
Kenyataan sering kali tak seindah harapan. Beberapa detik lalu kita berada di atas awan kemudian setelah itu kita terhempas ke tanah. Itulah kenyataan.
Bagai menyesap obat paling pahit sedunia, Syaha berjalan gontai menuju asramanya. Satu minggu telah berlalu sejak berita Ray mencuat ke permukaan.
Mata cekung, pipi tirus, tatapan sayu. Itulah definisi Syaha saat ini. Siang dia anggap malam dan malam dia anggap siang. Dia berusaha keras mencari suaminya, belahan hatinya.
Segala cara dia lakukan untuk mencari keberadaan Ray, tapi semua mengarah ke titik buntu. Syaha hampir saja putus asa. Terbesit dibenaknya untuk menyusul Ray ke London. Tapi apa daya, kemiskinan terpampang nyata di depan matanya. Anna dan Nando sempat menawarkan bantuan namun Syaha menolak. Dia ingin mencari Ray dengan usahanya sendiri. Syaha percaya jika Ray pasti akan kembali. Karena Ray sudah berjanji padanya di hari keberangkatan pria itu ke London.
"Sya.. makan dulu.." Suara Anna menginterupsi lamunan Syaha.
Syaha menggeleng. Dia tak nafsu makan.
"Ayolah Sya.. kamu bisa sakit kalau ga makan.." Anna memaksa.
Lagi-lagi Syaha menggeleng. Objek di depan matanya sama sekali tak menarik hatinya.
"Ann.. aku rindu Mas Ray.." Air mata Syaha tak bisa dibendung ketika dia mengingat Ray. Entah sudah berapa banyak air mata yang dia keluarkan untuk Ray. Syaha butuh Ray, butuh oksigennya.
Anna menghela nafas panjang. Tak banyak yang bisa dia lakukan. Dia dan Nando telah berusaha mati-matian membantu Syaha tapi nihil. Ray bagai di telan bumi.
-----
Syaha telah ratusan kali menghubungi Ray namun nomor pria itu tak bisa dihubungi. Syaha juga setiap hari datang ke apartement berharap ada keajiban tapi sama saja. Tak ada tanda-tanda kedatangan Ray. Apartement itu tetap sama sejak ditinggalkan pemiliknya. Baju Ray masih ada disana, barang-barang mereka juga masih berada ditempat.
Syaha putus asa. Dia kalah dengan takdirnya dengan Ray.
"Mas kamu dimana.. aku merindukanmu.." Tubuh Syaha sangat lelah sekali hari ini. Matanya langsung terpejam ketika kepalanya jatuh di bantal.
-----
Tepat sepuluh hari. Ray berjanji akan pulang setelah tujuh hari. Tapi nyatanya dia tak kembali, sudah sepuluh hari. Semua tempat sudah Syaha datangi untuk mencari Ray.
Dua hari lalu Syaha ke Kantor Keduataan menanyakan Ray. Betapa terkejutnya Syaha kala mendengar jika Ray tak bekerja di sana. Ray hanyalah seorang volunteer. Syaha juga bertanya kesana kemari. Mendatangi tempat-tempat yang pernah dia kunjungi. Tak ada Ray disana. Dimanapun tempat yang didatangi Syaha tak ada Ray.
Seharian mencari Ray tubuh Syaha lelah sekali. Akhir-akhir ini Syaha mudah sekali lelah dan keringat yang berlebihan. Nafsu makannya memang tak berubah tapi Syaha selalu merasa kehausan.
Apartement Ray lah yang menjadi tujuannya untuk beristirahat karena jaraknya yang dekat dengan posisinya saat ini. Kata sandi apartement Ray untungnya tak dirubah sama sekali. Syaha segera merebahkan tubuhnya di kasur king size yang sering dia gunakan untuk bermesraan dengan Ray.
Baru saja mata Syaha hendak memejam, bunyi pintu apartement terbuka membuyarkan rasa lelahnya.
"Mas Ray.." Syaha tersentak kala melihat sosok yang selama ini dia cari. Ray suaminya. Jantung hatinya.
"Ais.." Ray tak kalah kaget mendapati Syaha tengah duduk diatas kasurnya.
"Mas.. Mas Ray kemana aja? Ais rindu Mas Ray.." Syaha langsung berhambur ke arah Ray.
"Mas apa yang terjadi? Ais nyari Mas Ray kemana-mana.." Suara Syaha terisak di dalam pelukan Ray.
Ada yang berbeda. Syaha bisa merasakannya. Ray tak membalas pelukannya. Namun otak Syaha seolah acuh karena rasa rindunya akan kehadiran Ray telah terobati.
