
Venice atau Venesia adalah sebuah kota yang dibangun di atas air yang daratannya dipisahkan oleh kanal-kanal. Sejauh mata memandang, gedung tua dengan boat-boat berseliweran sebagai sarana transportasi utama.
Kota ini terkenal sebagai kota kanal dengan alat transportasi gondola, dan juga mendapat julukan Kota Romantis, karena tidak sedikit pasangan yang melakukan bulan madu di sini.
Tujuan pertama Ray adalah mengajak Syaha ke Piazza San Marco. Tempat ini adalah sebuah alun-alun dengan menara setinggi 100 meter sebagai penandanya, dari puncak menara kita bisa melihat kota Venice. Keunikan Piazza adalah letaknya yang tidak berbeda jauh dengan tinggi air laut, sehingga saat air pasang, alun-alun ini akan terendam atau banjir dari air laut Adriatik yang masuk melalui Grand Canal.
Syaha menyapukan pandangannya kesekeliling Piazza. Berkali-kali dia berdecak kagum. Menara di hadapannya saat ini sangat tinggi sekali. Didepannya terdapat lapangan besar yang biasa disebut alun-alun oleh penduduk lokal. Burung-burung merpati ikut memadati pengunjung Piazza.
"Indah banget mas.." Celoteh Syaha.
"Mau kasih makan burung ga?" Ajak Ray.
"Mau mau.." Mata Syaha berkilat penuh antusias.
Memberi makan burung adalah hal yang tidak boleh dilewatkan ketika berkunjung ke Piazza. Hal sepele seperti ini ternyata menyenangkan.
Syaha berlarian mengejar burung-burung merpati sedangkan Ray memberi makan burung. Tawa riang Syaha memenuhi alun-alun Piazza siang ini. Sudah lama sekali Syaha tidak tertawa lepas seperti itu. Dia selalu menyembunyikan emosinya karena keadaan hidupnya. Sejak kecil Syaha dituntut untuk hidup prihatin di panti asuhan, semua kegembiraannya lenyap bersamaan dengan kerasnya masa kecil yang dia lalui.
"Mas Ray.. terima kasih sudah mau ngajak Syaha jalan-jalan hari ini.." Tutur Syaha dengan suara ngos-ngosan akibat berlarian mengejar burung.
"Mau ketempat lain?" Tanya Ray. Ray hari ini berencana mengajak Syaha keliling Venice seharian.
"Mau mau Mas.." Jawab Syaha seperti anak kecil yang melihat permen atau ice cream.
Hati Ray berdesir lagi kala melihat senyum dan sorot mata bahagia dari Syaha. Benar-benar gadis yang menarik. Ray tak menyangka jika hal-hal kecil menurutnya menjadi menyenangkan di mata teduh Syaha.
Tempat selanjutnya adalah Rialto Market. Ray membawa Syaha ke pasar tradisional Venice. Rialto Market berada di tepi kanal. Pasar lokal ini menjual buah, sayur, ikan, dan bunga segar.
"Lapar ga?" Tanya Ray pelan.
Syaha mengangguk.
"Ikut aku.." Ray menarik tangan Syaha kemudian menuntunnya ke tengah pasar.
Mereka berdua sampai di ujung pasar. Disana ada satu kafe kecil yang sangat ramai. Antriannya mengular sampai ke luar.
"Ramai banget Mas.." Celetuk Syaha.
"Tempat ini adalah tempat makan favorit di Rialto. Apalagi sekarang weekend. Para wisatawan pasti akan memedati tempat ini.. kamu sudah lapar ga?" Jelas Ray.
"Tidak sih Mas.. aku masih kuat kok menahannya.."
"Baiklah.. aku ambil antrian dulu.."
Tepat satu jam Ray dan Syaha mendapatkan tempat duduk. Desain kafe bergaya khas Venesia sangat memanjakan mata pengunjung. Kafe itu hanya memiliki 10 meja dengan pelayan yang tidak terlalu banyak. Mereka mendapatkan tempat yang strategis. Tempat paling ujung yang dekat dengan jendela sehingga bisa melihat pemandangan Jembatan Rialto secara langsung. Sangat romantis sekali.
