Love Is Blocked By Revenge

Love Is Blocked By Revenge
Kedatangan Adel.



Karena tidak berada di dalam gudang, Eliana di hukum cambuk oleh Kelvin dan di sisi yang lain, lagi-lagi rangga belum bisa menyelamatkan Eliana.


Ia bingung harus memilih antara Yola atau Eliana, sungguh pilihan yang sulit.


"S-sakit…ya tuhan, kapan semua ini berakhir?, meskipun baru dua hari di rumah ini, rasa nya…aku sudah capek dan tidak sanggup lagi. Apakah aku hidup hanya untuk di siksa seperti ini?" Batin Eliana sambil menangis dengan tersedu-sedu.


"Jika tidak ingin di hukum, maka diamlah di sini, kau hanyalah mainan tuan Erlan" Ucap Kelvin lalu ia berjalan keluar dari gudang meninggalkan Eliana seorang diri dalam gudang yang begitu gelap.


"Mainan?…aku rasa, aku memang lah mainan, dan kata-kata itu sangat membuat hati ku sakit. Sampai kapan aku harus bersabar?, sampai kapan siksaan ini selesai dari hidup ku?…kapanpun itu aku tidak tahu. Aku hanya bisa menangis dan diam…" Batin Eliana.


"Setidak nya berusahalah sedikit untuk melawan!" Ucap Eliana kesal pada diri nya sendiri karena tidak bisa melakukan perlawanan sedikit pun atau kabur dari Erlan.


Eliana terlalu takut dan ketakutan selalu mengiringi nya, ia terus berpikir untuk bersabar, menerima, dan diam hingga hal itu terlepas dari kehidupan nya.


Entah sampai kapan siksaan itu berakhir…


...***...


Di ruang kerja lantai tiga, terlihat Erlan sedang menunggu seseorang. Awal nya, Ekspresi nya dingin dan di buat kesal oleh Eliana, tetapi sekarang raut wajah nya tampak bahagia.


"Tok".


"Tok".


"Tok".


Terdengar suara ketukan pintu yang begitu pelan, saat mendengar ketukan pintu tersebut, Erlan tersenyum dan langsung berlari membuka pintu.


"Sayang…" Ucap seorang wanita dengan nada yang begitu lemah lembut lalu ia langsung memeluk Erlan dengan erat.


"Cia…".


Sebuah senyuman lebar menghiasi wajah Erlan. Ternyata pria yang memiliki sifat kejam dan dingin itu bisa tersenyum juga pada orang lain.


"Aku sangat rindu pada Kak Erlan" Ucap Adel sambil melepaskan pelukan nya.


"Iya…aku pun juga" Ucap Erlan dengan tersenyum dan tatapan yang terlihat begitu hangat.


"Apakah aku mengganggu waktu Kak Erlan?" Tanya Adel merasa khawatir.


"Tentu saja tidak. Se sibuk apapun diriku, kamu boleh bertemu dengan ku" Jawab Erlan dengan hangat.


"Benarkah?…apakah boleh seperti itu?…".


"Boleh Cia sayang, apapun itu untuk dirimu".


"Permintaan?, apa itu?…".


"Kak Erlan…tidak boleh membunuh Eliana…" Ucap Adel dengan gugup.


Mendengar permintaan Adel, seketika membuat Erlan terdiam dan raut wajah nya berubah.


Selain keluarga Stewart, Adel dan keluarga nya juga tahu mengenai masalah mereka dengan keluarga Andara, dan Adel juga tahu bahwa Eliana tidak bersalah sama sekali.


Selama ini yang membuat Erlan bersabar untuk tidak membunuh Eliana adalah karena permintaan Adel, meskipun begitu, Erlan menyiksa Eliana tanpa se pengetahuan Adel.


Rasa balas dendam yang begitu besar, tidak bisa membuat Erlan mendiamkan Eliana.


Setiap kali meminta pada Erlan, Erlan selalu tersenyum dan mengangguk, meskipun begitu, Adel juga tahu bahwa Erlan tidak akan semudah itu menerima permintaan nya.


"Iya sayang…sudah berapa kali kamu meminta hal ini?…" Ucap Erlan dengan senyuman paksa dan tatapan yang begitu dingin.


"Kak Erlan, aku tahu kakak tidak akan menerima nya dengan semudah itu. Suatu saat nanti, Kak Erlan pasti akan membunuh Eliana dan aku tidak bisa membiarkan hal itu, bagaimana pun juga, Eliana tidak bersalah…" Batin Adel dengan tidak tenang dan kekhawatiran sangat terukir jelas di wajah nya.


"Benarkah?…seperti nya sudah ribuan kali…" Jawab Adel yang langsung mengubah raut wajah nya dengan senyuman.


"Pasti kamu sudah tahu bahwa aku akan tetap membunuh Eliana…maaf Cia, maafkan aku karena tidak bisa menuruti permintaanmu. Aku yakin kamu bisa merasakan nya…rasa yang begitu sedih dan menyakitkan, aku ingin seluruh keluarga Andara menghilang dari dunia ini" Batin Erlan sambil menatap Adel dengan tatapan sedih.


"Ah!…maukah kita pergi jalan-jalan keluar?…" Ajak Adel dengan tersenyum lebar dan menyadari akan tatapan sedih Erlan.


"Baiklah…kita harus menghabiskan waktu bersama hingga malam" Ucap Erlan lalu ia langsung merangkul tangan Adel dengan lembut.


"Iya…".


Erlan dan Adel segera turun dari lantai tiga, sesampai nya mereka berdua di lantai satu, Erlan langsung menyuruh bawahan nya untuk menyiapkan mobil.


"Kita ingin pergi jalan-jalan kemana?…" Tanya Erlan.


"Hmm…bagaimana jika kita pergi ke taman seperti biasa" Jawab Adel dengan bersemangat.


"Sehabis pulang dari taman aku harus bertemu dengan Eliana…" Batin Adel.


"Hahaha, kamu tidak pernah bosan mengunjungi taman itu" Ucap Erlan seraya mengusap puncak rambut Adel dengan lembut.


"Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah bosan hingga kita menikah, mempunyai anak, lalu menua bersama" Ucap Adel dengan senyuman lebar dan rasa bahagia mengiringi nya.


Bawahan Erlan sudah menyiapkan sebuah mobil, berangkatlah Erlan dan Adel menuju taman yang di penuhi dengan kenangan indah masa lalu hingga kini.


Bersambung…