
Elena fergusson:
“kau ingin kita hang out di mana ele?”
tanya Jimmy saat aku hendak masuk ke dalam mobil miliknya.
“terserah kau saja Jim, yang pasti aku tidak akan minum jika kau berencana mengajak ku mengunjungi club malam”
jawabku sambil mendaratkan bokongku di kursi penumpang.
Mobil milik Jimmy terasa sangat nyaman disaine dalam mobil miliknya ini terkesan sangat sporty dengan hanya memiliki 2 kursi saja terkesan sangat maskulin cocok sekali dengan gaya pribadi Jimmy.
“come on ele aku juga tidak berminat mabuk malam ini karena besok pagi aku harus menghadiri beberapa meeting dan aku juga tidak ingin berpenampilan terlalu hangover” Jawab Jimmy sambil tetap fokus mengemudi.
“ oh iya bagaimana menurut mu apakah Richo terlihat tampan dan sexsy?”
aku melirik ke arah Jimmy oh god aku sangat benar-benar menghindari topik ini, aku tidak ingin membahas tentang pria aneh itu.
Jimmy membalas tatapanku dengan senyuman mengolok dasar Jimmy.
“emm aku rasa kau ingin aku menjawab apa jim?”
jimmy memutar bola matanya mendengar jawabanku
“oh ayolah ele kau tahu aku benar-benar ingin tahu pendapat mu tentang sepupuku itu.”
Dasar Jimmy sifatnya ternyata sedikit keras kepala juga benar-benar menyebalkan sama saja seperti pria sinting itu dengan malas aku menjawab pertanyaan aneh Jimmy.
“ baiklah jika kau memaksa aku rasa kau dan Richo sama-sama tampan lalu mengapa kau menanyakan ini kepadaku jim?”
“entahlah aku hanya merasa kau dan dia merupakan pasangan yang serasi.”
“ what ?? cocok dari mana Jimm ? aku dan Richo hanya karyawan dan atasan mana mungkin aku mengagumi atasan ku sendiri aku masih cukup sadar diri.”
“lalu memangnya kenapa? Apakah atasan tidak boleh jatuh cinta dengan karyawannya sendiri? Cinta tidak memandang status ele jika menurutku benar bahwa richo menyukaimu bagaimana?.”
Aku memutar bola mataku mendengar ocehan Jimmy.
“itu tidak mungkin Jim itik buruk rupa seperti ku tidak pantas bersanding dengan laki-laki sepertinya, lagipula dia juga sudah memiliki kekasih seorang super model.”
“super model? Mungkin wanita yang kau maksud itu Lindha Castello wanita yang datang ke kantor tadi siang wanita manja yang sangat menyebalkan, kau tahu aku sangat kewalahan jika dia berkunjung ke kantor.”
“oh ya dia sering berkunjung ke kantor?”
tanya ku sedikit kaget karena dari awal aku masuk kerja aku tak pernah melihatnya datang berkunjung.
“tentu dia sering datang ke kantor meskipun Richo jarang mengundangnya dan wanita itu sangat cerewet membuat kepalaku ingin pecah dengan pertanyaan konyolnya itu.”
“pertanyaan tentang apa? Bukankah dia kekasihnya? Mengapa tidak bertanya langsung saja ke Richo tanpa harus melalui dirimu”
tanya ku sedikit heran juga dengan kelakuan wanita menduza itu.
“ pertanyaan yang tidak berbobot seperti apakah Richo suka membawa wanita lain ke kantor selain aku? Atau apakah Richo sedang sibuk meeting mengapa telfone ku selalu di abaikan? Seperti itulah pertanyaan yang selalu dia utarakan kepadaku membuat aku terkadang sangat jengkel memangnya aku ini asisten pribadi Richo sangat menjengkelkan.”
Aku tertawa mendengar cerita Jimmy ternyata separah itukah Richo dengan wanita tak heran jika dia selalu terlihat sangat dingin jika berhadapan dengan wanita meskipun dia pernah bercanda dengan ku tapi tetap saja masih terasa kaku jika berhadapan dengannya.
