Love Is Blocked By Revenge

Love Is Blocked By Revenge
Di jual.



Pagi ini Eliana di suruh oleh paman dan bibi nya bersiap-siap menggunakan pakaian rapi, Ia berpikir bingung mengapa paman dan bibi nya menyuruh nya untuk berpakaian rapi, awal nya Eliana ingin bertanya, tetapi ia tidak punya cukup keberanian akan hal itu.


Ia hanya bisa mengangguk dan melaksanakan apa yang di suruh oleh paman dan bibi nya.


Andi dan Sinta adalah nama paman dan bibi Eliana, mereka berdua telah merawat Eliana sejak bayi.


Awal nya semua nya baik-baik saja hingga Eliana berusia enam tahun, selama itu Andi dan Sinta menyayangi dan merawat Eliana dengan sepenuh hati hingga Eliana yang merasakan nya merasa sangat bahagia, namun semua nya telah berubah saat Eliana memasuki usia tujuh tahun.


Andi dan Sinta tidak memperlakukan Eliana seperti dulu lagi, mereka menyiksa Eliana dan memaksa Eliana berjualan dengan tubuh nya yang masih kecil.


Setiap Eliana bertanya pada Andi dan Sinta alasan mereka berubah, Andi dan Sinta selalu berkata bahwa mereka hanya memanfaatkan Eliana saja, Eliana yang mendengar alasan tersebut merasa sangat terpukul dan hati nya terasa sakit.


Mulai dari situlah penderitaan Eliana di mulai...


''Pokok nya kau harus berpakaian rapi!'' Ucap Sinta dengan nada penuh penekanan.


''Baik bi...''. Eliana mengangguk dengan sopan lalu setelah itu ia langsung bergegas menuju gudang tempat ia tidur dan beristirahat.


Sesampai nya ia di gudang, Eliana langsung mengganti pakaian dengan pakaian seadanya yang tersimpan di lemari, setelah mengganti pakaian, Eliana menata rambut nya dan selesai lah dirinya dengan tampilan yang terlihat sederhana, tetapi sangat cantik.


Setelah semua nya sudah siap, Eliana keluar dari gudang dan segera bergegas menghampiri Sinta dan Andi, Ia berjalan menuju ruang tamu di mana di ruang tersebut ada Andi dan Sinta yang sedang menunggu.


Sesampai nya Eliana di depan ruang tamu, Ia melihat ada seorang pria berpakaian rapi yang Eliana tidak kenal sama sekali, awal nya Eliana pikir mungkin dia adalah kerabat dekat paman dan bibi nya hingga ia tidak berani untuk menginjakkan kaki pada ruang tamu.


Sampai pada saat Sinta menyadari keberadaan Eliana, ia langsung memanggil nya dengan berteriak dan emosi yang sangat jelas terukir di wajah nya.


Melihat Sinta berteriak dengan wajah emosi membuat Eliana ter sontak dan langsung berjalan menghampiri dengan wajah gugup serta rasa yang di penuhi oleh ketakutan.


''Mengapa kau hanya berdiam diri saja di situ?!'' Tanya Sinta dengan nada pelan namun penuh dengan penekanan.


''M-maaf, Eliana pikir bibi dan paman sedang kedatangan tamu, jadi Eliana tidak berani datang menghampiri'' Ucap Eliana dengan nada bergetar dan rasa ketakutan sangat terukir jelas di wajah nya.


''Aku sangat kesal pada nya dan ingin memukul nya, tetapi aku tidak bisa melakukan nya karena dia sekarang adalah uang yang berlimpah dan aku tidak boleh merusak nya'' Batin Sinta dengan wajah menahan emosi.


''Ya sudah!!, tetaplah berdiri di samping ku!!'' Suruh Sinta.


''Apa bibi tidak memukul ku?...''. Eliana merasa aneh pada Sinta, biasa nya jika ia melakukan kesalahan sedikit saja, Sinta akan langsung mencambuk nya, tetapi sekarang tidak.


Tidak di pukul oleh Sinta membuat Eliana sedikit lega dan mencoba berpikir dengan keras mengapa Sinta tidak memukul nya.


''Apakah mungkin karena ada tamu?...'' Batin Eliana sambil melirik sedikit ke arah pria tersebut.


Pria itu menyadari lirikan Eliana dan ia langsung menatap Eliana dengan tajam dan penuh ketidak sukaan, Eliana yang melihat nya merasa sangat terkejut dan di buat merinding oleh nya ''Tatapan yang sangat mengerikan'' Batin Eliana yang langsung menunduk dan menatap lantai di bawah nya dengan wajah yang mulai bercucuran keringat.