"Mau pesan apa?" Tanya Ray membuyarkan lamunan Syaha.
"Aku ikut Mas Ray aja.."
"Apapun?"
"Apapun.."
Ray melambaikan tangannya pada pelayan kafe. Setelah memesan beberapa hidangan Ray ijin untuk keluar sebentar. Syaha tidak bertanya pada Ray hendak kemana pria itu. Tapi beberapa menit sebelum hidangan mereka datang, Ray sudah kembali. Syaha terbelalak ketika melihat Ray masuk ke dalam kafe dengan membawa seikat bungan mawar merah.
"Untukmu.." Ray memberikan seikat bungan mawar pada Syaha.
"Untukku Mas?" Ucap Syaha gugup. Tidak mimpi kan?
"Iya untukmu.." Ray tersenyum simpul.
"Terima kasih Mas.. indah sekali.." Syaha terharu. Saking terharunya air mata Syaha hampir saja menetes. Syaha tak tahu apa maksud Ray memberikan bungan mawar padanya. Satu hal yang dia tahu, Ray ternyata orang yang romantis.
Pesanan mereka datang. Ray memesan Risotto dan Tiramisu sebagai makanan penutup. Ray sengaja tidak memesan anggur meskipun Venesia juga salah satu tempat favorit untuk minum anggur, Ray lebih memilih memesan jus jeruk sebagai minuman pendamping.
Syaha makan dengan lahapnya risotto yang dipesankan Ray. Pada dasarnya Syaha adalah orang yang tidak pilih-pilih makanan. Hidup di panti asuhan mengajarkannya akan hidup sederhana. Risotto yang berbahan dasar beras kemudian dikombinasi dengan jamur, asparagus, dan kacang ini sangat enak. Meskipun terbuat dari beras risotto di Venesia disajikan hampir seperti sup.
"Enak?" Ray buka suara ditengah-tengah makannya.
"Tempat ini makanan favoritnya adalah Risotto dan Baccala Mantecata. Tapi karena untuk makan siang kita tentu harus makan nasi, makanya aku memilih ini.." Jelas Ray menunjuk piring risotto-nya.
Baccala Mantecata juga merupakan makanan khas dari Venesia. Hidangan ini terbuat dari ikan cod yang lembut, dan kering dengan bumbu minyak zaitun, bawang putih, parsley dan krim yang terasa lembut di mulut. Baccala biasanya dijadikan makanan pembuka. Itulah alasan Ray memilih risotto.
"Oh..." Syaha dengan khidmat menyimak penjelasan Ray. Sungguh luar biasa pengetahuan Ray tentang Venice. Syaha dibuat kagum olehnya.
"Tiramisunya juga enak.."
"Iya Mas.. enak.." Syaha memotong tiramisu dengan sendok kecil kemudian mencobanya. "Enak banget Mas.. aku suka.." Lanjutnya.
"Habiskan makananmu.. setelah ini kita nikmati waktu sore di Jembatan Rialto.." Ucap Ray.
Syaha mengangguk lagi.
Ada rasa sedih yang hinggap di hatinya. Waktu berjalan sangat cepat sekali. Seharian ini adalah waktu yang sangat berharga bagi Syaha. Berdua dengan Ray menghabiskan waktu liburnya tak pernah dia bayangkan. Walau hanya jalan-jalan biasa, Syaha sangat senang. Setelah ini Syaha akan tetap menyukai Ray meskipun tak perlu diutarakan. Dekat dengan pria itu sudah cukup baginya.
Jembatan Rialto di sore hari dipadati oleh banyak pengunjung. Mereka tak mau ketinggalan menyaksikan matahari tenggelam dari jembatan yang bersejarah ini.
Batin Syaha tak ingin kemesraan ini cepat berlalu tapi lagi-lagi dia ditarik oleh kenyataan.