Mobil milik Jimmy pun berhenti di halaman parkir sebuah cafe yang terletak di pinggir jalan kota New York.
“kau pasti akan sangat menyukai cafe ini ele cafe ini adalah tempat favorite yang sering kami kunjungi bersama.”
Aku mengerutkan dahi dan bertanya
“kami? Kami siapa Jimm, apakah yang kau maksud kau sering ke tempat ini bersama kekasihmu?”
tanya ku sembari berjalan masuk ke dalam cafe.
“ no ele maksud ku kami itu aku dan Richo bukan aku dengan pacar-pacarku, dulu aku dan Richo sering sekali berkunjung ke cafe ini sekedar hang out atau menghabiskan waktu ketika jenuh dengan rutinitas pekerjaan.”
“oh ya ternyata? kau dan Richo sangat dekat rupanya”
Jawabku sedikit kaget sembari duduk di salah satu meja yang terletak di lantai dua dari cafe ini.
Pengunjung yang datang bisa menikmati pemandangan lalulintas jalanan kota New York dengan di temani hidangan mereka masing-masing.
“ya tapi itu dulu sebelum kami di terjang oleh gosip murahan yang sampai detik ini belum terpecahkan siapa dalang di balik gosip murah itu”
jawab Jimmy sembari memesan doubel chess burger dan splash blue minuman yang hampir mirip dengan soda dengan esensi rasa buah berry.
“lalu mengapa kau dan Richo tak sedekat dulu? Memangnya gosip apa yang menerpa kalian? Sampai kalian menjaga jarak seperti ini?”
tanyaku sedikit penasaran dengan keadaan kantor baru ku.
“gosip itu terlalu tajam ele hingga aku dan dia terkena beberapa dampak akibat gosip murahan itu, aku dan dia digosipkan seorang gay karena terlalu sering bersama dan lagi salah satu di antara kami belum ada yang terikat pernikah meskipun umur kami telah masuk usia matang.”
“oh ya tuhan separah itukah gosip yang beredar di antara kalian?”
tanyaku sedikit tak percaya.
“maka dari itu aku berusaha menjaga jarak dengan Richo dan tidak terlihat terlalu dekat dengannya. Semua aku lakukan karena aku tak ingin merusak reputasi miliknya dan juga perusahaan, karena jika dia terus bersamaku itu akan berpengaruh buruk terhadap reputasinya sebagai seorang CEO muda.”
Aku mendengarkan cerita Jimmy dengan seksama cerita yang dia katakan sangat mirip dengan cerita Camelie yang telah aku dengar di pantri kantor beberapa waktu yang lalu.
“meskipun awalnya terasa berat karena aku dan Richo sama-sama anak tunggal di keluarga Boutier dan saat usia ku menginjak 18 tahun aku tinggal bersama aunt Jess karena kedua orang tuaku kecelakan dalam perjalanan menuju Jerman. Mulai hari itu uncle Damian dan aunty Jesica mengangkatku menjadi anak mereka otomatis aku dan Richo sangat dekat karena dialah satu-satunya sudara terbaik yang aku miliki.”
“aku rasa Richo juga merasakan apa yang sedang kau rasakan saat ini Jimm rasa kehilangan, dan mengapa kau tak mencoba untuk mengembalikan keadaan seperti semula?”
tanyaku sembari mengunyah makanan yang tadi telah aku pesan.
“sangat ingin ele aku kembali dekat dengannya hanya aku masih menunggu waktu yang tepat mungkin setelah dia menikah aku akan kembali dekat dengannya agar gosip itu tidak semakin parah.”
“apa kau tak pernah mencari tahu dalang di balik gosip murahan ini seperti orang yang menyebarkan gosip ? sorry jika aku terlalu banyak bertanya.”
