Love Is Blocked By Revenge

Love Is Blocked By Revenge
Sakit nya kehilangan.



Erlan dan Caitlin segera membawa Adel ke rumah sakit terdekat.


Sesampai nya di rumah sakit, Adel langsung di tangani oleh para dokter dan suster.


"Semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Cia…" Batin Erlan dengan sangat gelisah seraya berjalan bolak-balik di depan ruang penanganan.


Caitlin terduduk diam menatap Erlan yang begitu panik, ia merasa sangat senang karena rencana nya telah berhasil meskipun luka di kepala nya belum di obati.


"Apa yang terjadi?" Tanya Erlan dengan dingin pada Caitlin.


"Eliana mendorong Kak Cia karena takut diri nya di laporkan pada Kak Erlan" Jawab Caitlin dengan santai nya.


"Hal apa?".


"Jatuh cinta".


Mendengar ucapan Caitlin membuat Erlan terdiam, ia menahan tawa dengan tatapan mata nya yang begitu kosong.


"Jatuh cinta?. Jangan buat aku tertawa" Ucap Erlan tanpa ekspresi apapun.


"Di saat seperti ini kau masih bisa tertawa?, hah!".


"Kenapa Cia harus repot-repot memberitahu ku?, tanpa ia beritahu atau aku sudah tahu pun itu tidak ada guna nya. Jangan banyak basa-basi" Ucap Erlan dengan tatapan tajam.


"Haaa…baiklah. Aku menuduh Eliana mendorong ku hingga terluka dan banyak informasi palsu lainnya…".


"Kenapa?".


"Kenapa?, kenapa apa nya?".


"Hahaha, kenapa kamu hanya menggunakan cara ini saja?. Ternyata memang benar di keluarga Stewart kamu lah yang paling lemah!" Jelas Erlan.


"Aku tahu itu…".


"Haaa…". Erlan menghela nafas nya perlahan, suasana hati nya saat ini benar-benar sedang sangat buruk, tidak akan ada seorang pun kecuali Adel menghentikan Erlan jika ia berbuat sesuatu.


"Jagalah Cia, aku sudah menghubungi keluarga Durant dan yang lainnya" Titah Erlan lalu ia pergi begitu saja.


"Hal apa yang akan ia lakukan?…memenggal atau menggantung Eliana ya?. Hahaha…aku sangat puas dengan drama ini!" Batin Caitlin seraya tersenyum miring.


...***...


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 18:00 malam. Keadaan di rumah benar-benar hening, Eliana terduduk lemas di anak tangga seraya menangis di pelukan Gita.


"Ini salah Eliana Bi…andai Eliana tidak membuat nona Adel marah, pasti hal ini tidak akan terjadi, pasti nona Adel tidak akan---".


"Sh-sh-sh…tenanglah Eliana. Meskipun Bibi tidak tahu apa yang telah terjadi, tetapi Bibi yakin kamu tidak mungkin mencelakakan nona Adel" Ucap Gita dan ikut menangis.


"Tidak Bi…Eliana salah…ini semua salah Eliana…" Ucap Eliana dengan menangis tersedu-sedu.


"Pasti tanpa ku sadari aku telah mendorong nona Adel, kenapa?…kenapa hal ini terjadi?. Awal nya aku hanya ingin menggapai nona Adel dan memeluk nya bukan mendorong nya!…".


"Tenanglah Eliana…jangan menangis lagi. Kita doakan semoga nona Adel baik-baik saja…" Ucap Gita berusaha menenangkan Eliana yang terus menangis dengan tiada henti.


"Ya tuhan, aku yakin ada yang salah. Tidak mungkin Eliana melakukan hal seperti itu, meskipun kami belum mengenal cukup lama, aku tahu bahwa Eliana adalah anak yang sangat baik. Semoga nona Cia baik-baik saja…".


"Eliana tidak bisa tenang Bi…Eliana ingin melihat kondisi nona Adel…".


