Love Is Blocked By Revenge

Love Is Blocked By Revenge
Hari pertama bekerja.



Mendengar kabar diri nya akan di bebaskan membuat Eliana sangat senang dan air mata pun lolos membasahi pipi nya.


Ia berterimakasih dan bersyukur pada tuhan dengan tiada henti air mata terus mengalir di pipi nya.


Eliana memeluk Gita dengan erat, ia menangis dan terus menangis.


"Eliana tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini…".


"Ya, syukurlah. Tuhan telah menolongmu dari hidup yang berat, ini adalah balasan karena Eliana telah bersabar selama ini" Balas Gita yang ikut menangis.


"Syukurlah Eliana, jujur…saat mendengar cerita kehidupanmu dari nona Cia, Bibi menangis dengan tiada henti. Bagaimana bisa gadis kecil sepertimu mengalami hal berat seperti ini…".


"Bibi…Eliana tidak bisa berhenti menangis…".


"Ya sayang…tidak apa-apa, keluarkan saja semua nya, menangis lah sepuasmu" Ucap Gita seraya mengusap punggung Eliana dengan lembut.


Di balik itu semua, ada seseorang yang mengintip lewat pintu yang tidak tertutup sepenuh nya.


"Ya tuhan terimakasih…" Ucap Eliana dengan tiada henti.


Setelah beberapa menit menangis, Eliana berhenti dan langsung melepaskna pelukan nya.


"Sudah puas menangis?…" Tanya Gita seraya mengusap pipi kecil Eliana yang basah akan tangisan.


"Ya…" Jawab Eliana dengan anggukan.


"Ya sudah jika begitu, sekarang kita turun ke lantai tiga untuk mandi, karena di lantai ini kamar mandi nya sedang rusak" Ucap Gita sambil bangkit dari duduk nya.


"Baik Bi…" Balas Eliana dengan anggukan.


Elian bangkit dari duduk nya dan Gita pun langsung memopang nya karena takut Eliana masih merasakan sakit di tubuh nya.


"Tidak apa-apa Bi, Eliana sudah sembuh dan bisa berjalan sendiri…" Ucap Eliana merasa tidak enak, ia berpikir telah menyusahkan Gita selama sedang sakit dan ingin membantu Gita agar tidak merepotkan nya lagi.


"Tidak apa-apa Eliana" Ucap Gita dengan tersenyum.


"Tapi Bi---".


"Sudah-sudah, jangan menolak" Ucap Gita dengan bersemangat.


Melihat Gita yang begitu antusias membuat Eliana tambah merasa tidak enak, tetapi ia juga tidak bisa melepaskan tubuh nya dari gengaman Gita. Ia tidak ingin melihat Gita sedih karena sudah menolak bantuan nya.


Eliana dan Gita berjalan turun ke lantai tiga, mereka berdua telah menemukan toilet dan memutuskan untuk segera cepat masuk, tetapi tiba-tiba seseorang datang menghentikan.


"Tunggu".


Eliana dan Gita melihat ke arah suara berasal, mereka cukup terkejut saat melihat orang tersebut.


"T-tuan Kelvin?…".


"Apa yang ingin kalian lakukan?" Tanya Kelvin dengan dingin.


"Kami hanya ingin menggunakan toilet…" Jawab Gita dengan gugup.


"Tidak bisa".


"Y-ya?" Tanya Eliana tidak mengerti.


"Toilet rusak, pergilah ke lantai satu" Ucap Kelvin dengan singkat lalu ia berjalan melewati Eliana dan Gita begitu saja.


"Toilet lantai ini rusak juga ya…ya sudah lah, apa boleh buat" Batin Eliana lalu ia mengajak Gita untuk turun ke lantai satu.


"Ayo Bi…".


"Ya ayo…".


Karena tidak bisa menggunakan toilet lantai tiga, Eliana dan Gita langsung berjalan turun ke lantai satu.


Saat tiba di lantai satu, mereka berdua melihat Adel dan Erlan yang sedang berbicara dengan senang nya dari kejauhan.