“tak apa ele aku malah senang kau banyak bertanya kepadaku karena selama ini aku memendam tanpa memberi tahu siapapun. Aku pernah mencoba mencari tahu siapa dalang di balik gosip ini namun sepertinya pelakunya sangat pandai sulit sekali untuk bisa di ketahui.
Dan aku sangat yakin bahwa pelakunya bukan karyawan perusahaan karena gosip ini berawal dari luar dan dari surat kabar kemungkinan besar ini adalah saingan Richo dalam dunia bisnis.
Namun keberadaan dalang ini sangat susah sekali sudah hampir 5 tahun kasus ini belum bisa di pecahkan”
jawab jimmy.
Aku menghabiskan banyak waktu di cafe ini bersama Jimmy sembari mendengarkan cerita hidup pria ini.
Aku kira dia adalah pria yang arogan karena raut dingin dari wajahnya sangat kentara dan sepasang manik mata tajam miliknya seolah ingin mengintimidasi siapapun yang berhadapat dengannya mata itu berwarna abu gelap sangat tajam.
Aku mengedarkan pandanganku memperhatikan sekeliling cafe benar apa yang dikatakan oleh Jimmy mengenai cafe ini.
Sepertinya aku menyukai konsep yang di tawarkan oleh cafe ini ruangan yang ada di cafe ini sangat besar dan tidak terlihat ramai oleh orang yang berlalu lalang.
Penataan ruangannya sangat nyaman dengan eksen pencahayaan yang minim membuat suasana tampak sangat tenang sepertinya pemiliknya sengaja membuat cafe ini bernuasa tenang cocok untuk pengunjung yang ingin bersantai menikmati waktu luang mereka.
Belum lagi musik jazz yang terdengar mengalir lembut memanjakan telinga pengunjung di sepanjang ruangan cafe dan di tunjang oleh beberapa hiasan yang tertata rapi namun tidak terlalu mencolok namun tetap bergaya clasik.
“oh ya sepertinya aku belum mendengar tentang cerita perjalanan hidupmu ele”
sahut jimmy membuatku sedikit kaget dan kembali menatapnya.
“hidupku tidak ada yang menarik jimm terlalu monoton” jawabku.
“kau yakin? Ayolah cerita saja aku siap menjadi pendengar yang baik, ayolah gantian aku sudah menceritakan sisi kehidupanku yang tidak diketahui oleh banyak orang kepadamu.”
“okey aku mulai perjalanan hidupku penuh liku aku kehilangan dad saat usia ku menginjak 6 tahun saat itu senja kelabu yang pernah aku alami ketika aku harus melihat dady bertarung nyawa dalam menyelamatkan calon militer yang lain.
Dan moms mencoba menjalankan bisnis wedding butik untuk menghidupi kebutuhan kami selepas dady pergi moms sangat menyukai gaun pengantin dan aku kadang membantunya mendisaine beberapa gaun pengantin.
Kemudian saat usiaku menginjak 22 aku mengalami nasib yang tragis nasib yang mengubah kehidupanku saat ini aku gagal dalam pernikahan karena calon suami ku menghamili wanita lain sungguh tragis Jimm kehidupanku.
Aku bahkan sempat mengalami ketraumaan mendalam karena aku memang berniat untuk menikah di usia muda sama seperti moms namun impian ku malah hancur begit saja tragis.”
“oh ya ampun maafkan aku ele tapi setidaknya kau tidak trauma dengan pernikahan atau laki-laki kan?”
tanya jimmy dengan wajah serius.
“oh come on Jimm aku masih memiliki akal sehat meskipun aku pernah jatuh bangun melewati itu. Tapi life must go on aku sudah berjanji dengan moms untuk segera menikah dan memiliki keluarga dan bahagia.
Jimmy terkekeh mendengar penjelasanku. “oh god elena aku juga ingin memiliki hidup normal dan membangun keluarga namun, aku rasa apakah ada wanita di luar sana yang bisa menerimaku dengan scandal yang memalukan ini.
Pasti mereka sudah lari ketika mendengar gosip murahan yang mengatakan bahwa aku ini seorang gay padahal aku dekat dengan beberapa pria yang berkelainan seksual itu karena satu alasan.”
