
Adel mulai curiga bahwa Erlan dan Eliana memiliki hubungan tersembunyi, jika tidak, mana mungkin Erlan berusaha merebut Eliana dari Rangga.
''Aku tidak akan membiarkan kamu mengambil Eliana'' Ucap Rangga dengan tatapan sinis.
''Hahhh...aku bisa mengambil Eliana dari kau kapan saja''. Perkataan Erlan benar-benar membuat Adel salah paham berat, ia merasa kesal dan memutuskan untuk pulang ke apartemen nya.
Adel berjalan pergi dari kerumunan, ia berjalan dengan cepat menuju pintu keluar, saat sudah sampai di depan pintu, ia menatap Erlan dari kejauhan.
''Semoga saja Kak Erlan benar-benar tidak jatuh cinta pada Eliana'' Gumam Adel lalu ia pergi begitu saja tanpa Erlan sadari.
Semua orang terlalu fokus pada Rangga dan Erlan kecuali Brian yang menyadari kepergian Adel namun hanya diam saja dan Caitlin yang langsung menyelip keluar untuk menyusul Adel.
''Kak Adel tunggu'' Teriak Caitlin seraya mencegah Adel yang ingin masuk ke dalam mobil.
''Ada apa?'' Tanya Adel dengan dingin.
''A-ahhh...''. Caitlin terdiam melihat ekspresi wajah Adel, ia tidak pernah melihat ekspresi Adel yang seperti itu karena yang selalu ia lihat adalah senyuman yang menghiasi wajah nya.
''Aku tidak boleh melewatkan kesempatan bagus ini'' Batin Caitlin seraya tersenyum kecil.
''Cepatlah berbicara'' Celetuk Adel.
''Ah, iya...aku hanya ingin memberitahu Kak Adel sesuatu''.
''Apa?''.
''Besok aku ingin mengajak Kak Adel pergi jalan-jalan...'' Ucap Caitlin.
''Pergi jalan-jalan?...tetapi, kamu harus menerima hukuman terlebih dahulu''.
''Kak Adel tenang saja''.
''Hhmm...baiklah...'' Ucap Adel seraya tersenyum kecil lalu ia masuk ke dalam mobil dan langsung pergi.
''Aku yakin Kak Adel akan menuruti permintaan ku karena dia sudah menganggap ku sebagai adik nya kandung nya sendiri'' Batin Caitlin seraya tersenyum miring.
Caitlin memanfaatkan Adel untuk rencana jahat nya, ia yakin rencana yang ia buat akan berjalan dengan lancar dan berhasil.
''Keadaan di dalam sedang sangat ribut, apakah ini kesempatan ku untuk kabur?'' Gumam Caitlin, tetapi tiba-tiba dari belakang ada yang berjalan menghampiri nya, dan Caitlin pun langsung menoleh ke arah suara berjalan tersebut.
''K-Kak Kelvin?!''.
''Ikutlah dengan ku''.
''K-kemana?''.
''Apakah kau sudah lupa?''. Kelvin terus menatap Caitlin dengan tajam dan hal itu sontak membuat Caitlin langsung mengangguk.
''Tetapi bukan di sini, melainkan di kediaman Stewart langsung. Kamu akan di hukum oleh nona Adaline'' Jelas Kelvin.
Mendengar ucapan Kelvin membuat tubuh Caitlin bergetar seketika dan rasa ketakutan mulai mengiringi tubuh nya, ia berpikir lebih baik di hukum oleh Erlan daripada di hukum oleh Adaline.
''Dia terlihat sangat ketakutan. Hahh...itulah akibat nya jika dia berani melakukan hal yang membuat keluarga Stewart tidak suka'' Batin Kelvin seraya menatap Caitlin yang sedang ketakutan dengan tatapan kosong.
''Cepat'' Tegas Kelvin lalu ia berjalan menuju garasi mobil.
''B-baik''.
''Gawat-gawat-gawat!!!. Bagaimana ini?...semoga saja mamah tidak tahu jika aku di hukum oleh tante Adaline...'' Batin Caitlin lalu ia langsung berjalan mengikuti Kelvin dari belakang.
Kelvin dan caitlin berangkat menuju kediaman Stewart, sedangkan di dalam rumah masih terjadi suasana gaduh.
''Apakah kau sudah tidak peduli lagi dengan adik kau?'' Tanya Erlan seraya tersenyum seringai.
