Love In Venice

Love In Venice
Episode 25 Kesepakatan



"Bawa kakakmu pergi sekarang dari sini.."


"Silahkan selesaikan masalah ini dengan kak Ray sendiri. Tugasku hanya mengantar baju.."


Suasana hening menyelimuti apartement kecil milik Syaha. Tia sudah pergi setengah jam lalu namun kehadiran sosok itu masih terngiang di otak Syaha. Jadi keluarga Ray tahu tentang aku.. Gumam Syaha dalam hati.


Bruk


Tubuh Syaha jatuh ke sofa. Hari ini kenapa berat sekali. Perlahan matanya terpejam.


-----


Aroma daun teh yang diseduh dengan air hangat mengusik tidur Syaha. Selain aroma teh, aroma roti panggang dengan selai stroberi dan bunyi susu yang dituang ke dalam gelas membuat mata Syaha terbuka lebar. Pandangannya kabur. Dengan susah payah Syaha bangkit dari tidurnya. Sofa, dia tertidur disofa semalam.


Selimut? Dalam ingatannya, Syaha langsung tertidur begitu saja. Siapa yang memakainkan selimut?


Suara dentingan piring yang bergesek satu sama lain mengusik telinganya. Sosok pria tinggi terlingat samar-samar. Mas Ray?


"Mas Ray? Mas Ray sudah pulang?" Syaha langsung berlari menuju dapur. Tubuhnya langsung melesat ke dalam pelukan Ray.


"Mas Ray kenapa baru pulang? Ais sudah lama nunggu Mas Ray.. Ais kangen Mas Ray.. hiks.. jangan tinggalkan Ais lagi.." Air mata mengalir begitu saja.


"Maafkan Mas Ray.. Mas juga rindu Ais.." Ray menjawab denga lembut. Tangannga membalas pelukan Syaha.


Wajah Syaha mendongak. Biasanya sosok itu tidak pernah menjawab ucapannya. Sosok itu biasanya diam, acuh dan tak menoleh padanya sama sekali. Apakah aku masih bermimpi? Syaha bertanya pada dirinya sendiri.


"Jangan menangis lagi.. Mas Ray akan selalu berada di samping Ais.. mau sarapan? Mas sudah mempersiapkan sarapan kesukaan Ais.."


Sarapan? Siapa dia? Lagi-lagi dia mengeluarkan suaranya. Tidak seperti biasanya.


Syaha sedang berperang dengan otaknya sendiri yang sepertinya belum loading karena bangun tidur.


"Astaga! Aku pasti sudah gila! Aku pasti mengigau sekarang!"


Syaha tersentak. Ya dia ingat sekarang, sosok itu nyata sekarang. Ray, Ray yang asli. Bukan Ray yang biasanya di impikan Syaha. Kesalahan.. ini kesalahan.. bodoh bodoh! Syaha memgutuk dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa melupakan jika Ray berada dirumahnya sejak kemarin.


"Duduklah.. aku membuat sarapan untukmu.." Ray tampak bisa mengendalikan situasi.


"Aku mandi dulu.."


Secepat kilat Syaha sudah berada di dalam kamar mandi. Dia masih mengutuk kecerobohannya pagi ini. Hampir saja pertahanannya runtuh. Memang bahaya terus dekat dengan Ray lagi. Syaha tak ingin terjebak dalam sentuhan Ray yang memabukkan. Masalah ini harus diselesaikan hari ini. Harus.


Sarapan yang tersaji di mejanya kali ini mengingatkan Syaha akan pagi-paginya di Venice. Tentu saja pagi bersama Ray, suaminya. Ray masih mengingat makanan kesukaan Syaha untuk sarapan.


Dimana orang sudah menyiapkan sarapan ini?


Dia ada di ujung ruangan ini. Berdiri dengan ponsel di telinganya menghadap ke luar jendela.


Mata Syaha menatap dalam sosok pria yang sejak kemarin memenuhi apartement kecilnya. Pria di dalam masa lalunya. Pria yang sangat dia cintai, sampai sekarang. Namun salah satu anggota tubuhnya menghianati. Mulut Syaha menolak mengatakan jika dia masih mencintai Ray. Jangan salahkan mulut yang tak mampu berucap, luka di masa lalu lah yang mendominasi saat ini. Tolong jangan salahkan.


"Suka dengan sarapannya?" Suara Ray membuyarkan lamunan Syaha.


"Hah?" Otak lemot Syaha masih loading.


"Suka dengan sarapannya kan?" Ulang Ray. Langkahnya mendekati Syaha.


"Oh.. belum kucoba.." Syaha memalingkan wajahnya kesembarang tempat.