"Makasih ya Mas untuk jalan-jalan hari ini.. aku seneng banget.. Mas Ray sampai beliin makan siang untuk Syaha segala.." Ucap Syaha setelah turun dari mobil Ray.
"Iya sama-sama.. sudah berapa kali aku mendengar kamu berterima kasih Ais.. aku juga senang bisa jalan-jalan sama kamu.." Jawab Ray lembut.
"Ini adalah pengalaman seumur hidup Syaha Mas.. aku benar-benar berterima kasih. Setelah ini Syaha tak akan punya waktu untuk keliling Venice lagi.."
"Kenapa?"
"Syaha ga tau apa-apa tentang Venice Mas.. disini Syaha kan hanya mahasiswa beasiswa.. mana punya uang Syaha Mas.." Syaha tertunduk malu. Ucapan memang benar. Untuk hidup sehari-hari saja ngepas apalagi harus jalan-jalan, Syaha terlalu miskin untuk melakukannya.
"Mau jalan-jalan bareng lagi sama Mas?" Ajak Ray spontan.
"Hah? Jangan Mas.. aku ga mau ngerepotin Mas Ray.. aku bakalan ga enak lah sama Mas Ray.." Tolak Syaha. Padahal dalam hati Syaha sedang menjerit.
"Apa perlu alasan untuk jalan-jalan sama Ais lagi?"
"Hah? Maksud Mas Ray?" Syaha tak mengerti maksud Ray.
"Maksudku.. apakah kita harus punya suatu alasan atau apalah itu biar kamu jadi enak dan mau jalan sama Mas Ray lagi?"
Syaha menggeleng cepat. Bukan itu maksudnya. Sungguh Syaha tak mau mengganggu hidup Ray dengan mengajaknya keliling Venice lagi. Syaha sangat tahu diri.
"Bukan gitu Mas.. Syaha hanya ga ingin menganggu kesibukan Mas Ray.."
"Kalau gitu kita pacaran aja. Dengan begitu kan kita jadi punya alasan untuk jalan keluar.. sebut saja kencan kalau bahasa orang pacaran.. dan karena kamu pacarku kamu jadi tidak menganggu waktuku. Sebagai seorang pacar kamu berhak atas waktuku.. bagaimana?" Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Ray. Bahkan Ray sempat terkejut dia bisa dengan jujur mengutarakan isi hatinya tanpa mempertimbangkannya dulu.
"Hah?" Syaha tertohok sampai tak mampu berkata-kata.
Pacaran? Kata pacaran keluar begitu saja dari mulut Ray. Betapa terkejutnya Syaha mendengar ajakan pacaran dari Ray yang spontan. Syaha sedang tidak mimpi kan?
"Mas Ray jangan bercanda.." Syaha terpaksa tertawa untuk menghilangkan rasa terkejutnya. Tapi tawanya terdengar getir.
"Apakah aku salah Ais? Aku sama sekali tidak bercanda. Aku selalu serius dengan ucapanku.." Raut wajah Ray. Baru pertama kali ini Ray tidak dipercayai oleh seseorang. Biasanya apapun yang dia katakan akan dipecaya oleh orang-orang terdekatnya.
Syaha diam. Dia sadar dengan raut wajah serius Ray. Syaha sendiri sedang bergumul dengan pikirannya. Antara percaya atau tidak dengan situasinya saat ini.
"Maaf Mas.. Syaha tak bermaksu begitu.." Timpal Syaha dengan nada suara rendah. Wajahnya tertunduk karena tak sanggup menatap sorot mata Ray.
"Ais mau kan jadi pacar Mas Ray?" Ray mendekati Syaha kemudian menarik wajah Syaha agar bisa memandangnya. Ray ingin Syaha melihat keseriusan dari sorot matanya.
Tanpa pikir panjang Syaha mengangguk tanda menerima ajakan Ray.
"Duh mimpi apa aku semalam.. tiba-tiba jadi pacar Mas Ray? Yesss!!!! Kamu beruntung Sya!!!!" Batin Syaha berteriak lantang.
Bersambung..