
Siang ini cuaca Kota Venice sangat cerah. Secerah wajah Syaha yang nanti akan dijemput Ray kemudian mereka akan makan malam bersama. Di mata Syaha hari ini semua objek terlihat indah. Bahkan wajah dosen yang dianggap killer oleh sebagian mahasiswa dikelasnya terlihat seperti malaikat. Cinta memang membuat mata orang jadi buta.
Setiap kali mata Syaha mengerjap, hanya wajah Ray yang terlihat di pelupuk matanya. Sungguh luar biasa.
"Syaha.." Teriak Anna dari kejauhan.
Teman Syaha yang satu ini hobinya lari-lari dan hidupnya ga bisa santai. Syaha sudah berkali-kali mengingatkan Anna untuk menikmati hidupnya saat ini. Seperti tidak berlarian di koridor kampus. Karena tempat itu adalah tempat paling indah. Melewati lorong kampus kita seperti berada di taman bunga yang indah. Syaha sangat menyukainya. Saking kagumnya, Syaha akan memelankan langkahnya ketika berjalan menyusuri koridor kampus.
"Ann jangan berlarian.." Protes Syaha yang berjalan mendekati Anna. Anna berhenti sejenak karena kehabisan nafas setelah berlarian.
"Sudah ketemu Mas Nando?" Tanya Anna dengan siara tersengal.
"Belum.. kenapa?" Syaha bertanya balik.
"Tadi katanya dia mau menemuimu setelah aku cerita kamu jadian sama Mas Ray.." Jelas Anna. Suaranya sudah normal.
"Kamu cerita sama Mas Nando Ann?" Syaha setengah tak percaya.
"Iya maaf.. aku ga sengaja tadi.."
"Ga papa Ann, cepat atau lambat Mas Nando akan tahu kok.. tapi kenapa Mas Nando mencariku ya.."
"Entahlah.. katanya soal Mas Ray.. tapi Mas Nando tak mau cerita padaku.."
"Kenapa ya.."
"Syaha.. Anna!!" Suara bariton seorang pria terdengar jelas.
Sontak saja Syaha dan Anna menoleh.
"Mas Nando!" Ucap Syaha dan Anna bersamaan.
"Aku mencarimu kemana-mana.." Ucap Nando mendekati Syaha dan Anna.
"Kenapa mencariku Mas?" Jawab Syaha penasaran.
"Kita duduk dibangku taman.. aku akan menceritakan sesuatu tentang Mas Ray yang aku dengar dari kakakku.."
Mata Syaha seketika menyipit. Tentang Mas Ray? Apa itu?
-----
Sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang di jalanan Kota Venice. Tujuan mereka adalah tengah kota. Sebuah restoran terkenal adalah tempat yang akan mereka datangi. Senyum orang yang berada dibelakang kemudi tampak cerah, sedangkan orang yang berada disampingnya terlihat sangat murung.
"Ais.. kok diem aja.." Suara Ray memecah keheningan di dalam mobil.
"Boleh.. apa?" Jawab Ray dengan senyum yang cerah.
"Apa alasan Mas Ray ngajak aku pacaran? Apakah karena suka? Atau karena aku terlihat menyedihkan di mata Mas Ray? Atau aku sepertinya perempuan gampangan yang mudah digoda dengan uang?"
Deg
Hati Ray seperti tertusuk. Ray banting setir ke kiri untuk meminggrikan mobilnya di lajur pelan.
"Apa maksudmu?" Ray mengerutkan dahinya.
Syaha ragu sejenak.
"Aku dengar Mas Ray ketika di Inggris suka mempermainkan wanita. Walaupun sudah berkedatan dengan Mas Ray aku pasti takkan bisa mengenal Mas Ray atau menjadi dekat karena Mas Ray adalah orang yang misterius. Kemudian pergaulan Mas Ray adalah orang kalangan atas. Jadi kalau Mas Ray disini malah pacaran denganku berarti Mas Ray sedang main-main denganku.." Syaha menghirup udara pelan. "Aku hanya ingin memperjelas hubungan kita Mas.. kalau Mas Ray mengajakku pacaran karena alasan tadi aku lebih baik mundur Mas.. aku hanya orang biasa Mas.. tolong jangan permainkan aku.. aku tulus menerima Mas Ray karena aku menyukai Mas Ray sejak pertama kali bertemu di kantor Keduataan Mas.." Lanjutnya.
Tubuh Ray bergetar setelah mendengar penuturan Syaha. Darimana dia tahu kehidupan Ray di Inggris?
"Siapa yang mengatakan itu?"
"Seseorang Mas.. ingin rasanya tak mempercayainya.. tapi.. maafkan aku Mas.." Tanpa sadar air mata Syaha menetes begitu saja. Tak ada yang bisa dia lakukan. Melihat gaya hidup Ray saat ini, Syaha percaya jika Ray bukanlah orang biasa. Barang-barang yang Ray kenakan keluaran dari brand terkenal. Syaha tentu tahu karena dia adalah perancang aksesoris yang sudah mendalami ilmu fashion dunia.
"Jadi Ais percaya itu?" Ray mengehentikan mobilnya di pinggir jalan.
Syaha diam. Dia sibuk bergumul dengan pikirannya sendiri.
"Aku tanya sekali lagi.. siapa yang mengatakan itu?" Suara Ray meninggi. Darahnya mendidih.
Syaha lagi-lagi diam. Isaknya semakin keras.
"Kamu cinta sama Mas kan Ais?" Ucap Ray sedikit melunak. Mendengar isakan Syaha, hati Ray teriris.
Syaha mengangguk.
"Mas juga mencintai Syaha.." Kata itu meluncur begitu saja dari mulut Ray. Bahkan batin Ray sempat terkejut jika bibirnya sangat berani dari kata hatinya.
Diam. Lagi-lagi Syaha hanya diam. Ray yang melihat kediaman Syaha langsung menarik tubuh gadisnya ke dalam pelukannya.
"Please.. believe me.." Ucap Ray putus asa.
Ingin sekali Ray menceritakan hidupnya. Tapi dia bingung, harus darimana dia mulai bercerita. Ray takut jika Syaha tak mau menerima bahwa dia adalah orang yang melarikan diri dari keluarganya. Ray takut jika Syaha ternyata sama dengan orang-orang yang mau dekat dengannya karena uang. Ray takut jika dia jujur, Syaha akan menjauh darinya. Ray takut.. dia takut kehilangan Syaha.
Bersambung...