Love In Venice

Love In Venice
Episode 13 Altar



Mata Ray terpejam. Hanya suara tangisan Syaha yang terdengar olehnya. Otaknya sedang memikirkan cara agar bisa keluar dari kekalutan yang menyelimuti mereka.


"Apakah tidak cukup dengan rasa cintaku ini sebagai bukti Ais?" Ucap Ray mengelus puncak kepala Syaha.  Matanya telah terbuka kembali. "Baiklah akan aku buktikan dengan caraku..." Lanjut Ray.


Ray segera melepas pelukannya. Dengan kecepatan sedang Ray melajukan mobilnya ke suatu tempat. Tangannya menggenggam erat tangan Syaha. Seolah tak ingin gadis itu meninggalkannya.


"Percuma jika aku menjelaskan panjang lebar tapi kamu tidak mempercayaiku.. akan aku buktikan dengan tindakan. Aku harap kamu tidak terkejut dengan apa yang akan aku lakukan Ais.. tidak ada jalan kembali untukmu.. cintaku takkan melepaskanmu.. ingat itu.."


-----


Sikap Ray sedikit kasar hari ini. Syaha tersentak kaget ketika tangannya ditarik paksa untuk keluar dari mobil dan berjalan mengikuti Ray dibelakangnya. Saking kagetnya Syaha sampai tak sadar jika dia saat ini sudah berada di depan Altar.


"Aku Ray, bersedia menjadi suami Aisyaha dalam keadaan sakit ataupun sehat, dalam senang ataupun duka, mulai dari sekarang sampai menutup mata.." Ray berteriak lantang. Amarahnya menggebu-gebu. Cintanya tak bisa dikendalikan. Saat ini yang Ray inginkan adalah kepercayaan Syaha, jika dia sungguh-sungguh mencintai Syaha.


Tubuh Syaha bak disambar petir. Suami? Syaha menatap lekat bola mata Ray yang tak bergetar sama sekali. Ray bersumpah dihadapan Tuhan untuk menjadi suaminya. Ya Tuhan.. ini nyata kan?


"Ais.. maukah kamu menjadi istriku?" Ray bersimpuh di kaki Syaha.


Syaha terhenyak. Otaknya masih mencerna kejadian yang terjadi begitu cepat ini.


"Ais.. Ais mau kan?" Ulang Ray tak sabar menunggu jawaban Syaha.


"Mas Ray serius?" Dengan segenap kekuatannya, Syaha mencoba untuk sadar dari kecepatan waktu.


"Tapi kan Mas.. aku.." Air mata Syaha tak bisa dibendung lagi.


"Sssttt.. tidak ada tapi-tapian.. manusia sama dimata Tuhan Ais.. aku dan kamu tak ada bedanya. Cinta telah menyatukan kita.. seperti apapun dirimu, aku menerimamu apa adanya.. aku harap kamu juga begitu.." Tutur Ray.


"Aku percaya padamu Mas.. aku mencintaimu.." Syaha berhambur ke dalam pelukan Ray. Ray yang tak siap di serang Syaha hampir saja terjerambab.


"Iya iya.. terima kasih mau percaya padaku.. berjanjilah dulu dihadapan Tuhan untuk menjadi istriku Ais sayang.."


Syaha mengangguk.


"Aku Aisyaha, bersedia menjadi istri ,Ray dalam keadaan sakit ataupun sehat, dalam senang ataupun duka, mulai dari sekarang sampai menutup mata.." Ucap Syaha mantap. Air matanya tak sanggup dia hentikan. Air mata kali ini bukan air mata kesedihan. Air mata ini adalah air mata bahagia.


"Sekarang kamu adalah istriku Ais.." Ray meraih pinggang Syaha kemudian mencium pipi Syaha.


Pipi Syaha langsung merona merah. Ini adalah ciuman Ray untuk pertama kalinya selama mereka bersama. Sekarang dia adalah istri dari Ray di hadapan Tuhan. Tentu saja Ray berhak melakukan itu padanya. Di hadapan Tuhan, semua yang melekat pada dirinya adalah milik Ray. Syaha sangat bahagia. Bahagia hingga tak mampu untuk bernafas.


Siapapun Ray.. bagaimana masa lalunya, Syaha berjanji tidak akan mempermasalahkannya. Ray adalah suaminya. Dia akan mempercayai suaminya. Syaha tidak akan membiarkan pikiran bodohnya menghancurkan pernikahan ini.


Bersambung...