
Erlan dan Adel segera pulang ke rumah, selama dalam perjalanan, wajah Adel terlihat sangat pucat dan ia tidak bisa berhenti memikirkan Erlan hingga mereka sampai di rumah.
Sesampai nya di rumah, Erlan langsung pergi kembali tanpa ucapan sedikit pun dan itu membuat hati Adel merasa sakit.
Berpikiran terlalu lama dan serius membuat kepala Adel sedikit pusing dan ia memutuskan untuk tidur sebentar.
Saat Adel membuka pintu, belum ada siapapun yang datang dan rumah masih sangat lah sepi.
Adel berpikir wajar jika keluarga nya sibuk, tetapi Edric hingga para pembantu, tidak ada satu pun dari mereka berada di rumah.
"Sebenar nya mereka semua pergi kemana?…".
Adel segera masuk ke dalam rumah lalu ia langsung berjalan menuju anak tangga dan segera ingin beristirahat di kamar nya yang berada di lantai dua
"Aahh…rasa nya kepala ku sangat sakit…aku ingin segera beristirahat" Keluh Adel sambil berjalan malas menaiki anak tangga.
Setelah menaiki tangga, Adel sampai di lantai dua, ia segera berjalan dengan cepat untuk meraih gagang pintu kamar nya, tetapi ketika ia hendak meraih nya, tiba-tiba ada yang menekan bel rumah.
"Triinnggg…". Mendengar suara bel rumah membuat Adel kesal dan mengeluh.
Ia merasa perjuangan nya untuk menaiki tangga menjadi sia-sia dan hanya membuang-buang tenaga.
"Aahhh…siapa yang datang?…mendengar suara bel membuat kepala ku tambah pusing".
Adel merasa kesal sendiri, entah kenapa ia merasa hari ini hidup nya terasa berat.
Karena ingin segera cepat-cepat beristirahat, Adel langsung turun dari tangga untuk menemui orang yang datang terlebih dahulu.
"Trriinnggg…".
"Iya…tolong tunggu sebentar…" Teriak Adel sambil berjalan menuju ke arah pintu.
Setelah sampai di depan pintu, Adel langsung membuka nya dan terlihat seorang Kurir sedang memegang sebuah paket yang begitu kecil.
"Ya?…".
"Selamat siang. Saya mengantarkan paket anda…" Ucap Kurir tersebut seraya memberikan paket tersebut.
"Paket?…". Adel menerima paket yang di berikan oleh kurir dengan wajah kebingungan, seingat nya, Adel tidak pernah memesan suatu barang.
Karena takut salah alamat, Adel segera melihat label yang tertera pada bungkus paket dan terlihat nama "Erlan" pada paket tersebut.
"Ternyata paket punya Kak Erlan?…kecil sekali, kira-kira Kak Erlan membeli apa ya?…" Batin Adel merasa penasaran pada paket yang di pesan oleh Erlan.
"Maaf, apakah saya salah alamat?…" Tanya Kurir tersebut dengan khawatir.
"Oh, tidak!…Anda tidak salah alamat…" Jawab Adel dengan sopan.
"Oh, begitu ya…".
"Ya, terimakasih…" Ucap Adel dan Kurir itu pun mengangguk lalu pergi.
Setelah menerima paket, Adel memutuskan untuk mengantar paket tersebut pada Erlan.
Meskipun diri nya sedang malas dan kepala nya sakit, Adel tetap akan pergi karena ia merasa penasaran pada isi paket Erlan dan tidak biasa nya Erlan memesan sebuah barang apalagi salah menaruh alamat.
Adel segera mengunci pintu rumah, lalu ia langsung berjalan menuju garasi untuk membawa mobil.
Setelah semua nya sudah siap, Adel segera menancapkan gas mobil lalu ia langsung menelepon Erlan melalui Earphone.
"……".
"Sayang?…".
"Hai sayang…".
"Kenapa kamu menelepon ku?…".
"Kak Erlan, baru saja ada sebuah paket datang ke rumah ku. Tertera nama Kak Erlan dalam paket itu, sekarang aku sedang dalam perjalanan untuk mengantar paket nya…" Jelas Adel yang sedang fokus mengendarai.
"Ah, iya!…kamu antarkan saja, cepat ya, jangan membuat ku menunggu. Aku akan mengirimkan alamat lokasi ku…" Ucap Erlan lalu ia langsung mematikan telepon secara se pihak.
Setelah selesai bertelepon dengan Erlan, Adel langsung berpikir kembali yang tidak-tidak.
"Tenanglah diri ku!, tidak mungkin Kak Erlan seperti itu…" Ucap Adel berusaha untuk tetap berpikir positif kembali.
Setelah sekitar satu jam kemudian, lama nya perjalanan yang di tempuh akhir nya sampai juga.
"Ini…Mall?…".
