Love Is Blocked By Revenge

Love Is Blocked By Revenge
Masa yang tidak pernah bisa di lupakan( Terakhir ).



Adel langsung masuk ke dalam mobil dan segera menancapkan gas.


Ia menangis dengan tiada henti dan berpikir bahwa hubungan yang ia jalani bersama dengan Erlan terbuang sia-sia.


"Tidak…tidak benar kan?…".


Adel terus berpikir tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Erlan, karena ia sangat tahu sifat Erlan seperti apa.


Tetapi Adel juga sempat berpikir bahwa Erlan menyukai Lea karena wajah Lea yang sangat cantik.


"Kenapa…seperti ini?…".


Setelah beberapa menit kemudian, akhir nya Adel sampai di rumah dan saat ia memasuki rumah, sudah ada mamah, papa, serta kakak yang sedang duduk santai di ruang tamu.


"Kalian…sudah pulang?…" Tanya Adel dan langsung mengusap air mata nya dengan cepat.


"Cia…kamu habis pergi dari mana?" Tanya David yang merupakan ayah Adel.


"Justru Cia yang harus bertanya. Mamah, papa dan Kak Airell habis pergi dari mana?, terus Kak Brian mana?" Tanya Adel sambil mengerutkan kedua alis nya.


"Kita habis pergi bekerja Cia…" Jawab Airell yang merupakan anak pertama.


"Tetapi kenapa kalian tidak memberitahu ku dulu?…sekarang adalah hari sabtu dan tidak biasa nya kalian sangat sibuk seperti ini, lalu kenapa Edric dan para pembantu lain nya tidak ada?" Tanya Adel merasa sedikit kesal.


"Maaf ya Cia karena pergi tanpa memberitahu kamu. Hari ini kita sangatlah sibuk dan tidak sempat memberitahu kamu…" Jelas Anamelia yang merupakan ibu Adel.


"Baiklah, Cia maafkan. Tetapi…di mana Kak Brian, Edric, dan para pembantu yang lainnya?…".


"Hmm…m-mereka…mereka juga sedang sibuk sayang…" Ucap David dengan terbata.


"Sibuk?, sibuk apa?. Jika Kak Brian, Cia sudah tahu…pasti dia sedang sibuk menggoda wanita di luaran sana, jika Edric dan yang lainnya…memang nya mereka sibuk apa?".


"M-mereka…mereka sedang sibuk bekerja juga…" Jawab Amel meyakinkan Adel.


"Ohh…begitu ya. Ya sudah, Cia pergi ke kamar dulu. Hari ini Cia sedang tidak enak badan…" Ucap Adel dengan wajah yang pucat dan mata yang memerah akibat terlalu lama menangis.


"Iya sayang…" Ucap David, Amel, dan Airell dengan serempak.


Adel segera berjalan menaiki anak tangga dengan cepat dan sesampai nya ia di lantai dua, Adel langsung masuk ke dalam kamar nya dan langsung merebahkan tubuh nya di ranjang.


Ketika berbaring, Adel menangis kembali. Kata-kata menyakitkan Erlan sangat teringat dengan jelas di benak nya.


Hati Adel saat ini benar-benar hancur dan luka di hati nya tidak bisa di hilangkan sama hal nya dengan kertas yang habis terkena tusuk kan pensil.


Awal nya Adel merasa tidak percaya, tetapi ketika ia menyuruh Erlan mengulangi kata-kata nya dengan santai, Adel percaya dan tidak sanggup lagi mendengar lanjutan kata yang akan keluar dari bibir Erlan.


Butiran demi butiran air mata terus mengalir membasahi pipi Adel dengan tiada henti.


Hingga waktu sore tiba, mata Adel terlihat sedikit membengkak karena terlalu lama menangis.


Ia memutuskan pergi ke kamar mandi untuk mandi dan membasuh wajah nya.


Setelah beberapa menit kemudian, Adel selesai mandi dan mengganti pakaian nya dengan sebuah kaos berlengan pendek berwarna putih dan celana pendek High Waist berwarna hitam.