''Apakah kamu mengancam?...hah!, sungguh lucu'' Ucap Rangga seraya tertawa kecil.
''Jadi kau sudah tidak peduli lagi dengan Yola?''.
''Sudah ku bilang, jangan libatkan Yola ke dalam masalah ini'' Ucap Rangga lalu ia berjalan menuju anak tangga.
''Kembalikan Eliana'' Teriak Erlan, tetapi Rangga menghiraukan nya. Tidak lama kemudian, Rangga turun seraya membawa barang-barang dan di temani oleh orang yang selama ini menjaga Yola.
''Berhenti!, ku bilang berhenti!'' Teriak Erlan, tetapi Rangga tetap menghiraukan nya dan terus berjalan menuju pintu keluar. Setelah meninggalkan kerumunan, Rangga langsung membawa mobil nya.
''Sial!!''.
''Kamu terlalu fokus pada Eliana hingga tidak mempedulikan Cia'' Ucap Brian dengan tersenyum miring lalu ia berlalu pergi begitu saja bersama dengan Edric.
''A-apa?''. Mendengar ucapan Brian membuat Erlan baru ter sadar bahwa Adel tidak ada, ia pun langsung segera menelepon Adel untuk meminta maaf.
''...''.
''Ayo lah...sayang...''.
''...''. Erlan merasa sangat gelisah dan bersalah, tanpa ia sadari, ia lebih memeting kan Eliana daripada Adel.
Sudah berkali-kali Erlan menelepon, Adel tidak bisa di hubungi sama sekali dan hal itu membuat Erlan pasrah untuk menelepon.
''Cia...''. Erlan duduk lemas di sofa, ia langsung mengusap wajah nya dengan kasar dan terus berpikir dengan gelisah.
''Aku harus segera merebut Eliana kembali lalu menyembunyikan nya dari Cia...'' Batin Erlan dan tidak lama kemudian, tanpa sadar ia terlelap tidur di sofa.
''Kasihan sekali Eliana dan nona Cia, seharus nya tuan Erlan bisa melepaskan Eliana dan terus fokus pada nona Cia...'' Batin Gita yang melihat Erlan tertidur lalu ia langsung berjalan kembali menuju kamar nya.
***
Keesokan hari nya, di rumah rangga, Eliana masih tertidur dengan sangat lelap. Tampak jelas sekali dari wajah nya yang pucat bahwa ia merasakan lelah yang berat.
''Saat tidur pun kamu terlihat sangat cantik'' Gumam Rangga seraya menatap Eliana dengan senyuman lebar.
''Aku tidak ingin kamu mati, aku akan berusaha untuk menyelamatkan kamu meskipun harus di benci oleh keluarga...''. Rangga menatap wajah Eliana dengan penuh kesedihan, ia tidak ingin kehilangan Eliana dan ingin Eliana mengetahui perasaan nya.
''Aku harus ke kamar Yola terlebih dahulu...'' Ucap Rangga lalu ia mengecup kening Eliana kemudian berjalan keluar dari kamar.
Setelah Rangga keluar dari kamar Eliana, tiba-tiba ada seseorang yang menyelinap masuk melewati jendela yang terbuka lebar.
Ia berjalan menghampiri Eliana lalu menggendong nya, setelah semua nya sudah siap, seseorang itu langsung keluar melewati jendela kembali.
***
Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 08:43 pagi dan sekarang Erlan sedang berada di ruang kerja nya.
''Apakah kau sudah mendapatkan nya?...'' Tanya Erlan pada bawahan nya melewati telepon.
''...''.
''Bagus, jangan membuat ku menunggu'' Tegas Erlan lalu ia langsung mematikan telepon secara se pihak.
Erlan menunggu bawahan nya di ruang kerja sambil menunggu ia menyalakan sebat lalu langsung menghirup nya.
Waktu pun berlalu, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 09:00 dan datanglah bawahan Erlan masuk ke dalam ruang kerja Erlan.
''Saya sudah menyimpan Eliana di kamar tersembunyi'' Ucap bawahan tersebut.
''Bagus, aku akan segera ke sana, sekarang kau keluarlah'' Suruh Erlan.
''Baik!''. Bawahan tersebut berjalan keluar dari ruang kerja dan di waktu yang sama, Adel datang.
''C-cia...''. Melihat Adel yang datang tiba-tiba membuat Erlan terkejut, ia tidak menyangka Adel akan datang menghampiri nya.