Adel terkejut melihat lokasi tempat Erlan berada, ia merasa sangat penasaran mengapa Erlan berada di Mall.
"Tidak biasa nya dia pergi kemari…".
Setelah parkir kan mobil, Adel segera masuk ke dalam Mall dan langsung menelepon Erlan.
"……".
"Ya sayang?…".
"Aku sudah sampai, sekarang Kak Erlan sedang berada di mana?…".
"Oh!, kamu tunggulah disitu, aku akan segera datang…" Ucap Erlan lalu ia langsung mematikan telepon secara se pihak kembali.
"Kenapa Kak Erlan selalu mematikan telepon nya langsung?…" Kesal Adel.
Setelah selesai menelepon, Adel segera berjalan mencari tempat untuk menunggu.
Dan tidak lama kemudian, Erlan pun datang.
"Hai sayang…" Sapa Erlan.
"Hai…".
"Di mana paket nya?…" Tanya Erlan langsung pada inti nya.
Melihat Erlan langsung menanyakan paket dan tidak diri nya, membuat Adel sedikit kesal dan merasa khawatir juga karena perubahan sikap Erlan yang begitu cepat.
"Ini…" Jawab Adel dengan malas seraya memberikan paket nya.
"Terimakasih ya sayang…" Ucap Erlan dengan tersenyum kecil.
"Iya sayang…".
"Aku merasa khawatir pada perubahan Kak Erlan, apa aku tanyakan saja ya?…" Batin Adel lalu ia langsung memanggil Erlan.
"Kak Erlan".
"Ya sayang?…".
"Aku mau bertanya, kenapa Kak Erlan---". Belum sempat Adel berbicara, tiba-tiba ada yang memanggil Erlan dari belakang.
Dia adalah seorang perempuan dan begitu melihat nya, Adel langsung tahu siapa dia.
Orang itu datang menghampiri dan langsung merangkul lengan Erlan dengan santai nya lalu memanggil Erlan dengan sebutan "Sayang".
Melihat perempuan tersebut memanggil Erlan dengan sebutan "Sayang" dan langsung merangkul lengan nya dengan santai membuat Adel terdiam seketika.
"Lea?…".
"Ah!, kakak yang tadi pagi ya…" Ucap Lea dengan tersenyum ramah.
"Kak Erlan…kenapa kamu bisa bersama dengan Lea dan…dia memanggil Kak Erlan dengan sebutan sayang…" Tanya Adel sambil mengerutkan kedua alis nya.
Adel merasa sangat terkejut ketika melihat Erlan bersama dengan Lea, ia takut terjadi apa-apa dan untuk memastikan nya, Adel bertanya pada Erlan.
"Hmm, Adel…".
"Adel?…Kak Erlan panggil aku Adel?, tidak biasa nya Kak Erlan panggil aku seperti itu. Jika pun Kak Erlan tidak memanggil ku dengan sebutan sayang, Kak Erlan akan memanggil ku Cia dan tidak memanggil ku dengan nama depan ku…" Jelas Adel dengan sedikit kesal.
"Iya!. Maaf Adel…".
"Apa maksud Kak Erlan?…".
"Sebenar nya…sebenar nya aku berpacaran dengan Lea dan aku mau meminta putus hubungan denganmu…" Ucap Erlan dengan santai nya.
Mendengar ucapan Erlan membuat Adel langsung terjatuh dan merasa sangat terkejut.
Ia tidak percaya dengan apa yang Erlan ucapkan, ia juga berpikir mungkin diri nya salah mendengar.
"Kak Erlan bilang apa?…coba kakak ucapkan sekali lagi".
"Aku berpacaran dengan Lea dan aku meminta putus hubungan denganmu…" Jelas Erlan.
"Coba Kak Erlan ucapkan sekali lagi…" Suruh Adel yang masih belum percaya dan air mata mulai muncul di pelupuk mata nya.
"Aku berpacaran dengan Lea dan aku meminta putus hubungan denganmu".
"Tidak-tidak-tidak…tidak mungkin kan?. Coba…Kak Erlan ucapkan sekali lagi…" Suruh Adel dengan nada bergetar dan air mata pun lolos membasahi pipi nya.
"Aku berpacaran dengan Lea dan aku---". Belum sempat Erlan melanjutkan bicara nya, Adel langsung menampar wajah Erlan dengan sangat keras.
"Aku benci pada Kak Erlan!!" Ucap Adel dengan nada tinggi lalu ia pun berjalan pergi.
Adel berjalan dengan cepat keluar dari Mall dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi nya.
"Aku…aku tidak percaya Kak Erlan seperti itu. Kenapa?…kenapa Kak Erlan berkata kejam pada ku dengan santai nya?. Aku benar-benar kecewa pada nya!…" Batin Adel dengan perasaan hancur dan pikiran yang kacau balau.
Bersambung…