Setelah selesai mandi, Adel memutuskan untuk berbaring di ranjang nya dan tidur sebentar tetapi ketika ia hendak ingin membaringkan tubuh nya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar nya.


"Tok".


"Tok".


"Tok".


"Cia…". Terdengar suara Airell yang begitu pelan seraya mengetuk pintu kamar kembali dan Adel pun langsung berjalan membuka pintu.


"Kenapa Kak?…" Tanya Adel.


"Kamu habis mandi?…" Tanya Balik Airell yang menyadari aura berbeda Adel dari ketika saat bertemu.


"Iya…" Jawab Adel dengan singkat.


"Oohh. Ya sudah, kamu ganti baju lagi ya, berpakaian lah yang rapi dan cantik…pokok nya se sempurna mungkin" Suruh Airell dengan tersenyum kecil.


Mendengar perintah dari Airell, membuat Adel bingung, mengapa Airell menyuruh nya untuk berpakaian rapih.


"Kenapa harus berpakaian rapi Kak?…" Tanya Adel dengan sangat penasaran.


"Sudah, kamu tidak perlu tahu. Pokok nya bersiap-siaplah dengan secantik mungkin ya…" Ucap Airell seraya menepuk pundak Adel lalu ia langsung pergi tanpa sepatah kata pun.


"Ah, Kak!…". Adel berteriak memanggil Airell, tetapi Airell tidak menoleh sedikit pun dan sudah berjalan jauh dari pandangan Adel.


"Ya sudahlah…" Ucap Adel pasrah lalu ia masuk kembali ke dalam kamar nya dan mengganti pakaian nya.


Beberapa menit kemudian, Adel sudah selesai bersiap-siap.


Ia mengenakan sebuah gaun berwarna biru terang dan rambut yang terurai membuat diri nya terlihat sangat cantik dan indah.


Adel segera berjalan menuruni anak tangga dan di bawah sudah terlihat Airell yang sedang berdiri menunggu Adel.


Airell juga mengenakan sebuah gaun yang sama indah nya dengan Adel, menggunakan nya membuat kakak-beradik ini terlihat sangat cantik.


"Waahh, kamu terlihat sangat cantik…" Kagum Airell sambil menatap Adel dengan tiada henti.


"Benarkah?, Kak Airell juga terlihat sangat cantik…" Ucap Adel dengan tersenyum.


"Terimakasih Cia sayang…".


"Baiklah, sekarang kita berpakaian cantik seperti ini untuk apa?" Tanya Adel.


"Kakak ingin mengajak kamu ke suatu tempat…" Jawab Airell dengan senang.


"Ke suatu tempat?, di mana?…" Tanya Adel dengan sangat penasaran.


"Sudah, kamu diam saja…" Jawab Airell seraya merangkul tangan Adel lalu mereka pun berjalan ke luar rumah.


"Oh iya Kak, mamah dan papa di mana?…" Tanya Adel yang menyadari David dan Amel tidak berada di sekeliling rumah.


"Mereka bilang ada hal penting yang harus segera di urus…" Jawab Airell.


"Sudahlah, ayo cepat masuk ke dalam mobil…" Sambung nya.


"Memang nya Kakak bisa mengendarai mobil dengan gaun?…".


"Bisa. Sudah, cepatlah masuk…".


"Baik". Adel masuk ke dalam mobil begitu pun dengan Airell lalu setelah itu, Airell langsung mengendarai mobil dengan cepat.


Sekarang waktu sudah menunjukan 17:35. Saat Airell dan Adel sedang dalam perjalanan menuju tempat yang di tuju, tiba-tiba terdapat mobil yang melaju dengan kencang mengikuti mobil Airell dan berhentilah mobil tersebut di depan mobil Airell.


Melihat nya membuat Adel terkejut lalu Airell langsung memberhentikan mobil nya dengan cepat sebelum menabrak mobil yang ada di depan.


Setelah memberhentikan mobil nya, keluarlah sekelompok preman dari mobil yang ada di depan dan langsung berjalan menghampiri Airell dan Adel.


