Love Is Blocked By Revenge

Love Is Blocked By Revenge
Jatuh Cinta.



Sekarang waktu sudah menunjuk kan pukul 11:32, Eliana dan Gita sudah selesai menyiapkan makan siang, kali ini Eliana menyiapkan nya dengan sangat hati-hati dengan bantuan Gita dan di waktu yang sama Erlan sudah pulang ke rumah dan langsung duduk di meja makan.


"Tuan, silahkan…" Ucap Gita seraya menyerah kan piring yang sudah di isi dengan makanan.


"Ya" Jawab Erlan singkat.


Selagi Erlan sedang makan, Gita mengajak Eliana untuk membersihkan kan halaman belakang.


"Rumput-rumput nya benar-benar harus di bersihkan" Keluh Gita dengan malas saat melihat rerumputan yang begitu panjang.


"Eliana ambil kan gunting dulu ya Bi" Ucap Eliana lalu ia berjalan pergi.


"Cepat lah ya…" Teriak Gita.


"Ya Bi…" Jawab Eliana yang sudah berjalan begitu jauh.


Eliana berjalan menuju gudang yang berada di dekat kolam renang, sesampai nya di sana, ia segera masuk dan langsung mencari mesin pembersih rumput dan gunting rumput.


"Di mana ya…" Gumam Eliana seraya mencari di setiap sudut gudang.


"Ketemu!" Seru Eliana dengan senang karena telah menemukan barang yang ia maksud.


Ketika Eliana ingin mengambil kedua barang tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang masuk.


"Eliana?…".


Mendengar nama nya di panggil, Eliana langsung melihat ke arah suara tersebut berasal.


"Hmm, ya?". Eliana menatap wajah orang tersebut, saat menatap nya, seketika muncul dalam benak nya bahwa Eliana mengenal wajah orang tersebut.


"T-tuan yang saat itu membantu saya kan?" Tanya Eliana dengan yakin.


"Ya benar, ternyata kamu masih mengingat saya…".


"M-maaf, jika boleh tahu, siapa nama tuan?…" Tanya Eliana dengan gugup.


"Rangga…" Jawab Rangga seraya tersenyum lebar pada Eliana.


"T-tuan Rangga!, terimakasih telah membantu saya pada saat itu…" Ucap Eliana dengan langsung seraya menunduk kan kepala nya dengan sopan.


Melihat Eliana yang tiba-tiba menunduk kan kepala nya serta mengucapkan rasa terimakasih membuat Rangga merasa tidak nyaman.


"Y-ya, kamu tidak perlu menunduk kan kepalamu. Angkat lah…" Suruh Rangga dengan nada lembut.


Eliana mengangkat kepala nya, meskipun wajah nya berhadapan dengan Rangga, tetapi mata nya melihat ke arah bawah.


"Lihat lah aku, apa kamu sudah lupa?…aku adalah pekerja sama sepertimu jadi kamu tidak perlu terlalu sopan dan formal kepada ku…" Jelas Rangga dengan pelan.


"Y-ya…". Eliana mengangkat pandangan nya, ia lupa bahwa Rangga sama seperti nya dan hal itu membuat Eliana sedikit malu.


"Kamu sedang mencari apa di gudang?" Tanya Rangga yang memulai pembicaraan.


"A-aku ingin mengambil mesin pembersih rumput dan gunting rumput…" Jawab Eliana dengan terbata.


"Ohh, begitu ya. Kamu ingin membersihkan rumput di halaman belakang kan?, aku bantu ya…" Ujar Rangga seraya tersenyum ramah.


"T-tidak perlu, aku dan Bi Gita saja yang membersihkan nya…" Ucap Eliana merasa tidak enak.


"Aku tidak ingin merepotkan tuan Rangga lagi, bagi ku saat itu, tuan Rangga sudah cukup banyak membantu".


"Tidak apa-apa, kebetulan aku juga sedang tidak ada pekerjaan yang harus di lakukan…" Jelas Rangga seraya menggaruk kepala nya yang tidak gatal.


"T-tidak perlu, aku tidak ingin merepotkan tuan Rangga. Hmm…aku mau ke halaman belakang, takut nya membuat Bi Gita menunggu lama…" Ucap Eliana lalu ia langsung berjalan ke luar dari gudang.


"Padahal aku sengaja datang ke sini karena aku ingin lebih dekat denganmu…" Batin Rangga seraya menatap kepergian Eliana dengan tatapan dingin dan rasa kecewa.


Setelah Eliana pergi, Rangga memutuskan untuk pergi kembali kemar nya.


Saat ia sudah berjalan keluar dari gudang, terlihat Erlan yang sudah selesai makan siang datang menghampiri nya.


"Ada apa?…".


"Tidak. Hanya saja aku masih tidak percaya bahwa kau menyembunyikan sifat asli kau…" Ucap Erlan dengan tersenyum miring.


"Berhentilah mengawasi kehidupan ku" Celetuk Rangga lalu ia berjalan pergi begitu saja.


Melihat sikap adik nya yang berpura-pura lemah lembut membuat Erlan tertawa dengan keras dan ia berpikir bahwa adik nya sudah gila.


