
Amarah memenuhi kepala Syaha. Dasar kepala batu. Keras kepala. Diktator. Itulah definisi dari watak Ray yang dapat disimpulkan Syaha dari pertengkaran mereka tadi.
Syaha bisa saja melemparkan Ray keluar apartementnya dengan mudah tapi dia tak melakukannya. Padahal sejak tadi mulutnya mengeluarkan kata tak senang dengan keberadaan Ray. Namun mulut dan hatinya tak sinkron. Duh duh duh..
Harus aku apakan lelaki ini.. seenaknya aja..
-----
Syaha bermalas-malasan di ruang tv. Tubuhnya rebahan dengan kaki menggantung dan siaran tv yang tak menarik perhatiaanya. Tatapannya kosong pada tv yang menayangkan acara kuliner. Di atas ranjangnya ada Ray yang sedang tertidur pulas.
Demamnya sudah turun. Syaha tak bisa diam saja. Bahkan Ray tadi sempat mengigau. Melihat Ray yang tak berdaya menyentuh hati Syaha. Setelah meminum obat Ray langsung tidur. Syaha juga memberikan kompres kepala untuk Ray. Kamu tuh ya Mas.. luka yang kamu berikan padaku tuh besar banget tapi kenapa aku ga bisa membenci kamu.. kamu jahat..
Hari menjelang malam ketika bel apartement Syaha berbunyi.
"Hai.."
Gadis muda dengan tinggi lebih dari 160 cm berdiri tegak di depan pintu apartement Syaha. Rambutnya yang panjang terurai hingga pinggang berkilau bak intan permata. Senyum gadis muda itu cerah sekali.
"Hai.. kamu siapa?" Syaha membalas sapaan gadis itu. Wajahnya familiar.
"Tia.. bolehkah aku masuk?"
Gadis itu langsung berhambur masuk sebelum dipersilahkan. Sifatnya seperti seseorang yang Syaha kenal.
"Hei aku tidak mengenalmu. " Syaha mengejar gadis yang bernama Tia itu.
"Tapi aku mengenalmu.. Ais.." Jawab Tia.
Alis Syaha mengerut. Cara bicara gadia itu mirip dengan seseorang, Ray. Apakah jangan-jangan.
"Kamu adik Ray?" Syaha ragu-ragu.
"Iya.." Senyum Tia kembali mengembang.
"Darimana kamu tahu tempat ini?"
"Kak Ray memberi tahuku tadi pagi. Karena siang aku ada urusan, baru sekarang bisa kemari.." Jawab Tia seraya duduk tanpa dipersilahkan.
"Ok baiklah.. bawa kakakmu keluar dari apartementku sekarang.."
"Tapi kak Ray bilang akan tingga disini sementara waktu. Makanya dia memintaku untuk membawa pakaiannya.." Tia menunjuk satu kantong kertas berukuran cukup besar.
"Itu urusan kamu dan Ray. Jangan libatkan aku.." Tia terlihat acuh tak acuh. Tugasnya hanya mengantarkan pakaian Ray saja.
"Dasar orang gila! Raya Narendra brengsek!" Syaha mengumpat kesal. Walaupun didepannya ada adik Ray, Syaha tak takut apapun.
Tia terkekeh geli mendengar umpatan Syaha.
"Aku tak menyangka kamu bisa berkata kasar.. melihat wajahmu yang kalem sulit dipercaya.."
"Itu semua karena kakakmu yang keras kepala.." Jelas Syaha sedikit kesal.
"Jadi apakah kalian sudah berbaikan?" Tanya Tia tanpa basa-basi.
"Tidak. Tidak akan pernah!"
"Aku setuju denganmu. Akal sehat kakakku sepertinya bermasalah.. mana ada maaf setelah mencampakkan begitu saja.."
"Kamu tahu semua tentang kami?"
"Aku dan mama tahu semua tentang cerita kalian.." Jelas Tia.
Syaha diam. Tak tahu harus bereaksi bagaimana.
"Kak Ray tuh bucin banget loh sama kamu.. diam-diam dia ngikuti kamu beberapa tahun lalu. Dia menyesal meninggalkan Ais. Tapi dia juga ragu mau mendekati kamu lagi.. kalau memang urusan kalian belum selesai.. aku harap urusan kalian selesai dengan membahagiakan.. ya aku harap kamu mau memaafkan kak Ray.."
"Ada banyak hal yang tidak kamu tahu Tia. Dan hal itu yang membuat kami tak mungkin bersama lagi. Terlalu banyak luka diantara kami.." Suara Syaha merendah.
"Tolong maafkan dia.. Kak Ray melakukannya karena aku dan mama.. kasihanilah dia.."
"Lalu siapa yang mengasihaniku Tia? Aku mencarinya kemana-mana sampai harus kehilangan anak di dalam kandunganku.. selamanya aku tidak akan bisa memaafkannya.."
Tia diam. Ucapan Syaha mampu membungkam mulut Tia.
"Maaf aku tidak tahu.. kak Ray tidak pernah menceritakannya.."
"Haruskah aku mengumbar aib yang menyakitkan seperti itu? Apakah Ray akan menerimaku setelah aku mengatakannya dulu? Aku rasa tidak. Dia meninggalkan aku tanpa menoleh sama sekali. Sedikit belas kasihan pun tidak dia berikan padaku Tia. Lalu sekarang dia kembali meminta maafku? Aku berikan maafku tapi untuk menerimanya kembali.. jawabanku tidak.." Suara Syaha bergetar.
Kenangan-kenangan buruk selama di Venice berputar kembali.
Bersambung..