
Richo Bouttier:
Aku bersiap untuk penerbanganku ke kanada rencananya aku akan menghadiri acara pertunangan Rikoll Smith.
Arsistek yang aku kenal setelah beberapa kali aku mengunakkan jasanya untuk pembangunan dan pemugaran Resort. Sehingga aku beberapa kali sempat terlibat dalam satu project dengannya tadinya aku ingin datang dengan Maxime Cas.
Sahabatku sekaligus patner kerja yang merangkap sebagai manager resort yang aku miliki di florest.
Tapi dia tidak bisa menemani aku karena ada beberapa perkerjaan yang harus di selesaikannya.
Padahal aku sudah lama sekali tidak bertemu Max terahir aku bertemu dengannya setelah proyek di dubai selesai mungkin sekitar 4 bulan lalu.
Maxime Castelo adalah sahabat terbaikku yang aku kenal ketika aku berada di australia kami berteman sudah lama sejak aku kuliah di salah satu universitas di london.
Kami sama-sama satu universitas namun tidak satu kelas karena mengambil jurusan yang berbeda.
Sehingga kami tidak dekat awalnya sampai aku menolongnya ketika dalam masalah di perjalanan menuju australia.
Waktu itu adalah hollyday kampus max mengalami beberapa kesialan termasuk saat tas yang berisi sejumlah uang dan juga handphone yang ia miliki terkena copet.
Dan kebetulan sekali aku dan dia berada dalam rute perjalanan yang sama karena kampus kami mengadahkan study tour di australia.
Aku menolongnya dengan memberikan beberapa uang yang aku miliki dan dia berjanji akan segera mengembalikannya kepada ku setelah kami berada di london dari kejadian itu kami menjadi akrab.
Maxime adalah pria keturunan belanda sehingga wajahnya benar-benar rupawan tak heran jika wanita manapun pasti akan sangat tergila-gila olehnnya.
Dan juga max adalah pria yang memiliki gaya flamboyan sehingga tak jarang banyak wanita yang merelakan hatinya dipatahkan oleh max.
Karena max sedang tidak bisa aku ganggu maka dengan terpaksa perjalanan ku kali ini harus bersama dengan lindha salah satu model majalah fashion ternama di prancis. Sebenarnya aku tidak berminat pergi dengan wanita jalang itu tapi dia memaksa ku karena dia juga di undang oleh kekasih Rikoll yang merupakan Editor majalah fashion yang berada dalam 1 lebel dengan Lindha.
Baiklah mau tidak mau aku memang harus pergi dengan wanita itu entah kenapa rasanya wanita itu tak pernah ke habisan cara untuk tetap mengejar ku.
Astaga pergi dengan Lindha sungguh sangat menyebalkan di banding pergi bersama Max rupanya aku salah mengatur jadwal perjalananan ku dengan perempuan ini.
Bagaimana tidak menyebalkan ternyata Lindha memiliki jam karet yang luar biasa lambat daripada max sudah 2 jam ini aku menunggu wanita itu di bandara internasional Italia.
Aku baru selesai mengunjungi meeting dengan direksi di Italia dan belum sempat mengunjungi mom and dad yang berlibur juga di Italia karena harus segera terbang ke kanada dan harus segera kembali ke New York.
Dan di sela waktu ku yang padat ini akan terganggu lagi dengan jam karet lindha
" ohh man apa saja yang di lakukannya benar-benar membuat aku sangat muak" aku menggerutu bosan.
Aku duduk di bangku bandara yang disediakan khusus untuk penumpang aku melepaskan kaca mata hitam ku dan berniat untuk mengambil koran yang ada di depan ku. Alangkah kagetnya aku ketika mengambil koran di depan ku aku melihat sosok seorang gadis yang telah lama aku cari selama beberapa tahun belakangan ini.
