Love Is Blocked By Revenge

Love Is Blocked By Revenge
Sakit Demam.



Melihat Erlan yang selalu menyikapi nya dengan dingin membuat Vina memutuskan untuk pergi.


''Cia, Kak Erlan. Aku pulang ya, aku ingin membantu ibu menjaga toko'' Ucap Vina dengan ekspresi datar.


''Ah!, secepat ini?...'' Tanya Adel dengan kecewa.


"Cia…kamu adalah orang yang sangat baik. Andai kamu tahu bahwa aku pernah ingin meracunimu, apa reaksimu?, apakah kamu akan membenci ku?. Aku takut hal itu terjadi, tetapi aku juga masih mencintai Kak Erlan".


''Iya, maaf ya...''.


''Tapi---''. Belum sempat Adel melanjutkan bicara nya, Erlan langsung menghentikan nya.


''Sudahlah Cia, kasihan Bi Dina jaga toko sendirian'' Ucap ya.


''Iya benar'' Sambung Vina.


''Tapi apakah nanti kita bisa bertemu lagi?'' Tanya Adel dengan wajah penuh berharap.


''Nanti malam kita akan makan bersama dengan Bi Dina dan Vina untuk merayakan kedatangan mereka...'' Jawab Erlan seraya mengusap ujung puncak rambut Adel dengan lembut.


''Benarkah?...'' Tanya Adel dengan terkejut.


''Gawat!, jika nanti malam aku pergi makan bersama, maka aku tidak akan bisa bertemu dengan Eliana. Bagaimana ini?...'' Batin Adel dengan khawatir.


''Ya Cia sayang...'' Jawab Erlan meyakinkan.


''Y-ya jika begitu aku merasa senang'' Ucap Adel dengan terbata dan senyuman paksa.


''Jadi nanti malam kita akan makan bersama ya...apakah suasana akan menjadi sangat hening antara aku dan Kak Erlan?...'' Batin Vina dengan khawatir.


''Ya sudah jika begitu, persiapkan lah diri kalian nanti malam, aku dan ibu pasti akan menyediakan hidangan yang kalian suka'' Ucap Vina lalu ia berjalan pergi begitu saja.


Setelah Vina pergi, Erlan langsung menyuruh Adel untuk menghabiskan Es krim nya dan setelah mereka menghabiskan Es krim, Adel memaksa Erlan untuk langsung pulang ke rumah karena sebelum malam tiba, Adel ingin bertemu dengan Eliana terlebih dahulu.


Erlan pun mengangguk meski ia tidak tahu alasan Adel ingin segera pulang dan mereka berdua pun segera menuju perjalanan pulang, sesampai nya di rumah...


''Nona Cia...'' Sapa Edric dengan sopan.


''Edric…''. Adel memberi kontak pada Edric mengenai Eliana dan Edric pun mengangguk baru menemukan Eliana.


Setelah tahu keberadaan Eliana, Adel memutuskan untuk menginap di kediaman Stewart.


''Sayang, aku ingin menginap di sini...boleh kan?''.


''Boleh sayang...'' Jawab Erlan mengangguk.


''Oh iya, aku mau ke ruang kerja dulu ya...'' Sambung Erlan  sambil mengecup kening Adel lalu ia pergi menuju lantai dua.


Setelah Erlan sudah pergi begitu jauh, Adel memanfaatkan situasi saat ini untuk pergi bertemu dengan Eliana.


''Edric, cepat antarkan aku pada Eliana'' Suruh Adel dengan tegas.


''Baik nona''.


Edric segera mengantar Adel pada Eliana, selama berjalan, ia memberitahu Adel bahwa selama dua hari ini, Erlan selalu menyiksa Eliana hingga pingsan dan sempat di tolong oleh Rangga.


''Dari mana kamu mendapatkan informasi itu?'' Tanya Adel.


''Saya telah menyimpan mata-mata di kediaman Stewart'' Jawab Edric dengan sopan dan sampai lah mereka berdua di halaman belakang kediaman Stewart.


''I-ini kan tempat...''


''Ya, ini adalah tempat yang biasa di gunakan oleh tuan Erlan untuk membunuh orang'' Jelas Edric.