"Siapa nona yang sedang bersama dengan tuan Erlan Bi?…" Tanya Eliana dengan penasaran.


"Dia adalah calon tunangan tuan Erlan…".


"Ohh, begitu ya…".


"Nona itu cantik sekali dan…aku tidak pernah melihat tuan Erlan seperti itu. Terlihat dari ekspresi wajah nya, dia sangat tenang dan hangat…seperti nya dia sangat mencintai calon tunangan nya" Batin Eliana dengan terkejut karena apa yang ia lihat kemarin-kemarin sangat berbeda dengan sekarang.


Eliana menatap Adel terus-menerus, ia merasa kagum pada kecantikan yang Adel miliki.


Meskipun menatap dari kejauhan, Adel menyadari nya. Ia langsung melirik ke arah Eliana seraya tersenyum lebar.


"Eliana…" Batin nya dengan senang melihat Eliana yang sudah sembuh.


Melihat Adel yang memberikan nya senyuman, membuat ia langsung mengalihkan pandangan sambil tersipu malu.


"Aku…ketahuan…".


"Bibi…ayo kita segera ke toilet…" Ucap Eliana denga terburu-buru.


"Iya ayo…" Balas Gita dengan anggukan.


Eliana dan Gita kembali berjalan, mereka berdua segera pergi menuju toilet.


Setelah nya Eliana dan Gita pergi…


"Kenapa?…" Tanya Erlan dengan singkat.


"Kenapa?…Apa maksudmu sayang?" Tanya adel balik merasa tidak mengerti sama sekali dengan apa yang di tanyakan oleh Erlan.


"Kamu itu terlalu baik, terkadang orang yang terlalu baik itu tidak bagus karena kita tidak tahu orang sekeliling kita seperti apa. Kamu menyelamatkan keturunan keluarga andara yang telah membunuh ayah dan adik ku, lalu kamu meminta pada ku untuk memberi Eliana waktu…" Ucap Erlan dengan panjang lebar.


"Aku tidak merasa diri ku ini adalah orang yang baik, dan orang baik di mata manusia belum tentu baik di mata tuhan. Aku selalu merasa takut jika Kak Erlan di ambil oleh orang lain, dan jika pun itu terjadi, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan Kak Erlan kembali, apapun itu sampai hal berbahaya pun akan aku lakukan…itulah pikiran ku. Aku belum bisa di katakan manusia yang baik, aku ini egois…" Jawab Adel seraya tersenyum.


"Baiklah…" Ucap nya pasra.


Melihat Erlan terdiam tidak bisa menjawab membuat Adel tertawa.


"Kenapa kamu tertawa?" Celetuk Erlan.


"Tidak…tidak apa…" Ucap Adel sambil menahan tawa nya.


Di saat Adel dan Erlan sedang berbicara senang-senang nya, Eliana dan Gita sudah selesai dari kamar mandi.


"Nona Cia…" Panggil Gita dengan sopan.


"Ya Bi?" Tanya Adel yang langsung mengalihkan pandangan nya dari Erlan.


"Kami sudah siap untuk bekerja hari ini" Balas Gita.


"Oh ok. Jika begitu, tanya lah pada Kak Erlan yang pemilik rumah ini…" Timpal Adel.


"Bersih kan rumah saja" Sambung Erlan dengan singkat tanpa ekspresi.


"B-baik".


"Ekspresi nya kembali seperti biasa yang aku lihat…meskipun sudah tidak menyiksa ku lagi, rasa kebencian masih ada pada diri nya…" Batin Eliana seraya melirik sedikit pada Erlan.


"Ya sudah jika begitu, kami pergi bekerja dulu…" Ucap Gita sambil menunduk sopan.


"Iya…" Jawab Adel dengan tersenyum.


Eliana dan Gita berjalan pergi meninggalkan Adel dan Erlan, mereka berdua mulai melakukan pekerjaan rumah.


