
Setelah beli beberapa bahan yang di butuh kan, Eliana dan Gita segera pulang ke rumah.
Dan sesampai nya mereka di rumah, mereka langsung memasak makan siang sebelum Erlan pulang.
...***...
Sekarang waktu sudah menunjuk kan pukul 10:34 dan cuaca siang ini sangat lah panas.
Di kantor, Erlan sedang sibuk mengurusi beberapa dokumen, karena Rian yang merupakan pemimpin keluarga Stewart sudah tidak ada, perusahaan jadi di wariskan pada Erlan karena Erlan juga menang dalam perebutan warisan dari Rangga.
"Haaa…". Erlan mengusap wajah nya pelan, ia memutus kan untuk berhenti bekerja dan ingin sebat sebentar.
Ketika Erlan sudah menyalakan sebat tersebut dan menghirup nya, tiba-tiba ada seorang wanita yang masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Hai Erlan sayang…" Sapa seorang wanita yang memakai pakaian begitu seksi.
"Ada apa kemari?" Tanya Erlan seraya menghirup sebat kembali.
"Aku datang ke sini untuk memberitahumu mengenai tanggal pertunangan" Ucap wanita tersebut sambil berjalan lebih dekat pada Erlan.
"Tanggal pertunangan?, bukan kah waktu nya tiga bulan lagi?".
"Tidak!, waktu nya jangan tiga bulan lagi, tetapi dua bulan lagi tepat di hari ulang tahun mamah" Ujar wanita bernama Adaline yang merupakan ibu Erlan sekaligus istri dari Rian.
"Jika mamah ingin seperti itu, boleh saja, tetapi…bukan hanya mamah saja yang berulang tahun" Ucap Erlan dengan dingin.
"Ya, mamah tahu…" Balas Adaline yang langsung merubah ekspresi wajah nya menjadi datar.
"Jika begitu, lalu kenapa?…" Tanya Erlan merasa tidak suka.
"Haaa…". Adaline menghela napas nya pelan, ia menatap wajah anak nya dengan penuh harapan.
"Mamah berpikir, mungkin sekarang adalah waktu nya kita untuk menerima Agatha…".
Mendengar ucapan Adaline membuat Erlan terdiam seketika, ia tampak marah dan langsung mematikan sebat nya.
"Apa maksud mamah?" Tanya Erlan dengan tatapan tajam.
"Mamah tahu kamu tidak suka dengan Agatha, tetapi biar bagaimana pun juga dia itu adalah ibu kamu" Jelas Adaline dengan mengerutkan kedua alis nya.
"Ibu?…aku tidak pernah menganggap wanita itu sebagai seorang ibu!" Bentak Erlan seraya mendobrak meja kerja nya dengan keras.
Melihat Erlan yang begitu marah ketika sedang membahas Agatha membuat Adaline semakin ingin meyakinkan Erlan.
"Mamah tahu. Saat itu memang mengejut kan sekali jika Rian ingin menikah dengan Agatha…". Ucap Adaline dengan raut wajah sedih.
"Saat itu mamah sedih dan menangis dengan tiada henti, tetapi sekarang…menagapa?" Tanya Erlan merasa tidak mengerti dengan alur pikiran Adaline.
Erlan menatap wajah ibu nya dengan penuh kekecewaan, ia merasa tidak percaya bahwa ibu nya yang memiliki hati dingin bisa menerima wanita yang telah menjadi istri kedua suami nya.
"Aku tidak bisa menerima wanita itu" Ucap Erlan dengan sinis.
"Ya sudah jika kamu tidak mau, maka mama lah yang akan bertunangan…" Ucap Adaline dengan tersenyum miring.
"bertunangan?" Tanya Erlan dengan mengangkat sebelah alis nya
"Ya" Jawab Adaline singkat, ia merasa lucu melihat wajah Erlan yang begitu kebingungan dan penasaran.
"Dengan siapa?".
"Dengan Aland" Jawab Adaline dengan tersenyum lebar.
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Adaline membuat Erlan sangat terkejut, lagi-lagi ia membulat kan kedua mata nya dan merasa bingung ingin mengatakan apa.
"Mamah gilak ya?".
"Mamah tidak gilak sayang".
"Mah!…Aland itu sahabat aku dari kecil, meskipun mamah keliahatan masih muda, tetapi menikahi Aland itu…". Erlan bingung harus menjelaskan apa, ia merasa benar-benar tidak mengerti dengan apa yang di pikirkan oleh Adaline.
"Aland itu berumur 28 tahun, sedang kan mamah…44 tahun, mamah itu sudah menjadi orang lanjut usia" Sambung nya.
"Eits!, kamu jangan salah. Di luaran sana orang tua yang memiliki anak segede kamu, rata-rata sudah memiliki cucu dan usia nya 50 tahun ke atas, sedang kan mamah nikah di usia 16 tahun dan sekarang usia 44 tahun sudah mempunyai anak yang berusia 28 tahun" Jelas Adaline.
"Ya, tetapi meskipun begitu---".
"Jika kamu tidak mengingin kan nya, maka kamu harus bertunangan di hari ulang tahun mama. Ingat!, dua bulan lagi…" Ucap Adaline memotong pembicaraan Erlan.
Melihat Adaline yang begitu memaksa membuat Erlan terpaksa mengangguk, lagi pula ia juga tidak ingin Aland menjadi ayah tiri nya.
Jika pun Adaline menikah dengan orang lain selain Aland, Erlan tetap tidak ingin karena ia belum bisa melupakan Rian.
"Ok!, mamah sangat senang kamu menyetujui nya. Mamah tidak sabar menanti pertunangan mu dengan Adel dan hari ulang tahun mamah" Seru Adaline dengan bahagia.
"Ya mah…".
"Ya sudah jika begitu, mamah pulang dulu ya" Ucap Adaline seraya mengecup pipi Erlan.
"Oh iya, dan ada satu hal lagi…menerima Agatha itu hanyalah bahan bercandaan mamah…" Sambung nya seraya tertawa kecil.
Mendengar ucapan Adaline membuat Erlan terdiam lalu ia ikut tertawa.
"Erlan kira mamah serius…".
"Tentu saja tidak sayang…".
"Tetapi ekspresi wajah mamah tampak sangat serius" Ucap Erlan seraya menyilahkan tangan nya.
"Benarkah?. Ya sudah tidak perlu di pikirkan…mamah pulang ya…".
"Dah Erlan…". Adaline berjalan keluar dari ruang kerja, setelah ia pergi, Erlan langsung menge chat Adel untuk membahas tanggal pertunangan mereka.
Bersambung…