"Duduklah.. makan sarapanmu.." Titah Ray.


Syaha duduk begitu saja mengikuti perintah Ray. Otaknya pagi ini benar-benar error.


Ray mengambil piring kemudian mengisinya dengan satu potong roti panggang kemudian menyodorkannya ke arah Syaha. Tak lupa satu gelas susu coklat juga dia dekatkan ke arah Syaha. Sedangkan dia mengambil teh hangat. Ray tak pernah sarapan pagi. Sarapan paginya hanya teh atau kopi hangat.


Situasi canggung membelenggu Syaha. Sepertinya hanya dia karena Ray terlihat biasa-biasa saja.


"Kapan kamu akan pergi dari sini?" Syaha buka suara.


"Di tempat makan tak boleh berbicara. Selesaikan dulu makanmu baru boleh bicara.."


Syaha melongo. Benar-benar sifat yang tak berubah. Diktator. Tapi itulah pesona Ray yang membuat Syaha jatuh cinta. Di dalam ucapan sinis dan dingin Ray tersembunyi perhatian yang luar biasa.


Buru-buru Syaha menghabiskan satu potong roti dan susu coklatnya.


"Aku sudah selesai.."


"Pelan-pelan nanti pencernaanmu bermasalah.." Uca Ray tenang.


"Dasar anak nakal.." Tutur Ray dengan senyum tipis.


"Kapan kamu akan pergi dari tempatku Tuan Lucas?"


"Kenapa kamu selalu mengusirku sih?" Ray mengangkat salah satu alisnya.


"Ini rumahku.. sudah hakku menolak tamu.."


"Tapi aku bukan tamu.. aku ini suamimu.."


Mata Syaha melotot. Lagi-lagi kesabarannya diuji.


"Baiklah.. perdebatan kita sepertinya tak akan ada habisnya.." Syaha menarik nafas sejenak. "Apa maumu?" Syaha menyerah. Perdebatan ini haru segera diakhiri.


"Kembalilah padaku.. itu mauku.." Jawab Ray datar.


Wajah Ray terlihat sudah sehat. Dia juga sudah memakai baju kerja rapi.


"Aku sudah menjawabnya. Tidak!" Jawab Syaha tegas.


"Memang keras kepala.."


"Apa maksudmu?"


"Ok begini saja. Kalau memang belum mau kembali bersama bagaimana kalau Ais kembali bekerja? Aku akan keluar dari sini kalau Ais mau kembali bekerja di Lucas.."


Dahi Syaha mengernyit.


"Tidak.."


"Kalau begitu aku akan tetap berada disini.. silahkan saja kamu mengusirku. Kamu juga boleh menelpon polisi.. tentu usahamu itu akan sia-sia.."


"Kamu!!!" Suara Syaha menggelegar.


"Jangan teriak-teriak. Telingaku sakit.." Ray pura-pura meringis.


"Kamu keterlaluan.. apakah kamu tidak sibuk sampai harus memperdulikan karyawan yang sudah mengundurkan diri?"


"Aku sedang memperdulikan istriku kok.."


"Diam!" Lagi-lagi suara Syaha menggelegar.


"Ais.. sudah ku bilang jangan berteriak.."


Syaha diam. Nafasnya terengah. Pria di depannya ini memang luar biasa keras kepala.


"Jadi mau kan bekerja lagi di Lucas?"


"Kalau aku mau kamu mau berjanji satu hal?"


"Apa?"


"Jangan ganggu hidupku lagi.."


"Ga janji.."


"Kalau gitu aku ga mau kerja kerja di Lucas lagi.."


"Ok.. berarti aku akan tetap disini. Aku bisa memindahkan meja kerjaku kesini.. aku bosnya Lucas. Bos tak harus datang ke kantor.."


Syaha geram setengah mati.


"Baiklah aku akan kembali kerja di Lucas. Puas kamu.." Syaha menyerah. Perdebatan ini tak bisa dia menangkan. Aura mengintimidasi Ray menangkap tubuh Syaha yang kecil.


"Anak baik.." Ray tersenyum puas. "Ayo berangkat kerja bareng.." Ray bangkit dari duduknya.


"Tidak. Aku belum bisa berangkat kerja hari ini. Mungkin minggu depan.."


"Mau ke Bandung?"


Syaha mengangguk.


"Ok. Aku beri waktu satu minggu. Kalau minggu depan kamu tidak muncul aku akan mencarimu. Jangan berpikiran untuk kabur Aisyaha.. sampai ke ujung dunia pun aku akan mengejarmu.."


Bersambung..