
"Pak Ray.. anda mendengarkan saya?"
"Pak.."
"Pak Ray.."
Panggilan ketiga baru membuat Ray sadar dari lamunannya.
"Ya aku mendengarmu.."
Dion menghela nafas panjang. Pekerjaannya menjadi sekretaris pribadi Ray terasa berat satu minggu ini. Dia harus menjadwalkan ulang meeting dengan klien karena mood atasannya yang buruk. Mudah marah, membentak bahkan tak segan berkata kasar. Korbannya adalah Ira. Sekretaris Ray yang lain. Bahkan Ira terancam di pecat karena menyinggung nama Aisyaha.
"Hari ini anda ada pertemuan dengan klien dari luar negeri Pak.. anda mendengar penjelasan saya tadi kan.."
"Kenapa kamu cerewet sekali hari ini Dion.. aku tidak tuli.."
"Maafkan saya pak.. saya hanya mengingatkan.."
"Turunlah ke divisi design, apakah gadis keras kepala itu sudah masuk kerja atau belum.. ini sudah satu minggu sesuai janjinya.." Titah Ray.
"Maksud anda pegawai atas nama Aisyaha Pak?" Tanya Dion dengan polosnya.
Mendengar nama Ais dipanggil dengan embel-embel pegawai, darah Ray mengalir panas.
"Pegawai? Dia istri atasanmu Dion.. tidak sopan sekali kamu memanggil istriku begitu.." Ray menatap sinis Dion.
"Maaf Pak saya tidak tahu.."
"Aku sedang memberitahumu sekarang. Lain kali jaga ucapanmu.."
"Baik Pak.. saya ijin ke divisi design untuk mengecek kehadiran Ibu Aisyaha.." Dion berhati-hati dengan ucapannya.
Ray mengangguk puas.
Setelah menutup pintu Dion bernafas lega. Hampir saja dia kena semprot atasannya sama seperti Ira beberapa hari yang lalu.
"Mas.. Mas Dion.." Panggi Ira lirih dari meja sekretaris.
Dion mendekat.
"Bagaimana mood Pak Ray hari ini? Masih buruk?"
"Seperti biasanya. Hampir aja aku kena semprot kayak kamu Ir.." Aku Dion.
"Karena Syaha lagi ya?" Tanya Ira polos.
Dion mengangguk.
"Huss.. jangan keras-keras Ir.. tadi Pak Ray marah aku menyebut nama itu tanpa embel-embel Ibu atau Nyonya.."
"Jadi berita itu benar ya Mas?"
"Pasti benar lah Ir.. Pak Ray sendiri yang bilang kalau Aisyaha dari divisi design itu istrinya.."
"Aduhhh gimana nih Mas.. apa aku bakalan di pecat sama Pak Ray? Kemarin aku kan ngomongin Syaha terang-terangan.." Wajah Ira mendadak murung.
"Minta maaf aja sama Pak Ray terus kamu bilang kalau kamu salah dan ceroboh.."
"Aku takut Mas.. mata Pak Ray tuh kayak mau bunuh orang kemarin.."
"Gimana ya Ir.. aku juga ga bisa ngasih pendapat apa-apa.. Pak Ray lagi sensi banget, kayak cewek lagi PMS aja.."
Ira menghela nafas. Dia menyadari kesalahan yang tidak dia sengaja. Kemarin dia hanya bertanya pada Ray karena penasaran dengan desas-desua di kantor. Eh dia malah kena sembur bosnya. Apes banget lah..
-----
Dion kembali ke ruang CEO untuk melaporkan hasil kerjanya.
"Biarkan saja.. bilang padanya kalau ada pertanyaan suruh ke ruanganku langsung.." Jawab Ray dengan suara penuh kelegaan dari harap-harap cemasnya.
Gadis itu menepati janjinya.
"Baik Pak.."
"Ayo berangkat meeting, dimana tempatnya?"
-----
Nama : Aisyaha Alexandria Maharmita
No. Pegawai : 2218******
Bagian : Design
Deskripsi pekerjaan : No job.
Syaha hampir tak percaya membaca tulisan no job di lembar kerjanya untu satu bulan kedepan. Lembar itu biasanya bisa sampai berlembat-lembar dengan belasan bahkan puluhan pekerjaan. Dan sekarang lembar itu tak ada lampirannya sama sekali. Luar biasa.
"Mas Seto.. di lembar kerja Syaha kok no job sih? Berarti Syaha ga ada kerjaan nih?" Suara Syaha melengking dari meja kerjanya sampai ke meja kerja kepala divisinya di ujung ruangan.
"Hah?" Yang ditanya sepertinya terkejut. Bukan hanya Seto, semua rekan kerja Syaha juga tampak terkejut.
"Syaha ga ada kerjaan nih?" Ulang Syaha.
Semua diam. Tak ada yang berani menjawab.
"Kata Pak Dion kamu disuruh tanya langsung ke Pak Ray.." Jawab Seto.
"Pak Dion sekretaris CEO?" Tanya Syaha dengan polosnya.
"Iya.."
"Berarti ini ulah dia.. untuk apa memintaku kerja lagi kalau ga ada yang bisa ku kerjakan.. ahhh bisa gila aku.. dasar Lucas 'brengsek'.." Syaha mengumpat dengan suara melengking memenuhi seluruh ruangan.
Semua orang tertegun menatap Syaha. Dia adalah orang pertama yang berani mengumpat atasannya. Emejing.
Syaha langsung bangkit dari posisisnya menuju ruangan Ray. Amarahnya sudah sampai ubun-ubun.
Suara bisik-bisik langsung menyeruak setelah Syaha meninggalkan ruangannya. Mereka berkerubung seperi lalat di makanan busuk.
"Berarti benar Syaha memang ada hubungan dengan Pak Ray.."
"Iya.. tadi dia berani mengatai Pak Ray brengsek.. Lucas 'brengsek' itu Pak Ray kan?"
"Iya iya.. aku juga mendengarnya.."
"Berarti kita harus hati-hati sama Syaha kalau tidak mau di pecat.."
Dimana ada gosip disitu aja gerombolan orang yang menamakan dirinya penggosip.
Malaika geleng-geleng melihat temannya menggosipkan Syaha, temannya.
"Sya.. kamu santai banget sih di omongin begitu.. atau jangan-jangan kamu ga tau.. dasar Syaha.." Malam bergumam dalam hati.
Bersambung...