Love Is Blocked By Revenge

Love Is Blocked By Revenge
Bertemu Vina.



Setelah menempuh beberapa jam, akhir nya Erlan dan Adel sampai di taman…


"Waahh…seperti biasa taman ini selalu terlihat sangat indah!…" Seru Adel dengan senyuman manis menghiasi wajah nya.


"Tetapi kamu tidak kalah indah nya…" Batin Erlan seraya menatap wajah Adel dengan tersenyum.


"Kak Erlan!, tunggu apa lagi?, ayo kita pergi ke air mancur di sana" Ucap Adel sambil menunjuk sebuah air mancur yang berada di tengah-tengah taman.


"Apakah kamu merasa sangat senang dan bahagia?…" Tanya Erlan seraya tersenyum lebar.


"Dengan Kak Erlan tidak bertanya pun, Kak Erlan sudah tahu jawaban nya…" Celetuk Adel.


"Hahaha, tetapi entah kenapa saat ini kamu jauh lebih senang" Jelas.


"Mungkin karena suasana hati ku sedang sangat bagus" Sahut Adel.


"Kenapa?".


"Sudah!, berhentilah bertanya…ayo kita segera ke air mancur…" Ujar Adel dengan tidak sabar.


"Hahaha…baiklah-baiklah…".


Erlan dan Adel berjalan menuju air mancur, dan mereka mulai menceritakan tentang masa lalu yang tidak pernah bisa membuat mereka lupa.


"Indah nya…" Ucap Erlan seraya menatap air mancur tersebut.


"Memang benar!, air mancur ini benar-benar indah…" Sambung Adel lalu tidak lama kemudian ia tertawa kecil.


Melihat Adel tertawa membuat Erlan sedikit bingung, ia penasaran hal apa yang membuat Adel tertawa.


"Kenapa kamu tertawa?".


"Hmm?, ah!. Aku tertawa karena ingat sesuatu hal yang lucu".


"Hal yang lucu?…hal lucu seperti apakah itu?…" Batin Erlan bertanya-tanya.


"Apakah Kak Erlan penasaran?…" Tanya Adel yang menyadari akan wajah Erlan yang terlihat penasaran.


"Hmm!. E-ehh…i-iya, aku ingin tahu…" Jawab Erlan dengan pipi yang merah merona karena merasa malu akan Adel yang mengetahui apa yang di pikirkan oleh nya.


"Apakah Kak Erlan ingat?. Ketika aku berusia delapan tahun dan Kak Erlan berusia dua belas tahun, saat itu kita pergi ke taman ini dan ada beberapa kucing liar. Kucing-kucing itu terlihat sangat imut…aku berjalan menghampiri mereka dan ingin mengelus mereka, tetapi mereka malah kabur dari ku dan akhir nya aku pun menangis karena berpikir kucing-kucing itu tidak menyukai ku. Saat aku menangis, kakak terlihat sangat panik dan langsung berkata "Jangan menangis, aku akan menangkap mereka" berkata seperti itu dengan nada lembut namun ekpresi wajah terlihat sangat dingin, hahaha…rasa nya terlihat sangat aneh. Setelah Kak Erlan berkata seperti itu pada ku, Kak Erlan langsung berlari mengejar kucing-kucing tersebut, namun, pada akhir nya malah mereka yang mengejar Kak Erlan dan mereka terlihat sangat marah. Melihat kakak berlari dengan wajah ketakutan membuat tangis ku hilang dan aku pun tertawa terbahak-bahak. Kak Erlan berlari dengan cepat dan terlalu memperhatikan situasi di belakang, pada akhir nya hal itu membuat Kak Erlan tidak sadar akan keadaan di depan dan Kak Erlan pun terjatuh ke dalam air mancur. Melihat kaka terjatuh ke dalam air dan pakaian kaka basah membuat aku takut dan menangis, "M-maafkan aku" itulah kata-kata yang selalu keluar dari mulut ku dengan tiada henti" Ucap Adel dengan panjang lebar.