''Eliana!...Eliana pasti berada di dalam gudang...'' Ucap Adel dengan khawatir sambil berjalan cepat memasuki gudang di ikuti Edric dari belakang.


Setelah memasuki gudang, Adel melihat Eliana terbaring lemas tidak berdaya di lantai yang begitu dingin, karena takut terjadi apa-apa, Adel langsung berlari cepat menghampiri Eliana.


''Eliana...Eliana'' Panggil Adel dengan panik seraya mengangkat tubuh Eliana ke dalam pelukan nya.


Wajah Eliana terlihat sangat pucat, mata sayu, dan bibir sangat kering. Ia terlihat sangat kelelahan dan tubuh nya tampak lemas serta kurus, karena meras panik melihat keadaan Eliana yang seperti itu, Adel langsung memegang kening nya dan terasa sangat panas.


''Astaga!, panas sekali, seperti nya Eliana demam'' Ucap Adel dengan panik dan khawatir.


''Maukah saya panggil kan dokter?'' Tanya Edric.


''Tidak usah. Kamu bawa saja Eliana ke kamar kecil yang berada di lantai empat, aku yakin Erlan tidak akan menyadari nya, biar aku saja yang panggil kan dokter'' Jelas Adel dengan tegas.


''Baik''. Edric segera menggendong Eliana lalu setelah itu ia langsung berlari keluar dari gudang, di waktu yang sama, Adel langsung menelepon dokter pribadi keluarga Durant.


Setelah beberapa menit kemudian, akhir nya dokter pun datang.


Adel langsung mengantar dokter pada Eliana, dan di waktu yang sama, ada salah satu bawahan Erlan yang memantau.


Adel dan dokter sudah berada di lantai empat, mereka berdua langsung masuk ke dalam ke kamar dan memeriksa Eliana.


Setelah memeriksa Eliana, dokter menyarankan Eliana untuk istirahat lebih lama, jangan biarkan Eliana bangkit sebelum demam nya turun dan dokter memberi beberapa obat untuk menurunkan demam serta sebuah salep penyembuh luka karena ia lihat luka-luka memar di lengan dan wajah Eliana.


Setelah selesai memeriksa Eliana, Adel langsung menyuruh dokter tersebut untuk pulang.


"Bagaimana bisa ini terjadi pada Eliana, padahal ia tidak bersalah sama sekali…" Ucap Adel sambil menatap penuh rasa bersalah pada Eliana.


Setelah di beri obat meskipun sedang pingsan, Eliana tampak agak membaik dan di waktu yang sama, Erlan...


...***...


"Bagaimana?" Tanya Erlan pada Kelvin yang tengah berdiri di depan nya.


"Saya menemukan seorang mata-mata yang di duga ia di kirim oleh bawahan nona Adel yang bernama Edric" Jelas Kelvin.


"Begitu ya" Ucap Erlan dengan singkat.


"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Kelvin.


"Di percepat saja dan jangan sampai Adel tahu soal kematian nya" Jawab Erlan dengan dingin.


"Baik, jika begitu---". Belum sempat Kelvin melanjut kan bicara nya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.


"Masuk" Suruh Erlan dan orang tersebut pun masuk, ternyata ia adalah bawaha Erlan yang sedang memantau Adel.


"Bagaimana?" Tanya Erlan.


"Saya melihat nona Adel dan bawahan nya yang bernama Edric membawa Eliana ke lantai empat dan bahkan nona Adel memanggil seorang dokter. Saya dengar dari pembicaraan mereka, gadis yang bernama Eliana itu saat ini sedang sakit demam" Jelas bawahan tersebut.


"Baiklah, sekarang sudah terjadi seperti ini, bagaimana ini…tuan Erlan?" Tanya Kelvin pada Erlan dengan tatapan kosong.


"Nanti akan aku panggil kembali" Ucap Erlan lalu Kelvin dan bawahan nya berjalan ke luar meninggalkan ruang kerja.


Setelah mereka berdua keluar, Erlan langsung mengeluarkan sebuah photo dari laci meja kerja nya.


Di photo tersebut memperlihatkan kedua orang tua yang tengah bahagia sambil menunjuk kan sebuah kamar dan mainan seorang bayi.


Bersambung…