"Keluarlah!…" Teriak preman-preman tersebut seraya menggedor kaca mobil.


Melihat kejadian tersebut membuat Adel sangat terkejut dan mulai merasa panik.


"Kak…bagaimana ini?…" Tanya Adel dengan raut wajah khawatir.


"Tenanglah dulu" Ucap Airell lalu ia menurunkan kaca mobil.


"Keluarlah!" Teriak kembali preman tersebut seraya menodongkan sebuah pistol.


"Wah-wah-wah, tenang dulu…" Ucap Airell dengan santai nya.


"B-bagaimana bisa Kakak se tenang itu?, padahal tepat di depan wajah nya terdapat pistol!…" Batin Adel dengan khawatir dan takut Airell akan di tembak oleh sekelompok preman tersebut.


"Cepat serahkan diri anda!" Bentak salah satu dari preman tersebut.


"Menyerahkan diri saya?…". Airell membuka pintu mobil, lalu ia langsung turun dari mobil, melihat nya membuat Adel merasa sangat terkejut dan panik.


"Kakak jangan!…" Teriak Adel seraya berusaha meraih Airell, tetapi di hentikan oleh Airell.


"Jangan khawatir Cia sayang…tunggulah di sini, Kakak ingin mengurusi preman-preman itu terlebih dahulu" Ucap Airell dengan tersenyum lebar.


"T-tapi Kak…". Adel merasa sangat takut untuk membiarkan Airell mengurusi para preman tersebut, seketika tubuh nya mulai bergetar dengan hebat.


"Ssh-Ssh-Ssh…jangan khawatir ya, Kakak pasti akan mengalahkan para preman itu…" Ucap Airell dengan perlahan.


"Kakak!…jangan!…" Teriak Adel lalu ia langsung turun dari mobil.


"Cia, kenapa kamu turun?…" Tanya Airell yang menyadari Adel turun dari mobil.


"Cia tidak mau Kak Airell kenapa-kenapa!…ayo Kak, lebih baik kita telepon polisi saja…" Ujar Adel, tetapi para preman sudah langsung menyerang Airell dan berhasil Airell tangkis dengan cepat.


"Tidak ada waktu!…" Teriak Airell.


"T-tapi Kak!…". Adel menyaksikan Airell bertarung dengan para preman, meskipun Airell kurang pintar dalam bertarung.


Melihat Airell yang begitu berjuang, membuat Adel tambah khawatir dan ketika ia mencoba untuk menelepon polisi, mereka tidak bisa di hubungi sama sekali.


Adel takut Airell terluka dan ia benci pada diri nya karena tidak bisa membantu Airell hingga pada akhir nya Airell di kalahkan oleh para preman.


Melihat kejadian yang tidak menyenangkan tersebut membuat Adel sangat terkejut dan seketika air mata lolos membasahi pipi nya.


"Kakak!!!" Teriak Adel dengan histeris, tetapi Airell tidak sadarkan diri dan akhir nya pun ia di bawa oleh para preman.


Para preman tersebut memberikan sebuah alamat pada Adel, mereka berkata jika ingin menyelamatkan Airell maka harus menyerahkan diri yang berarti menukar nyawa dan hal itupun langsung di angguki oleh Adel dengan cepat.


Setelah para preman itu pergi, Adel langsung masuk kembali ke dalam mobil nya dan segera menancapkan gas.


Selama di dalam perjalanan, Adel merasa tidak tenang sama sekali. Rasa takut dan khawatir tercampur aduk dalam diri nya di iringi dengan tubuh yang bergetar.


Sekarang waktu sudah menunjukan 18:00 dan Adel pun sampai di tempat tujuan.


Sesampai nya di sana, tempat itu terlihat seperti gedung yang sangat besar dan gelap, dengan rasa keberanian yang cukup, Adel langsung memasuki tempat tersebut dan saat ia sudah berada di dalam nya…


"SURPRISE!!!". Tiba-tiba lampu ternyala dan terdapat beberapa orang berteriak kejutan.


