Love In Venice

Love In Venice
Episode 29 Melting



"Apa yang terjadi disini?"


Suara Ray menggelegar.


"Pak Ray.." Suara tiga perempuan rese tadi bersamaan. Meraka sangat terkejut.


"Sya bangun Sya.. kamu baik-baik aja kan Sya.." Suara Mala terisak.


Tubuh Syaha tergeletak begitu saja di atas lantai. Dahinya berdarah. Dia tak sadarkan diri. Suara isakan Mala yang keras tak mampu membangunkannya.


"Ais.." Hati Ray tersentak melihat Syaha tak sadarkan diri. "Apa yang kalian perbuat pada istriku.." Suara Ray menyembur tiga perempuan tadi.


Aura mematikan menguar dari tubuh Ray. Siapapun tak boleh mengganggu miliknya, apalagi melukainya. Mata Ray menyala merah. Amarah menguasai seluruh jiwanya.


Dengan sekali tarikan, tubuh Syaha sudah berada di dalam gendongan Ray.


"Urus tiga perempuan itu Dion.. pastikan aku tidak melihatnya lagi besok pagi.." Ucap Ray meninggalkan mereka yang masih tercengang.


"Baik Pak.." Jawab Dion.


Langkah Ray melebar menuju mobilnya yang sudah siap di depan lobi.


-----


Berat sekali rasanya untuk bangun. Kepala pun terasa nyeri. Dimana ini? Bola mata Syaha berusaha menyusaikan cahaya lampu yang dia lihat pertama kali ketika matanya terbuka. Ruangan dengan cat dinding biru pucat, warna kesukaannya. Kamar yang sangat luas dan kasur yang terasa nyaman sekali.


Apakah aku berada disurga? Apakah aku sudah mati? Apa yang terjadi padaku hingga aku berada disini? Gumam Syaha dalam hati.


"Panggil dokter, Nona sudah bangun.."


Suara sayup terdengar dari kejauhan. Syaha menoleh. Bebarapa gadis muda berseragam sama menghampiri dirinya.


"Nona, apakah Nona baik-baik saja?"


Syaha bisa mendengarnya. Tapi tubuhnya sangat lemah sekali. Anggukan pelan menjadi alternatif jawaban.


"Cepat panggil Tuan.. Nona sudah sadar.."


Mata Syaha kembali terpejam. Tubuhnya seperti dihisap kantuk.


Ah aku masih disini. Dimana sebenarnya ini? Aroma ruangan varian vanila kesukaanku. Warna biru muda ini juga kesukaanku. Benarkah ini surga?


Mata Syaha mengerjap beberapa kali. Pandangannya masih kabur. Dengan susah payah dia bangun dari tidurnya. Kepalanya terasa nyeri sekali. Saking nyerinya hingga dia tak kuat menegakkan kepalanya. Untung saja kepala ranjang sangat empuk. Syaha menyandarkan tubuhnya disana.


Kamar yang ukurannya sama dengan apartemetnya ini tertata dengan rapi. Perabot yang digunakan terlihat sangat mewah. Pandangan Syaha terhenti pada meja panjang di dekat kasur. Banyak bingkai dengan segala ukuran berdiri sejajar. Di dalam bingkai itu ada foto dengan banyak momen. Syaha kenal orang di dalam foto itu, dirinya sendiri.


Syaha tersenyum tipis. Benarkah ini di surga? Berarti aku sudah mati.. Syaha termenung.


Ceklek


Bunyi pintu yang dibuka tak membuyarkan lamunan Syaha. Suara lembut membuatnya menoleh.


"Nona sudah bangun? Nona baik-baik saja?"


"Kamu siapa?"


"Saya pelayan disini Nona.."


"Aku dimana ini?"


"Di kamar Tuan Besar, Nona.." Jawab pelayan itu polos.


"Tuan?"


"Tuan sebentar lagi pulang Nona.. apakah Nona mau aku siapkan air untuk mandi.."


Syaha mengangguk. Dia memang butuh mandi. Tubuhnya lengket sekali. Entah berapa lama dia tidur.


Setelah kepergian pelayan itu Syaha memutar otaknya. Tuan Besar? Berarti aku belum mati. Apa yang terjadi padaku sampai aku bisa disini? Siapa Tuan Besar Itu?


Otak Syaha tak mampu diajak berpikir. Tubuhnya sangat lemah sekali.


Syaha kembali termenung. Dia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya sebelum berada di tempat seperti surga ini. Gagal. Kepalanya terasa nyeri sekali. Tangannya tak sengaja menyentuh dahi yang teluka.


"Ahh.. apa yang terjadi.." Syaha memegang bekas luka yang sudah kering tadi.


"Hei.. bagaimana keadaanmu? Baik?"


Ray berdiri diambang pintu yang dibiarkan terbuka oleh pelayan tadi. Setelan jas dan kemeja yang berwarna senada menghiasi tubuh atletisnya.