"D-dia mengingat nya dengan baik…mengingat kejadian saat itu rasa nya membuat ku malu…".


"Ketika kamu masih kecil, kamu sangat suka menangis ya…" Ejek Erlan dengan tersenyum kecil.


"Hmm?!. Kamu tidak boleh mengungkit hal itu, sekarang aku sudah dewasa dan aku tidak suka menangis lagi seperti dulu" Celetuk Adel.


"Hahaha, iya-iya, maaf ya sayang…" Ucap Erlan dengan tertawa kecil seraya mengusak puncak rambut Adel.


"Aku akan memaafkan Kak Erlan jika Kak Erlan membelikan aku Es krim" Ucap Adel dengan manja.


"Melihat kamu seperti ini rasa nya sangatlah imut…" Batin Erlan dengan tersenyum kecil.


"Baiklah, aku akan membelikan kamu Es krim".


"Beli Es krim yang biasa kita beli saja!" Ujar Adel.


"Baik sayang…kamu tunggu sebentar di sini ya…".


"Oke sayang".


Erlan berjalan pergi meninggalkan Adel seorang diri, sedangkan Adel duduk menunggu di sebuah bangku panjang dekat air mancur.


Selama Erlan pergi membeli Es krim, Adel menggunakan kesempatan tersebut untuk menelepon bawahan nya yang masih berada di rumah Erlan.


"Aku harus menelepon Edric…" Batin Adel seraya mengambil ponsel dari dalam tas kecil nya.


Adel membuka layar ponsel nya, jari-jari kecil nya bergerak dengan cepat di atas layar dan nama "Edric" pun muncul di atas layar.


"……".


"Edric…".


"……".


"Tolong cari Eliana, aku yakin Erlan mengurung Eliana di suatu ruang…" Perintah Adel dengan tegas.


"……".


"Tolong cepat ya, jangan sampai kamu ketahuan oleh bawahan nya Erlan termasuk Kelvin".


"……".


"Baik. Nanti malam aku akan pulang, jika sudah ketemu, hubungi lah aku".


"……".


"Terimakasih ya Edric, aku tutup telepon nya" Ucap Adel lalu ia mematikan telepon se pihak, setelah ia selesai menelepon, tiba-tiba ada seorang wanita datang menghampiri nya.


"Cia?…". Terdengar suara yang begitu lembut terlintas di telinga, merasa ada orang yang datang, Adel langsung melihat ke arah wanita tersebut.


"Ternyata memang Cia ya. Wahh, sudah berapa lama ya kita tidak bertemu?…".


Adel sudah terbiasa di panggil Cia oleh orang-orang terdekat nya termasuk para pembantu dan juga Edric.


"Ternyata benar-benar Vina!…" Seru Adel lalu ia langsung bangkit dari duduk nya kemudian memeluk Vina dengan erat.


"Aku kangen sekali padamu!…" Ucap Adel dengan bahagia.


"Iya…aku juga…" Ucap Vina seraya melepaskan pelukan Adel.


"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, seperti nya sudah empat tahun…" Ucap Adel lalu ia langsung mengajak Vina duduk dan mereka pun memulai pembicaraan mengenang rindu.


"Aku benar-benar tidak percaya bisa bertemu kembali denganmu…" Seru Adel dan merasa rasa rindu nya tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


"Iya, aku pun berpikir seperti itu. Awal nya aku merasa khawatir karena tidak bisa kembali ke kota ini, namun, ternyata tuhan membantu ku untuk kembali ke kota ini dan bertemu dengan kalian…" Jelas Vina dengan bahagia.


"Kapan kamu kembali ke sini?…" Tanya Adel dengan sangat penasaran.


"Baru minggu kemarin…" Jawab Vina dengan tersenyum lebar.


"Benarkah?, kenapa kamu tidak menghubungi kami?" Tanya Adel merasa kecewa.


"Hmm…i-itu…itu karena, akhir-akhir ini aku sedang sibuk membantu ibu jadi tidak sempat untuk menghubungi kalian…" Jawab Vina dengan terbata.


