi, ia harus berani dan bersabar hingga siksaan selesai, tetapi diri nya tidak bisa melakukan itu.


Eliana membutuhkan kasih sayang, meskipun pernah walau hanya sekadar palsu, Eliana ingin merasakan rasa nya benar-benar mendapatkan kasih sayang dan sangat di sayangi oleh orang lain.


Sekian banyak siksaan yang Eliana terima, ia tidak pernah merasa benci pada orang tersebut…ia hanya bisa marah


Sedari kecil Eliana tidak pernah merasa benci pada orang yang sudah berbuat jahat pada nya, ia berpikir setiap orang mempunyai alasan untuk membenci jadi dia hanya bisa marah dan tidak membenci.


Secara perlahan, Eliana mengangkat kepala nya hingga mata nya bertatap dengan mata Erlan.


"Lebih baik tetap menunduk dari pada kamu memperlihatkan wajah menjijikkan itu!" Batin Erlan dengan kesal dan satu tamparan pun melayang dengan keras di pipi kecil Eliana.


Bersambung…