Love Is Blocked By Revenge

Love Is Blocked By Revenge
Tolong Berhentilah!.



Mendapatkan sebuah tamparan yang begitu keras membuat Eliana sangat terkejut dan kesakitan.


Akibat tamparan yang begitu keras membuat pipi Eliana menjadi merah.


"Kenapa?, padahal aku tidak melakukan apapun, kenapa dia menampar ku?…" Batin Eliana bingung sambil meringis kesakitan akan pipi nya yang habis terkena tamparan.


Eliana merasa tidak mengerti, jika di rumah, diri nya akan di tampar karena melakukan suatu kesalahan kecil, tetapi sekarang…Erlan menampar Eliana sedangkan Eliana sendiri tidak tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat.


"M-maaf tuan…kenapa anda menampar saya?" Tanya Eliana dengan nada lembut khas nya dan tubuh yang bergetaran.


"Pikir lah sendiri" Jawab Erlan dengan dingin.


"Pikir lah sendiri?…". Eliana mencoba untuk berpikir apa kesalahan yang telah ia perbuat, tetapi mau beberapa kali pun ia berpikir, Eliana tetap tidak tahu kesalahan apa yang telah ia perbuat.


"Apa yang telah aku perbuat?" Batin Eliana masih mencoba terus untuk berpikir.


"Sadarilah posisi kau!, kau tidak berhak menatap wajah ku!" Ucap Erlan yang merupakan kesalahan Eliana.


"Ah!…tadi aku mengangkat kepala ku dan menatap wajah nya…ternyata itu adalah salah ku. Ya, benar, aku hanyalah manusia yang di beli, aku memang tidak pantas untuk menatap wajah nya" Batin Eliana menyadari kesalahan nya.


"Maafkan saya tuan, saya telah berbuat salah…" Ucap Eliana dan langsung menundukkan pandangan nya.


"Tidak".


"Y-ya tuan?…" Tanya Eliana tidak mengerti dan masih menundukkan pandangan nya.


"Kau harus di hukum".


"Dia tidak memaafkan ku ya…" Batin Eliana dan merasa sudah siap untuk menerima hukuman.


Erlan terus menatap Eliana dengan tatapan tajam, tatapan nya tidak pernah merasa lelah terhadap Eliana dan hati nya di penuhi dengan kebencian terhadap Eliana.


Erlan langsung mencambuk kedua bahu Eliana dengan sangat keras dan tanpa henti sedikit pun. Eliana yang merasakan nya mencoba untuk menahan dan bersabar hingga Erlan berhenti mencambuk.


"Plakk!!!".


"Plakk!!!".


"Plakk!!!".


Satu demi satu cambukan itu terus mendatang, Eliana sudah tidak bisa menahan nya lagi. Keringat bercucuran dan air mata pun mulai lolos membasahi pipi nya.


Erlan terus-menerus mencambuk Eliana tiada henti dan berakhirlah cambukan itu pada cambukan yang ke seratus kali nya.


"S-sakit!. Cambukan ini terasa lebih sakit dari cambukan paman dan bibi…rasanya kedua bahu ku menjadi bengkak…aku sudah tidak sanggup menahan nya lagi" Batin Eliana dengan air mata yang mengalir dan berusaha ia pelan kan tangisan nya agar tidak terdengar oleh Erlan, tapi biar bagaimana pun Eliana menyembunyikan tangisan nya, Erlan tetap mengetahui nya.


"Dengan kau menangis, hal itu tidak bisa menyembuhkan rasa sakit, sama hal nya seperti ku, dengan aku membunuh keluarga kau dan juga kau, hal itu tidak bisa membangkitkan dia lagi, tetapi setidak nya bisa meredakan amarah, kebencian dan balas dendam" Batin Erlan.


Erlan melepaskan ikatan pada kedua lengan Eliana lalu ia menyuruh nya untuk makan.


"Makanlah" Ucap Erlan seraya memberikan roti yang sudah berjamur pada Eliana.


"Roti ini…sudah tidak layak untuk di makan. Jika di rumah aku akan di beri makanan sisa, apakah roti ini boleh di makan?…".


