
Menyandang nama baru sangat membebani Ray. Keluarganya salah satu keluarga paling rumit sedunia menurut Ray.
Ayahnya Lucas Syahardian berdarah asli Indonesia. Seorang pengusaha kaya raya pendiri perusahaan fashion internasional Lucas Company.
Sedang ibunya adalah bangsawan Inggris campuran Indonesia bernama Alice Ettha Mante. Berdarah Mante Family yang lumayan terkenal di Inggris.
Dari Lucas dan Alice lahir dua anak, laki-laki dan perempuan. Raya Narendra dan Tiara Ariendra. Awalnya nama belakang mereka mengikuti gelas bangsawan ibunya, Mante. Tapi setelah Lucas meninggal karena kecelakaan tiga tahun lalu, kursi CEO diberikan kepada Ray. Nama belakang Ray langsung berubah, Raya Narendra Lucas. Demi melanggengkan tahta pewaris perusahaan, dimulai dari Ray hingga anak cucunya akan menyandang nama Lucas.
Kehidupan mewah ini anehnya tak menarik perhatian Ray sama sekali. Dia memilih untuk melarikan diri dari kehidupan yang telah ditentukan sejak lahir.
Venice adalah tujuan utamanya. Kata orang, Venice adalah kota cinta. Kita akan mudah jatuh cinta setelah menginjakkan kaki di kota itu.
Benar sekali. Ray menemukan cintanya di Venice. Gadis Indonesia yang sedang kuliah di Venice. Aisyaha namanya. Ais.. begitu Ray memanggilnya. Gadis cantik yang sederhana mengoyak hati Ray yang telah mati akan cinta. Berkat Ais lah Ray merasakan indahnya cinta. Berkat dia juga Ray bisa menghirup udara kebebasan.
Tapi sayang.. bahagia itu harus berakhir dengan cepat. Ray sempat melupakan asal usulnya ketika bersama Ais. Melupakan jika dia adalah pewaris tunggal perusahaan ayahnya dan ujung tombak kehormatan keluarga ibunya.
Kebahagiaannya bersama Ais dipaksa terkoyak. Ray dihadapkan pada dua keputusan yang besar. Keluarganya atau istrinya. Dengan berat hati Ray memilih keluarganya dan melepaskan istrinya. Dia tak mengira dengan keputusannya ini telah melukai salah satu pihak. Tapi Ray bisa apa.. di bawah tekanan ayahnya Ray dengan sangat menyesal meninggalkan Ais, istrinya.
Hari dimana ayahnya meninggal adalah hari kebebasan Ray. Bukan berarti dia tak berduka. Ray berduka karena kehilangan panutannya tapi di sisi lain tembok penghalangnya telah runtuh. Tak disangka kebebasan itu datang secepat ini. Hidunganya akhirnya bisa menghirup udara luar, Ray akan berjanji akan menjalani hidup sesuai dengan yang dia inginkan, bukan yang diinginkan ayahnya.
"Ais.. tunggu Mas Ray.."
-----
Tiga tahun sudah Ray berusaha mendekati Syaha kembali. Pucuk dicinta ulampun tiba. Orang yang dia cari ternyata bekerja di perusahaan yang dia pimpin. Ray kira Syaha akan menetap di Venice. Dugaannya salah, gadis itu pulang ke Indonesia dan bekerja di bawah naungannya. Sungguh keberuntungan.
"Siapa nama gadis itu sayang?" Tanya Nyonya Alice lembut.
"Ais ma.." Jawab Ray.
Mata Ray menerawang jauh. Ingatannya kembali lagi pada peristiwa lima tahun lalu.
"Apakah dia akan menerima kakak kembali setelah kakak mencampakkannya begity saja?" Ucapan Tia membuyarkan lamunan Ray. Di dalam benaknya Ray sedang membayangkan pertemuannya dengan Ais yang akan di buat berkesan.
"Akan aku buat dia mau menerima kakak, Tia.. selama ini kakak sudah menyelidiki hidupnya. Dia belum menikah dan cincin pernikahan kami masih dia bawa.." Ucap Ray percaya diri.
"Kalau Tia jadi Ais, Tia tidak akan menerima Kak Ray lagi.. bagaimanapum juga.. kakak sudah meninggalkannya. Di dalam kamus wanita, rasa sakit itu akan terus melekat di hati kak.. walaupun dia menerima kehadiaran kakak lagi, Tia ragu jika persaannya akan sama seperti dulu.." Jelas Tia relistis.
"Ais bukan tipe gadis yang seperti itu Tia.. dia adalah orang yang mempercayai kak Ray.. dan kami juga sudah mengucap janji di hadapan Tuhan.." Sanggah Ray.
"Itu dulu kak.. lima tahun adalah waktu yang lama kak.. hati manusia cepat sekali berubah kak.. bahkan dalam hitungan detik. Bukankah kakak pernah bilang kalau kakak memberikan alasan main-main dengan dia ketika menikah ketika meninggalkannya dulu? Kakak perlu kerja keras untuk mengambil hatinya kembali kak.. percaya padaku.."
Ucapan Tia adik Ray menjadi teror di kepala Ray. Dugaan Tia memanh tidak sepenuhnya salah, tapi Ray percaya jika Ais pasti akan menerimanya kembali. Jika dia bisa menjelaskan dengan baik apa yang terjadi padanya lima tahun lalu, Ais pasti akan mempercayainya.
Seperti di banting ke tanah tanpa peringatan, jantung Ray melonjak.
"Aku mengandung anak kita Mas Ray, tapi karena kebodohanku aku kehilangan janin kecil itu.. aku sibuk mencari kamu sampai aku tak sadar aku telah kehilangan dia bersamaan dengan aku kehilangan kamu juga.."
Anak kita?
Satu kata itu yang terus memenuhi otak Ray. Orang suruhannya yang diberi tugas menyelidiki Syaha tak pernah mengatakan hal itu. Berarti ada yang terlewar?
Argghhh! Kepala Ray berdenyut, hingga rasa nyeri menguasainya.
Ray tak tahu jika luka yang dia berikan pada Syaha sebesar itu. Andai waktu bisa diputar. Ray akan memilih Syaha. Ray takkan pernah kembali ke London setelah mendapat telpon itu. Seharusnya hatinya tidak goyah. Dia bodoh karena menyia-nyiakan cinta Ais. Seharusnya.. seharusnya dia tak meninggalkan Ais sendirian menanggung penderitaan yang tak pernah dibayangkan Ray.
Ray kamu membunuh anakmu sendiri.. itu salahmu Ray.. kamu bersalah.. Hati Ray teriris.
*Tuhan tolong beri aku kesempatan kedua..
Bersambung*...