Love In Venice

Love In Venice
Episode 30 Adu Mulut



Mengeringkan badan, menyisir rambut, hingga berganti pakaian tak ada yang tidak dilayani. Syaha kikuk sendiri tubuhnya dilihat oleh para pelayan Ray, tentunya pelayan perempuan. Jika tubuh Syaha sehat seperti biasanya, tak mungkin Syaha diam saja diperlakukan begini. Bak putri kerajaan. Para pelayan itu sangat ramah pada Syaha. Mereka sangat hati-hati melayani Syaha, seolah tubuh Syaha adalah porselen yang mudah pecah


Para pelayan memuji kulit Syaha yang halus hingga proporsi badannya yang pas. Meraka juga mengatakan jika pasangan Tuan Besarnya sesuai dengan bayangan mereka.


Syaha tersanjung mendengarnya. Tapi hatinya mencelos. Dia bukan pasangan Ray. Menjelaskan pada mereka pun percuma, mereka sangat berisik. Syaha sesekali tersenyum untuk menimpali mereka.


"Kenapa lama sekali?" Ucap Ray kesal.


Sudah satu jam lebih dia menunggu Syaha mandi. Hampir saja dia mendobrak pintu kamar mandi.


"Maaf Tuan.. tubuh Nona masih lemah, jadi kami sangat hati-hati. Kami takut Nona terluka.."


"Tinggalkan kami berdua.." Titah Ray.


"Baik Tuan.." Para pelayan keluar dari kamar.


"Aku baik-baik saja.. mereka yang berlebihan.." Syaha berjalan pelan mendekati ranjang. Karena tidur lebih dari dua puluh empat jam, tubuh Syaha masih lemah. Dia belum terbiasa.


"Temani aku makan malam.." Ray menghampiri Syaha yang berhasil naik ke atas ranjang.


" Tidak mau.. aku tidak lapar.." Syaha menolak mentah-mentah.


"Kamu juga butuh makan.. dasar keras kepala.."


Tanpa aba-aba, tubuh Syaha sudah berada di dalam gendongan Ray.


"Aku bisa berjalan sendiri.. turunkan aku.."


"Tidak mau.. aku tidak mau mengambil resiko apapun.. di rumah ini banyak tangga.." Jelas Ray berjalan keluar kamar.


Para pelayan menghentikan aktivitas mereka ketika Ray lewat, mereka semua menunduk memberikan hormat.


"Selamat malam Tuan.. Nona.." Sapa mereka satu-satu.


Syaha membenamkan wajahnya dan tangannya melingkar di leher Ray. Malu. Syaha sangat malu sekali. Para pelayan berbisik-bisik setelah Ray lewat. Syaha tahu mereka sedang bergosip ria.


"Turunkan aku.. aku malu.."


"Diam!" Suara Ray meninggi.


"Mas Ray turunkan aku!" Suara Syaha tak kalah meninggi.


"Kamu panggil apa tadi?"


"Mas.. oppsss.." Syaha reflek menutup mulutnya.


Waduh keceplosan say.. bisa gila aku.. Tuhan selamatkan aku dari godaan cowok ganteng yang terkutuk.


"Mas apa?"


"Ga ada. Kamu salah dengar. "


"Ga.." Syaha menutup seluruh wajahnya karena malu. Semoga saja Ray tidak mendengar detak jantungnya yang keras.


"Mas rindu Ais yang manja gini.."


Ray menurunkan Syaha di ruang makan. Wajah Syaha masih memerah karena malu. Tanpa sadar hatinya telah goyah dengan kehadiran Ray lagi.


"Benarkah?"


"Ais ga percaya?"


"Kalau tahu rindu kenapa dulu ditinggalkan?"


Skak mat. Pertanyaan Syaha tepat sasaran. Nice catch.


"Maafkan Mas Ray.."


"Aku sudah memaafkanmu.."


"Maaf untuk anak kita Ais.. Mas Ray benar-benar menyesal.."


"Anak itu sudah memaafkanmu.. kami sudah merelakanmu kok.. jadi tolong jangan diungkit lagi.."


"Ijinkan Mas Ray untuk memperbaiki kesalahan Mas, Ais.. Mas mohon.."


Syaha diam. Suasana menyedihkan ini sangat tidak dia sukai. Kenapa harus ada luka diantara mereka? Kalau saling mencintai kenap saling melukai? Apakah itu resiko cinta?


"Maaf.. sepertinya aku tidak bisa.."


"Kita coba pelan-pelan Ais.. Mas masih mencintai Ais.. beri kesempatan untuk Mas Ray sekali aja.. mau kan?"


"Tidak ada jaminan kamu tidak membantingku dipersimpangan jalan lagi Mas Ray.. aku selalu mimpi buruk setiap malam.. aku merasa bersalah pada anak yang ada di dalam kandunganku.. karena aku bodoh aku kehilangan dia. Aku masih muda saat itu dan aku tidak tahu apa-apa. Aku dibutakan cinta.. aku mencarimu karena aku tidak bisa hidup sendiri. Aku sibuk memikirkanmu hingga aku mengabaikan nyawa kecil di dalam tubuhku juga butuh perhatianku.." Suara Syaha serak, air matanya mengalir begitu saja.


"Mas Ray.. kita lupakan saja masa laku kita. Aku sudah terbiasa hidup tanpamu lima tahun ini. Aku mohon jangan buat aku menderita lagi.." Syaha terisak.


Ray diam. Melihat Syaha menangis hati Ray teriris. Dia adalah pria brengsek lima tahun lalu.


"Sudah sudah.. jangan menangis. Kita makan malam dulu.. malam ini menginaplah disini, besok pagi aku akan mengantamu pulang.." Suara Ray bergetar. Haruskan dia merelakan Syaha?


"Kalian tolong layani Nona.. aku harus mengurus sesuatu. Setelah itu antar dia ke kamar dan pastikan dia istirahat dengan baik.." Titah Ray pada pelayan yang berada di belakang mereka.


"Baik Tuan.."


Ray meninggalkan ruang makan tanpa menoleh sedikitpun. Diam-diam hati Syaha hampa menatap punggung Ray menjauh.


Mas maafkan aku.. hikss..


Bersambung...