Aku kira aku bermimpi aku mengucek mata ku dan berharap ini bukan mimpi dan benar ini bukan mimpi wanita ini adalah nyata dia sedang duduk di depan kursi yang aku duduki.
Dan terlihat sibuk dengan i-phone miliknya sembari mendengarkan lagu dengan
aer-phone miliknya sesekali kepalanya bergerak geleng-geleng menikmati alunan musik sangat lucu rasanya melihat wanita itu sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Entah kenapa aku sangat senang ketika melihat gadis itu kembali, gadis yang telah aku tolong dari kecelakaan naas beberapa tahun yang lalu dan saat ini aku lihat gadis itu sudah kembali ceria dan tidak terlihat sedikit pun raut kekecewaan dalam wajahnya.
Dia menatapku sekilas lalu memperhatikan wajah ku dan berbalik ke arah handphone nya hem apakah dia melupakan aku? Atau mungkin dia masih mengenali ku? Lalu mengapa dia bersikap seperti dia tidak pernah mengenal ku.
Mungkin dia benar-benar sudah melupakan aku padahal ketika kami berada di dalam mobil ku saat aku membawanya ke rumah sakit dia sempat menatap wajah ku sesaat lalu kemudian pingsan.
Selang beberapa saat Lindha datang menghampiri ku dan bergelayut manja di lengan ku sembari mencium pipi ku tanpa izin aku benar-benar ingin marah apa dia tidak memiliki jam atau lupa dengan kesepakatan kami.
Padahal aku sudah menghubunginya tadi pagi memberitahunya untuk tidak terlambat datang ke bandara karena aku sangat sibuk dan tidak memiliki waktu tapi pada kenyataannya dia malah jam karet.
“hey hooney apakah kau tidak ingin mencium ku? Atau kau tidak rindu pada ku?” tanya wanita itu tanpa dosa aku hanya diam dan tetap fokus dengan koran di depan ku dan tak menghiraukan ocehannya.
Selang beberapa menit terdengar suara dari operator bandara yang memberi tahu kepada kami para penumpang pesawat bahwa pesawat dengan no J-267 rute penerbangan italia kanada akan segera take off.
Aku bergegas memasuki kabin pesawat dengan di ikuti oleh lindha yang tetap memeluk lengan ku tanpa berhenti.
Membuat aku sedikit tidak nyaman sepertinya perjalanan ku benar-benar memuakkan kali ini.
Aku menaruh tas ku yang berisi laptop dan juga beberapa berkas di kabin pesawat lalu aku duduk di kursi yang sudah tertera di nomer tiket pesawat ku.
Saat aku hendak duduk aku merasa sangat kaget dan juga bahagia ternyata aku satu rute penerbangan dengan gadis itu.
Gadis bermata biru laut berdekatan dengan gadis itu aku bisa melihatnya dengan sangat jelas bibir nya yang ranum berwarna merah muda dan juga bulu matanya yang lentik.
Aku duduk di samping gadis itu dan dia menatapku dengan padangan sedikit kaget dan segera membuang wajahnya menuju arah jendela.
Kemudian aku dan lindha duduk di bangku kami masing-masing aku berada di samping perempuan itu.
Tapi kali ini dia sibuk dengan membaca majalah yang sedari tadi dia bawa ketika kami berpapasan masuk kedalam kabin pesawat.
Lindha sudah tertidur dengan posisi kepalanya yang bersandar di lengan ku sebenarnya aku agak kesal juga karena dia sangat manja sekali dengan ku.
Kemudian pramugari yang berada di depan kami memberi informasi kepada semua penumpang di dalam pesawat ini untuk segera memasang sabuk pengaman mereka karena pesawat akan segera take off.
Pesawat yang aku tumpangi pun take off perlahan badan pesawat terbang di angkasa membuat getaran dalam pesawat terasa.
Aku menaruh koran di pangkuanku dan merasa sepertinnya wanita itu mencengram pergelangan tangan ku sangat erat.
