
Eliana benar-benar terjebak, ia bingung harus melakukan apa dan rasa panik benar-benar telah memenuhi tubuh nya.
"Kau…tidak akan bisa kabur!!" Ucap orang tersebut dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Kemari!!". Orang itu menarik rambut Eliana lalu ia menampar Eliana dengan berkali-kali.
"Berani sekali kau kabur dari ku!!!".
"A-akh!…saya mohon…lepaskan saya…" Teriak Eliana kesakitan seraya berusaha melepaskan diri nya dengan tubuh yang sudah merasa sangat lelah.
"Berhentilah mengeluarkan suara yang menjijikkan!!!" Bentak orang itu dengan kasar lalu ia mendorong Eliana hingga Eliana terjatuh keras ke jalan yang di penuhi dengan be batuan kecil.
"Akh!…s-sakit…seluruh tubuh ku terasa sangat sakit…" Batin Eliana seraya berusaha bangkit dari jatuh nya, tetapi di hentikan oleh orang tersebut dengan cepat.
"T-tidak!…lepaskan saya…saya mohon…tolong lepaskan saya…" Ucap Eliana tidak berdaya dan air mata pun lolos membasahi pipi nya.
"Melepaskan kau?!, hah!, tidak semudah itu!!!. KAU HARUS MATI!!!, SELURUH KELUARGA ANDARA HARUS MATI!!!, KELUARGA KAU TELAH MEMBUNUH AYAH DAN ADIK KU!!!AKU TIDAK BISA MENERIMA KEMATIAN MEREKA, AKU TIDAK BISA MENERIMA KAK ERLAN MELEPASKAN KAU DENGAN SEMUDAH ITU!!!" Teriak orang itu seraya mencekik leher Eliana.
"T-tidak…tolong…lepaskan…s-saya…" Ucap Eliana dengan nafas yang sesak dan air mata turun dengan begitu deras.
"Aku tidak akan pernah melepaskan ka---". Belum sempat orang itu berbicara, tiba-tiba ada yang memukul nya dengan begitu keras hingga orang itu terseruduk dengan jauh.
"Akh!!!…siapa yang telah memukul ku?!, kenapa kamu berani memukul ku?!" Bentak orang tersebut dengan kesakitan seraya menoleh ke arah orang yang telah memukul nya.
"K-kamu?…". Ketika melihat nya, orang tersebut tampak menyesal sudah berteriak.
Ia merasa sangat terkejut, terdiam seketika, dan tidak berani untuk berbicara.
"T-tuan?…". Dengan suara yang begitu kecil, Eliana memanggil. Ia menatap wajah nya dan tampak sangat terkejut.
"Sh-sh-sh…jangan bicara dulu…tenanglah…" Ucap nya seraya mengangkat Eliana dengan pelan ke dalam pelukan nya.
"K-kak Brian?!…bagaimana bisa Kak Brian ada di di sini?!" Tanya orang tersebut seraya bangkit dari jatuh nya.
"Hmm…haruskah aku menjelaskan nya?…" Tanya Brian balik seraya tersenyum namun tatapan nya sangat tajam.
"A-ah…i-itu…aku bisa menjelaskan nya…" Ucap orang tersebut dengan gugup seraya berjalan menghampiri.
"Berhenti di situ…" Ucap Brian dengan dingin lalu orang tersebut pun memberhentikan langkah nya dengan cepat.
"B-bagaimana bisa Kak Brian datang ke sini?!…apa jangan-jangan, mobil itu ternyata adalah Kak Brian yang tumpangi dan bukan bawahan ku?!…seperti nya mereka semua telah di hajar habis-habisan…" Batin orang tersebut dengan panik dan takut.
"Bukankah Erlan sudah melepaskan nya?…kenapa ku ingin membunuh nya?…Caitlin…" Tanya Brian namun pandangan nya tertuju pada Eliana.
"Kak Erlan melepaskan nya hanya sampai Kak Adel membuka mata bahwa keluarga Andara memang lah bersalah!!" Jawab Caitlin dengan tegas.
"Ya…itu memang benar, tetapi…saat itu kau masih lah seorang bayi kecil dan kau hanyalah anak dari seorang ******, kau tidak pantas membunuh Eliana…" Jelas Brian dengan tertawa kecil.