''Ini adalah keponakan tiri kami'' Ucap Andi memulai pembicaraan sambil menunjuk ke arah Eliana.


''Berapa?'' Tanya pria tersebut dengan nada dingin.


''Emm...apa maksud an---''. Tidak sempat bertanya balik, ucapan Sinta langsung di potong oleh sekretaris pribadi pria tersebut.


''Maksud Tuan Erlan adalah berapa harga yang kalian inginkan dan...jangan bertanya balik pada Tuan Erlan'' Ucap Sekretaris tersebut dengan tatapan tajam penuh pengancaman.


''Ha..hahaha, baiklah, maafkan kami karena tidak mengerti'' Ucap Andi dengan terbata dan mulai merasa terganggu dengan tatapan yang di berikan oleh sekretaris tersebut begitu pun dengan Sinta yang mulai merasakan getaran akan ketakutan di seluruh tubuh nya.


''Kedua orang itu terlihat sangat menakutkan, seperti nya aku harus lebih berhati-hati dalam berbicara!'' Batin Andi sudah tidak berani lagi menatap kedua wajah orang tersebut.


''Dia hanya bertanya singkat!!, tentu saja aku dan suami ku tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan oleh nya!'' Batin Sinta merasa sedikit kesal namun rasa takut masih mengiringi tubuh nya.


''Apa maksud mereka?...harga?...aku benar-benar tidak mengerti sama sekali'' Batin Eliana dengan polos nya dan ia masih menundukkan pandangan nya.


''Ehmm...Harga yang kami inginkan adalah...sebesar---''. Belum sempat melanjutkan pembicaraan, ucapan Sinta langsung di potong oleh Andi ''Maaf atas kelancangan saya, tetapi..harga nya...tergantung pada Tuan saja, yang mana lebih pantas...'' Ucap nya dengan nada bergetar sambil memberanikan diri untuk melihat wajah Erlan.


''Apa maksud an---''. Belum sempat berbicara, ucapan sekretaris pribadi tersebut di potong oleh Erlan.


''Baiklah, saya akan mengirim nya'' Ucap Erlan dengan dingin.


Melihat tuan nya sudah berkata seperti itu membuat sekretaris pribadi mundur dan tahu apa yang harus di lakukan nya.


''Kenapa Andi menghentikan ku?!!, padahal ini adalah kesempatan kita untuk menawarkan harga lebih banyak!!'' Batin Sinta merasa kesal.


Sejak dari awal pembicaraan, Eliana tidak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka bicarakan, ia hanya bisa menundukkan pandangan dan mendengar nya saja, ia berpikir untuk tetap tenang dan diam.


Sekretaris pribadi Erlan berjalan menghampiri Eliana lalu ia langsung menggenggam tangan Eliana dengan sangat erat, tangan yang di genggam tiba-tiba membuat Eliana sangat terkejut dan seketika menjadi panik.


Sekretaris pribadi itu segera menarik lengan Eliana lalu menyuruh nya untuk berjalan cepat seraya memberikan tatapan yang begitu dingin.


''Sebenar nya apa yang terjadi?...apakah mereka ingin membawa ku?''. Saat ini Eliana benar-benar di landas kebingungan, ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi dan ia mencoba untuk berpikir keras dengan apa yang terjadi pada keadaan sekarang saat ini hingga muncul lah sebuah kata yang terlintas di pikiran nya.


''Apakah paman dan bibi menjual ku?''. Pikiran yang terlintas itu sontak membuat Eliana terkejut dan langsung menghentikan kaki nya yang sudah berjalan dan tiba di depan sebuah pintu mobil mewah.


Meskipun hanya pemikiran sendiri, Eliana merasa yakin bahwa Andi dan Sinta memang menjual diri nya, untuk memastikan hal itu, Eliana segera berlari memasuki rumah kembali.


''Hei!!!''. Sekretaris pribadi itu merasa terkejut karena Eliana berlari tiba-tiba, ia berteriak memanggil Eliana, tetapi Eliana sudah masuk ke dalam rumah.


''Paman, bibi!...'' Panggil Eliana dengan nada tinggi.  Awal nya Eliana merasa takut dan tidak punya cukup keberanian untuk menanyakan nya, tetapi ia tidak bisa diam terus-menerus dan harus memberanikan diri nya.


''A-apakah kalian...menjual ku?...'' Tanya Eliana dengan gugup.


''Bocah ini!!...apakah dia tidak melihat ada orang menakutkan di sini?!!. Benar-benar membuat orang sulit saja, kenapa dia harus berteriak?!!'' Batin Sinta dengan kesal.