Saat aku menoleh kearahnya benar saja wanita itu seperti sedang melawan takutnya ketika pesawat kami akan selesai take off dia masih mencengram tangan ku erat dan menutup matannya kemudian tubuhnya bersandar pada kursi pesawat.
Aku hampir tertawa geli melihat tingkah gadis ini apakah dia takut dengan ketinggian atau karena getaran pesawat ini mebuatnya merasa ketakutan.
Aku terus memperhatikan wajah wanita itu kemudian wanita itu membuka matanya dan berniat melepaskan cengkraman tangannya ketika dia melihat mataku yang sedang memperhatikannya.
Lalu dia tersenyum dengan sedikit kaku kearahku oh shitt dia memiliki killer smile ketika dia tersenyum seperti ini kedua lesung pipi yang dia miliki terlihat nampak dengan sempurna di pipinya aku jadi gemas melihatnya.
Setelah tersenyum dia dengan cepat melepaskan cengkraman tangannya namun aku dengan cepat menarik tangannya dan mengengamnya erat tapi perempuan itu malah menatap ku dengan tatapan garangnya.
Matanya membulat penuh kepadaku mengisyaratkan bahwa dia sedang marah hahahaha lucu sekali wanita ini aku tetap tak peduli dengan tatapannya dan tetap mengengam tangannya meskipun dia masih menatap ku dengan tatapan tajam.
Tapi entah mengapa dengan gadis ini aku merasakan perubahan yang sangat signifikan dari dalam tubuhku.
Dia terus berusaha menarik tanggannya rupanya wanita ini memilki tenaga yang luar biasa juga batin ku sampai dia menginjak kakiku dan pura-pura terbatuk keras agar aku melepaskan gengaman tangan ku di tangannya.
Batukannya sangat keras membuat lindha yang sedari tadi tidur nyenyak di bahuku pun terbangun cerdik sekali wanita ini dia membuat lindha terbangun dari tidurnya. Sebenarnya aku dan lindha tak ada hubungan apapun kami hanya sebatas one night stand tidak ada perasaan yang lebih dari itu namun lindha selalu mengangap aku sebagai kekasihnya dan terus mengejar ku.
Akupun melepaskan gengaman tangan ku di telapak tangannya karena lindha terbangun dari tidurnya aku hanya tidak ingin perempuan jalang ini membuat keributan dengan gadis itu.
Dan mengatakan bahwa aku adalah miliknya karena jika lindha sampai berbuat seperti itu akan sangat memalukan sekali.
Apalagi gadis itu memiliki tabiat seperti gadis bar-bar akan sangat repot jika lindha berbuat onar di dalam pesawat.
Dan aku sangat tidak suka jika harus di jadikan pusat perhatian jika lindha nekat akan berbuat onar.
Setelah melalui penerbangan sekitar 3 jam karena delay beberapa jam di bandara. Pesawat pun landing dengan sempurna di bandara Ottawa Kanada akhirnya aku bisa merebahkan diriku dengan nyaman di kamar hotel nanti karena banyaknya pekerjaan yang harus aku urus membuat jam tidur ku berkurang.
Setelah pesawat selesai landing Lindha menunggu ku di luar pesawat karena dia ingin segera merasakan udara kota Ottawa yang sedang sejuk meskipun matahari terlihat menyinari kota ini aku pun menuju toilet yang di sediakan di pesawat.
Setelah dari toilet yang berada di dalam pesawat aku kembali lagi menuju kursiku aku ingin mengambil tas laptop ku yang aku taruh di atas kabin aku berjalan menusuri lorong pesawat menuju kursi tempat aku duduk tadi.
ku lihat wanita bermata biru laut itu berdiri dan ingin mengambil tasnya di dalam kabin pesawat aku pun berniat untuk mengabilkan tasnya.
