
Kedekatan Syaha dengan Mas Ray ternyata mengundang kecemburuan dari para wanita yang menyukai Mas Ray. Mereka bahkan secara terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya di muka umum. Tapi lama kelamaan sikap mereka semakin brutal. Jika hanya nyinyiran Syaha bisa terima, dia sudah biasa dengan cemoohan orang, tapi ketidaksukaan mereka padanya semakin brutal. Contohnya saja hari kamis minggu lalu, mereka dengan sengaja meninggalkan Syaha dan Anna di panti jompo ST. Elizabeth. Mereka beralasan ada barang yang tertinggal di dalam dan mereka menyuruh Syaha dan Anna mengambilnya, ketika kembali ke titik kumpul ternyata mereka meninggalkan Syaha dan Anna dengan bus yang mengantar mereka kesini. Syaha dan Anna baru di Venesia, mereka jelas tidak tahu arah pulang.
Di tengah kebingungan mereka datanglah malaikat penyelamat, Mas Ray.
“Hai.. kalian belum pulang?” Suara rupawan Mas Ray mengagetkan Syaha dan Anna.
“Kami ditinggal Mas..” Jawab Anna polos.
“Loh kok bisa? Kalian ga koordinasi dengan teman satu bus?”
Syaha dan Anna geleng kepala. Bukannya tidak koordinasi, tapi sengaja ditinggal.
“Ya udah kalian aku antar pulang ya.. tunggu disini sebentar, aku ambil mobilku dulu di perkiran belakang..” Titah Mas Ray berlari meninggalkan Syaha dan Anna.
Syaha dan Anna saling tatap, bebepa menit kemudian mereka tertawa bersama.
“Sya.. mimpi semalam bisa dianter pulang sama Mas Ray..” Celetuk Anna.
“Aku juga Ann.. kamu tau ga, jantungku tadi berdetak ga beraturan.. sengsara membawa nikmat ini namanya..” Syaha berlonjak saking senangnya.
Di dalam mobil diam lebih mendominasi. Bukannya Syaha kehilangan ksifat riangnya tapi dia sedang sibuk menata jantungnya yang dari tadi tidak karuan detaknya. Syaha duduk di depan sebelah Mas Ray, sedangkan Anna duduk di jok belakang. Entahlah.. itu terjadi secara kebetulan. Jika ini takdir dari Tuhan, Syaha sungguh berterima kasih padaNya.
“Ais.. berapa bulan lagi kamu di Venesia?” Mas Ray buka suara.
“Sekitar 9-10 bulan lagi Mas..” Jawab Syaha pelan.
“Sebentar lagi dong.. sudah jalan kemana aja?” Tanya Mas Ray menoleh kearahnya kemudian fokus kembali pada kemudi.
“Belum kemana-mana..” Jawab Syaha jujur. Dia memang belum kemana-mana semenjak datang di Venesia tiga bulan lalu. Tugas kuliahnya menumpuk bak bukit barisan di Sumatera. Tidak ada waktu sama sekali buat jalan-jalan.
“Kok bisa? Venesia tuh indah loh.. kita bisa naik gondola atau sekedar kasih makan burung di alun-alun Venesia.. rugi kalau ga prnah coba..” Jelas Mas Ray.
“Mau aku ajak jalan-jalan keliling Venesia minggu ini?” Ajak Mas Ray.
Apa? Hah? What? Mas Ray ngajak aku keluar besok minggu? OMG.. aku lagi ga mimpi kan?
“Boleh mas.. aku mau..” Jawab Syaha tanpa basa-basi. Sudah hilang urat malu Syaha di depan Mas Ray. Kenapa harus malu-malu jika pria yang dia cintai memberikan peluang, sikat!
“Ok.. aku akan menjemputmu minggu jam 10 pagi di asramamu..” Titah Mas Ray tersenyum pada Syaha.
“Anna juga diajak Mas?” Tanya Syaha ragu-ragu, secara di dalam mobil Mas Ray ada dua gadis. Sangat tidak etis jika cuma Syaha yang ikut, sedangkan Anna juga mendengar rencananya dan Mas Ray.
“Kalian pergi berdua aja Sya.. minggu pagi aku ada kelas diskusi..” Jawaban Anna inilah yang diharapkan Syaha. Anna benar-benar peka. Syaha melirik Anna kemudian bergumam ‘terima kasih’. Anna membalasnya dengan acungan jempol. Nice Ann.
“Ok. Jangan lupa minggu pagi ya.. jam 10..” Ulang Mas Ray.
“Okay Mas..”
-----
“Cie yang berbunga-bunga..” Goda Anna pada Syaha setelah mereka masuk kamar.
“Besok minggu aku kencan sama Mas Ray An.. berasa mimpi tau ga sih..” Tutur Syaha merebahkan diri di kasur.
“Sukses ya Sya.. aku akan selalu mendukungmu..” Ucap Anna ikut merebahkan tubuhnya di kasur.
Hari ini sungguh panjang untuk Syaha. Jika Tuhan sudah berhendak, tidak ada yang tidak mungkin. Musibah membawa berkah, itulah judul untuk hari ini.
Bersambung...