"Iya Bibi tahu…bukan hanya Eliana saja, tetapi Bibi juga sangat khawatir pada nona Adel…" Ucap Gita dengan menangis pelan.


Gita tidak tega melihat Eliana yang terus menangis dan menyalahkan diri nya, ia berpikir ingin membantu Eliana, tetapi, apakah diri nya bisa?.


Mendengar kabar Adel terjatuh dari anak tangga saja sudah membuat Gita merasa tidak berguna sebagai pembantu nya.


Ketika Gita sedang berusaha menenangkan Eliana, tiba-tiba terdengar suara bantingan pintu dan hentakan kaki yang begitu keras.


"B-bi…siapa itu?…".


"Bibi juga tidak tahu, ayo kita turun melihat nya…".


"I-iya…".


Eliana dan Gita memberanikan diri untuk turun, mereka takut jika ada seorang perampok yang datang.


Eliana dan Gita sudah sampai di lantai dasar dan yang mereka lihat adalah seorang pria yang sedang mengamuk seraya mengacaukan benda di sekitar nya.


"T-tuan Erlan?…". Eliana dan Gita sangat terkejut melihat Erlan mengamuk, mereka berdua baru pertama kali melihat sosok Erlan yang seperti itu.


Ruang dasar benar-benar kacau dan berantakan. Meja pecah, serpihan beling di mana-mana, pot bunga hancur, dan tangan Erlan bercucuran darah karena terkena pecahan beling tersebut.


"Kau".


"Ikutlah dengan ku" Ucap Erlan dengan nada yang begitu dingin dan tatapan yang sangat tajam tepat menusuk ke dalam mata Eliana yang begitu ketakutan.


"T-tuan Erlan!!". Dengan berani nya Gita melindungi Eliana dari hadapan Erlan, memakai tubuh nya yang pendek dan sudah lemah untuk melindungi Eliana dari depan merupakan keputusan Gita yang sudah membulat.


"Aku yakin tuan Erlan akan berbuat sesuatu pada Eliana!. Aku harus melindungi Eliana…sebenar nya, aku sudah menganggap Eliana seperti putri kandung ku sendiri, meskipun aku tidak tahu apakah aku memperlakukan Eliana dengan baik atau tidak karena…aku tidak bisa mempunyai seorang anak dan tidak tahu rasa nya seperti apa. Hahhh…umur ku ini sudah tua…" Batin Gita dengan sedih.


Eliana sangat terkejut melihat Gita yang tiba-tiba melindungi nya, ia tidak ingin Gita melakukan hal itu karena tidak ingin melibatkan nya dan khawatir pada nya.


"B-bibi…".


"Menyingkirlah dari Eliana" Titah Erlan dengan tatapan yang begitu kosong.


"S-saya tidak akan menyerahkan Eliana pada tuan!" Teriak Gita.


"Bibi…jangan…". Eliana tambah menangis melihat Gita melindungi nya. Ia merasa sangat sedih dan tidak ingin terjadi apa-apa pada Gita.


Eliana sudah menganggap Gita sebagai ibu kandung nya sendiri, semua kasih sayang yang ia dapatkan dari Gita benar-benar membuat diri nya bahagia.


Eliana tidak ingin Gita terluka karena diri nya…


"Apa maksud kau?".


"Saya yakin tuan akan berbuat hal jahat pada Eliana!!, jika tuan melakukan nya, saya tidak akan tinggal diam!!" Teriak Gita dengan tegas dan pebuh keberanian.


"Sudah…cukup…Bibi…".


"Bibi!…sudahlah, ini adalah urusan Eliana dengan tuan Erlan. Eliana mohon…Eliana tidak ingin terjadi apa-apa pada Bibi…" Ucap Eliana seraya merangkul lengan Gita.


"Tidak apa-apa Eliana…jangan takut, bibi akan melindungi kamu…". Gita mengelus puncak rambut Eliana dengan penuh kehangatan, ia tidak ingin terus melihat Eliana menangis.