Namun dia menolak ku dengan tegas
“saya bisa sendiri tuan” begitu katanya sembari berlalu pergi meninggalkan aku yang masih berkutat dengan barang milikku yang aku letakkan di kabin pesawat.
Aku tersenyum geli melihat tingkah laku wanita itu yang berusaha menghindari untuk berdekatan dengan ku beberapa kali aku mengodanya namun dia terus menolakku. Baru kali ini aku merasa di tolak mentah oleh seorang gadis aku jadi teringat perkataannya agar aku tidak kasar dengan Lindha dan tidak bersikap cuek terhadap pasangan ku.
Hem dia salah mengartikan hubungan ku dengan Lindha sejujurnya Lindha hanyalah satu dari sekian banyaknya wanita yang mengejar ku dan aku sama sekali tak berniat beramah tamah dengan wanita yang menyukai uang ku.
Aku berjalan ke arah keluar bandara menuju parkiran di bandara karena aku sudah memesan mobil milik hotel yang telah aku booking sebelumnya.
Ketika aku sudah masuk ke dalam mobil milik hotel di tempat aku menginap tiba-tiba saja lindha menerobos masuk dari pintu sebelah dan duduk di samping ku aku mengerutkan kening mau apa gadis bar-bar ini.
“ hey kenapa kau bisa masuk ke dalam mobil hotel yang telah aku pesan?”
“oh c’mon hooney apa kau akan berbuat setega itu dengan ku kita sudah sepakat bukan bahwa kita akan mendatangi pesta itu bersama tentu saja aku akan tinggal bersamamu.”
“tidak” jawab ku dengan nada yang sangat acuh tinggal bersama wanita ini benar-benar membuat kepala ku terasa sakit cukup bagiku sekali membawa Lindha menginap ke aparterment ku di New York dan itu benar- benar buruk.
Gadis ini memiliki kebersihan yang sangat buruk aparterment milikku berserakan dengan baju miliknya di manapun sampai-sampai aku menyuruh petugas Loundry di aparterment untuk datang membereskan pakaian miliknya.
“apa kau sedang bermimpi lindha aku tidak ingin kamar hotel ku akan berahir tragis seperti aparterment milik ku maka lebih baik aku sarankan kau pesan sendiri kamar milik mu.”
tanpa menjawab perkataan ku gadis itu sudah duduk manis dan bergelayut manja di lengan ku dengan mencium pipi ku aku hanya bisa menghela nafas jengah dengan sikapnya itu.
Setelah sampai di tempat hotel aku segera turun dari dalam mobil dengan lindha menuju receptionis untuk melakukan check-in.
Aku melihat wanita itu berjalan menuju lobi hotel ini aku benar-benar senang ternyata wanita itu juga menginap di hotel yang sama dengan ku dengan begitu akan sangat mudah untuk bertemu dengannya setelah urusan ku selesai.
Aku segera ke receptionis dan meminta ruangan borneo suite kamar vip yang biasa aku pesan namun bukan untuk ku tapi untuk Lindha.
“kau tidak memesan kamar bersebelahan dengan ruanganku hooney?”
“aku ada urusan kau tinggallah di kamar itu dan segera naik menuju ruangan mu” kemudian Lindha pun berjalan menuju lobi hotel untuk masuk kedalam lift dan menuju kamarnya.
Setelah Lindha benar-benar pergi aku meminta data kamar yang di tempati oleh wanita bermata biru laut dengan rambut cokelat eboni yang tadi telah check in sebelum aku datang.
Tidak susah untuk meminta data mengenai gadis itu karena karyawan receptionist ini sangat hafal dengan wajah ku yang menjadi tamu tetap hotel ini.
Salah satu receptionis ini akhirnya memberi tahuku jika wanita yang aku sebutkan itu bernama Elena Fergusson dan dia memesan kamar di lantai 34 dengan no kamar 731.
