
Syaha tak beranjak dari apartementnya sama sekali. Ponsel pun tak dia aktifan. Ketakutan bertemu dengan Ray lagi menguasai dirinya. Untung saja dia punya persediaan makanan di kulkas. Setidaknya Syaha tidak akan kelaparan sampai besok pagi sebelum dia berangkat ke Bandung.
Rencananya kacau karena kedatangan Lucas 'brengsek' itu. Harusnya malam ini dia sudah berangkat ke Bandung. Terpaksa Syaha mengundurnya sampai besok dini hari. Syaha takut jika Ray masih menunggu di kuat. Ah menyebalkan.. Gumam Syaha.
-----
"Ok sudah siap semua.. yuk berangkat.." Syaha berbicara dengan dirinya sendiri.
Jam dinding menunjukkan pukul lima pagi. Syaha bergegas menyeret keluar kopernya.
Ceklek
Syaha mendorong pintunya. Tidak seperti biasanya, pintu itu terasa berat.
"Ais.."
"Astaga!" Syaha terhenyak ketika Ray muncul di balik pintunya.
"Akhirnya Ais membukakan pintu. Mas Ray nunggu Ais semalaman di luar.." Ucap Ray pelan.
"Kamu menunggu disini?" Tanya Ais setengah tak percaya.
"Mas Ray kan sudah kirim pesan ke Ais.. Ais sudah membacanya kan?"
"Sudah kuhapus.." Jawab Syaha cepat.
Raut wajah Ray berubah. Dahinya mengkerut.
"Tapi Mas Ray tetap menunggu Ais disini.."
"Apa yang kamu inginkan Tuan Lucas?" Kesabaran Syaha benar-benar diuji.
"Mas Ray cuma ingin mengatakan sesuatu.."
"Seperti?"
"Tentang kita lima tahun yang lalu di Venice.."
"Apa lagi yang perlu kita bicarakan? Semua sudah berakhir kan?"
"Bagiku belum Ais.."
"Bagiku sudah.."
"Tapi kan.."
"Bukankah anda yang meninggalkan saya Tuan Lucas? Akulah korbannya. Harusnya aku yang... ah sudahlah.. aku tidak ingin mengingat kejadian menyakitkan itu.."
"Tolong beri kesempatan pada Mas Ray Ais.."
Ray tak bergeming. Kepalanya berdenyut, nafasnya terasa panas. Pandangannya kabur dan setelah itu semua menjadi gelap.
----
Dia tidak berubah sama sekali. Bulu mata panjang yang lentik. Bibir merah serupa darah. Rahang yang keras tapi terlihat seksi. Pulas sekali tidurnya.. dulu wajah inilah yang aku lihat setiap hari. Wajah suamiku.. ah.. hatiku sakit jika mengingat itu. Kehilangan terbesar dalam hidupku kini berada di depan mataku. Aku harus bagaimana Tuhan? Kenapa kau beri cobaan yang begitu besar. Kalau saja bayi dalam kandunganku saat itu berhasil aku lahirkan, aku yakin dia akan mirip ayahnya. Ah.. lagi-lagi aku meracau.. apa lagi yang aku inginkan dari pria yang telah membuang kami.. aku dan bayiku. Tidak ada tempat lagi dihatiku untuknya. Hatiku telah mati saat dia meninggalkanku. Masalah kita telah berakhir lima tahun lalu.
-----
Ray terbangun dari mimpi panjangnya. Di dalam mimpi Ray seperti berjalan di lorong gelap tanpa ujung. Dia melihat cahaya di ujung, dan Ray berlari sekuat tenaga mengejarnya. Cahaya itu adalah Syaha, Syaha yang memakai gaun putih dengan cincin pernikahan di jari manisnya. Ketika Ray berhasil mendekat, dia melihat sisi bawah rok yang dikenakan Syaha berlumuran darah. Riasan wajah Syaha berantakan karena air matanya.
"Mas.. kamu tega meninggalkan kami.."
Ucap Syaha dalam mimpi Ray seraya memegang perutnya yang agak membuncit.
Ray terlonjak bangun seketika. Matanya mengerjap menyapu ruangan. Atap berwarna putih dengan sorot lampu yang menyilaukan pandangannya.
Ini bukan kamarnya. Dinding kamar Ray tak berwarna putih. Ray berusaha bangun dari tidurnya. Kepalanya terasa berat sekali.
"Sudah bangun?" Suara itu membuat Ray menoleh.
Ray diam. Antara percaya dan tidak. Syaha ada di depan matanya dengan gelas di genggaman tangannya. Betapa bahagainya hati Ray. Berarti sekarang dia ada di dalam apartement Syaha dan dia tidur dikasurnya.
"Minumlah.. kamu demam.. aku tidak punya nomor telpon sekretarismu dan aku tidak tahu sandi ponselmu.. ponselmu terus berbunyi, entah telpon dari siapa.." Jelas Syaha panjang lebar sembari menyodorkan gelas berisi air hangat.
Ray masih diam. Matanya menelusuri setiap jengkal tubuh Syaha. Tubuh yang sangat dia rindukan.
"Bagaimana keadaanmu? Baik-baik saja? Sepertinya kamu harus segera menghubungi sekretarismu atau istrimu kemudian ke dokter. Mungkin kamu kena flu.." Jelas Syaha.
"Kenapa tidak angkat telponku saja? Aku tak masalah kamu mengangkatnya.."
"Maaf aku tidak tertarik.." Syaha berjalan menjauhi Ray. Langkahnya pasti menuju dapur.
"Nomor sandi ponselku adalah hari pernikahan kita.."
Meskipun jauh tapi Syaha bisa mendengar dengan jelas ucapan Ray. Hati Syaha kembali teriris. Apa lagi ini? Sepertinga keputusannya untuk membawa masuk Ray ketika dia pingsan tadi adalah salah.
"Tuan jika anda sudah sehat tolong tinggalkan tempat ini. Saya harus segera berangkat ke Bandung.."
Syaha muncul dari balik pintu dapur.
Raut wajah Ray berubah. Dia bertekad tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Tidakkah kamu terlalu kejam pada orang yang sedang sakit Nona Aisyaha? Dan perlu kamu tahu aku belum punya istri.."
"Apa?" Syaha tergidik. Memang tak berubah. Sifat percaya dirinya tak berubah. Diam-diam hati Syaha berdesir.
Bersambung...