Love In Venice

Love In Venice
Episode 28 Trio Kwekkwek



Syaha menatap nanar layar komputernya yang masih menyala. Tidak ada kerjaan bisa mengakibatkan depresi ternyata. Banyak kerjaan salah, tidak aja kerjaan juga salah. Dasar manusia.


"Syaha makan siang yuk.."


Suara Mala membuat Syaha menoleh.


"Yuk.."


Karena asyik melamun Syaha sampai tak sadar jika sudah waktunya makan siang.


"Makan dimana Mal?"


"Nasi padang sebelah kantor yuk.. lama banget kita ga makan bareng.." Ajak Mala.


Suasana seperti inilah yang diinginkan Syaha. Hidupnya kembali normal. Hanya Mala yang memperlakukan Syaha seperti biasanya.


"Okay.. yuk.."


Syaha dan Mala segera turun menggunakan lift sambil mengobrol ringan. Divisi design ada di lantai dua, sedangkan lantai satu ada divisi produksi. Lantai paling atas tentu saja singgasana raja Lucas atau kursi CEO.


"Sya boleh tanya sesuatu ga?"


Syaha tahu arah pertanyaan Mala.


"Boleh Mal.. tanyakan apapun yang ada di kepalamu. Karena kita teman aku akan menjawab jujur.. karena kabar yang beredar itu ya?" Jelas Syaha.


"Iya.. aku hanya penasaran sih Sya.." Jawab Mala. "Kamu beneran istrinya CEO?"


"Siapa sih yang bilang aku istrinya CEO mulut ember banget. Emang dia menghadiri pernikahan kami.."


Maksud Syaha dengan kami adalah dia dan Ray.


"Beritanya dari mulut ke mulut Sya. Katanya dia lihat kamu berlutut di hadapan Pak Ray terus katanya kamu bilang kamu pernah mengandung anaknya dan kamu mengembalikan sebuah cincin ke Pak Ray.. itu sih berita yang aku dengar.."


"Untuk masalah itu sih benar Mal.. tapi aku bukan istrinya kok.. hubungan kita sudah lama berakhir dan itu hanya masa lalu.." Syaha membenarkan kabar yang di dengar Mala.


"Jadi itu benar Sya? Kalian pacaran atau bagaimana?" Mata Mala mengkilat. Rasa penasaran menjalari tubuhnya.


"Huft.. aku tak mau mengungkit masa lalu sebenarnya. Tapi ini hanya demi kamu Mal, kamu akan menjaga rahasia kan?"


"Pasti Sya.. mana mungkin aku membocorkan rahasia temanku sendiri.."


"Kami pernah menikah. Bukan menikah resmi sebenarnya, kami hanya mengucap janji di hadapan Tuhan. Itu terjadi lima tahun lalu di Venice. Ketika aku kuliah design disana karena beasiswa. Aku bertemu dengan dia di acara Kantor Keduataan Indonesia. Aku tidak tahu asal usulnya, yang aku tahu dia bekerja di Kantor Kedutaan. Sampai tiga bulan kemudian dia tiba-tiba menghilang setelah ijin ke London karena suatu urusan. Semuanya terjadi begitu cepat Mal, sampai dia pulang untuk mengucapkan perpisahan. Aku mengandung anaknya bulan berikutnya, aku terlambat mengetahuinya. Saking senangnya aku mencari-carinya sampai aku tak memikirkan kesehatanku dan aku keguguran.." Syaha menarik nafas dalam. "Sebutan apa yang pantas untuk hubungan kami Mal?"


Mala memeluk tubuh Syaha. Dia ikut simpati.


"Maaf Sya aku tidak tahu.."


"Aku juga tidak tahu kalau dia pemilik perusahaan ini. Aku dulu bodoh karena mempercayainya.. aku tertipu Mal.."


"Sepertinya Pak Ray ingin kembali padamu Sya.. apa dia sudah meminta maaf?"


"Sudah. Aku sudah memaafkannya. Tapi untuk kembali lagi seperti dulu.. aku tidak bisa Mal. Aku tidak ingin mengulang kesalahan kedua kalinya.."


"Semoga kamu membuat keputusan yang baik Sya.. aku akan selalu mendukungmu.."


"Thanks Mal.."


Ting


Pintu lift terbuka. Di depan pintu berdiri tiga perempuan dari divisi produksi yang terkenal dengan nama Trio Kwekwek.


Fyi, di Lucas Company senioritasnya tinggi. Tertulis diperaturan jika junior harus menyapa senior ketika bertemu di dalam maupun di luar kantor. "Mas" dan "Mbak" adalah panggilan yang disepakati di perusahaan.


"Kamu Syaha dari divisi design ya?"


Langkah kaki Syaha berhenti. "Iya Mbak.."


"Oh kamu toh.." Ucap salah satu dari mereka.


"Iya Mbak saya.." Tubuh Syaha mematung didepan lift. Mala ada disampingnya.


"Kami permisi ya Mbak.. kami mau makan siang.." Mala menarik tangan Syaha cepat. Syaha tak paham maksud tarikan tangan Mala. Hingga tangan dari belakang menariknya paksa.


Itu bukan tangan Mala. Tangan itu milik salah satu Trio Kwekkwek. Syaha tersentak kaget.


"Ada apa Mbak?" Tanya Syaha.


"Kamu yang menggoda Pak Ray itu kan?"


Lala Elisha. Syaha bisa membaca nama perempuan yang menyentak tangannya tadi. Lala juga meneriaki Syaha.


"Bukan Mbak.. aku tidak pernah menggoda Pak Ray.." Jawab Syaha tegas.


"Dasar pembohong. Semua orang tahu kejadian di lobi satu minggu lalu.. mau mengelak apa lagi kamu.."


Tubuh Syaha menegang di sentak Lala.


"Dasar perempuan jalang.." Dua teman Lala ikut meneriaki Syaha.


"Apa urusan kalian menghakimi Syaha?" Mala maju menghadang tiga perempuan itu.


"Jangan ikut campur.." Lala mendorong tubuh Mala hingga tersungkur.


"Mala.." Syaha terkesiap melihat Mala jatuh di bawah kakinya. "Apa yang kalian lakukan pada temanku.." Amarah Syaha terbit.


"Salah dia ikut campur.."


"Memang apa masalah kita? Apa tidak saling kenal.." Mata Syaha menyala merah.


"Jelas kita punya masalah. Kamu berani-beraninya menggoda Pak Ray kami.."


"Pak Ray kami? Maaf saya ga ada hubungan apa-apa sama kalian.." Syaha mengacuhkan mereka kemudian menghampiri Mala. Membantu Mala berdiri.


Untung saja lift berada di pojok ruangan dan kebetulan saat ini jam makan siang jadi tidak ada pegawai yang menggunakan lift.


"Dasar wanita jalang.."


Lala mendorong tubuh Syaha hingga tersungkur.


Brak


Kepala Syaha terbentur di lantai.


"Ah.." Celoteh Syaha pelan hingga pandangannya kabur.


"Sya.. Syaha.." Mala panik melihat Syaha pingsan.


"Apa yang terjadi disini?"


Bersambung..