"Sungguh tidak menyenangkan" Gumam Erlan seraya menatap kepergian Rangga dengan tatapan tajam.


...***...


"Ini Bi…" Ucap Eliana seraya menyerahkan alat-alat pembersih yang sudah di bawa nya.


"Baiklah, Eliana tolong bersihkan rumput yang ada di sebelah sana ya…" Titah Gita.


"Baik Bi…" Ucap Eliana dengan mengangguk lalu ia segera berjalan menuju tempat yang akan di bersihkan.


Beberapa menit kemudian, lama nya waktu untuk membersihkan rumput, akhir nya Eliana dan Gita sudah selesai bekerja.


Setelah membersihkan banyak nya rerumputan, mereka berdua memutuskan untuk mandi.


Eliana dan Gita berjalan masuk ke dalam rumah, saat mereka berdua sudah masuk, mereka melihat ada seorang pria yang tengah berbincang dengan Erlan.


"Buatkan lah kopi" Teriak Erlan yang menyadari kedatangan Eliana dan Gita.


"Baik tuan" Jawab Gita dari kejauhan.


Eliana dan Gita berjalan ke dapur untuk membuat kopi terlebih dahulu sebelum mandi, setelah selesai membuat kopi, Eliana meminta Gita untuk diri nya saja yang mengantarkan kopi agar tidak merepotkan Gita lebih banyak.


Gita pun mengangguk dan meminta izin pada Eliana untuk pergi mandi terlebih dahulu.


"Jika sudah selesai mengantarkan kopi, segera pergi mandi ya…" Ucap Gita.


"Baiklah Bi…". Eliana berjalan keluar dari dapur begitupun dengan Gita yang langsung pergi ke kamar mandi.


Sesampai nya Eliana di tempat Erlan berada, ia langsung meletakkan dua cangkir kopi tersebut dengan sopan di meja yang berada di tengah.


Lalu dengan tidak sengaja mata Eliana berpapasan dengan mata pria tersebut.


Pria tersebut tersenyum kecil pada Eliana, tetapi Eliana hanya menundukkan pandangan nya dengan sopan lalu pergi dengan cepat untuk bergegas mandi.


Meskipun terlihat seperti itu, tetapi sebenar nya Eliana merasakan sesuatu.


"K-kenapa ini?…ketika melihat wajah nya seketika membuat hati ku berdegup dengan kencang…" Batin Eliana dengan pipi yang merah merona.


"Hmm…ternyata dia yang akan menjadi mangsa ku kali ini…" Batin pria tersebut seraya menatap kepergian Eliana.


"Ada apa kau datang ke sini?" Tanya Erlan dengan dingin.


"Aku mendengar dari Adel bahwa kalian mempercepat waktu pertunangan".


"Ya" Ucap Erlan dengan singkat seraya mengambil cangkir kopi lalu menyeruput nya.


"Ohh…aku datang ke sini hanya ingin melihat kau saja karena kita sudah tidak lama bertemu".


"Ada apa Brian?…tidak biasa nya kau datang langsung sendiri seperti ini untuk bertemu dengan ku" Tanya Erlan dengan tatapan tajam.


"Pada awal nya aku datang ke sini memang hanya untuk melihat mainan kau, ternyata keturunan keluarga Andara satu-satu nya cukup cantik juga" Batin Rangga seraya menatap Erlan dengan sinis.


"Ya…tidak salah kan, aku datang ke sini karena dalam waktu dua bulan lagi kau akan menjadi tunangan dari adik ku, ya jadi…kita harus mengakrabkan diri".


"Kau datang ke sini hanya untuk itu?. Pulang lah, aku sedang sibuk dan tidak ada waktu untuk kau" Ucap Erlan dengan tidak suka.


"Woi!…ayolah, kita harus mengakrabkan diri".


"Aku bilang pulang lah" Suruh Erlan kembali dengan tatapan tajam nya.


"Jika aku tidak segera pulang, mungkin aku akan di penggal oleh nya".


"Baiklah…" Ucap Brian dengan tersenyum nakal.


Brian segera bangkit dari duduk nya lalu ia berjalan menuju pintu keluar.


Saat sudah di depan pintu, tiba-tiba Erlan mengancam Brian.


"Jika kau ingin mengambil nya, maka kau akan mati" Ucap Erlan dengan santai nya.


"Hmm…memang tidak salah. Keluarga Stewart memiliki mata yang tajam dan sifat yang dingin" Batin Brian dengan tersenyum miring dan tidak takut dengan ancaman Erlan karena ia berpikir tidak mungkin Erlan membunuh nya karena ia adalah Kakak dari Adel yang akan menjadi tunangan nya nanti.


Brian akan tetap menargetkan Eliana sebagai mangsanya dengan cara apapun itu hingga ia bisa mendapatkan Eliana seutuh nya.


...***...


Eliana sudah selesai membersihkan diri nya dan setelah itu, ia langsung pergi ke kamar nya untuk mengeringkan rambut.


Sesampai nya Eliana di kamar, ia masih terbayang wajah Brian di dalam benak nya.


Eliana tidak tahu sama sekali mengapa jantung nya berdegup dengan kencang saat melihat wajah Brian, ia pikir diri nya merasa sedang tidak sehat.


Bersambung…