Kemudian aku memesan kamar di lantai 34 dengan no ruanagan 741 sehingga kamar yang aku pesan benar-benar berhadapan dengan kamar miliknya setelah selesai dengan proses check-in aku bergegas menuju lift yang berada di ujung lobi hotel.
Aku masuk ke dalam lift namun sialnya wanita itu tidak ada di dalam lift kemudian aku menutup pintu lift namun ketika aku ingin menutupnya pintu itu kembali terbuka karena wanita itu ingin masuk juga kedalam lift ini hem kesempatan bagus fikirku.
Wanita itu masuk kedalam lift namun sepertinnya dia kaget melihat keberadaan ku di dalam lift sehingga membuatnya hampir jatuh terjungkal ketika badan wanita itu mulai tidak seimbang menumpang tubuhnnya dan hampir membentur dinding lift di hadapanku.
Tangan ku bergerak cepat memeluk pinggan wanita itu dan menangkap tubuhnya agar tidak jatuh menabrak dinding lift kemudian dia melepaskan pelukanku dan memberikan tatapan tajam kepadaku.
Kemudian dia menjauh dari ku dan hanya diam sambil mengoyangkan kakinya keadaan menjadi sunyi akupun memecah kesunyian dengan mengajaknya bicara.
“ suatu kebetulan nona kita kembali bertemu” namun wanita itu tetap tidak membalas perkataanku dan tetap cuek seperti tidak ada orang di dalam lift ini.
Aku tersenyum dalam hati aku benar-benar menyukai wanita ini meskipun sedikit dingin dan cuek entah kenapa keberaniannya membuat ku semakin tergila-gila kepadanya.
Ting bunyi lift menandakan kami sudah sampai di lantai yang kami tuju aku berjalan mengikuti arah wanita itu dan dia berjalan dengan cepat sambil melirik ke arah ku
“jika kau mengikuti aku hingga ke kamar ku itu bukan suatu kebetulan tuan.” Kata wanita itu sambil tersenyum sinis kepadaku oh god senyumannya sangat indah sekali lesung pipi itu kembali muncul di balik wajah dingin miliknya.
Akupun menunjukkan kunci kamar hotel ku kepada wanita itu
“dan sayangnya ini juga kebetulan nona, kebetulan yang sangat menyenangkan, sudah terima saja jika kita akan bertetangga kau seharusnya senang bisa melihat wajah ku setiap saat”
kataku sembari tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih milikku.
Kemudian wanita itu mendengus kesal masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamar miliknya dengan sangat kasar membuat pintu kamar miliknya berbunyi sangat nyaring brukkkk.
Pintu kamar itu tertutup dan aku hanya tersenyum puas baru kali ini ada gadis yang menolak ku secara spontan bagaimana bisa disaat semua gadis menatap ku dengan penuh puja dan dia malah menjauhiku secara terang-terangan.
Aku masuk ke kamar ku dan meletakkan koper ku di lemari kamar hotel lalu aku melepas jas ku dan merebahkan diri di atas ranjang hotel.
Aku benar-benar lelah sekali dalam seminggu ini aku bolak-balik keluar kota untuk melakukan beberapa pengecekan di resort milikku sudah lama rasanya aku tidak hikking biasanya di sela kesibukanku pasti aku bisa menyempatkan untuk berpetualang.
Aku sangat menyukai aktivitasku saat bersatu dengan alam menikmati keindahan hidup tanpa ada kesibukan tumpukan dokument dan dering telfone yang memekakan telinga. Aku terlelap dan terbangun pukul 7 malam astaga aku sangat lelah hingga tidur masih mengenakkan kemeja dan juga sepatu setelah melepas pakaian ku satu-persatu aku langsung berendam di bath-tup.
Selesai berendam aku segera bersiap-siap memakai kemeja dan juga stelan jas aku melangkah keluar dari kamar hotel melewati pintu kamar milik gadis itu kemudian menuju ballroom tempat acara pesta pertunangan Rikoll Smith.