Love In Venice

Love In Venice
Episode 11 Ray



"Ais mau kan jadi pacar Mas Ray?"


-----


Seolah tak percaya dengan apa yang tadi dia dengar, Syaha mencubit pipinya keras.


"Awww.. sakit.." Ringisnya terdengar di seluruh kamar asramanya.


"Kenapa sih Sya cubit pipi segala? Pulang dari kencan otak kamu jadi ga waras.." Cibir Anna yang sedang berbaring santai di atas kasurnya.


"Kamu benar Ann, kayanyak aku memang lagi ga waras.. kamu pasti ga akan percaya dengan apa yang baru saja terjadi padaku.." Syaha langsung berhambur ke atas kasur Anna.


"Ada apa sih? Jangan bikin orang penasaran deh.."


"Dengar ya Ann.. dengar baik-baik.. aku ga akan mengulanginya lagi.."


"Apaan sih Sya.. penasaran nih... buruan.." Anna menegakkan badannya, dia sudah siap mendengar cerita Syaha.


"Mas Ray nembak aku tadi.." Bibir Syaha mengembang.


"Apa?!!" Suara teriakan Anna menggelegar.


"Ais mau kan jadi pacar Mas Ray? Dia bilang gitu Ann.. sumpah.."


Mata mereka saling pandang.


"Ahhhh!!!!" Syaha dan Anna teriak bersama.


"Iya Ann.. aku aja masih ga percaya.. berasa mimpi Ann.."


"Syaha selamat ya.. akhirnya Mas Ray sadar jika kamu mencintainya.. aku seneng banget Sya.. aku do'akan kalian langgeng ya Sya.." Jelas Anna dengan rona wajah bahagia.


"Aku yang harusnya terima kasih Ann, kamu adalah sahabat terbaik yang pernah aku punya.."


Syaha dan Anna saling berpelukan. Mereka berbagi tawa dan air mata bersama. Sahabat memang orang yang paling berharga di muka bumi ini.


-----


Hidup dalam pelarian bagai hidup di bawah cahaya gelap. Hidup dalam ketakutan suatu saat akan ketahuan. Jika tidak mengindar haruskah menerima takdir yang tidak kita inginkan? Atau bahkan dipaksakan untuk kita. Takdir yang sudah ditentukan sejak kita lahir hingga kita menutup mata. Takdir itulah yang membuat Ray muak. Apapun yang dia lakukan harus sesuai dengan aturan. Pakaian yang dia pakai, tutur bahasa yang diucapkan dan tingkah laku yang ditunjukkan harus sesuai denga aturan. Ya aturan, aturan dari ayahnya. Dengan dalih akan menjadi penerus ayahnya kelak, kehidupan Ray telah diatur dari dia membuka mata hingga menutupnya lagi. Andai saja dia terlahir sebagai perempuan seperti adiknya, Tiara, Ray mungkin bisa berkeliling dunia seperti adiknya saat ini. Namun sialnya dia lahir sebagai anak laki-laki pertama dari klan Lucas, pemilik kerajaan bisnis yang merajai dunia. Di dalam keluarganya, anak laki-lakilah yang memiliki derajat lebih tinggi, sedangkan perempuan tak ada artinya di mata mereka. Hal itu juga yang menjadi alasan kenapa Ray tak menyukai kehidupannya saat ini. Setiap hari melihat ibunya diperlakukan tidak adik oleh ayahnya, tak jauh beda dengan pelayan yang melayani majikannya. Tindakan melarikan diri ini dianggap Ray merupakan tindakan yang benar meskipun beresiko. Beberapa hari sebelum dia melarikan diri ke Venice, Ray telah mengabari ibunya dan adiknya. Mereka sangat mendukung rencana Ray, bahkan mereka secara sembunyi-sembunyi membantu Ray dengan merahasiakan keberadaan Ray.


Tak disangka selama masa pelariannya, Ray bertemu dengan seorang gadis yang menyadarkan dia akan sederhananya hidup ini. Dari matanya yang teduh Ray bisa melihat penderitaan yang amat sangat gadis itu. Hati Ray seperti disusupi rasa asing yang tak pernah ia kenal. Rasa ingin melihat senyumnya, ingin selalu dekat dan rasa ingin melindungi gadis itu. Ketika gadis itu memperkenalkan dirinya, jantung Ray berdetak tak karuan. Tubuhnya sulit dia kendalikan. Ray selalu ingin menarik tangan gadis itu ke dalam pelukannya kemudian membisikkan "Semua baik-baik saja sayang.. tenanglah..". Rasa itu semakin tak bisa dia tolak ketika mereka menghabiskan satu hari bersama mengelilingi Kota Venice. Ray merasa menikmati hidupnya. Kehidupan yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya bisa dia nikmati dengan bahagia. Ray sekarang sadar, jika rasa itu adalah kasih sayang, rasa cinta.


Tak ingin berpisah dengan gadis itu, juga tak ingin melepaskan. Ray ingin mempertahankan gadis itu disisinya. Hanya bersamanya Ray merasa hidup, merasa menjadi manusia biasa, bukan pewaris perusahaan yang bernama "Lucas" yang tidak dia inginkan.


"Ais mau kan jadi pacar Mas Ray?"


Kata ini menjadi kata paling favorit untuk Ray. Jantungnya hampir saja lepas dari dadanya ketika dengan tergesa-gesa dia mengatakannya. Ditambah lagi dengan reaksi dari gadis itu semakin membuat jantung Ray tak karuan. Dia takut akan ditolak, dia takut gadis itu tak menyukainya. Pikirannya berkecamuk saat itu. Namun semua dugaannya sirna ketika kepala gadis itu mengangguk. Wajahnya merah merona, dengan malu-malu gadis itu menerima pengakuannya. Bagaikan diguyur hujan saat kemarau, hati Ray membumbung tinggi saking bahagianya.


Dia berjanji akan membahagiakan gadis itu. Gadis itulah yang dia inginkan. Gadis itulah pelita hidupnya.


Ais.. Aisyaha namanya.


Bersambung...