Love In Venice

Love In Venice
Episode 18 Kembali



Lima tahun sudah berlalu memang. Tapi rasa sakit itu tak pernah bisa hilang. Entah dosa apa yang telah diperbuat Syaha hingga takdir mempermainkan hidupnya.


Bertemu lagi dengan mantan suami yang hampir bisa dia lupakan. Tuhan memang suka bercanda.


Surat pengunduran diri sudah tertata rapi di meja kerjanya. Besok akan dia serahkan ke kantornya. Tak sudi Syaha melihat wajah brengsek pria itu. Tidak lagi. Tidak akan lagi Syaha mau berdekatan dengan pria itu. Bahkan hanya mendengar namanya saja Syaha bergidik ngeri.


Langkah Syaha penuh tekad yang bulat. Salah satu tangannya memegang amplop putih bertuliskan 'Surat Pengunduran Diri'. Setelah sampai dilobi Syaha langsung mendekati resepsionis.


"Mbak.. minta tolong serahkan ini sama bagian personalia.. atau sekalian ke Pak CEO yang baru itu juga tidak apa-apa.."


Syaha meletakkan amplop putih itu di atas meja resepsionis.


"Loh Mbak Syaha mau mengundurkan diri?" Tanya Rini si resepsionis kaget setelah membaca tulisan di depan amplop.


"Iya Mbak.. tolong ya.. aku ga ada waktu.." Jelas Syaha.


"Iya Mbak.."


"Terima kasih ya Mbak Rini.."


Misi 1 (mengundurkan diri dari Lucas 'brengsek' Company) selesai.


Misi 2 (berkunjung ke tempat Anna di Medan) sedang dalam proses.


Misi 3 (ke tempat Mas Nando di Surabaya bareng Anna) sedang dalam proses.


Misi 4 (pindah ke Bandung setelah dari Surabaya) sedang dalam proses.


Misi 5 (cari kerjaan baru di Bandung) sedang dalam proses.


Syaha tersenyum puas membaca agendanya dalam waktu dekat ini.


-----


Syaha bangun dengan kepala berdenyut ketika tidurnya tergannggu dengan suara dering ponselnnya. Tangan Syaha meraih ponsel di meja samping kasurnya dengan malas.


Mala is calling.


Mala? Bukankah ini sudah waktunya masuk kantor? Kenapa Mala telpon jam segini.


"Halo.." Sapa Syaha.


"Aku sudah mengundurkan diri Mal.. kenapa? Surat pengunduran diriku belum sampai ke bagian personalia? kemarin sudah aku titipkan ke Mbak Rini di meja resepsionis.." Jawab Syaha dengan mata yang masih tertutup. Hari ini dia akan ke Medan. Penerbangannya sore nanti jadi Syaha santai-santai dulu dirumah. Menikmati status barunya sebagai pengangguran. Status ini jauh lebih baik daripada status istri Raya Lucas 'brengsek' itu.


"Sudah sih Sya.. sudah sampai ke Pak Ray juga.." Suara Mala merendah.


"Baguslah.. memang itu tujuanku.."


Mendengar nama Ray disebut Mala, hati Syaha terasa perih. Ah nama terkutuk itu.


"Tapi terjadi masalah Sya.."


"Masalah apa Mal? Aku bukan pegawai Lucas lagi Mal.. kenapa malah curhat ke aku.." Syaha bangkit dari tidurnya. Matanya telah terbuka lebar setelah mendengar nama Ray.


"Kemarin siang Pak Ray marah besar pada divisi kita setelah menerima surat pengunduran diri kamu.."


"Terus?" Apakah itu penting untuk ku? Ah.. bodo amat dengan si brengsek itu. Batin Syaha tertawa jahat.


"Pak Ray mengancam jika tidak ada yang membawa balik kamu kerja di Lucas lagi dalam waktu 24 jam, kami semua akan dipecat Sya.."


"Apa?" What the hell Ray brengsek itu.. setelah lima tahun ternyata otaknya jadi bermasalah.. Suara hati Syaha berjerit.


"Kemarin kami mencoba telpon kamu tapi nomor kamu tak aktif Sya.. aku mampir ke apartement, kamu ga ada Sya.. Sya tolong kami Sya.. semua orang di divisi kita terancam di pecat.."


Suara Mala bergetar. Syaha bisa memperkirakan jika Mala saat ini sedang menangis.


"Tapi aku sudah mengundurkan diri Mal.." Syaha menolak keras. Kembali kesana sama saja berjalan menuju kiamat.


"Tolong lah kami Sya.. kami semua butuh pekerjaan ini Sya.. tolong bantu kami untuk membujuk Pak Ray untuk tidak memecat kami.. walaupun kami tidak tahu alasan Pak Ray tapi kami butuh kamu Syaha.." Mala memohon.


Syaha menarik nafas panjang. Ingin rasanya pergi jauh agar Syaha tidak perlu repot-repot bertemu dengan Ray. Demi hajat hidup orang banyak. Syaha akan menghadapi Ray.


"Ok Mal aku akan segera kesana.."


"Terima kasih Sya.." Suara Mala terdegar lega.


Tangan Syaha memijat pelipisnya pelan. Haruskah dia melakukannya? Syaha benar-benar tidak ingin lagi bertemu Ray.


Ah sial! Dasar Ray Lucas 'brengsek' tak waras.


Bersambung...