Eliana mengambil roti yang di berikan oleh Erlan, ia menatap roti itu terus menerus "Tidak apa-apa dari pada nanti aku merasakan kelaparan".


Erlan menatap Eliana dengan sinis, ia merasa belum cukup untuk menyiksa Eliana, jika hati nya belum terpuas kan, maka Erlan akan terus menyiksa.


"Hei!" Panggil Erlan seraya mengangkat wajah Eliana, tetapi Eliana langsung menutup kedua matanya dan tidak berani membuka mata sedikit pun karena takut mengulangi kesalahan yang sama.


Melihat Eliana yang langsung menutup mata nya membuat Erlan tertawa kecil "Ternyata kamu patuh juga" Ucap nya lalu ia langsung menampar wajah Eliana secara bolak-balik berturut-turut hingga membuat wajah Eliana menjadi merah bengkak.


"S-sakit!…" Batin Eliana merasa tidak sanggup untuk menahan dan air mata masih mengalir deras di pipi nya.


"T-tolong berhentilah…" Ucap Eliana dengan memohon. Ia menangis, menangis, dan terus menangis…Eliana memohon pada Erlan untuk berhenti menyiksa nya.


Ia tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang begitu perih, jika di bandingkan saat di rumah, rasa sakit ini dua kali lipat dari biasa nya.


Sekeras apapun Eliana memohon dengan deraian air mata yang terus mengalir, Erlan hanya mengabaikan seakan-akan ia tidak mendengar suara apapun.


Eliana benar-benar tidak mengerti dan bingung, kenapa diri nya di beli. Setiap kali melihat wajah Erlan, Erlan selalu saja menatap Eliana dengan tatapan tajam penuh kebencian.


Padahal mereka berdua belum pernah saling bertemu dan bahkan Eliana pun jarang bertemu dengan orang luar.


"T-tuan…kenapa anda terus menyiksa saya?…apakah saya melakukan suatu kesalahan yang tidak pernah bisa di maafkan?. Setiap kali saya menatap mata anda, anda selalu menatap saya dengan tatapan penuh kebencian…kenapa?…tolong jelaskan…" Tanya Eliana dengan berani sambil memegangi baju Erlan.


"Tidak" Jawab Erlan sambil menepis kedua tangan Eliana dengan keras.


"A-apa?…".


"Biarpun aku menjelaskan nya, kamu tidak akan pernah MENGERTI!!!" Teriak Erlan lalu ia mendorong Eliana yang masih terikat di kursi dengan keras.


"Akh!!".


Dorongan yang begitu kuat membuat seluruh badan Eliana menjadi sakit, bahkan kursi kayu pun menjadi patah, mungkin karena ia sudah lama dan sedikit goyah.


"Sakit…seluruh tubuh ku terasa sakit sekali…" Batin Eliana meringis kesakitan.


"KAMU TIDAK AKAN PERNAH MENGERTI!!!, RASA SEDIH YANG AKU RASAKAN" Teriak Erlan kembali sambil mencambuk seluruh tubuh Eliana.


Rasa Emosi, kemarahan, dan kebencian tercampur aduk menjadi satu.


Erlan sudah tidak bisa menahan diri nya lagi, rasa nya ia ingin segera membunuh Eliana, tetapi ia tidak bisa melakukan nya sekarang.


Saat ini Erlan hanya bisa menjadikan Eliana sebagai mainan nya lalu menyiksa nya hingga ia pingsan.


"T-tuan…maafkan saya karena telah bertanya…s-saya mohon…berhentilah…" Ucap Eliana yang sedari tadi terus menangis.


Eliana berusaha menggapai kaki Erlan, tetapi ia tidak bisa melakukan nya karena kedua lengan nya yang begitu sakit dan terus-menerus di cambuk.


"Tuan…tolong…berhentilah…".


"Tolong…".


"Tolong…berhentilah…".


Sekeras apapun Eliana meminta tolong, Erlan tidak peduli dan terus-menerus mencambuk Eliana hingga pada akhir nya Eliana pun menjadi pingsan.


Bersambung…