Melihat hal tersebut membuat Adel merasa sangat terkejut dan kebingungan, tepat di hadapan nya, ia melihat David, Amel, dan Airell.


"K-kakak?!" Teriak Adel dengan raut wajah kebingungan, entah ia merasa tenang atau khawatir.


"Surprise Cia…" Ucap Airell dengan tersenyum lebar.


"Sebenar nya apa yang terjadi?…bukankah tadi Kak Airell---".


"Sudah-sudah, jangan banyak bicara dulu, ayo!…semua telah menunggu…" Ucap Amel menghentikan Adel.


"Semua orang?…apa maksud nya" Tanya Adel dan saat ini ia benar-benar di landas kebingungan.


"Sudahlah, ayo!" Ajak David seraya menopang Adel.


David, Amel, dan Airell mengajak Adel ke belakang gedung dan sesampai nya di sana, keadaan sangat meriah dan banyak sekali tamu berdatangan.


Melihat keadaan itu membuat Adel merasa sedikit terkejut dan kebingungan masih menghantui nya.


"Sebenar nya…apa yang terjadi?…".


"Apakah kamu lupa?…hari ini adalah hari ulang tahun kamu…" Jelas Airell.


"Ulang tahun?". Mendengar kata ulang tahun, seketika membuat Adel langsung teringat dan terkejut, Adel pikir bisa-bisa nya ia lupa pada hari ulang tahun sendiri.


"Jika begitu…berarti tadi…".


"Ya, kejadian Kakak di bawa oleh para preman hanyalah prank. Sebenar nya alasan mamah, papa, kakak, Edric serta yang lain nya sibuk adalah kami sedang mengurusi persiapan ulang tahunmu. Mamah ingin ulang tahun kamu di rayakan sangat meriah, jadi kami tidak ada di rumah cukup lama dan…mengenai kamu putus dengan Erlan…itu juga prank…" Jelas Airell sambil menunjuk Adel pada Erlan yang sudah menunggu di depan nya.


Ia sudah berpakaian dengan rapih dan tampan dengan mengenakan sebuah setelan jas berwarna hitam di padu dengan dalaman berwarna putih.


Mendengar di putuskan oleh Erlan hanyalah sebuah prank membuat Adel terdiam tak berkata, ia merasa sangat terkejut tidak percaya.


"Cia…" Panggil Erlan dengan lembut sambil berjalan menghampiri Adel.


"A-apa benar, jika Kak Erlan memutuskan ku itu hanyalah sebuah prank ?" Tanya Adel dengan gugup.


"Ya Cia sayang" Jawab Erlan dengan tersenyum hangat menghiasi wajah nya.


Mendengar hal itu membuat Adel terdiam, entah ia harus merasa senang atau kesal karena telah di prank.


"L-lalu jika begitu, Lea?…Lea itu siapa?…" Tanya Adel.


"Aku adalah sepupu jauh Kak Erlan…" Jawab Lea yang ternyata sedari tadi berada di dekat Amel.


"Lea?". Adel terkejut melihat kedatangan Lea, ia tidak pernah menyangka bahwa ternyata Lea adalah sepupu jauh Erlan.


"Iya Kak Adel. Dan apakah Kak Adel tahu?, saat aku dan Kak Erlan selesai prank Kak Adel di Mall, dia langsung meminta jarak jauh-jauh dari ku dengan tatapan nya yang dingin lalu dia langsung membeli baju di Mall untuk ganti baju karena lengan baju nya di sentuh oleh ku dan setelah itu dia langsung membuang baju yang sebelum nya dia pakai. Jahat sekali bukan?, aku merasa ter sakiti…" Jelas Lea dengan panjang lebar.


Mendengar cerita dari Lea membuat Adel tertawa dan ia langsung memeluk Erlan.


"Sayang…".


"Tapi Lea…apakah kamu benar-benar tidak memiliki pacar?" Tanya Airell dengan sangat penasaran.


"Sebenar nya aku sudah memiliki pacar" Jawab Lea dengan tersipu malu.


