
Hari minggu yang ditunggu-tunggu pun datang.
Syaha sibuk sejak semalam karena besok pagi dia akan jalan-jalan dengan Ray. Anna teman sekamar Syaha juga ikut sibuk dibuatnya. Acara memilih pakaian, sepatu, kemudian gaya rambut, menjadi kesibukan mereka di akhir pekan.
"Ann aku gugup.." Celetuk Syaha.
"Rileks Sya.. jangan tunjukkan ke Mas Ray kalau kamu itu lagi gugup.."
"Pasti lah Ann, padahal cuma jalan keluar melihat Venice aja.. tapi kenapa aku gugup banget ya.. udah kayak mau menikah aja sama Mas Ray.." Syaha terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
"Astaga Sya.. pacaran aja belum udah ngomongin menikah.. kalau haluu tuh ya mikir-mikir Sya.." Timpal Anna.
"Ya kan siapa tahu Mas Ray diam-diam menyukai ku.. dan dia sedang mempersiapkan lamarannya.." Syaha masih ngotot. Kan tidak ada salahnya berharap.
"Terserah kamu deh Sya.. pusing aku.." Anna menyerah. "Yang pasti aku mendukungmu Sya.. kalau kamu memang suka sama Mas Ray bilang aja ke orangnya. Lebih cepat lebih baik.. kamu tahu kan Mas Ray itu sangat populer di kalangan mahasiswa Indonesia di Venice.." Ucapa Anna realistis.
Seperti terseret ke tempat yang waras, Syaha menerawang jauh. Benar ucapan Anna. Ray adalah orang paling populer di kalangan mahasiswa Indonesia. Jika melihat penampilan Ray, dia bukan seperti orang kebanyakan. Penampilan luarnya sangat rapi dan pakaian yang dia kenakan seperti keluaran brand ternama. Bahkan di Venice Ray memiliki mobil. Salah satu fakta yang dilewatkan oleh Syaha. Tapi Syaha memilih acuh, dia menyukai Ray bukan karena fisiknya tapi karena hatinya. iihirrrr...
"Ann.. Mas Ray udah nunggu di bawah.. aku pergi dulu ya.." Syaha pamit pada Anna setelah membaca pesan dari ponselnya.
Pesan itu dari Ray.
From : Mas Ray
Hati Syaha berdesir. Hanya membaca pesannya saja Syaha melayang. Apalagi kalau bertemu dan menghabiskan waktu bersama orangnya, bisa pingsan coy...
"Sukses ya Sya.." Teriak Anna yang tampaknya tak terdengar oleh Syaha. Gadis cantik itu sudah melesat keluar kamar setelah menerima pesan dari Ray. "Dasar bucin kamu Sya..." Gerutu Anna pelan.
Dari pintu asramanya, Syaha bisa melihat punggung lebar Ray. Pria dengan tinggi 170 cm itu menghadap ke mobil dengan memainkan ponselnya. Dari belakang saja tampak keren apalagi tampak depan, jangan tanya lagi sekeren apa dia, pasti sangat sangat keren. Syaha berhenti sejenak, dia butuh menghirup oksigen untuk menata dirinya. Syaha memutuskan untuk memakai gaun terusan panjang di bawah lutut dengan tangan pendek bermotif floral berwarna putih pucat. Rambutnya dia kuncir keatas seadanya. Wajahnya juga dipoles dengan make up yang tipis. Selain tidak bisa berdandan, Syaha juga tidak suka terlihat mencolok.
"Mas Ray.. udah nunggu lama?" Sapa Syaha lembut.
Mendengar suara Syaha yang memanggilnya sontak saja Ray menoleh.
Hening. Mata mereka saling tatap. Masing-masing sedang memperhatikan setiap jengkal penampilan lawan jenisnya.
Ray di mata Syaha hari ini sangat tampan. Sangat-sangat tampan. Pantas saja banyak wanita yang mengemis perhatian Ray. Hari ini Ray memakai kaos oblong berwarna putih agak pucat dengan beberapa tulisan di depan dadanya. Celana jeans berwarna hitam dengan sepatu santai melengkapi penampilannya. Santai, Ray adalah orang yang lebih suka memakai pakaian santai. Syaha hampir saja meneteskan air liurnya. Kalau saja dia tidak waras hari ini, Syaha pasti akan berlari kepelukan pria tampan nan gagah di depannya saat ini.
Syaha di mata Ray hari ini sangat cantik. Beautiful spectacular interesting yang tak bisa dijelaskan. Syaha terlihat cantik hanya dengan dandanan yang sederhana. Hal itu yang membuat Ray terkesima. Ternyata di jaman yang sudah modern ini ada satu wanita yang tidak menghamba pada penampilan. Kecantikan Syaha mencubit hati Ray dengan keras. Darah panas mengalir ke tubuhnya dengan cepat. Untuk pertama kalinya rasa asing yang tidak dia kenal menyusup masuk ke dalam hatinya.
"Baru sampai kok.. berangkat sekarang?" Ray tersenyum cerah, secerah matahari siang ini.
"Iya.." Syaha mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Ray.
Bersambung...