
Rutin setiap kamis malam Syaha akan datang ke pertemuan di Kedutaan Indonesia bersama Anna dan Mas Nando. Kenapa? Karena hanya untuk memandang wajah Mas Ray yang begitu tampan paripurnah ciiinnn.. beuh hidungnya itu loh, Lee Min Hoo mah lewat. Yang paling Syaha suka adalah mata dan bibirnya, pas dilihat tuh kayak ada manis-manisnya gitu, sumpah ga bohong. Tidak ada seorang pun cewek yang menolak pesona Raya Narendra. Cowok ganteng, dewasa, lulusan S2 dan sekarang kerja di Kedutaan Indonesia. Dibayangkan pun ga masuk akal, secara ya diusia yang masih muda begitu dia sudah cemerlang. Dan Syaha, sangat terpesona olehnya. Tapi Syaha pun tahu diri, siapa dia. Syaha hanya seorang anak yatim piatu yang menghabiskan 15 tahun hidupnya di panti asuhan, tidak punya apa-apa, tidak ada keluarga yang mendukungnya, dia seorang diri dalam hidupnya, dan menginginkan seorang bulan diatas sana? Bermimpi pun Syaha tidak berani, dia cukup tahu posisinya. Mas Ray selalu dikelilingi oleh anak-anak orang ternama yang tengah kuliah di Venice. Apalah Syaha yang hanya remahan rengginang, perih hati Syaha jika menyadari kenyataan ini.
Anna pamit ke toilet, kemudian Mas Nando entah kemana. Katanya sih tadi Mas Nando ketemu sama temen kakaknya yang kerja di Kedutaan jadi dia ninggalin Syaha dan Anna.
Makanan yang disajikan di pertemuan kamis malam ini sangat tidak mengecewakan, Syaha kira malah sangat mewah. Banyak makanan khas Indonesia dan kue-kue tradisionalnya, dan semuanya cukup mengobati rasa rindu mereka pada tanah air Indonesia.
“Wah.. ada rendang..” Gumam Syaha lirih dengan mata yang berbinar. Dia memang tidak begitu suka makan daging, tapi Anna yang orang medan pasti akan senang bisa makan rendang. Secara mereka anak asrama untuk makan enak aja susah. Syaha berinisiatif mengambilkan rendang untuk Anna, Anna pasti suka.
Takkk
Sendok milik Syaha bertabrakan dengan sendok lain.
“Maaf.. silahkan duluan..” Ucap Syaha sambil mengangkat wajah.
Omaigaadddtttt... Mas Ray.. sendok yang bertabrakan dengan sendoknya adalah milik Mas Ray.. jantung Syaha langsung berdetak tak beraturan.
“Ladies first..” Suara Mas Ray lembut sekali. Syaha hampir pingsan mendengarnya.
Syaha pun langsung tersenyum manis, dia berikan senyum manis terbaiknya. “Terimakasih Mas..” Ucap Syaha lembut.
“Suka daging?”
“Suka sih.. tapi ini untuk temenku kok Mas.. dia suka sekali sama rendang.. orangnya lagi ke kamar mandi jadi aku ambilin buat dia..” Jelas Syaha singkat.
“Sama.. aku juga suka dengan daging..” Tutur Mas Ray menatap Syaha dengan tersenyum seraya mengambil satu potong daging rendang.
Astaga.. Ya Tuhan.. apa lagi ini? Disenyumin Mas Ray aja hati Syaha sudah berdebaran, lah ini malah dia bilang makanan kesukaannya, bolehkan Syaha kegeeran?
“Temanmu cewek apa cowok?”
“Cewek mas..” Jawab Syaha singkat. Suatu kehormatan banget dia bisa ngobrol sama mas Ray, ini adalah momen paling bahagia dalam hidupnya. Walaupun hanya ngobrol Syaha sudah melayang-layang di awan.
“Lah terus teman yang cowok itu?” Ucap mas Ray menunjuk Mas Nando yang sedang mengobrol dengan seseorang.
“Mas Nando?” Tanya Syaha singkat. Kok Mas Ray tahu ya kalau Syaha datang dengan Mas Nando. Mungkin saja Mas Ray memang kenal dengan semua orang disini.
“Jadi teman kakak Mas Nando itu Mas Ray ya?”
Mas Ray mengangguk sambil tersenyum pada Syaha.
Syaha mengutuk jantungnya yang berdetak tidak beraturan. Syaha pikir dia tidak punya riwayat jantung, lah ini kenapa jantung jadi ga stabil gini sih..
“Mas Nando teman Anna, Anna itu teman sekamar aku di asrama Mas.. jadi kita selalu berangkat bareng.. kita teman kok Mas.. nama grup kita ANS..” Syaha tertawa kecil menjelaskannya pada Mas Ray.
“ANS? Apa itu?” Mas Ray menuntut penjelasan lebih pada Syaha.
“Anna, Nando Syaha..” Jawab Syaha singkat.
“Jadi namamu Syaha?” Tanya Mas Ray lagi.
“Perkenalkan aku Aisyaha Mas.. biasa dipanggil Syaha..” Syaha memperkenalkan diri pada Mas Ray. Mas Ray tampak memperhatikannya dengan seksama.
“Aisyaha.. aku panggil Ais aja ya.. Syaha pasaran gitu.. biar spesial..” Tutur Mas Ray lagi-lagi tersenyum lebar pada Syaha.
Seketika pipi Syaha merasa panas. Senyuman Mas Ray membuat otaknya berpikir macam-macam.
“Sampai bertemu lagi Ais..” Mas Ray pamit pada Syaha masih dengan senyum lebarnya.
Ya Tuhan.. ya Tuhan!!!! Betapa beruntungnya Syaha hari ini. Ais? Biar spesial? Yes.. paling tidak Mas Ray tahu siapa namanya. Walaupun mungkin dia bukan tipe ceweknya, Syaha sudah cukup bahagia jika Mas Ray mau mengingat nama Syaha. Suka tidak harus diungkapkan, Syaha memilih menyukai Mas Ray dalam diam, dalam hatinya seorang.
“Hai.. kamu kenapa Sya, senyum-senyum sendiri? Kesambet ya?” Suara Anna mengagetkan Syaha dalam lamunan.
“Nothing..” Jawab Syaha singkat menatap Anna dengan senyum lebar.
Anna sedikit tergidik melihat Syaha. Dia mungkin mengira Syaha kesambet setan, tapi bodo amatlah.. suka-suka Anna.
Bersambung..