“aku fikir kau seorang gay tulen Jimm lalu alasan apa yang membuat kau dekat dengan beberapa pria yang mengalami kelainan seksual? Dan apakah kau masih menyukai wanita sepertiku?”
jimmy tertawa geli mendengar pertanyaan ku barusan.
Tawanya mengema nyaring memenuhi hampir separuh ruangan yang kami tempati membuat aku sedikit penasaran juga dengan jawabannya.
“aku normal ele aku bukan gay aku laki-laki tulen dan aku masih menyukai wanita dan aku tidak pernah berhubungan sexs dengan laki-laki lain selama ini, aku hanya di jebak saja dan fotoku saat bersama laki-laki tersebar di media karena gosip murahan itu.” Jawaban jimmy benar-benar membuat aku jadi bingung.
“ kau pasti tidak akan percaya padaku tapi itulah kenyataannya aku dekat dengan beberapa laki-laki gay tapi aku bukan kekasih mereka aku hanya sahabat patner consultan mereka.
Aku hanya menemani mereka berbicara dan mendengarkan keluh kesah mereka tentang kehidupan sosial mereka yang di pandang sebelah mata oleh orang lain.
Dan mencoba menuntun mereka untuk kembali dalam kehidupan normal bahkan sebagian dari teman gay yang telah berhasil sembuh sudah memiliki istri dan anak aku sangat senang ketika bisa membantu mereka untuk sembuh.”
Mendengar perkataan Jimmy aku merasa benar-benar kaget ternyata dia memilki jiwa sosial yang sangat mengagumkan.
“lalu mengapa kau tidak mencari wanita lain dan menikah dengan wanita itu agar gosip itu bisa musnah.”
“itulah kelemahan ku aku tidak bisa jatuh cinta dengan wanita lain padahal aku telah mencobanya beberapa kali namun gagal. Hatiku tetap tertambat pada gadis itu aku bertemu dengannya di Austria kami cukup dekat dia gadis yang manis dan sangat baik.
Saat aku ingin melamarnya dia menolakku dengan halu dia bilang dia ingin kembali ke New York untuk memenuhi janjinya dengan cinta pertamanya.
Dia ingin memastikan apakah pria itu ingin menjalin hubungan dengannya kembali atau telah memiliki kekasih yang lain.”
Mendengar kata Austria membuatku merasa mual entah mengapa mengingat negara itu aku jadi ingat dengan wanita pilihan Stward dan bagaimana kabarnya aku dengar mereka tidak jadi menikah.
Sangat di sayangkan sekali dan sebenarnya aku juga tidak tega dengan wanita itu meskipun dia berhasil mengagalkan pernikahanku namun aku tidak bisa menyalahkannya begitu saja.
“hey ele apa kau baik-baik saja mengapa wajahmu jadi sedikit pucat dan sedikit tegang apakah kau bosan mendengarkan cerita ku?”
“ No. i’m fine Jimm and i’am not bored so siapa nama gadis itu gadis yang telah membua berubah drastis seperti ini?.”
Tanya ku sedikit ragu-ragu namun juga penasaran karena kau pasti tidak akan percaya laki-laki setampan dan semapan Jimmy masih takut untuk mencintai wanita lain dan bodoh sekali wanita yang meninggalkannya demi sesuatu yang belum tentu pasti.
“ gadis itu bernama Percia Andersson gadis yang di angkat sebagai seorang cucu oleh wanita paruh baya yang tinggal di sekitar kota Manhattan.
Gadis periang yang aku kenal selama 4 tahun belakangan kami bertemu di Universitas di Austria aku sudah sangat dekat dan mengenalnya aku kira dia juga memendam perasaan yang sama dengan ku ternyata tidak.
Gadis bermata cokelat Hezelnut dengan tubuh mungil setelah terahir aku bertemu dengannya di Austria 2 tahun lalu aku belum pernah bertemu dengannya kembali mungkin dia telah berhasil mengejar cinta pertamanya.”
