Love In Venice

Love In Venice
Episode 27 Hah?



Untuk apa datang bekerja kalau tidak ada yang bisa dikerjakan. Sudah mau datang dengan sukarela malah diperlkukan seperti ini. Ngajak ribut nih orang..


"Siang Mbak Ira.." Sapa Syaha.


"Eh.. selamat siang." Jawab Ira gagap.


"Mmm.. Pak Ray nya ada ga mbak?"


"Baru aja keluar meeting. Ada perlu?"


"Sedikit Mbak.. ya udah deh nanti aja.."


"Tunggu aja di dalam.. paling juga ga lama kok Sya.. Pak Ray ga suka lama-lama di luar.." Jelas Ira.


"Ga deh.. ga penting-penting amat kok.." Pamit Syaha.


"Eh Sya tunggu.." Ira ragu-ragu.


"Iya Mbak ada apa?" Tanya Syaha polos.


"Ini karena aku mendengar desas-desus dikantor.. tapi sebelumnya maaf ya.."


Dahi Syaha mengernyit. Desas-desus? Ini pasti tengang dia. Firasat Syaha mengatakan begitu. Pantas saja ketika dia masuk kerja tadi, orang-orang memendangnya dengan intens. Bahkan teman kerja satu divisi juga tampak canggung dengannya, kecuali Mala sih. Apakah ini efek domino dari peristiwa di lobi kantor satu minggu lalu? Seingatnya tak banyak orang disana. Saat itu masih pagi. Wah mulut memang berbahaya. Syaha hampir saja melupakan hal itu.


"Desas desus? Apaan sih Mbak.. bikin penasaran aja.." Desak Syaha.


"Mmm.." Ira diam sejenak. "Apa benar kalau kamu istrinya Pak Ray?"


"Hah? Siapa yang bilang Mbak?" Syaha pura-pura terkejut.


"Ya para pegawai Sya.. kamu boleh minta tolong ga Sya?"


"Apa Mbak?"


"Kemarin aku membuat kesalahan. Aku menyinggung kabar itu di depan Pak Ray.. aku ga sengaja Sya.. aku cuma ngobrol aja sama Mas Dion, tapi Pak Ray dengar. Katanya kalau mulutku ga bisa dijaga aku akan dipecat.."


"Kabar itu jelas tidak benar Mbak.. pantas saja Pak Ray marah.. lah wong dia digosipin yang gak-gak sama pegawainya sendiri.." Syaha sewot. Jelas saja seorang CEO digosipkan kena skandal sama pegawai rendahan seperti dirinya.


"Tapi masalahnya bukan itu Sya.. Pak Ray marah karena aku tidak memanggil namamu dengan Ibu atau Nyonya Lucas.."


"Hah? Apa maksudnya Mbak? Itu yang bilang Pak Ray sendiri?"


"Iya.. kamu beneran istrinya Pak Ray kan Sya? Tolong bantu aku untuk bilang ke Pak Ray Sya.. kalau aku dipecat bagaimana aku membayar angsuran rumahku? Anakku masih balita Sya.. gaji suamiku pas-pasan.. tolong aku Sya..."


Kok Mbak Ira jadi curhat sih.. Suata batin Syaha.


"Cuma bilang Mbak Ira minta maaf kan?"


"Iya Sya.. tolong aku biar ga di pecat.."


"Ok akan aku coba Mbak bilang sama dia.." Tentu saja bukan bilang secara langsung, lewat pesan mungkin.


"Sya makasih ya.."


"Iya Mbak sama-sama.. dan aku klarifikasi ya Mbak.. aku bukan istrinya Pak CEO itu.." Syaha menekan kata 'bukan'


"Tapi Pak Ray mengakui kamu istrinya.." Protes Ira.


"Dia sedang halu Mbak.. halusinasi.." Timpal Syaha dengan ketus.


Ira terdiam tak percaya mendengar ucapan Syaha. Syaha memang beda level sama cewek-cewek yang mengidolakan Pak CEO. Ray sendiri yang mengakui Syaha istrinya, tapi Syaha membantahnya. Memang beda.


Syaha kembali turun keruangannya dengan pikiran yang berkecamuk di kepalanya. Ray sekarang tak malu-malu mengakui dirinya sebagai istri. Kenapa baru sekarang? Kemarin-kemarin kemana aja? Fiuh..


Ray sudah menabuh genderang perang kepada Syaha.


Berambung...