
Bagi Erlan, Eliana sekarang hanyalah mainan yang pantas di siksa hingga mati, siapapun yang menyentuh atau menyiksa Eliana selain diri nya, maka ia akan mati dengan cara sadis.
Eliana benar-benar tidak sanggup melihat kedepan lagi, yang di bawa oleh kedua bawahan Erlan hanyalah kepala Andi dan Sinta.
"Kenapa tuan membunuh paman dan bibi?…" Tanya Eliana tidak berdaya sambil menutup kedua mata nya.
"karena mereka menyiksa mainan ku" Jawab Erlan dengan dingin.
"Haa…mainan?, mereka menyiksa saya sebelum tuan membeli saya!, jika pun begitu, tuan tidak perlu membunuh mereka!...''.
"Aku tidak peduli".
"Kejam…kejam nya. Lagi pula apa maksud nya?, paman dan bibi bukanlah keluarga tiri ku melainkan orang yang telah menculik ku?, haaa…aku benar-benar tidak mengerti sama sekali…" Batin Eliana.
"Apa maksud tuan bahwa paman dan bibi bukan keluarga saya?…" Tanya Eliana dengan nada bergetar.
"Entahlah" Jawab Erlan dengan singkat.
"Dan…kenapa kau bisa berada di kamar dan bukan nya berada di gudang?" Tanya Erlan dengan tatapan tajam di ikuti Kelvin yang langsung menyodorkan sebuah pistol dari arah belakang kepala Eliana.
"A-apa ini?…tuan Erlan mengetahui nya?, bukankah dia sedang pergi?. Apakah aku akan di tembak?…" Batin Eliana dengan rasa takut yang luar biasa.
Seketika ia terdiam tidak bergerak, Eliana sangat ketakutan hingga tubuh nya bergetar dengan hebat.
"Jawab!!" Bentak Kelvin yang semakin mendekatkan jarak pistol.
"B-bagaimana ini?, aku harus menjelaskan apa?…". Eliana berpikir dengan keras, ia tidak tahu harus menceritakan apa, jika diri nya cerita, Eliana takut pekerja yang menolong nya tadi akan kena hukum atau pun mati.
"S-saya…saya…saya merasa tidak nyaman di gudang jadi saya pergi ke sebuah kamar kecil…" Jawab Eliana dengan terbata.
"Bohong!. Kau pikir aku tidak tahu?".
"Y-ya?…".
"Karena kau telah berbohong, maka kau harus di hukum!" Bentak Erlan lalu ia memberi perintah kepada Kelvin untuk segera membawa Eliana kembali masuk ke gudang.
"Berdirilah!" Bentak Kelvin sambil menarik lengan Eliana dengan paksa.
"S-sakit. Tuan!, saya mohon percayalah, saya tidak berbohong…" Jerit Eliana dengan air mata yang masih mengalir.
"Cepat!!" Bentak Kelvin kembali seraya menyeret Eliana secara paksa.
"T-tidak!, lepaskan saya!. T-tuan Erlan…saya tidak berbohong, tolong dengarkanlah saya…tuan!…".
"T-tuan!!!…saya mohon dengarkanlah saya terlebih dahulu…".
Se berusaha apapun Eliana berteriak, Erlan hanya mengabaikan dan memalingkan pandangan dari Eliana.
Meskipun jarak di antara mereka sudah begitu jauh, Eliana tidak lelah untuk tetap berteriak memanggil Erlan hingga ia keluar dari rumah.
Setelah pergi nya Eliana, Erlan menyuruh kedua bawahan nya untuk pergi mengubur kedua mayat Andi dan Sinta dan setelah mereka berdua pergi, Erlan langsung memanggil nama seseorang "Rangga!" dan keluarlah orang tersebut dari sembunyi nya.
"Jangan sentuh mainan ku" Ucap Erlan langsung pada inti nya.
"Mainan?, tetapi aku tertarik pada nya, bagaimana jika aku mengambil nya…" Ucap Rangga dengan tatapan dingin.
"Tidak" Jawab Erlan singkat.
"Eliana tidak bersalah".
"Semua keluarga Andara harus mati" Jawab Erlan dengan santai nya.
"Aku tidak akan membiarkan kamu".
"Kamu tidak usah campur" Ucap Erlan dengan tatapan sinis.
"Aku tidak boleh membiarkan nya membunuh Eliana".
"Jika kamu berani ikut campur, maka aku akan membunuh adikmu yang masih terbaring koma di ranjang!" Ancam Erlan dengan penuh tatapan tajam.
"Yola adalah adikmu juga" Ucap Rangga merasa kesal.
"Aku tidak pernah menganggap nya sebagai adik".
"Memang benar Yola bukanlah adik kandung kita, tetapi setidak nya apakah kamu tidak memiliki sedikit rasa pada Yola?!".
"Tidak" Ucap Erlan dengan dingin.
"Di hati nya benar-benar di penuhi dengan balas dendam pada keluarga Andara, meskipun aku juga merasa sedih dan marah karena mereka telah membunuh Lisya dan juga ayah, tetapi tetap saja Eliana tidak bersalah!" Batin Rangga dengan emosi yang meluap-luap.
"Aku tahu alasan kamu ingin menyelamatkan dia" Ucap Erlan langsung mengganti topik pembicaraan awal.
"Sudah ku duga, ternyata dia memang tahu sesuatu…" Batin Rangga seraya menatap Erlan dengan sinis.
"Selama ini aku selalu menyuruh bawahan ku untuk mengawasimu. Saat kamu masih berusia enam belas tahun, kamu datang pada nya dan mengawasi nya secara diam-diam tanpa se pengetahuan siapapun. Awal nya kamu hanya berniat untuk menolong nya saat aku datang mengambil nya, namun dengan seiring nya waktu, saat dia berusia enam belas tahun sekarang, kamu malah jatuh cinta pada nya" Jelas Erlan dengan tatapan dingin.
"Haaa…aku sangat tidak suka dia mengetahui semua nya…"
"Buanglah usahamu yang sia-sia, karena tidak lama lagi dia akan mati" Ucap Erlan dengan santai nya.
"Aku tidak akan membiarkanmu…".
"Hahaha!…coba saja jika kamu bisa" Ucap Erlan dengan tatapan sinis lalu ia berjalan pergi meninggalkan Rangga.
"Tunggu!, urusan kita belum selesai!!" Teriak Rangga, tetapi Erlan tidak peduli dan ia sudah berjalan begitu jauh dari pandangan Rangga.
"Sial!!!" Teriak Rangga dengan kesal.
Bersambung…