''Apa maksud Kak Erlan?'' Tanya Adel tanpa ekspresi.
''Maksud ku?...aku tidak mengerti apa yang kamu tanyakan'' Jawab Erlan seraya berjalan menghampiri Adel.
''Apa maksud Kak Erlan?...Kak Erlan membawa Eliana ke kamar tersembunyi?, apa maksud nya itu?'' Tanya Adel dengan serius seraya mundur satu langkah dari Erlan.
''Bagaimana Cia bisa tahu?, apakah dia mendengar pembicaraan ku tadi?'' Batin Erlan dengan sedikit terkejut.
''Apakah Kak Erlan sudah mulai jatuh cinta dengan Eliana?'' Tanya Adel dan pertanyaan tersebut sontak membuat Erlan tertawa dengan keras.
''Kenapa Kak Erlan tertawa?'' Celetuk Adel.
''Cia sayang...''. Erlan berjalan mendekati Adel lalu langsung memeluk nya dengan Erat.
''Tidak mungkin aku jatuh cinta pada nya...kamu juga sudah tahu bahwa aku sangat membenci nya'' Jelas Erlan seraya mengelus puncak rambut Adel.
''Ada apa ini?...padahal aku berniat membantu Eliana, tetapi...aku juga cemburu pada nya. Apa yang harus aku lakukan?...'' Batin Adel lalu tanpa sadar, air mata jatuh membasahi pipi nya.
''Apakah kamu menangis?...'' Tanya Erlan menyadari seraya melepaskan pelukan nya.
''E-entahlah...'' Jawab Adel dan langsung menghapus air mata nya.
''Jangan menangis, ada apa?...aku kan sudah menjelaskan nya padamu...''.
''A-aku tahu...aku tahu Kak Erlan tidak akan pernah jatuh cinta pada Eliana, tetapi entah kenapa aku selalu berpikir yang buruk dan cemburu pada Eliana...padahal aku ingin membantu nya'' Jelas Adel.
''Sh-sh-sh...maafkan aku karena semalam tidak mendengarkan kamu...aku terlalu fokus pada Eliana''.
''Entah sudah berapa minggu aku mencari kebenaran nya. Sekarang aku tahu kejadian yang sebenar nya pada waktu 16 tahun lalu...aku harus menceritakan nya pada Kak Erlan, tetapi entah kenapa aku merasa...tidak ingin dan tidak suka Kak Erlan mengetahui yang sebenar nya. Aku tahu aku salah...''.
''Apakah kamu mau memaafkan ku?'' Tanya Erlan seraya memegang pipi Adel.
''Ya...baiklah...'' Jawab Adel seraya tersenyum kecil.
''Aku tidak menyangka masih ada keluarga Andara yang hidup selain Eliana, tetapi berkat nya, aku jadi tahu kejadian yang sebenar nya...'' Batin Adel.
''Terimakasih sayang...'' Ucap Erlan dengan tersenyum.
''Ya...''. Sedari tadi Adel hanya bisa tersenyum kecil pada Erlan, di pikiran dan hati nya masih terdapat rasa cemburu yang belum menghilang..
''Jadi...ada apa kamu datang ke sini?...''.
''Caitlin mengajak ku jalan-jalan jadi aku datang kemari untuk mengajak Kak Erlan juga...''.
''Apakah dia---''.
''Tenang saja. Tadi dia menelepon ku, kata nya dia sudah menerima hukuman dari mamah'' Jelas Adel.
''Baiklah, jika begitu...kita berangkat?'' Tanya Erlan seraya merangkul lengan Adel.
''Ya...''.
''Aku harus membuat Cia lupa terhadap Eliana...'' Batin Erlan.
Erlan dan Adel berjalan keluar, mereka segera berangkat menuju tempat yang sudah di buat janji oleh Caitlin, sedangkan itu, di rumah Rangga...
''SIAL!!!'' Teriak Rangga seraya mengacaukan kamar yang sebelum nya di tempati oleh Eliana.
Rangga tidak pernah menyangka bahwa Erlan akan tahu lokasi rumah baru nya karena tempat itu adalah tempat terpencil dan jarang ada orang yang datang dari luar.
Rangga berpikir ada salah satu bawahan nya yang berkhianat dan ia yakin orang itu adalah mata-mata yang di kirim oleh Erlan.
Bersambung...