
"Aku rasa kita harus bicara serius.." Syaha mengeraskan rahangnya. Dia harus segera mengusir pria dewasa yang sedang terbaring di ranjangnya.
"Ya aku setuju.."
Syaha duduk di sofa, diikuti Ray dibelakang dengan susah payah turun dari kasur.
"Aku tidak ingin masalah kita berlarut. Aku akan mendengarkan ceritamu. Setelah itu aku mohon segera tinggalkan tempat ini.." Syaha memulai pembicaraan.
Ray diam. Dia sedang menata kata-katanya.
"Sebelumnya maafkan Mas Ray Ais.." Ray buka suara.
"Aku sudah memaafkanmu sejak lama.." Jawab Syaha cepat.
"Mas Ray ingin kita kembali seperti dulu.. pernikahan kita belum berakhir kan Ais? Kita belum sepakat untuk bercerai.. Mas Ray cuma bilang kita harus berpisah, bukan bercerai.."
Egois. Ray sangat egois. Bisa-bisanya sekarang dia berpikir seperti itu? Pernikahan mereka memang belum terdaftar resmi tapi kata berpisah bukankah cukup mewakili 'cerai' dalam pernikahan resmi? Siapa saja akan mengartikan begitu. Tapi Ray menolak kenyataan itu setelah dia meninggalkan Syaha begitu saja. Egois.
Syaha diam. Sebaik mungkin Syaha bersikap anggun. Dia tak akan terpancing dengan kata-kata Ray. Tidak akan untuk sekarang. Dulu sudah cukup dia terhanyut dalam pesona memabukkan Ray.
"Maaf.. aku rasa kita takkan bisa duduk bersama dan berbicara seperti ini. Kamu meminta maafku kan? Aku sudah memaafkanmu.. jadi tolong pergilah. Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.."
Syaha bangkit dari duduknya. Tak baik untuk kesehatan jantungnya berdekatan dengan Ray. Meskipun Syaha sudah menetapkan hatinya tapi tetap saja, tubuhnya bereaksi lain jika dekat dengan Ray. Sungguh cinta untuk Ray masih ada di dalam bagian terdalam hatinya.
"Mas Ray ga ada pilihan lain Ais waktu itu.."
Syaha berhenti.
"Mama diancam ayah.. ayah menyakiti mama Ais.. bahkan ayah tak segan-segan menyakiti Tia juga. Mama dan adikku di kurung. Mereka dipaksa untuk membawa pulang aku ke London. Aku tak bisa melihat dua orang yang aku sayangi menderita.. tolong mengerti Mas Ray.. Mas Ray juga takut ayah akan menyakiti Ais.." Suara Ray putus asa.
Syaha masih diam.
"Mas Ray dipaksa bertunangan dengan Samantha sebagai ganti ayah tidak akan mengusik kehidupan Ais.. Tidak ada yang bisa Mas Ray lakukan saat itu selain meninggalkan Ais.."
Kenapa baru sekarang mengatakan hal itu? Kamu kira aku adalah gadis yang dengan mudah kamu buang kemudian kamu pungut lagi? Kamu anggap aku apa? Boneka? Mainan? Dulu aku yakin asalkan kita bersama semuanya akan baik-baik saja.
Ingin sekali Syaha meneriakkan isi hatinya. Tapi mulutnya menolak. Entah kenapa.
"Mas Ray tidak tahu jika kamu mengandung anak kita Ais.. sungguh Mas Ray tidak tahu.. jika Mas tahu.. Mas tidak akan meninggalkan Ais.. Mas Ray minta maaf Ais.. orang suruhan Mas Ray tidak mengatakan jika Ais pernah mengandung.." Aku Ray jujur.
"Maaf.. Mas Ray tak ingin kehilangan Ais.."
"Egois.. kamu egois Mas.." Untuk pertama kalinya Syaha memanggil Ray dengan panggilan Mas. Syaha tak mengira jika kata itu meluncur dari mulutnya begitu saja.
"Mas mencintai Ais.. Ais masih mencintai Mas kan?"
"Tidak!" Singkat padat dan jelas jawaban Syaha.
"Mas yakin Ais masih mencintai Mas.. cincin pernikahan kita tidak Ais buang.. itu sudah cukup menjadi bukti.." Raya ngotot.
"Hahaha.." Syaha tertawa getir. "Siapa kamu berani-beraninya mengambil kesimpulan begitu? Aku tidak membuangnya karena aku menghormati kamu sebagai mantan suami dan ayah dari bayi di dalam kandunganku saat itu. Kamu saja menutup akses untuk mencarimu. Dan sekarang dengan percaya diri kamu mengatakan aku masih mencintaimu? Dasar egois. Kamu kira aku sama dengan wanita yang selalu mengelilimu? Setelah kau campakkan aku begitu saja dan sekarang kamu memintaku untuk kembali? Jangan bercanda Tuan Lucas. Sudah kukatakan hubungan kita sudah berakhir lima tahun lalu. Aku bersyukur aku tidak melahirkan anak kita. Tuhan ternyata lebih menyayangiku. Tuhan tidak membiarkan benih dari orang brengsek seperti kamu lahir dari rahimku. Meskipun kamu mengetahuinya itu takkan mengubah apapun. Jangan berharap aku mau kembali padamu.."
Syaha berapi-api. Akhirnya apa yang selama ini ingin dia katakan pada Ray terwujud. Meskipun Ray mengetahuinya, itu takkan mengubah apapun. Itulah tekad Syaha.
"Tapi hatiku mengatakan kamu masih mencintaiku Ais.. ya kak? Mas Ray ga salah kan? Ais masih mencintai Mas Ray kan?"
"Tidak!" Syaha berteriak.
"Ais.. Mau kembali ke Mas Ray kan? Kita mulai dari awal lagi Ais.. kita sama mulai hidup seperti di Venice.. Ais mau kan?" Ucap Ray penuh permohonan.
"Pergi dari apartementku sekarang!" Amarah Syaha terbit.
"Kamu mengusir orang yang sedang sakit?" Ray tak mau kalah.
"Ya!"
"Aku tidak mau.. aku mau istirahat dulu. Aku akan pergi kalau sudah merasa sehat.." Ray berdiri kemudian berjalan ke arah kasur. Mengabaikan Syaha yang mematung dengan amarah menyala-nyala.
"Raya Narendra keluar dari tempatku sekarang!" Suara Syaha menggelegar.
Ray tak bergeming. Secepat kilat Ray menyelimuti tubuhnya kemudian pura-pura terpejam.
Strategi combo. Ray memanfaatkan sakitnya sekarang untuk tetap tinggal dengan Syaha. Kali ini tidak berhasil membujuk Syaha. Ray akan berusaha lagi besok, besok dan besok lagi. Benar ucapan Tia jika ini takkan mudah.
Bersambung...