Love In Venice

Love In Venice
Episode 31 Menghilang



"Perpisahan adalah cara terbaik untuk menyadari sebuah kerinduan"


-----


Kericuhan di depan lift tempo hari menyisakan riak kecil. Hanya beberapa orang


saja yang mengetahui, terutama divisi design dan divisi produksi.


Keadahan Syaha sudah kembali baik. Hari ini pun dia sudah masuk kerja. Sepanjang perjalanan ke ruangannya, banyak pegawai yang memberinya hormat. Syaha bersikap bodo amat, entah gosip apa yang menyebar.


Status no job membunuh Syaha. Seharian hanya bengong, membosankan.


"Katanya Pak Ray ke luar negeri. Kursi CEO sedang kosong.."


Kabar burung berseliweran. Syaha masih bersikap bodo amat. Tapi hatinya berkata lain. Tiba-tiba ke luar negeri?


"Pak Ray ke luar negeri ya Sya? Apa kembali ke London? Para staff CEO bilang Pak Ray mungkin tidak kembali dalam waktu dekat.." Cicit Mala.


Syaha hanya diam mendengar celotehan Syaha. Drama Korea dan segelas thai tea matcha menenggelamkannya.


"Yaelah.. nonton apa sih Sya serius amat?" Protes Mala.


"Drama baru Ji Chang Wook lebih menggodaku dari pada kabar CEO itu.. emang kenapa sih kalau dia keluar negeri?" Ucap Syaha tanpa mengalihkan pandangannya ke Mala.


"Ya kenapa-kenapa lah Sya.. stock cowok ganteng di kantor ini berkurang satu Sya.."


"Ya ampun Mala.. mata kamu kayaknya bermasalah.." Syaha menoleh karena Mala ternyata penyuka Ray. Tidak ada bedanya dengan para pegawai perempuan di Lucas Company.


"Kamu tuh yang bermasalah.. ada cowok ganteng gitu malah dianggurin.."


"Terserah kamu deh Mal.."


"Enak jadi kamu ya Sya.. tiap hari bisa ketemu Pak Ray.. Pak Ray kalau dirumah gimana Sya? Dadanya kotak-kotak ga?" Cerocos Mala.


"Tiap hari? Maksud kamu?"


"Bukannya kamu tinggal di rumah Pak Ray sekarang?"


"Hah? Fitnah apalagi itu? Malaika.. pliss jangan ngawur.." Syaha terkesiap. Beberapa hari dia memang tinggal di rumah Ray saat tubuhnya masih lemah. Setelah itu Ray menepati janjinya untuk mengantar Syaha pulang.


"Pak Ray sendiri yang bilang.. ops.." Mala menutup mulutnya karena kaget sendiri.


Syaha melongo. Apa lagi ini?


"Dari mulut Lucas 'brengsek' itu? Mala apa yang kamu ketahui?" Dahi Syaha mengkerut. Ternyata ada banyak hal yang tidak dia tahu.


"Gini apa Mal? Buruan ah.." Syaha tak sabar. Tangannya menekan tombol pause keyboard komputernya.


"Sabar kenapa.. ini juga mau ngomong kok.." Celoteh Mala.


"Sehari setelah kamu pingsan di depan lift itu Pak Ray manggil aku ke ruangannya. Terus dia tanya apa yang terjadi. Aku cerita semua ke Pak Ray Sya.."


"Oh.." Syaha ber-oh ria.


"Terus aku tanya bagaimana keadaanmu.. Pak Ray bilang kamu sedang menjalani perwatan dirumahnya.."


"Jadi dari situ kamu menyimpulkan kalau aku tinggal di rumahnya?" Tanya Syaha sinis.


"Iya.." Jawab Mala polos.


"Aku disana cuma beberapa hari. Setelah aku sehat dia mengantar aku pulang kok.."


"Oh.. kalian sudah berbaikan ya?"


"Tidak akan pernah Mal.."


"Kenapa?"


Mata Syaha menyipit mendengar pertanyaan Mala. Semua orang sepertinya mendukung usaha Ray untuk kembali padanya. Ketika Syaha mengatakan 'tidak' mereka akan bertanya kenapa? Tidak bisa mengerikah mereka akan luka yang dipendam Syaha? Sakit hati yang dia tanggung lima tahun silam tak akan muda diobati.


"Aku capek menjawabnya Mal. Coba aku tanya sama kamu, kenapa aku harus menerima orang itu kembali?"


"Kamu ga tahu kalau Pak Ray tuh cinta banget sama kami Sya?"


"Ga.." Jelas Syaha tak berniat memperpanjang ucapannya.


"Semua orang di kantor ini tuh tahu Pak Ray cinta mati sama kamu Aisyaha.. pas kamu pingsan itu ya, Pak Ray besoknya langsung memanggil semua karyawan loh.. Pak Ray memberi ultimatum kepada siapapun yang berani menyentuhmu barang sehelai rambutpun mereka akan langsung di pecat.." Mala menirukan gaya Ray saat memberikan ultimatum.


Syaha diam. Khidmat mendengarkan Mala bercerita. Hatinya berdesir. Rasa yang lama dia lupakan kembali mencuat. Sosok Ray berkelebat di matanya.


"Pak Ray juga bilang dia ingin mendapatkan hatimu kembali makanya dia meminta bantuan kami semua untuk membantunya.. jika berhasil kami akan mendapatkan bonus.."


"Hah?" Pantas saja pagi tadi saat Syaha masuk kerja semua orang ramah padanya. Ternyata Ray sudah mengancam mereka.


Kelopak mata Mala mengedip. Semua yang dia katakan memang benar.


Bersambung..