Degh rasanya jantungku berdetak kencang wanita itu ternyata cinta pertama Jimmy kasihan sekali Jimmy mungkin wanita itu telah melahirkan anak yang di kandungnya dan mungkin juga telah menikah dengan Stward si mata keranjang.
Seketika rasanya dunia berputar ke arah ku malang sekali Jimmy gadis pujaannya adalah wanita yang sukses meruntuhkan pernikahanku.
Aku tidak ingin membongkar aib dari wanita itu aku tidak rela mengecewakan harapan Jimmy pasti Jimmy akan terpuruk jika aku memberi tahu tentang gadis itu bersama mantan tunanganku.
“lalu apakah Richo pernah bertemu gadis itu? Dan tahu tentang segala sesuatu yang kau lalui di Austria bersama gadis itu?”
tanyaku yang di balas oleh gelengan dari kepala jimmy.
“ no ele Richo hanya tahu tentang gadis itu melalui cerita ku saja aku belum pernah mengenalkanya kepada siapapun termasuk dengan Richo”
akupun mengerti dan mengangukkan kepalaku namun fikiranku jadi berkelana mengingat tentan gadis itu.
Aku tidak membencinya sedikitpun meskipun aku terluka karena penghianatan Stward namun aku bersyukur dengan kejadian itu aku tidak jadi menikah dengan pria mata keranjang itu.
“kau tahu banyak keajaiban dalam dunia ini jika kau percaya dengan keajaiban aku yakin pasti kau akan segera bertemu dengan gadis itu dan mungkin gadis itu akan menerima mu dan aku yakin dia pasti menyesal telah meninggalkan mu”
kataku sembari tersenyum.
“bagaimana kau tahu jika dia menyesal menolakku? Mungkin bisa saja saat ini dia tengah berbahagia bersama pria cinta pertamanya itu.”
Aku benar-benar ingin tertawa nyaring mendengar jawaban putus asa Jimmy tentu saja aku tahu jika Percia pasti menyesal dan tidak bahagia dengan laki-laki mata keranjang itu.
Mana mungkin juga dia bahagia hidup bersama Stward laki-laki berengsek mata keranjang.
Seorang ******** sepertinya tidak pantas mendapatkan wanita manapun.
Termasuk Percia bagaimanapun dia juga korban dari Stward yang kurang ajar.
Percia yang malang gadis polos itu membutakan mata hatinya demi egonya tanpa memikirkan apapun.
“tentu saja aku tahu Jim karena kau pria yang baik pasti dia sangat menyesal telah melakukan hal itu padamu, dan jangan tanya aku tahu dari mana jika kau pria yang baik. aqku tahu kau pria yang baik dari sorot teduh matamu”
dan jimmypun tertawa nyaring mendengar jawabanku tawanya pun memenuhi hampir sebagian cafe.
Setelah hening beberapa saat akupun memutuskan untuk kembali ke aparterment
“bagaimana jika kau mengantarkan aku kembali ke aparterment ini sudah larut malam”
kataku sembari menghabiskan cemilan yang telah aku pesan.
“ okey aku akan mengantarkan mu, terimakasih atas waktu luang mu dan terima kasih kau telah mendengarkan cerita konyol ku ele”
“tak perlu sungkan Jim aku tidak keberatan sama sekali mendengarkan cerita konyol mu.” Jimmypun tersenyum dan membayarkan makanan yang telah kami pesan tadi setelah itu kami bergegas menuju parkiran cafe selama perjalanan pulang menuju aparterment jimmy banyak bercerita tentang Richo.
Lagi-lgi bayangan tentang pria sinting itu bertebaran dalam fifkiranku entah mengapa aku selalu terbayang oleh pria mesum itu membuat otakku terasa jengah.