''Dasar bocah!!!, apakah dia tidak mengerti dengan suasana saat ini?!!'' Batin Andi dengan emosi yang meluap-luap.


Andi dan Sinta menatap tajam pada Eliana, tatapan itu sangat tajam hingga menusuk dalam dengan tepat, melihat tatapan yang di berikan oleh Andi dan Sinta membuat Eliana ter sontak namun juga tidak dapat meruntuhkan keberanian pada diri Eliana.


"Ya, kami menjualmu!!!'' Ucap Andi dengan singkat lalu ia segera mengalihkan pandangan dari Eliana.


Mendengar jawaban dari Andi, membuat Eliana sangat terkejut dan seketika hati nya benar-benar hancur menjadi serpihan kecil. Ia merasa sangat terpukul dan serpihan hati nya yang rusak tidak bisa di perbaiki kembali menjadi sempurna.


"Mereka…benar-benar menjual ku…".


Eliana merasa sangat sedih, ia merasa benar-benar marah pada paman dan bibi tiri nya yang sudah di buta kan oleh uang, Eliana sama sekali tidak bisa mengerti dengan alur otak Andi dan Sinta.


Seketika air mata Eliana pecah dan lolos membasahi pipi nya, ia menangis dengan perlahan dan tidak ingin tangisan nya di lihat oleh siapapun, tetapi tidak dengan Erlan, ia menyadari tangisan Eliana, tetapi ia juga tidak peduli karena sangat membenci Eliana jauh sebelum Eliana lahir.


''Sungguh kejam!!, mengapa mereka berbuat seperti ini?...apakah tidak cukup selama sepuluh tahun mereka menyiksa ku?, dan sekarang...apakah pria yang membeli ku akan menyiksa ku juga?'' Batin Eliana tidak bisa menghentikan tangisan nya, air mata terus mengalir bagaikan sungai hingga membasahi seluruh permukaan pipi nya.


''Aku sudah mengirim nya'' Ucap Erlan lalu ia pergi begitu saja.


''Ya, terimakasih banyak tuan...'' Ucap Andi dan Sinta dengan serempak namun Erlan tidak memedulikan nya dan terus berjalan hingga memasuki mobil.


Eliana masih berdiam diri di tempat, rasa nya ia tidak sanggup untuk menggerakkan tubuh nya, tetapi Sekretaris pribadi Erlan langsung menyeret Eliana dengan paksa hingga mereka memasuki mobil dan pergilah mereka dengan kecepatan mobil yang di kendarai oleh sekretaris pribadi Erlan.


Setelah pergi nya mereka, Andi dan Sinta menghela napas lega seakan-akan mereka tidak bisa bernapas sama sekali, mereka menghirup udara dengan perlahan dan mulai mengatur pernapasan untuk tetap tenang.


''Andi!!...''.


''Ya...''.


''Sekarang kita menjadi sangat kaya raya!!'' Seru Sinta dengan bahagia nya.


"Ya!!...aku merasa sangat senang!!...''.


''Akhir nya beban itu pergi dari rumah, hah!!, dia benar-benar sangat merepotkan kita!!'' Ucap Sinta sambil menghela napas dengan kasar.


''Ya, kamu benar!!, aku juga merasa sangat capek, ternyata ada untung nya juga kita mencuri nya saat itu, kenapa tidak terpikir kan dari awal ya untuk menjual nya, jadi kita tidak perlu repot-repot membesarkan nya!!'' Ucap Andi.


''Ini semua karena kamu ingin pamer pada keluarga, padahal sebenar nya kamu memang tidak bisa hamil karena kecelakaan pada waktu itu'' Sambung nya lagi.


''Ya-ya...maafkan aku. Meskipun aku begini, kamu masih mencintai ku...''.


''Aku memang mencintaimu, andai saja jika tidak, pasti sudah dari sebelum kita mencuri anak itu, aku sudah pergi meninggalkan kamu'' Ucap Andi seraya memeluk Sinta.


''Oh iya, kenapa tadi kamu tidak menyebutkan nominal uang yang kita inginkan?'' Tanya Sinta sambil melepaskan pelukan Andi.


''Apakah kamu tidak takut dengan tatapan nya?...aku merasa kita akan di bunuh oleh nya jika kita tidak berhati-hati dalam berbicara'' Jelas Andi.


''Sebenar nya aku juga takut dengan tatapan nya...entah kenapa tatapan itu selalu membuatku merinding''.


''Sudahlah tidak apa-apa, pasti dia juga mengirimkan lebih dari apa yang kita inginkan...'' Ucap Andi.


''Ya, kamu benar. Jika dia tidak kaya, pasti dia tidak akan membeli anak itu''.


Bersambung...