Hingga waktu malam tiba…


"Eliana, tolong icipi sup ayam nya…" Suruh Gita yang sedang sibuk menyiapkan peralatan makan.


"Baik Bi…" Ucap Eliana dengan cepat dan langsung menghampiri panci di dekat nya.


"Bagimana?" Tanya Gita.


"Hmm…seperti nya kurang sesuatu…" Ucap Eliana sambil mencicipi sedikit kuah sup ayam nya.


"Ya sudah, tambahkan bumbu yang menurutmu kurang saja…" Suruh Gita kembali.


"Baik bi…".


Setelah beberapa menit memasak, akhir nya hidangan untuk makan malam selesai dan di waktu yang sama, Erlan serta Adel sudah turun dari lantai atas.


"Waahh, wangi sekali. Kalian berdua memasak apa?…" Tanya Adel seraya berjalan menuju meja makan di ikuti Erlan dari belakang.


"Kami masak sup ayam, ikan goreng dengan sambal nya, lalu tumis cumi basah…" Jawab Gita.


"Waahh, ini semua adalah makanan kesukaan ku dan Kak Erlan…" Seru Adel yang sudah duduk di kursi meja makan dan Erlan di samping nya.


"Silahkan nona…" Ucap Eliana dengan malu dan gugup.


"Terimakasih…" Jawab Adel dengan tersenyum ramah.


Ini yang kedua kali nya Adel tersenyum pada Eliana dan hal itu semakin membuat nya kagum pada Adel.


"Seperti nya nona adalah orang yang sangat baik ya…" Batin Eliana seraya menatap Adel dengan penuh kesenangan.


"Ok, selamat makan…" Seru Adel sambil mengambil sup ayam lalu mencicipi nya.


Tidak lama setelah mencicipi, tiba-tiba Adel batuk tersedak dan hal itu langsung membuat Erlan khawatir.


"Apa yang kau lakukan?!" Bentak Erlan pada Eliana dan ia langsung mencicipi sup ayam tersebut.


Setelah mencicipi nya, Erlan langsung memuntahkan nya pada piring, seketika raut wajah nya berubah dan ia menjadi tidak selera untuk makan.


"Apa ini?!" Tanya Erlan pada Eliana dengan nada tinggi.


"Y-ya tuan?…" Jawab Eliana dengan terkejut.


"Aku tanya apa ini?!" Bentak Erlan kembali.


"Sudah sayang, hentikan…" Ucap Adel seraya memegang lengan Erlan.


"Tapi sayang---".


"Sudah-sudah. Duduk lah yang benar dan kita lanjutkan makan nya" Suruh Adel dengan pelan.


Melihat ekspresi Erlan yang begitu marah dan Adel yang menghentikan nya membuat Eliana merasa sangat bersalah.


"M-maafkan saya…" Ucap Eliana dengan nada bergetar.


"Ya tuhan…kenapa bisa terjadi seperti ini?…" Batin Gita dengan panik sambil menatap Eliana.


"Minta maaf untuk apa?…" Tanya Adel.


"K-karena masakan saya tidak enak…" Jawab Eliana sambil menunduk kan pandangan nya.


"Sudah, tidak apa-apa. Kamu pasti baru kali ini memasak kan?…masakan tidak enak sangat wajar di awal, tetapi jika kamu sudah terbiasa, aku yakin masakanmu pasti akan terasa enak sekali…" Ucap Adel berusaha menghibur Eliana.


"J-jika begitu, bolehkah saya cicipi kembali sup ayam ini?…" Tanya Eliana dengan gugup.


"Boleh, silahkan…".


Eliana segera mengambil sendok lalu ia langsung mencicipi sup ayam tersebut.


"Ya ampun…rasa nya sangat aneh sekali. Kira-kira aku tambahkan apa saja ya?…aku sama sekali tidak tahu nama per bumbuan, seperti nya aku mengasal dalam menambahkan rasa sup ayam nya…" Batin Eliana dengan panik.


Bersambung…