"Benarkah?…" Tanya Adel kembali.


"I-iya!, benar…".


"Cia…maafkan aku karena telah berbohong padamu. Sebenar nya dari aku kembali ke kota ini, aku sudah menghubungi Kak Erlan, tetapi Kak Erlan melarang ku untuk bertemu dengan kalian dalam waktu seminggu dan sekarang aku bertemu denganmu di sini. Mungkinkah…karena Kak Erlan masih mengingat perbuatan ku saat empat tahun lalu…" Batin Vina sambil menatap Adel dengan tatapan penuh rasa bersalah.


"Baiklah jika begitu…".


"I-iya, maafkan aku ya…" Ucap Vina seraya memegang tangan Adel.


"Tidak apa-apa. Oh iya!, jika kamu sudah kembali, berarti Bi Dina juga sekarang sedang menjual bunga?…" Tanya Adel.


"Ah!, iya…sekarang ibu sedang berjualan bunga…".


"Benarkah?. Kamu tahu kan jika toko bungamu berdekatan dengan toko Es krim layanan kita…".


"Iya…memang nya kenapa?…".


"Sekarang Kak Erlan sedang membeli Es krim di tempat itu, pasti dia akan bertemu dengan Bi Dina!. Ahhh…aku tidak bisa membayangkan betapa senang nya Kak Erlan saat tahu kamu dan Bi Dina sudah kembali" Seru Adel dengan senang.


"Ah…i-iya…". Vina hanya bisa terdiam melihat Adel yang begitu senang, melihat Adel seperti itu, tambah membuat Vina merasa bersalah.


Adel dan Vina saling membicarakan tentang masa lalu, mereka tertawa dan menikmati waktu bersama dan di saat waktu yang sama, Erlan bertemu dengan Dina.


...***...


"Tuan…Erlan…". Dina merasa terkejut bertemu dengan Erlan, seketika ia terdiam di buat nya.


"Bi dina?…".


"Ya ampun…apakah benar ini tuan Erlan…".


"Haa, ternyata Bi Dina ya".


"Ya tuhan, sudah berapa lama ya kita tidak bertemu?…" Tanya Dina dengan sangat penasaran.


"Hahaha…seperti nya sudah empat tahun…" Jawab Erlan sambil tertawa kecil.


"Sudah lama sekali ya. Oh iya!, tuan Erlan sedang apa di sini?".


"Saya habis membeli Es krim".


"Ohh, dua?…apakah satu lagi untuk nona Cia?. Di mana nona?, mengapa tidak terlihat?…" Tanya Dina sambil melihat sekeliling Erlan.


"Cia sedang menunggu di taman…" Jawab Erlan dengan tersenyum ramah.


"Oh begitu ya. Ah!, tuan Erlan maukah nanti malam makan bersama dengan saya dan Vina?" Tanya Dina.


"Bertemu Vina ya…haaa…rasa nya aku masih tidak ingin bertemu dengan nya, tetapi jika aku menolak permintaan Bi Dina, pasti dia akan merasa kecewa karena kita baru bertemu lagi setelah empat tahun" Batin Erlan.


"Baiklah Bi…" Jawab Erlan dengan senyuman paksa.


"Syukurlah, terimakasih ya…karena kita baru bertemu lagi setelah empat tahun, jadi Bibi ingin kita makan bersama. Baiklah, jika begitu, lebih baik sekarang tuan Erlan kembali ke taman, takut nya membuat nona Cia menunggu lama" Ucap Dina dengan sopan.


"Baiklah Bi…Erlan pergi…".


"Iya…".


Erlan berjalan pergi meninggalkan Dina, ia segera berlari ke taman dengan sangat cepat.


Sesampai nya Erlan di taman, ia terkejut melihat Adel sedang bersama dengan Vina.


Melihat Vina yang sedang asyik mengobrol dengan Adel membuat Erlan merasa khawatir dan ia juga merasa tidak suka ketika melihat wajah Vina.


Bersambung…