"Kita perlu bicara.." Ray melepas pelukan Syaha kemudian berjalan menuju sofa. Syaha mengikuti dari belakang.
Ray diam sejenak. Dia sedang menimbang rasa dihatinya saat ini. Batinnya sedang mengolah kata yang hendak dia keluarkan. Kata ini mungkin akan dia sesali nantinya. Tapi tak ada jalan lain. Inilah yang terbaik untuk mereka saat ini.
"Sebelumnya Mas minta maaf Ais.." Rahang Ray mengeras. Sorot matanya berubah.
"Ais sudah memaafkan Mas Ray jauh sebelum Mas Ray minta maaf pada Ais.. Ais hanya butuh Mas Ray jujur sama Ais.. berita kemarin tentang Mas Ray itu ga benar kan Mas?" Syaha mencoba mengendalikan hatinya. Dia tahu jika Ray telah berubah. Sorot mata menenggelamkan yang selaku ia lihat berbeda hari ini. Sorot mata itu sangat asing sekarang. Syaha mencoba menipu dirinya dengam berteriak dalam hati jika dia baik-baik saja.
"Berita itu benar.."
Jleb. Hening.
Kepala Syaha bak dihantam balok kayu.
"Mas.." Syaha mencoba menahan air matanya.
"Maaf sepertinya kita harus berpisah Ais.. benar apa yang kamu dengar jika aku adalah pria misterius. Aku melarikan diri ke Venice dari keluargaku. Kini aku harus kembali kesana. Maafkan aku.. aku tidak berniat untuk menyakitimu. Tapi aku tidak ada pilihan lain.."
"Hubungan kita cukup sampai disini. Aku tidak akan memaksa kamu untuk memaafkanku. Nyatanya aku adalah pria brengsek.."
Syaha menegakkan kepalanya. Kepalanya dipenuh informasi baru yang tak bisa dia percaya.
Melarikan diri? Hubungan kita cukup sampai disini? Mas tak bermaksud menyakitimu? Aku adalah pria brengsek?
Apa-apaan ini? Kenyataan apa ini? Otak Syaha menolak mentah-mentah ucapan Ray.
"Mas apa maksudmu? Aku bisa mengerti posisi Mas Ray kok.. kita sudah menikah Mas.. aku istri Mas Ray.. Mas Ray tidak lupa kan?"
"Aku tidak lupa Ais.. Mas Ray sangat ingat.. tapi maaf.. semua itu adalah kesalahanku. Harusnya aku tak melakukannya.."
Kesalahan? Pernikahan ini kesalahan?
Apa lagi ini? Apakah pernikahan hanya sebuah lelucon belaka? Ya Tuhan..
"Mas Ray! Kita sudah berjanji untuk bersama. Walaupun pernikahan kita belum tercatat resmi, kita sudah berucap janji dihadapan Tuhan Mas.. apa maksudmu dengan kesalahan? Pernikahan tidak untuk dibuat main-main Mas.." Hilang sudah kesabaran Syaha. Ray sungguh keterlaluan.
"Aku tahu Ais.. tapi aku tidak ada pilihan lain. Perpisahan kita adalah cara yang terbaik. Aku kemari untuk mengambil barang-barangku yang tertinggal. Apartement ini sudag terjual. Besok penghuni baru akan datang. Aku harap kamu segera pergi meninggalkan tempat ini.."
"Mas kamu tega Mas.. apa salah Ais Mas? Bukan kah kamu mencintaiku Mas? Ais mencintai Mas Ray.. jangan tinggalkan Ais seperti ini Mas.." Syaha menjerit tak karuan sambil menangis. Dia tak ingin kehilangan Ray.
Usaha Syaha sia-sia ketika Ray telah pergi membawa satu koper miliknya meninggalkan Syaha sendiri di dalam apartement itu. Tempat yang menjadi saksi bisu kisah cinta Syaha dan Ray.
Tubuh Syaha tersungkur ke lantai kala pintu apartement tertutup rapat.
"Tolong lupakan Mas Ray Ais.. carilah pria yang lebih baik dari Mas Ray.." Itulah ucapan terakhir Ray pada Syaha.
Aku sudah mempercayaimu Mas.. teganya kamu menghianati aku.. sebegitu tidak berharganya kah aku di matamu Mas Ray.. padahal aku tulus mencintaimu.. kenapa pernikahan kamu anggap main-main Mas.. kamu adalah pria terjahat yang pernah aku kenal. Aku menyesal mengenalmu Mas..
Bersambung....