
Lepaskan.. relakan.. lupakan..
Three word magic. Andai tiga hal itu mudah untuk di kerjakan. Tak ada yang namanya sakit hati dan air mata yang mengalir.
Mata sembab dan merah itu menjadi bukti dari merananya hati. Kenapa takdir sepedih ini, apa salah badan ini?
Menangislah.. keluarkan semua keluh kesahmu. Tapi setelah ini jangan menangis lagi.. cukup sekali saja menangis.
"Kamu baik-baik aja kan Sya?" Suara terdengar pelan.
Syaha mengangguk. Sebenarnya dia tidak baik-baik saja. Kata apa yang bisa mendefinisikan keadaannya saat ini? Menyedihkan?
"Aku harus segera kembali ke Surabaya.. kalian aku tinggal berdua ga apa-apa kan?" Ucap Nando dengan berat hati.
Anna dan Syaha kompak mengangguk.
"Sya.." Panggil Nando penuh kasih sayang.
"Syaha baik-baik aja kok Mas.. akhirnya semua ini berakhir.. Syaha lega banget Mas.." Syaha mencoba menenangkan Nando. Terlihat jelas jika pria itu sedang khawatir.
"Syukurlah.. aku tidak akan pria brengsek itu mempermainkan kamu lagi Sya.. begitu juga Anna.. kalian adalah adik-adikku.." Ucap Nando tulus. Satu tahun bersama di Venice membuat hubungan mereka erat bagai keluarga.
"Iya Mas.."
Anna dan Syaha mengangguk hampir bersamaan.
-----
Apartement kecil Syaha tampak sepi lagi setelah beberapa jam lalu ramai dengan isak tangisnya dan Anna serta nada-nada marah Nando.
Menyusul Nando yang harus segera kembali ke Surabaya, Anna pun begitu. Syaha tentu tak ingin menahan mereka terlalu lama. Masing-masing telah memiliki kehidupannya sendiri.
Setelah lelah menangis, Anna pamit untuk kembali ke Medan. Tinggalah Syaha sendiri di apartementnya. Meskipun hidupnya sebatang kara selama ini, baru kali ini Syaha merasa benar-benar sendiri. Kesepian ini menyusup dengan cepat.
Misi 2 dan Misi 3 nya tak perlu dilakukan karena Anna dan Nando sudah datang ke Jakarta. Yang tersisa adalah Misi 4 dan Misi 5. Sejenak Syaha ragu. Bisakah dia meninggalkan Jakarta? Entahlah.
Untuk saat ini Syaha memutuskan ke Bandung untuk menengok panti asuhannya dulu. Sekedar untuk menyegarkan diri. Apa yang harus dia lakukan selanjutnya biarlah waktu yang menjawabnya.
Koper hitam besar di atas lemari pakaian telah berpindah tempat. Syaha melipat beberapa pakaian untuk dia bawa ke Bandung. Hanya beberapa saja.
Aktivitasnya terhenti ketika bel apartementnya berbunyi.
Siapa yang datang malam-malam begini? Mala? Mala akan ngabari dulu jika hendak berkunjung.
Ceklek
Deg
Ray berdiri tegak di depan pintu Syaha yang terbuka.
"Kamu.." Hati Syaha berdesir.
Dari mana Lucas 'brengsek' itu tahu alamat rumahnya? Ah bodoh. CV ketika kerja di Lucas Company tertera alamatnya. Ah sial! Syaha mengutuk dalam hati.
Berdebat pun percuma. Syaha tak ingin lama-lama berdekatan dengan pria brengsek itu. Tanpa kata Syaha segera menutup pintunya kembali. Tapi sayang, tangan Ray lebih dulu menahannya.
"Bolehkah aku masuk?"
Mata Syaha menyipit. No. Big No!
"Ada harus kita bicarakan?"
"Bicarakan? apa lagi? Aku rasa semuanya sudah jelas di lobi kantor tadi pagi Tuan Lucas.." Jawab Syaha datar. Sedatar jalan yang baru diaspal.
"Ais.. aku mohon.." Suara Ray melemah. Ini adalah harapan dia satu-satunya.
"Stop! Namaku Syaha. Siapa itu Ais? Ais sudah mati lima tahun lalu.." Teriak Syaha lantang. Panggilan Ais yang keluar dari mulut Ray sungguh menyakitkan. Nama itu mengingatkannya akan luka masa lalunya.
"Tapi.."
Brak
Syaha membanting pintunya. Dia tak ingin Ray melihat tubuhnya yang rapuh. Tak akan lagi. Selama ini dia kuat sendirian.
Kenapa baru sekarang datang? Apa lagi yang mau dibicarakan? Hubungan kita telah berakhir sejak lima tahun lalu. Aku sudah merelakan kepergian janin kecil di dalam perutku seperti aku meralakan kepergianmu. Kamulah yang dulu membuangku. Kenapa sekarang malah menghampiri? Kau anggap aku apa? Mainan kah? Mainan yang seperti lima tahun lalu? Dasar jahat!
Syaha terisak dibalik pintu.
Nomor baru memanggil tapi Syaha tak berniat untuk menjawab.
From : +62***********
Ais ini Mas Ray.. ada yang ingin Mas Ray bicarakan. Mas Ray akan tetap menunggu Ais diluar sampai Ais mau membukakan pintu.
Syaha tertawa getir. Syaha langsung menghapus pesan itu. Sungguh tak sudi membalasnya.
Bersambung...