“dia memiliki wanita pujaan lain ele namun wanita itu pergi meninggalkannya ke London dan sejak saat itu Richo tak pernah dekat dengan wanita lain kecuali Lindha Castelo. Wanita yang tadi pagi membuat kegaduhan di ruangan kerja kita. aku juga bingung mengapa wanita itu bersemangat sekali mengejar Richo meskipun selalu mendapat penolakan.”
Aku mendengarkan dengan seksama mengenai cerita tentang richo pantas saja jika laki-laki itu selalu dingin dan cuek terhadap wanita menduza itu.
Akupun memandangi jalanan melalui jendela mobil salju yang turun mulai sedikit deras pasti sangat dingin cuaca di luar.
“oh ya jimm di depan sana Aparterment milikku kau bisa menurunkan ku disini. Terimakasih atas traktirannya malam ini lain kali aku akan mentraktir mu aku janji”
setelah mengucapkan itu aku langsung membuka pintu mobil jimmy dan bersiap keluar dari mobil.
“baiklah aku akan memesan makanan yang paling mahal dan enak jadi bersiap-siaplah untuk mentraktirku hahahahaha”
Jimmy tertawa keras dan aku mengelengkan kepalaku
“coba saja kalau kau berani”.
Setelah mobil Jimmy bergerak pergi aku langsung menuju kamarku hari ini aku benar-benar lelah aku harus segera membersihkan badanku.
Selain itu aku juga sangat merindukan ranjang empukku sepertinya mata ku sudah menjerit untuk segera di pejamkan.
Aku sudah sampai di depan kamar ku kemudian aku membersihkan diriku dengan guyuran air shower selesai mandi aku langsung meminum segelas hangat susu cokelat kesukaan ku.
Baru saja aku ingin merebahkan tubuhku di ranjang dering telfone milikku memecah ketenangan ku oh shiit siapa yang kurang kerjaan menelfone tengah malam seperti ini. Aku mengambil telfone ku yang terletak di atas meja samping tempat tidurku aku mengerutkan dahi dan membuka mataku lebar-lebar saat melihat no baru yang tertera di layar handphone.
“no baru siapa ini? Palingan juga Cuma orang iseng kalau bukan mana mungkin nelfon tengah malam buta begini”
aku mereject panggilan telfone dari nomer baru yang tak ku kenal.
Tapi sepertinya penelfone ini sangat keras kepala berkali-kali aku tolak tetap saja ngotot sekali menelfone ku dasar orang aneh.
Aku benar-benar kesal karena terus-terusan handphone ku begetar akhirnya aku mengangkat telfone itu.
“ya hallo ada apa dan siapa kau? Mengangu istirahat orang apa kau gila menelfone orang tengah malam buta seperti ini?.”
Cerocos ku panjang lebar aku sudah tidak peduli lagi siapapun orang yang menelfone ku karena dia telah menganggu jam istirahat ku baru saja aku meraskan ngantuk yang super dahsyat dan tiba-tiba kantuk ku jadi hilang karena penelfone sialan itu.
“maaf jika aku menganggu waktu luang mu tapi aku lupa menanyakan apakah kau sudah mengerjakan RAB tentang resort ku yang terletak di Flores? Jika sudah aku minta kau antarkan berkas itu ke ruangan ku besok pagi dan kau bisa kembali beristirahat.”
Dan sambungan telfone pun terputus sebelum aku sempat mengatakan apapun tuutuut kurang ajar batin ku geram dasar pria sinting yang bossy.
Ku rasa dia benar-benar sudah gila menelfone ku tengah malam buta hanya untuk menanyakan hal pekerjaan apakah dia tidak memiliki jam atau dia terlalu workaholic sangat menyebalkan.
Tanpa perlu menelfone ku tengah malam begini juga harusnya dia bisa mengirimkan aku pesan fia wa atau e-mail dasar bos kurang kerjaan sangat mengangu saja.
Aku langsung merebahkan tubuhku di ranjang dan bersiap menuju peraduaan mimpi indah mata ku sudah tidak bisa lagi di ajak kompromi.
Fikiran ku sudah melayang jauh menuju alam mimpi membelah kedamaian.