
*From : My Husband
Mas kangen Ais.. pulang kuliah jam berapa? Mas jemput ya*..
Syaha tersenyum sendiri membaca pesan singkat dari suaminya.
Tiga bulan sudah berlalu sejak hari pernikahan mereka. Syaha menjalankan status barunya sebagai istri begitu juga Ray sebagai suami. Akhir pekan adalah hari paling dinantikan.
Mereka berdua sepakat untuk melupakan masa lalu masing-masing. Ray memang sudah menceritakan hidupnya meskipun tak semua. Dia menganggap hal itu tak perlu diceritakan pada Syaha, nyatanya sekarang cinta telah menenangkan hati mereka. Syaha cukup tahu jika dia bekerja di Kedutaan Indonesia dan mereka telah membuang masa lalu untuk hidup bersama di Venice. Selama saling cinta dan saling percaya, cobaan apapun pasti bisa di atasi. Itulah keyakinan Ray.
*To : My Husband
Ais juga kangen Mas Ray.. jemput jam 4 sore ya*..
Senyum dari bibir Syaha tersungging.
-----
"Mas.. Ais cinta Mas Ray.."
Racau Syaha ditengah-tengah aktivitas mereka bercinta. Desahan, lenguhan dan kata-kata cinta menyelimuti pergumulan nafsu mereka.
Hari ini bukan sabtu atau minggu biasa mereka bertemu. Tapi rasa rindu yang mendalam menjadi alasan utama mereka bergelung dengan nafsu yang menderu. Mereka saling mencium, memeluk dan bersatu dengan gelora yang sangat besar seolah ini adalah kesempartan terakhir mereka bercinta.
Pergulatan nafsu kali ini agak berbeda dengan hari biasanya. Syaha lebih provokatif dan agresif. Misalnya, sepanjang awal permainan Syaha yang mengambil alih. Biasanya gadis itu akan pasrah dibawah kendali Ray, dan setia menurut dengan keinginan Ray. Tapi kali ini berbeda, Syaha seperi orang lain. Benar-benar berbeda, Ray bisa merasakannya.
Syaha terkulai lemas setelah mencapai puncak permainan mereka. Tubuhnya lelah sekali. Sepanjang hari ini tubuhnya bergerak dengan berlebihan.
"Capek?" Suara Ray terdengar pelan.
Syaha mengangguk lemah.
"Tidurlah.. akan aku bangunkan beberapa jam lagi.." Ray menarik tubuh Syaha masuk ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap peluh keringat di dahi Syaha. Tubuh mereka merapat tanpa sehelai benangpun.
Suara nafas tak beraturan berganti menjadi dengkuran halus. Ray memandang lekat wajah istrinya. "All is well.. all is well Raya.." Suara hati Ray menjerit. Wajah polos Syaha membuat hatinya teriris. Mampukah dia meninggalkan istri tercintanya ini? Pikiran Ray melayang di kejadian pagi tadi.
"Mama..." Hati Ray meringis. Itu adalah suara ibunya, suara yang sangat dia kenal.
-----
Mobil Ray terparkir sempurna di halaman asrama Syaha. Hatinya kacau, begitu juga pikirannya.
"Ais.. Mas Ray harus ke London beberapa hari.." Ucap Ray ragu-ragu.
"Kok tiba-tiba Mas?" Raut wajah Syaha berubah.
"Tadi pagi Mas baru saja dapat telpon dari Harvard. Mereka meminta Mas Ray untuk mengisi seminar.." Bohong. Ray terpaksa berbohong. Tak mungkin dia berkata jujur. Jujur sama artinya kiamat untuk Ray. Dia tak ingin kehilangan apapun yang dia cintai di dunia ini.
"Oh.. berapa lama?" Tanya Syaha datar. Hatinya tak mau ditinggalkan Ray sebenarnya. Ingin sekali rasanya ikut.
"Ais kan harus kuliah.. lain kali Mas Ray akan mengajak Syaha setiap Mas bepergian.."
Syaha mengangguk.
"Hanya satu minggu. Setelah semuanya selesai Mas akan segera kembali ke Venice kok.. Syaha mau nunggu Mas pulang kan?"
"Iya Mas.. Ais akan menunggu Mas Ray.." Syaha melunak.
"Mas Ray cinta Ais.." Ray mengecup puncak kepala Syaha.
Entah kenapa hati Syaha berat sekali melihat suaminya pergi. Tangannya terus melambai hingga mobil Ray menghilang di persimangan jalan.
"Mas cepat pulang.."
Syaha tak tahu jika pertemuan ini adalah pertemuan terakhir mereka..
Bersambung...