
Edric masih menunggu di dalam mobil, sudah 5 jam ia menunggu, tetapi Eliana tak kunjung datang.
''Mengapa dia lama sekali?!...'' Gumam Edric dengan kesal.
Edric memutuskan masuk ke dalam pasar untuk mencari Eliana, karena Edric tidak mau mengecewakan Adel jika terjadi sesuatu pada Eliana.
''Aku harus segera mencari nya'' Ucap Edric seraya turun dari mobil nya lalu ia langsung berjalan dengan cepat memasuki pasar.
Setelah masuk, pasar terlihat tidak ramai lagi seperti tadi, hal ini dapat memudahkan Edric untuk mencari Eliana.
''Dimana dia?...'' Gumam Edric seraya mencari di setiap sudut para pedagang hingga 3 jam berlalu, Edric tidak dapat menemukan Eliana sama sekali.
''Gawat!, tidak mungkin Eliana menghilang!...'' Ucap Edric sambil mengatur nafas nya agar tidak merasa panik.
''Bagaimana ini?...''. Tidak dapat menemukan Eliana sama sekali membuat Edric gagal fokus dan menjadi sangat panik. Ia berpikir bingung harus menjelaskan seperti apa pada Adel.
''Sial!...''. Edric mengambil ponsel dari saku celana nya lalu ia langsung menelepon bawahan lain nya untuk membantu nya mencari Eliana.
''Halo''.
''...''.
''Tolong bantu saya mencari Eliana, jangan tanya apa yang terjadi dan jangan beritahu nona Cia. Cepat!, di pasar biasa nya'' Tegas Edric lalu ia langsung mematikan telepon dengan sepihak.
... ***...
“Balas dendam yang begitu mendalam”.
Eliana terbangun dari pingsan nya, saat bangun, ia melihat kedua kaki dan tangan nya di ikat oleh tali dengan sangat erat.
''D-dimana ini?...'' Gumam Eliana seraya melihat sekeliling nya. Tempat itu terlihat sangat gelap dan sempit, Eliana benar-benar bingung mengapa diri nya ada di tempat seperti ini, ia merasa sangat panik dan takut.
''Kenapa bisa terjadi seperti ini?...''. Eliana berusaha mengingat kejadian yang telah terjadi, dan muncul lah dalam benak nya bahwa awal nya ia sedang berada pasar.
''Benar juga, awal nya aku sedang membeli bumbu lalu saat aku ingin kembali...aku di buat pingsan...''.
''Siapa yang telah membawa aku kesini?...'' Gumam Eliana dengan panik dan tidak lama kemudian datanglah seseorang dari luar.
''Kau sudah sadar?'' Tanya orang tersebut seraya membuka pintu.
''S-siapa anda?...''. Eliana menatap wajah orang tersebut dengan dalam, ketika melihat nya ia merasa belum pernah bertemu dengan nya dan tidak mengenal nya sama sekali.
''Kau tidak perlu tahu siapa aku'' Jawab orang tersebut dengan tatapan mata yang sangat tajam.
''D-dimana saya sekarang?...mengapa anda membawa saya kesini?...'' Tanya Eliana dengan raut wajah panik.
''Berisik''. Orang tersebut menampar pipi Eliana dengan kencang, ia tidak suka dengan suara dan raut wajah Eliana yang menurut nya terlihat sangat menjijikkan.
''Aku akan membunuh kau sekarang'' Ujar dengan nada bicara dingin dan tatapan yang begitu kosong.
''M-membunuh?...dia...ingin...membunuh ku?...'' Batin Eliana dan tubuh nya mulai bergetar. Eliana sangat bingung kenapa orang tersebut ingin membunuh nya, padahal Eliana pikir mereka berdua baru saling bertemu.
''K-kenapa anda ingin membunuh saya?...''.
''Karena kau itu memang seharusnya mati''.
''Apa kau lihat dinding yang ada di sana?. Dinding itu terdapat bekas dua darah yang berbeda, sangat indah bukan?...agar dinding itu terlihat lebih indah lagi, aku harus membunuh kau lalu darah kau akan aku oles di tengah-tengah bekas dua darah berbeda tersebut'' Jelas orang tersebut dengan tertawa keras.
Eliana melihat ke arah dinding tersebut, saat melihat nya, ia merasa sangat ketakutan dan sedih ''Kejam nya...mengapa mereka di bunuh?...''.
''Saya benar-benar tidak mengerti, kenapa anda ingin membunuh saya?. Apa maksud dari kata kamu memang seharusnya mati?...'' Tanya Eliana dengan bingung.
"Pada inti nya. Kak Erlan melepaskan kau dan tidak membunuh kau, hal itu membuat ku tidak suka!...jadi, biarkan lah aku saja yang membunuh kau!" Jelas orang tersebut seraya mengambil sebuah pisau dari saku celan nya.
Melihat pisau sudah di genggaman orang tersebut membuat Eliana merasa sangat terkejut.
"Matilah!!!" Teriak orang tersebut sambil mengarahkan pisau ke arah Eliana, tetapi Eliana berhasil menghindari nya.
"Meskipun sakit saat melepaskan, itu tidak penting, yang penting adalah segera kabur dari tempat ini" Batin Eliana.
Selama dalam pembicaraan, Eliana berusaha melepaskan tangan nya dari ikatan tali.
Ikatan tali tersebut di buat longgar dengan sekuat tenaga, meskipun rasa nya sangat perih dan sakit, hal itu sudah biasa Eliana rasakan.
"Kenapa ikatan tangan kau bisa lepas?" Tanya Orang tersebut dengan sangat terkejut.
Eliana segera mengambil pisau dari genggaman orang tersebut lalu ia berusaha menjatuhkan orang tersebut hingga terbentur keras ke arah lantai.
"Akh!!!…berani sekali kau!!…".
Melihat ada nya kesempatan, Eliana langsung memutuskan tali ikatan kaki dengan pisau yang ia dapatkan, setelah berhasil, ia langsung berjalan keluar dengan panik.
"B-berhenti!!, jangan kabur!!!" Teriak orang tersebut lalu ia berusaha bangkit dari jatuh nya kemudian mengejar Eliana.
"J-jangan sampai aku tertangkap!" Batin Eliana seraya berlari dengan kencang.
"Berhenti!!!". Orang tersebut terus mengejar Eliana, meskipun ia sudah mulai merasakan lelah, ia tidak peduli dan terus mengejar Eliana.
"T-tidak!!!" Gumam Eliana dengan sangat panik dan tidak lama kemudian ia terjatuh karena sudah merasa lelah berlari.
"T-tidak…aku harus segera bangkit…" Gumam Elina dengan nafas yang tersengal-tersengal.
Eliana segera bangkit dari jatuh nya lalu ia langsung berlari kembali.
"Eliana!!!, kembali!!!" Teriak orang tersebut seraya memegang pisau.
Eliana terus berlari dan ia mulai merasa sangat lelah, tetapi ia tidak boleh berhenti dan harus tetap berlari.
Ketika Eliana masih terus berlari, tiba-tiba datanglah mobil dari depan nya.
"Tangkap dia!!!" Teriak orang tersebut pada mobil yang datang.
Melihat situasi sekarang ini benar-benar membuat Eliana sangat bingung dan panik.
Ia tidak tahu harus kabur lewat mana, karena depan-belakang nya akan menangkap nya.
Bersambung…