"Hah…hahaha!!!. memuakkan!, jika aku berbuat sesuatu pada Eliana, apakah kau benar-benar bisa melindungi nya?" Tanya Erlan seraya tertawa kecil.


"Tentu saja!. Saya sudah menganggap Eliana seperti putri kandung saya sendiri!!, saya tidak akan membiarkan tuan menyakiti Eliana!!".


Mendengar pernyataan Gita benar-benar membuat hati Eliana semakin hancur, ia benar-benar ingin melindungi Gita, bukan Gita yang melindungi diri nya.


"Bibi!…sudah cukup…".


"E-eliana?".


"Tuan Erlan!, jika tuan ingin menghukum saya karena kecelakaan nona Adel, silahkan…tapi tolong…jangan lukai Bibi…" Ucap Eliana dengan gemetaran dan semakin erat merangkul lengan Gita.


"Sudah terlambat!" Ucap Erlan seraya tersenyum miring. Aura nya saat ini benar-benar berbeda, ia terlihat sangat mengerikan dan kejam.


Eliana dan Gita yang melihat nya di buat sangat ketakutan, tetapi mereka tetap berusaha untuk tegak.


"Apa maksud tuan?" Tanya Eliana tidak mengerti.


"Suasana hati ku saat ini sedang sangat buruk di tambah pelayan itu membuat ku semakin emosi" Jawab Erlan dengan tatapan tajam seraya berjalan menghampiri membawa pecahan kaca.


"D-dia ingin apa?…" Batin Gita dengan sangat khawatir.


"Hei…hiburlah aku. Buatlah suasana hati ku membaik".


"Sangat menghibur" Ucap Erlan dengan dingin dan tanpa Eliana serta Gita sadari, dengan cepat nya Erlan menusuk dada Gita sangat dalam.


"B-BIBI!!!". Darah mulai keluar dan bercucuran ke lantai. Kesadaran Gita perlahan mulai menghilang, tetapi ia berusaha untuk menahan nya sedikit lagi hingga ia bisa menyampaikan hal terakhir nya pada Eliana.


Melihat Gita tiba-tiba di tusuk membuat Eliana sangat terkejut, seketika kedua bola mata nya membesar dan hati nya benar-benar hancur.


"B-bibi…". Gita jatuh dalam pelukan Eliana, pemandangan di depan nya benar-benar membuat Eliana sangat sedih dan tubuh nya bergetar dengan tiada henti.


"Apakah hanya ini?, benar-benar tidak menghibur" Ucap Erlan dengan dingin nya.


"T-tidak!…kejam…kejam nya…bagaimana bisa dia melakukan ini dengan santai nya?!. Aku benar-benar benci diri ku!!!, aku tidak bisa menyelamatkan Bibi dan telah melukai nona Adel…aku tidak bisa memaafkan diri ku…" Batin Eliana seraya menatap Gita dan air mata nya terus berjatuhan di wajah Gita.


Gita tersenyum pada Eliana, ia memegang pipi Eliana dan mengusap nya dengan lembut.


"J-jangan…menangis…".


"T-tidak!…aku tidak ingin kehilangan Bibi…" Ucap Eliana seraya memegang lengan Gita yang mengelus pipi nya.


"K-kamu harus tahu…s-sekarang…kamu adalah putri ku. Bertahanlah…h-hidup…hingga…kamu…menemukan…keluarga…y-yang…s-sungguh nya. M-maaf baru memberitahu kamu sekarang…i-ibu…ibu…sangat…m-menyayangi k…amu…". Itulah ucapan terakhir Gita dan ia sudah pergi.


"IBU!!!". Eliana memeluk Gita dengan erat-erat, seluruh lengan dan baju nya di penuhi dengan lumuran darah Gita yang mengalir.


Hati Eliana benar-benar hancur. Kehilangan sosok ibu yang baru di temui nya benar-benar membuat luka dalam di hati dan sedih yang begitu berat.


Erlan hanya menatap kepergian Gita dengan santai nya, tiada henti dan capek nya terus menatap Eliana dengan tatapan tajam.


Bersambung…