"Kenapa kamu bisa ada disini?" Tanya Syaha pelan.


"Ini rumahku. Tentu saja aku berhak ada disini sayang.." Ray mendekat kemudian duduk ditepian ranjang. "Kamu baik-baik saja kan?"


Syaha mengangguk. Aroma greentea tercium samar. Wangi parfum yang sama seperti lima tahun lalu. Pertahanan Syaha goyah. Ingin sekali dia memeluk Ray.


"Apa kamu bisa menjelaskan kenapa aku bisa ada disini?" Tubuh Syaha sedang lemah sekarang. Dia tak mungkin berdebat dengan Ray.


"Kalau aku tahu tidak mungkin aku bertanya sama kamu.."


"Kamu jatuh kemudian pingsan. Dahimu terluka.."


"Kenapa aku bisa terjatuh?"


"Haruskah kamu menanyakan itu? Aku tidak mau mengingat hal itu lagi. Betapa kagetny aku melihat kamu pingsan Ais.. kalau kamu dijahati orang atau dalam bahaya kenapa kamu tidak teriak? Memang kamu siapa berani berhadapan satu lawan tiga?" Ray menatap Syaha yang tampak bingung.


"Satu lawan tiga?" Syaha masih berusaha mengingat. "Oh iya.. tiga orang dari divisi produksi menghadang aku dan Mala di depan lift.." Syaha mengingatnya. "Bagaimana keadaan Mala?"


"Hei khawatirkan dirimu sendiri. Kamu pingsan dan baru sadar satu hari kemudian.." Ray meninggikan suaranya.


"Dia temanku. Jelas aku khawatir padanya.."


"Dasar keras kepala.."


"Mala baik-baik saja kan?"


"Iya dia baik. Tadi pagi dia sudah masuk kantor. Aku sudah mendengar semua ceritanya dari temanmu itu. Dan aku juga sudah memecat tiga orang yang mencelakaimu.."


"Secepat itu?" Syaha terhenyak.


"Kenapa tidak? Dia melukaimu.." Jawab Ray tegas.


"Ckckckck.. bos mah bebas.." Syaha berdecak tak percaya.


"Tentu saja.."


"Kamu yang membawaku kesini?"


"Iya.. kamu tidak ingat?"


"Tidak.. yang aku ingat hanya sampai aku bertikai dengan mereka.."


Ray melongo.


"Terima kasih.."


"Untuk?" Hati Ray berdesir.


"Sudah menolongku.."


Tak bisa lagi berkata-kata, Ray terdiam.


"Nona airnya sudah siap untuk mandi.." Suara pelayan yang keluar dari kamar mandi memecah keheningan mereka.


"Maaf Tuan.. saya tidak tahu anda sudah pulang.."


"Tidak apa-apa.. kamu boleh pergi. Aku yang akan membantunya mandi.."


"Baik Tuan.." Pelayan itu berjalan menuju pintu.


"Tunggu.. bantu aku mandi. Aku tidak mau mandi ditungguin dia.." Syaha menunjuk Ray. Saat ini tubuhnya masih terasa lemah dan Syaha jelas tahu dia butuh bantuan untuk mandi. Tapi bukan Ray yang membantunya. Apa kata dunia?


Ray geram menerima penolakan.


"Maaf Nona.. tapi Tuan.." Pelayan itu takut melanjutkan ucapannya.


"Tolong bantu aku.." Syaha memohon.


Pelayan itu mengalihkan pandangannya ke arah Ray.


"Bantu dia.. dia tidak akan mau menuruti kata-kataku.." Ray bangkit dari duduknya kemudian mendekati Syaha. Tangannya terulur hendak mengangkat tubuh Syaha.


"Kan sudah ku bilang aku tidak mau sama kamu.." Protes Syaha.


"Aku akan membantumu sampai ke kamar mandi. Tubuhmu masih lemah Ais.. aku tidak mau kamu terluka lagi.." Jelas Ray tanpa persetujuan sudah mengangkat tubuh Syaha.


Tubuh Syaha mematung. Seolah kalau dia bergerak Ray akan menghilang. Matanya menatap mata biru milik Ray. Sungguh manik yang sangat indah. Semua yang melekat pada tubuh Ray adalah kesempurnaan.


"Hati-hati.. aku tidak mau dia terluka.." Ray menurunkan tubuh Syaha di pinggir bak mandi.


"Aku tunggu di luar ya.."


Cup


Kecupan kilat mendarat di kening Syaha.


Hah apa barusan Mas Ray menciumku? Syaha tersentak. Matanya melirik pelayan yang berdiri tak jauh darinya memalingkan wajahnya. Berarti benar jika Ray menciumnya. Ray juga mengkhawatirkan dia. Ray bersikap lembut padanya, sama seperti lima tahun lalu.


Aduh mati aku!


Bersambung...