"Aku tidak mengerti sama sekali…dari awal aku benar-benar tidak mengerti. Keluarga Andara?, siapa mereka?…" Batin Eliana mendengar percakapan antara Brian dan Caitlin.
Eliana terus menatap mata Brian, ia tidak bisa bergerak dan tidak mampu berbicara karena lehernya yang di cekik dengan begitu keras.
"Nona itu bilang, tuan yang sedang memeluk ku bernama Brian. Rasa nya aku senang bisa mengetahui nama nya dan…pelukan nya terasa sangat hangat…" Batin Eliana dengan tersenyum kecil.
"Jangan memanggil ibu ku dengan sebutan ******!" Bentak Caitlin tidak suka.
"Jika bukan ******, lalu apa nama nya?. Saat itu Agatha dengan berani nya mendekati tuan Rian secara diam-diam di belakang nona Adaline lalu---".
"A-aku tidak peduli!!, yang penting adalah…kenapa Kak Brian menolong gadis itu?!…".
"Ini adalah kesempatan ku untuk membuat Eliana jatuh ke dalam jebakan ku" Batin Brian seraya tersenyum miring pada Caitlin.
"A-apa?!, tidak mungkin kan?!…padahal saat itu dia berjanji pada ku untuk bersama, tetapi sekarang…kenapa?" Batin Caitlin dan air mata pun mulai lolos membasahi pipi nya.
"Apa…tadi tuan Brian bicara apa ya?, aku tidak bisa mendengar nya sama sekali…" Batin Eliana merasa sangat lelah lalu ia pun terjatuh pingsan.
"Eliana?". Brian sedikit terkejut ketika melihat Eliana pingsan, ia berpikir harus segera mengantar Eliana dan mengobati luka nya.
"Kak Brian!!, kenapa?!…saat itu Kak Brian berjanji pada ku untuk bersama, tetapi kenapa sekarang Kak Brian seperti ini pada ku?!" Bentak Caitlin dengan menangis kencang.
"Aku tidak peduli" Ucap Brian dengan santai nya lalu ia bangkit seraya menggendong Eliana.
"Kak Brian, berhenti!!!, jangan tinggalkan aku!!…" Teriak Caitlin tetapi Brian menghiraukan nya dan tetap terus berjalan menuju mobil.
Ketika Brian hendak memasuki Eliana ke dalam mobil, tiba-tiba ada mobil berwarna hitam datang.
"Mobil itu…Rangga?" Gumam Brian merasa sedikit terkejut.
Mobil segera berhenti lalu Rangga turun dengan cepat dari dalam mobil.
"Rangga…kenapa kau bisa kemari?" Tanya Brian dengan terkejut, tetapi Rangga menghiraukan nya dan langsung mengambil Eliana dari Brian.
"Tunggu…apa-apaan ini?" Batin Brian merasa kesal. Ia terdiam emosi ketika Eliana di rebut oleh Rangga dan dengan segera, ia mencegat Rangga dengan cepat.
"Kenapa kau bisa---".
"Berisik!" Ucap Rangga dengan tatapan tajam, lalu ia langsung memasuki Eliana ke dalam mobil nya.
"B-bagaimana bisa Kak Rangga tahu Eliana berada di sini?!" Batin Caitlin seraya menghapus air mata nya.
"Woi, aku yang menyelamatkan Eliana kenapa kau---".
"Aku tidak peduli" Ucap Rangga dengan dingin lalu ia segera masuk ke dalam mobil dan langsung menjalankan nya.
Setelah mobil Rangga pergi, Brian tampak sangat kesal dan emosi. Rencana nya untuk membawa Eliana pergi ke apartemen nya menjadi gagal.
"Sial!!!" Teriak Brian seraya memukul pintu mobil dengan keras.
"K-kak Brian…". Caitlin memanggil Brian dengan pelan, ia berpikir masih ada kesempatan untuk mendapatkan Brian.
"Diam!!!" Bentak Brian dengan keras.
"Kak Brian…aku mohon, kembali lah pada ku…".
"Sudah ku bilang diam lah!!" Bentak Brian kembali.
...***...
Rangga memutuskan untuk membawa Eliana ke rumah yang sengaja ia beli.
Rumah itu baru saja di beli karena Rangga ingin tinggal pisah dari Erlan dan hanya hidup dengan Eliana serta adik nya Yola.
"Eliana…bertahan lah…" Gumam Rangga dengan sangat panik dan khawatir.
Bersambung…