Love In Venice

Love In Venice
Episode 19 Pengakuan



Syaha memakai apa saja yang bisa dia pakai. Untuk apa tampil rapi? Toh dia datang ke Kantor Lucas bukan untuk bekerja melainkan untuk menemui CEO mereka yang sedang gila saat ini.


Apa maksud Ray melakukan ini? Apakah dia menyesa telah membuangku lima tahun laku. Dan kini dia menyadari jika dia cinta mati padaku? Syah bergidik ngeri dengan batinnya sendiri.


Tidak mungkin. Ingat perkataan dia lima tahun lalu Sya. Dia hanya bermain-main dengamu Aisyaha.. tolong jangan kegeeran! Timpal Syaha dalam hati.


Drrt drrt.


Syaha merogoh ponselnys di dalam tas kecil yang di bawa.


Anna is calling


"Halo Ann.. ada apa telpon jam segini.. tidak sabar ketemu aku ya.." Goda Syaha pada Anna yang diseberang telponnya.


"Ya Tuhan Sya.. kamu kemana aja.. aku telpon kamu dari tadi sibuk terus.." Suara Anna terlihat beda. Gadis yang terkenal kalum itu terdengar terbur-buru.


"Oh tadi temanku kantor telpon.. kenapa?"


"Gawat Sya.."


"Gawat apa?"


"Mas Nando sekarang ada di kantor Lucas.. katanya dia ingin bertemu Mas Ray.."


"Hah? Serius? Mas Nando tahu kalau dia sudah balik?" Dia merujuk kepada Ray.


"Maaf aku ga sengaja cerita kemarin.."


"Anna.. kamu.."


"Iya ya aku tahu kok aku salah. Makanya sekarang aku ada di bandara Sya. Kamu dimana? Aku akan ketempatmu.."


"Kamu ke Jakarta Ann? untuk apa?"


"Untuk meredakan emosi Mas Nando lah.. kami tahu kan ini semua karena aku. Jadi aku harus bertanggungjawab penuh.."


"Duh Ann aku jadi takut nih.. aku di depan kantor Lucas. Cepat kemari aku tunggu Ann.."


"Iya Sya.."


-----


Darah Nando terasa panas setelah mendengar cerita Anna jika Ray telah kembali dan ternyata dia adalah bos Syaha saat ini. Nando langsung mengumpat seluruh isi kebun binatang.


Pikir Nando si Ray itu perlu dihancurkan. Berani-berani pria itu kembali. Tak kan Nando biarkan Ray menyakiti Syaha lagi.


Nando mengambil penerbangan pagi-pagi dari Surabaya ke Jakarta. Kurang lebih satu jam mengudara. Nando langsung menuju kantor Lucas Company.


Ketika memasuki lobi, mata Nando langsung mengunci sasaran. Raya Narendra Mante. Bukan bukan, pria tidak lagi menggunakan nama belakang ibunya. Sekarang si brengsek itu menggunakan nama belakang ayahnya, Lucas.


"Raya Narendra!" Suara Nando menggelegar.


Ray yang tampak baru saja memasuki kantor sontak menoleh. Matanya menyipit melihat Nando yang berdiri tegak tak jauh dari pintu masuk. Ray bisa melihat dari kejauhan jika rahang Nando mengeras, tangannya mengepal kuat.


"Hai pria brengsek!" Sekali lagi suara Nando memenuhi lobi kantor Lucas Company Indonesia.


-----


Syaha menunggu kedatangan Anna dengan cemas. Dia terus berdoa semoga Nando tidak melakukan perbuatan yang gila.


"Syaha.." Teriak Anna setelah turun dari taxi.


"Anna.." Syaha balik berteriak.


"Yuk langsung kesana sebelum terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan disana.." Nafas Anna terengah.


Tanpa salam pertemuan yang pantas, Syaha dan Anna langsung berlari menuju kantor Lucas yang sudah terlihat di depan mata mereka.


Benar sekali dugaan mereka. Di lobi kantor terlihat sangat ramai. Beberapa satpam kantor tengah menahan tubuh Nando dan tak jauh dari situ Ray tersungkur dilantai dengan bibir yang berdarah.


"Astaga.." Anna langsung menutup mulutnya.


Ya.. Nando baru saja menonjok Ray. Dan itu membuat Syaha sedikit senang. Perbuatan yang tak pernah bisa dia lakukan sekarang di lakukan oleh Nando. Good job Mas Nando.. gumam Syaha pelan.


"Brengsek kau Ray.. sekali lagi kamu berani menyakiti Syaha.. aku tidak akan tinggal diam.." Racau Nando di tengah tubuh para satpam yang menghalangi dia mendekati Ray. Nando sudah berhasil meninju Ray satu kali.


"Kamu tidak akan pernah tahu apa yang Syaha alami ketika di Venice setelah kamu meninggalkan dia.. bahkan Syaha harus kehilangan bayi yang dia kandung.."


Cetarrrr


Bak disambar petir, tubuh Syaha langsung menegang. Kenyataan itu diungkit lagi. Rahasia mereka bertiga. Bukankah mereka sudah sepakat untuk tidak mengungkitnya lagi? Syaha sudah hampir bisa melupakan. Kenapa? Kenapa harus sekarang. Syaha tak pernah ingin Ray mengetahuinya. Tak ingin. Bahkan tak sudi.


