Love In Venice

Love In Venice
Episode 7 Hipotesis



Tidak terasa sudah tiga bulan Syaha di Venice. Hari-hari selalu dia  lalui dengan baik. Kuliah, ngerjain tugas, diskusi, ke perpustakaan, ikut pertemuan kamis malam, semua dia lalui dengan bahagia. Karena memang kepergiannya ke Venice atas kehendak sendiri, jadi Syaha menjalaninya dengan suka cita.


Hari yang paling Syaha nanti adalah hari kamis. Rasanya dia sangat jatuh cinta dengan hari kamis. Apalagi menjelang malam hari, love love banget lah. Di hari kamis malam itu akan bertemu dengan orang yang sangat dia sukai, Mas Ray. Hubungan mereka cukup dekat menurut Syaha, ketika Syaha datang ke pertemuan Mas Ray pasti akan mengajak ngobrol. Dimulai dari ngobrol hal-hal kecil sampai kesukaan dan hobi mereka masing-masing. Dari obrolan itu Syaha jadi tahu jika Mas Ray tidak tinggal di Indonesia. Orang tua Mas Ray tinggal di Inggris, jadi Mas Ray ke Venice karena ingin mencoba hal yang baru. Walaupun hanya mengobrol Syaha sangat bersyukur, pasalnya dengan mengobrol dia bisa terus dekat dengan Mas Ray.


Beberapa kali Anna menanyakan pada Syaha alasan kok bisa ya dia dekat dengan Mas Ray? Syaha jawab simpel pada Anna.


“Karena rendang..”


Tapi Anna sama sekali tak percaya, dia malah menertawakan Syaha, Anna bilang Syaha mungkin menyantet Mas Ray. Soalnya Mas Ray itu di pertemuan kamis malam di Kedutaan Indonesia adalah orang yang sangat dingin dengan cewek. Dia tidak sembarangan mendekati cewek. Tapi dari pandangan Anna bahwa Mas Ray lah yang sering mendekati Syaha duluan kemudian mereka akan mengobrol sambil tertawa terbahak-bahak bersama.


“Sya.. aku rasa Mas Ray tuh suka sama kamu deh..” Ucap Anna pada Syaha ketika mereka sudah sampai di asrama.


“Mana mungkin Ann.. Mas Ray itu pasti seleranya tinggi.. tidak mungkin dia suka padaku..” Kelit Syaha.


Syaha juga senang jika itu kenyataan, tapi tidak mungkinlah.. Mas Ray bisa dapetin cewek yang jauh lebih baik darinya dengan mudah. Bahkan tidak perlu mencari, cewek-cewek itu pasti sudah ngantri duluan. Dan Syaha mungkin tidak masuk kategori.


“Tapi hati orang siapa yang tahu Sya.. aku taruhan ya.. Mas Ray itu pasti menyukaimu..” Anna masih kekeh dengan kesimpulannya.


“Ann.. aku tahu dirilah ya.. Mas Ray itu siapa dan Syaha itu siapa..” Syaha masih memberikan Anna jawaban yang realistis.


“Cinta itu tidak dipandang dari status Sya.. kalau saling nyaman dan suka.. kenapa ga?”


“Tidaklah Ann, aku tidak sepercaya diri itu. Aku tidak punya apa-apa yang bisa aku banggakan didepan Mas Ray.. walaupun aku sangat menyukainya.. aku memilih untuk menyukainya dengan caraku yang diam-diam..” Jelas Syaha pada Anna. Sorot mata Anna melemah, ada iba dihatinya untuk Syaha.


“Semoga Mas Ray bisa segera melihat rasa sukamu padanya Sya.. aku akan selalu mendukungmu..” Ucap Anna mengelus pundak Syaha pelan.


“Mas Ray jauh lebih pantas untuk orang yang lebih dariku Ann.. aku akan selalu mendoakan kebahagiannya..” Syaha tersenyum lebar. Dia mencoba menipu dirinya jika tidak harus mendapatkan Mas Ray ketika menyukainya. Tapi rasa itu selalu menusuk hatinya, akan semakin sakit ketika semakin Syaha menepisnya.


----


“Halo?” Sapa Syaha pada orang diseberang telpon dengan suara serak karena dia baru bangun tidur ketika ponselnya berbunyi.


“Ais..” Jawab orang diseberang sana.


Mendengar nama Ais disebut sontak mata Syaha langsung terbuka lebar dan tubuhnya terbangun tegap.


“Mas Ray?”


“Iya.. baru bangun ya?” Tanya Mas Ray dengan tertawa kecil yang jelas sekali terdengar.


“Iya Mas.. hari libur adalah hari untuk tidur..” Jawab Syaha ngeles.


“Ok baiklah.. itu sifat natural mahasiswa..”


“Mas ada apa menelpon? Mas dapat darimana nomor telponku?” Semua pertanyaan di otaknya terlontarkan spontan.


“Mas minta sama Nando.. Mas mau kasih tahu kalau pertemuan kamis minggu depan akan ada bakti sosial di panti jompo St. Elizabeth.. jadi kita langsung kumpul di lokasi.. kamu datang kan?” Jelas Mas Ray.


“Pasti aku akan datang Mas.. dengan Anna..” Jawab Syaha antusias.


“Aku tunggu kamu disana Ais.. bye..” Mas Ray menutup panggilan telpon.


Kesadaran Syaha yang melayang ketika dia tidur langsung kembali ke badannya. Mendengar suara Mas Ray dipagi hari bak mendapatkan lotre 1 M. Apakah ini mimpi? Tangan Syaha mencubit pipinya dan rasanya sakit, berarti itu bukan mimpi. Mas Ray khusus menelpon untuk memberitahunya? Syaha rasa tidak, mungkin karena Mas Ray yang bertanggungjawab makanya dia punya kewajiban untuk mengkoordinasi semuanya.


“Sya sadar Sya.. kamu itu bebek yang sedang merindukan bulan.. kendalikan dirimu..” Gumam Syaha lirih pada diri sendiri. Syaha menenggelemkan lagi tubuhnya di antara selimut dan luasnya lautan kapuk. Holiday is free day...


Bersambung...