"Ternyata kamu sudah memiliki pacar ya…" Sambung Adel.


"Ya Kak…".


"Ah!, karena Cia sudah ada di sini, ayok kita mulai acara nya…" Ajak David dan mereka pun melangsungkan acara.


Selama dalam acara, Adel merasa sangat senang dan bahagia, ia masih ter pikirkan soal Erlan yang menge prank diri nya.


Menurut Adel, acara ulang tahun nya kali ini sangat menyenangkan di banding sebelum nya.


Setelah sekitar satu jam kemudian, acara utama telah selesai, dan semua para tamu di persilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah di sediakan dan di waktu yang sama, Vina memanggil Erlan dan meminta nya untuk berbicara berdua.


Erlan mengangguk dan meminta izin pada Adel untuk menemui Vina, dan berbicaralah mereka di tempat yang jauh dari kerumunan para tamu.


"Ada apa Vina?" Tanya Erlan.


"Aku ingin memberitahu Kak Erlan sesuatu".


"Apa itu?".


"Sebenar nya…aku suka sama Kak Erlan" Ucap Vina dengan tiada ragu nya.


Mendengar pengungkapan perasaan dari Vina membuat Erlan merasa terkejut dan tidak tahu harus berkata apa.


"Kamu tahu bahwa aku berpacaran dengan Cia, tetapi kenapa---"


"Ya!. Aku tahu…aku tahu sekali bahwa Kak Erlan berpacaran dengan Cia, tetapi…tetapi aku juga sudah menyukai Kak Erlan dari lama dan tidak bisakah Kak Erlan melihat perasaan ku sedikit?. Ketika aku tahu bahwa Kak Erlan dan Cia berpacaran, di saat itu hati ku hancur lebur, aku ingin membenci Cia karena aku pikir dia telah mengambil Kak Erlan dari ku, tetapi aku tidak bisa!…karena Cia selalu baik pada ku. Kak Erlan aku mohon…tolong terimalah perasaan ku walau hanya sedikit saja dan lupakan lah Cia untuk sementara" Ucap Vina.


"Aku tidak bisa Vina dan tadi kamu bilang Cia merebut ku darimu?. Aku dan Cia sudah kenal lama sebelum ada kamu dan kenapa kamu bilang seperti itu?" Ucap Erlan dengan dingin.


"Karena aku suka dan cinta sama Kak Erlan!!, aku pikir Kak Erlan adalah milik ku dan Cia merebut nya dari ku!" Jelas Vina dengan sedikit kesal.


"Aku milikmu?, kamu tidak bisa memutuskan dengan seenak nya seperti itu!" Ucap Erlan merasa tidak suka.


"Kak!, aku mohon…perhatian lah sedikit pada ku, kenapa setiap saat Kak Erlan hanya memedulikan Cia saja?!, kita sudah bersama selama 8 tahun!!" Bentak Vina merasa tidak terima.


"Selama ini aku juga selalu perhatian padamu!".


"Ya!, tapi hanya sebatas sahabat!!".


"Lalu kamu ingin aku memperlakukan kamu seperti apa?!".


"Aku ingin Kak Erlan memperlakukan ku layak nya seperti seorang kekasih!" Ucap Vina dengan serius.


"Tidak bisa Vina, aku---". Belum sempat Erlan melanjutkan bicara nya, tiba-tiba ia di panggil oleh Edric.


"Tuan Erlan!".


"Ada apa?".


Edric membisikkan sesuatu pada telinga Erlan dan itu membuat Vina merasa khawatir.


Setelah selesai, Erlan langsung menyuruh Edric untuk mengantar Adel beristirahat dan saat Edric sudah pergi, Erlan langsung menampar Vina dengan keras.


"Aku tidak menyangka bahwa kamu akan meracuni Cia!!!. Lebih baik kamu pergi dari kota ini, introspeksi diri lah dan kubur perasaanmu pada ku dalam-dalam!" Ucap Erlan dengan tatapan tajam.


Bersambung…