Syaha melihat dengan jelas reaksi Ray yang terkejut mendengar ucapan Nando.


"Apa maksudmu Nando?" Ray bangkit. Tubuhnya tegap berdiri. Meskipun telah lewat lima tahun, tubuh Ray masih sama, menawan. Itulah kesalahan Syaha, jatuh ke dalam perangkap pesona Ray yang menyakitkan.


"Syaha.." Nando coba menjawab.


Tidak tidak. Nando tidak boleh mengungkapkan masa lalu Syaha yang menyedihkan itu lagi. Syaha tak sudi mendapat belas kasihan siapapun, termasuk Ray. Ini harus segera dihentikan.. ok Syaha mari akhiri rasa sakit selama lima tahun ini.. relakan.. lepaskan semuanya.. Suara hati Syaha menyentak-nyentak.


"Mas Nando cukup!" Suara Syaha menginterupsi perdebatan sengit Ray dan Nando.


"Sya.." Nando terkejut melihat Syaha dan Anna telah berdiri disamping kekacauan mereka.


"Tolong lepaskan teman saya Tuan Lucas. Sebagai gantinya saya yang akan menjelaskan semuanya.." Syaha memohon pada Ray dengan penuh hormat.


Ray mengernyitkan dahinya. "Lepaskan dia.." Titah Ray.


"Sya.. ayo pergi.. jangan pedulikan pria brengsek itu.." Tutur Nando yang sudah lepas dari tahanan para satpam Lucas Company.


"Mas Nando.. biarkan Syaha dan Mas Ray menyelesaikan masalah mereka.." Dengan suara lembut, Anna menarik tangan Nando agar sedikit menjauh dari Syaha dan Ray.


Hening. Suasana lobi mendadak sunyi senyap.


"Ikut aku ke dalam.." Suara Ray memecah keheningan.


"Tidak.. kita selesaikan disini saja.." Syaha menolak ajakan Ray.


Mata Ray menyipit mendengar ucapan Syaha.


"Ais.. ikut aku ke dalam.." Ray mengulang perintahnya.


Syaha tak bergeming.


Srakkk


Syaha duduk bersimpuh di kaki Ray. Tangannya mengeluarkan sesuatu dari dalam tas yang dia bawa.


Ray terkejut melihat Syaha duduk di lantai. Sontak saja dia berjongkok untuk meraih tubuh Syaha.


"Ais apa yang kamu la---" Ray tak sempat menyelsaikan kata-katanya.


"Mas Ray.." Panggil Syaha lembut sengan senyum dipaksakan. "Aku hanya ingin mengembalikan ini.." Syaha meletakkan cincin berlian di depannya.


Mata Ray menatap cincin itu nanar. Dia tahu cincin itu.


"Maafkan aku karena tidak segera mengembalikannya. Saat itu pikiranku kacau dan kamu menutup semua akses untuk menemuimu.." Suara Syaha bergetar menahan tangis.


"Aku sudah melupakanmu Mas.. seperti apa yang kamu suruh. Aku juga tidak mencarimu meski aku tahu jika setelah kepergianmu itu aku mengandung. Ya aku mengandung anak kita. Aku sempat berusaha mencarimu tapi usahaku sia-sia hingga aku tidak sadar jika kebodohanku itu telah merenggut nyawa kecil di dalam perutku.. Aku sudah merelakannya.. seperti aku merelakan kamu pergi Mas Ray.." Suara Syaha terdengar pelan. Senyum terus menghiasi wajahnya meskipun hatinya menjerit.


"Aku mohon tolong biarkan aku pergi. Jangan bawa orang lain ke dalam masa lalu kita Mas.. kita sudah selesai sejak lima tahun lalu. Aku sudah menganggapmu mati seperti janin itu.. anak kita Mas Ray.. aku sudah menepati janjiku untuk melupakanmu jadi saya mohon Tuan Raya Narendra Lucas, jangan menampakkan diri lagi di depan saya. Cincin yang saya kembalikan ini sebagai tanda jika pernikahan main-main kita dulu aku anggap berakhir.."


"Saya mohon undur diri Tuan Lucas. Senang bertemu dengan anda.."


Syaha bangkit kemudian berjalan mendekati Nando dan Anna tanpa menoleh. Semua sudah berakhir Sya.. kamu luar biasa.. Syaha masih berusaha menahan tangisnya.


Begitu melihat Anna yang meneteskan air mata menatap Syaha, pertahanan Syaha runtuh. Tangisnya pecah. Syaha langsung berlari ke dalam pelukan Anna. Mereka menangis bersama sejadi-jadinya. Mereka tak menghiraukan jika saat ini semua orang sedang memperhatikan. Tangan besar Nando seperti lima tahun lalu memeluk dua adik perempuannya yang sedang menangis. Mereka bertiga pergi meninggalkan lobi Lucas Company dengan tangisan dan pelukan.


Di sisi lain, tubuh Ray mematung. Hatinya seperti diremas-remas melihat Syaha menangis seperti itu. Dia sadar jika luka yang dia berikan ke Syaha sangat besar.


Bersambung...